
...Happy Reading...
...🦅...
Satu minggu sudah berlalu sejak pesta pernikahan Agra dan Alisya, pagi ini lelaki itu harus kembali pada kesibukannya di kantor dan juga organisasi.
“Sayang, aku berangkat dulu ke kantor, kamu jaga diri baik-baik. Kalau ada apa-apa langsung hubungi aku, oke?” Agra berucap, di saat sepasang pengantin baru itu sedang menikmati sarapan bersama.
“Iya, aku tahu,” jawab Alisya, singkat.
Dia sudah tahu semua peraturan yang Agra berikan untuknya, sejak tadi malam bahkan suaminya itu sudah menjelaskan berulang kali.
“Kamu akan mendapat pengawal setiap kali keluar, mereka akan mengikuti kamu secara diam-diam tanpa terlihat. Kamu juga akan mendapatkan sopir pribadi, aku tidak mau kamu pergi keluar sendiri.”
Itulah yang Agra katakan berulang kali padanya, awalnya ia sempat protes, karena merasa tidak nyaman dengan Agra yang menurutnya terlalu posesif.
Dirinya yang terbiasa hidup bebas tanpa ada batasan, membuatnya merasa terkekang dengan semua peraturan itu.
Menurutnya, itu semua hanya sia-sia, karena dirinya bukanlah orang penting, hingga harus mendapatkan pengawalan yang cukup ketat.
“Kamu lupa, kamu sekarang sudah menikah denganku, sayang. Kamu adalah kelemahanku, yang selama ini mereka cari. Aku tidak mau mengambil risiko dengan keselamatanmu, sayang. Mengartilah ... kehidupanku tidak seperti orang biasa, aku dikelilingi para musuh yang siap menjatuhkanku kapan saja.”
Penjelasan Agra malam tadi, cukup membuatnya terkejut, ia sama sekali tidak tahu kehidupan seorang pengusaha kelas atas seperti Agra, ternyata tidaklah sesenang yang dipikirkan orang di luaran sana.
Selama ini ia berpikir, kalau kehidupan mereka yang bergelimang harta dan tidak kekurangan uang, adalah kehidupan yang sempurna dan penuh kesenangan, ternyata semua pikirannya salah besar, setelah ia mendapatkan penjelasan dari Agra.
Seperti sebuah pepatah yang sering ia dengar, ‘Semakin tinggi pohon, maka semakin kencang juga angin bertiup,’ mungkin itulah kata yang cocok disematkan untuk kehidupan Agra saat ini.
Sekarang, setelah keputusannya untuk menerima cinta Agra dan menjadi pendamping hidupnya, membuat dirinya pun harus mengikuti gaya hidup suaminya selama ini.
“Ohya, sayang, kapan kamu mau berkunjung ke Prananta Jewelry, atau mungkin berencana untuk menanganinya secara langsung?” tanya Agra, yang langsung membuyarkan lamunan Alisya.
“Hah, eum ... aku belum memikirkan itu,” jawab Alisya.
“Baiklah, kamu bisa belajar dulu cara mengelola perusahaan, untuk sementara biarkan aku saja yang menjalankannya,” putus Agra.
“Memangnya aku harus terjun langsung ya?” tanya Alisya.
Agra mengangguk. “Perusahaan itu diwariskan oleh kedua orang tuamu, maka hargailah perjuangan mereka selama ini.” Agra berucap sambil memegang tangan Alisya yang berada di atas meja.
“Heem,” angguk Alisya lemah, membahas kedua orang tuanya, selalu membuatnya merasa rindu kepada mereka.
“Tidak perlu buru-buru, aku akan mengajarkanmu pelan-pelan, atau kamu mau ikut aku ke kantor dan kita belajar di sana?” tawar Agra.
__ADS_1
Alisya menggeleng, tubuhnya masih lelah, setelah seminggu ini Agra terus saja menyerangnya tanpa ampun, seakan tidak ada puasnya.
“Setela aku kembali bekerja, aku akan sulit mendapatkan waktu untuk bersamamu, sayang. Lelaki tua itu akan memberikan pekerjaan hingga membuatku bahkan tak bisa berdiri dari kursi kerjaku,” keluh Agra saat Alisya bertanya.
Suara bel mengalihkan perhatian keduanya. “Sepertinya ada tamu, aku buka pintu dulu.” Alisya beranjak dari kursi.
Agra hanya mengangguk, lalu menenggak air putih, setelah menyelesaikan acara sarapannya.
“Selamat pagi, Tuan.”
Agra mengalihkan pandangannya pada seorang perempuan bergaya maskulin, dengan jaket kulit dan celana denim ketatnya. Rambutnya di kucir ke belakang. Garis wajah tegas, lengkap dengan ekspresi garang.
Mengangguk samar sebagai jawaban, kemudian kembali mengalihkan perhatiannya pada Alisya.
“Sayang, ini Livia. Dia yang akan mengawalmu secara langsung, sekaligus menjadi sopir dan asistenmu sekaligus,” jelasnya pada sang istri.
“Livia, kamu sudah tahu tugasmu bukan?” Agra bertanya tanpa melihat gadis yang berdiri tegap di sampingnya.
“Sudah, Tuan. Edo sudah memberitahukan saya sebelumnya,” jawab Livia menggunakan bahas Indonesia yang terdengar masih kaku.
Ya, Livia adalah salah satu anak buah Agra di negara Andrew, gadis tangguh itu ditemukan Andrew sejak masih remaja, di acara pelelangan. Karena dijual oleh salah satu musuh ayahnya. Dia dibawa setelah mereka membunuh seluruh keluarganya.
Maka dari itu, gadis itu memilih untuk menjadi anggota Black Eagle dibandingkan dengan dibebaskan atau diberi uang oleh Andrew saat itu. Dia ingin berlatih dan membalaskan dendamnya, pada orang yang telah menghancurkan seluruh keluarganya.
Tentu saja, kedatangannya ke negara ini, bukan hanya untuk mengawasi Alisya, ia juga mempunyai misi lain, itu juga atas ijin dari Andrew dan Agra.
“Baguslah, aku percayakan keselamatan istriku padamu. Aku harap, kamu tidak mengecewakan kepercayaanku.” Agra berucap tegas, tak mau dibantah.
“Baik, Tuan. Saya akan menjaga Nona Alisya dengan nyawa saya,” janji Livia.
Agra mengangguk puas, dengan jawaban anak buah perempuannya. Beranjak dari kursi karena sudah waktunya ia berangkat ke kantor.
“Hari ini, Bi Ani akan datang dan menempati kamar belakang. Sedangkan Livia hanya akan mendampingimu selama tidak bersamaku,” ucap Agra, setelah mereka berada di dekat pintu keluar.
Alisya mengangguk, setidaknya sekarang dirinya tidak akan kesepian di rumah, karena ada Bi Ani dan Livia.
Alisya mengambil tangan Agra dan mengecupnya, di sambut Agra dengan ciuman di kening dan bibir Alisya.
Alisya mengantar Agra sampai ke depan pintu, di sana ternyata Edo sudah bersiap.
“Aku pergi.” Agra mengusap puncak kepala Alisya lembut.
“Hati-hati,” angguk Alisya.
__ADS_1
Menatap Agra sampai tubuhnya menghilang ditelan lift yang akan membawanya menuju ke area parkir khusus.
Raut datar dan dingin kembali menghiasi Agra begitu pintu lift tertutup, tidak ada sisa lagi ekspresi lembut dan penyayang yang tadi begitu terlihat ketika bersama Alisya.
Menegakkan badan, memperlihatkan keangkuhan dan kekuasaan dirinya.
“Apa mereka sudah kalian urus?” tanya Agra.
“Sudah, Tuan. Sekarang mereka ada di penjara bawah tanah,” jawab Edo. Walaupun pertanyaan Agra terdengar ambigu, tetapi, lelaki yang hanya berusia satu tahun di bawah Agra, sudah tahu maksud tuannya.
Mereka tengah membicarakan tentang pelaku penyerangan saat perjalanan Alisya dan keluarganya menuju hotel satu minggu yang lalu. Juga rencana yang sempat mereka bicarakan beberapa hari sebelum pernikahan Agra.
“Hem, bagus. Lalu apa yang sudah kalian dapatkan dari mereka?” tanya Agra lagi.
“Aku sudah mendapatkan informasi penting, beberapa anggota juga sudah berhasil memasuki markas mereka dan melaporkan kondisi di sana,” jelas Edo panjang lebar.
“Bagus, kalau kira-kira mereka sudah mengatakan semuanya, kalian langsung lenyapkan saja, jangan sampai ada informasi yang bocor sedikit pun!” titah Agra, tegas.
“Baik, Tuan,” angguk Edo. Begitu pembicaraan selesai, bersamaan pintu lift terbuka.
Para penjaga pun langsung menunduk hormat saat ketua mereka melintas.
Beberapa saat kemudian, mobil yang ditumpangi oleh Agra dan Edo, sudah keluar ari kawasan apartemen elit tersebut.
Permisi-permisi, mau promosi lagi nih, karya keren temen literasi aku, gendre mafia juga loh, ayo pada mampir😊
Author: Komalasari
Judul: Pesona Tuan De Luca
Blurb:
Matteo de Luca adalah putra mahkota dari Klan de Luca, yang merupakan organisasi mafia terselubung dan sangat disegani. Sang ayah begitu menyayangi dan melindunginya. Ia seakan memiliki rasa kurang percaya terhadap Matteo, sehingga membuatnya merasa terkekang. Atas dasar itulah, Matteo mencoba melepaskan diri untuk membuktikan bahwasannya ia mampu.
Matteo melakukan transaksi ilegal dengan seorang sahabat lama yang ternyata mengkhianatinya. Dalam kondisi terluka, Matteo melarikan diri ke kota Venice. Di sana ia bertemu dengan sosok Mia yang kemudian merawat luka dan memberinya tumpangan untuk menginap di dalam kedai milik ayahnya.
Benih-benih cinta mulai tumbuh di antara mereka. Namun, Matteo memilih untuk pergi dan menolak Mia dengan kasar, sehingga membuat gadis itu pergi dan mencoba membuka hatinya untuk pria lain. Akan tetapi, ketika Mia memutuskan untuk menikah, Matteo menjadi kalut dan datang kembali serta meminta Mia membatalkan pernikahannya. Terjadilah penyerangan pada acara pesta pernikahan Mia, yang menewaskan ayah serta suami yang baru ia nikahi.
...🦅...
...🦅...
...TBC...
__ADS_1