
"Pagi, Rummi!" Isha meloncat lalu merangkul sahabatnya itu hingga tubuh Rumi sedikit terhuyung ke depan. Saat ini mereka tengah berada di depan gerbang sekolah.
"Akh. Isha! Lo ngagetin gue tau," gerutu Rumi. Bibirnya mengerucut, walau senyum pun terlihat samar. Dia melepaskan rangkulan tangan Isha, yang membuat cewek itu malah merangkul lengannya.
"Ke mana hp lo? Kenapa gue telepon gak di angkat?" tanya Isha dengan tatapan menyelidik. "Lo gak di apa-apain kan sama si Arsya?"
"E-enggak kok, Sha!" Rumi melambaikan kedua tangannya, seolah perkataan saja tidak cukup untuk memberikan jawaban atas pertanyaan Isha.
"Hei, santai girls." Isha tersenyum penuh arti ketika melihat reaksi berlebihan yang ditunjukkan oleh sahabatnya.
"Kalau gak ada apa-apa ngapain lo panik gitu, heh? Bilang sama gue, apa bener lo gak diapa-apain sama ketua geng motor itu?" Isha beralih ke depan Rumi dan kembali bertanya.
"Enggak ada apa-apa, Sha. Beneran," jawab Rumi sambil terus mengalihkan pandangannya dari Isha.
"Liat tuh, pipi lo merah ... hahaha! Ada apa-apa kan tadi malem? Ayo, jujur sama gue. Kita kan sahabat, masa lo tega sih main rahasia-rahasiaan sama gue." Isha masih terus mencerca Rumi, yang terlihat masih salah tingkah.
"Akh! Isha...." Rumi memilih untuk mempercepat langkahnya, meninggalkan Isha yang malah terbahak karena berhasil menggoda sahabatnya.
"Ck! Ternyata abang gue ada gunanya juga," gumam Isha sambil ikut berlari menyusul Rumi. "Rumi, tungguin!"
...🦅...
Arsya melajukan motornya menuju parkiran sekolah, dia juga melihat sudah ada Dikta dan Vareen yang sedang berbicara dengan Dero dan beberapa anak buahnya di sana. Tentu saja, pemandangan itu membuat kening Arsya mengernyit. Matanya menajam menatap interaksi kedua inti Atropos dari balik kaca helmnya.
Apa yang sedang mereka lakukan? batin Arsya sambil terus melajukan motornya mendekat.
Namun, begitu Arsya menghentikan motornya, Dero dan teman-temannya pun memilih segera berlalu setelah memberikan dua kali tepukkan di pundak Dikta. Arsya juga sempat melihat senyum miring di wajah rivalnya itu. Dia menatap kepergian Dero sebelum akhirnya mengalihkan perhatiannya pada dua temannya.
"Ada apa?" tanya Arsya, setelah dia melepaskan helmnya lalu menatap Dikta dan Vareen bergantian.
"Gak papa," jawab Dikta cepat.
Arsya menaikan salah satu alisnya, dia bisa melihat ada kegelisahan di raut wajah temannya itu. Dia sempat bertanya pada Vareen menggunakan isyarat mata, tetapi cowok itu juga seperti enggan menjawabnya.
"Oke." Arsya mengangguk samar, merasa kedua temannya itu belum siap untuk berkata jujur padanya.
"Masuk, bentar lagi bel," sambung Arsya sambil hendak melangkah lebih dulu menuju kelas. Namun, dia terpaksa kembali harus menghentikan langkahnya, ketika ujung matanya melihat Cakra dan Fahri yang baru saja memasuki gerbang.
Ketiganya serempak menghentikan langkahnya dan memilih untuk menunggu Cakra dan Fahri.
Arsya melirik Dikta yang tampak makin gelisah. Apa ada masalah lain yang gue gak tau antara mereka?
__ADS_1
"Hai, Bro!" Fahri menyapa sambil mengajak tos semua orang yang ada di sana, begitu dia menghentikan motornya dan membuka helm. Cakra mengikuti di belakang Fahri, walau raut wajahnya masih saja tidak terlalu bersahabat.
Kelima remaja itu pun segera mempercepat langkahnya ketika suara bel tanda masuk sekolah sudah terdengar.
Namun, beberapa saat kemudian, Arsya, Cakra, Fahri, Dikta, dan Vareen, terlihat sedang berlari mengelilingi lapangan di bawah terik matahari, karena terkena hukuman akibat terlambat masuk kelas.
"Ini semua gara-gara lo berdua, kita jadi dihukum kan," gerutu Vareen dengan napas yang sudah tersengal. Ini adalah putaran ke sepuluh mereka berlari, di bawah tatapan tajam Bu Yolda -guru matematika kiler yang tidak pernah bisa memaafkan keterlambatan atau kesalahan lain di pelajarannya.
"Siapa juga yang nyuruh kalian nungguin gue?" jawab Cakra tak acuh. Cowok itu langsung mempercepat larinya, mendahului Vareen yang terus saja menggerutu.
"Yak! Dasar tepung terigu!" kesal Vareen, bertriak sambil melompat dan meninju udara, melampiaskan kekesalannya pada Cakra. Namun, sesaat kemudian dia harus menghentikan langkahnya sambil menumpukan kedua tangannya ke lutut, karena napanya yang sudah hampir habis.
Sementara itu, Cakra yang jadi objek makian Vareen hanya bersikap tak acuh. Dia terus melangkahkan kakinya, berlari mengelilingi lapangan tanpa perduli bajunya yang sudah basah oleh keringat.
Bayangan perkataan ibu tirinya dua hari lalu, ketika dia baru saja pulang ke rumah kembali berputar di ingatan.
"Dasar anak gak tau diuntung. Udah syukur kami mau menerima kamu di rumah ini. Gak usah banyak gaya dan malu-maluin nama baik keluarga!"
"Oh iya, saya lupa. Kamu itu kan anak pelakor yang gak punya harga diri. Cih! Harusnya dulu saya enggak pernah nerima kamu di keluarga ini, biar sekalian saja kamu tinggal di jalanan!"
"Sialan!" umpat Cakra ketika setiap omongan kejam yang dilontarkan ibu tirinya masih saja dia ingat dengan jelas.
"Gak usah diambil hati. Lo tau kan, mulut si Vareen emang suka gak ada remnya."
Cakra terperanjat, ketika suara Arsya masuk ke dalam indra pendengarannya, seolah memaksa dirinya untuk kembali ke masa sekarang. Dia menoleh cepat, menatap sahabat kecilnya dengan tatapan terkejut. Namun, setelah dia mengerti ke mana arah perkataan Arsya, Cakra mendengus sambil mengangguk samar.
"Lo gak papa kan?" Arsya menatap Cakra lekat. Dia bisa melihat jika ada sebuah pikiran yang membebani Cakra.
"Gue baik," angguk Cakra.
"Masalah Shania--" Arsya takut jika ini masih menyangkut tentang Shania yang sekarang sudah resmi jadi anggota Atropos.
Cakra tersenyum miring. "It's okay. Kayaknya itu gak buruk juga."
Seketika senyum di wajah Arsya juga terbit. Dia menepuk punggung Cakra sebagai tanda penghargaan karena mau menerima keputusannya. Ketiaka mata keduanya bertemu, Arsya memberi kode pada Cakra untuk memepercapat larinya agar terasa lebih seru.
Tanpa berpikir lagi, Cakra tentu langsung menerima tantangan Arsya. Dan, pada saat itu juga, keduanya segera mempercepat langkahnya seolah tengah bertanding.
"Yang kalah traktir minum sama makan siang!" teriak Cakra seolah memberi tantangan pada Arsya.
"Oke!" sambut Arsya penuh semangat.
__ADS_1
"Astaga, apa mereka gak cape ya? Gue aja kayaknya bentar lagi mau pingsan," keluh Vareen yang sudah beberapa kali berhenti untuk mengatur napasnya.
"Lari keliling lapangan doang mah urusan kecil buat Arsya sama Cakra," sambut Fahri yang juga ikut berhenti di samping Vareen, karena dirinya juga sudah hampir kehabisan napas.
"Tuh liat, ada yang lebih sengsara dari kita," sambung Fahri sambil menunjuk Dikta yang bahkan sudah bermandikan peluh. Wajahnya yang putih kini sudah berubah merah seperti udang rebus karena terlalu lama terpapar sinar matahari.
"Ini pertama kalinya dia dihukum 'kan?" tanya Vareen sambil tertawa pelan.
Dikta adalah siswa yang sangat taat peraturan, selama ini dia tidak pernah menerima hukuman. Hidupnya sangat sempurna, dengan semua peraturan dan otak cerdasnya. Namun, karena sekarang dia tergabung dengan Atropos geng, membuatnya bisa merasakan bagaimana serunya tidak mengikuti pelajaran karena terkena hukuman.
"Atropos!"
Kelima remaja itu langsung mengalihkan perhatiannya pada seorang gadis yang berteriak dari sisi lapangan. Di kedua tangannya tampak menenteng kantong plastik bening berisi beberap botol minuman dan makanan ringan.
"Shania?" gumam Vareen sambil berlari cepat menghampiri cewek yang kini menghentikan langkahnya di bawah pohon besar, tepat di samping lapangan.
"Ah, thanks, Shan. Tau aja lo, kalau kita lagi haus banget." Vareen langsung menyambar minuman di tangan Shania dan meminumnya dengan terburu-buru.
Fahri dan Dikta mengikuti di belakang Vareen. Mereka mengucapkan terima kasih lalu mengambil minuman yang dibawa Shania. Berbaring di bawah pohon yang rindang memang cukup menyejukkan, merasakan angin semilir yang membuai, ditambah lagi dengan rimbunnya daun, hingga mampu melindungi mereka dari teriknya sinar matahari.
"Yah, gue menang! Jadi nanti siang lo yang harus traktir kita semua!" teriak Cakra sambil tersenyum, walau napasnya tampak tersengal hingga dadanya naik turun.
Arsya masih tersenyum, dia mengangguk, mengakui kemenangan Cakra, walau sebenarnya yang terjadi adalah dia memang sengaja untuk mengalah demi sedikit memberi hiburan untuk sahabat kecilnya.
"Karena minuman udah di handle sama Shania, jadi gue traktir makan siang aja. Gimana?" tanya Arsya sambil berjalan menghampiri yang lainnya.
"Sip! Kita dapet traktiran dari bapak leader Atropos!" Vareen berteriak antusias ketika telinganya mendengar percakapan antara Arsya dan Cakra. Dikta dan Fahri pun menyambut dengan tak kalah semangatnya.
"Oke," sambut Cakra yang ditunjukkan pada Arsya.
Arsya kembali tersenyum. Ada rasa senang dalam hatinya ketika melihat wajah Cakra yang sudah tak semendung seperti tadi pagi.
Akhirnya, mereka menghabiskan waktu istirahat pertama di bawah pohon sambil mendinginkan badan, dan mengeringkan keringat yang sudah membasahi hampir seluruh tubuh mereka.
"Cakra, gue minta maaf ya, karena gue lo jadi berantem sama Dikta dan yang lainnya. Eum ... kalau lo masih gak bisa nerima gue di Atropos, gue bisa ke luar kok, gak papa." Shania yang masih merasa bersalah akan kejadian semalam, membuatnya memilih untuk berterus terang pada Cakra. Dia hampir saja tak bisa tidur semalaman hanya karena kepikiran tentang Cakra dan anak Atropos yang lain.
"Lo udah diterima sama Arsya. Berarti gue juga," jawab Cakra sambil mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.
"Sorry," sambung Cakra dengan suara yang lebih lirih.
Tentu saja, pengakuan kaku dari Cakra membuat senyum di wajah semua yang ada di sana pun terbit. Akhirnya mereka bisa bersama kembali, begitu juga antara Cakra dan Dikta yang sudah berdamai.
__ADS_1