
"Awas saja kalau kamu mengajarkan yang tidak-tidak pada anak-anakku." Arsya tersenyum tipis di sela langkahnya menuruni anak tangga markas Black Eagle, ketika bayangan ucapan bernada penuh ancaman sang ibu kembali melintas di kepalanya. Mata bulat itu menyorot tajam Agra, sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh sang ibu. Tidak untuk yang lain, bahkan Isha.
Arsya baru saja ke luar dari markas Black Eagle setelah hari sudah beranjak sore. Dia memilih untuk membersihkan diri dan beristirahat sebentar di sana. Sementara Agra dan Rega sudah pulang lebih dulu, tentunya setelah menerima ocehan panjang dari Alisya.
Ya, kasta tertinggi dalam keluarganya saat ini masih dipegang oleh Alisya. Jika sang ayah berkuasa atas semua perusahaan dan organisasi Black Eagle. Alisya tak perlu menguasai semua itu, karena dengan menaklukan satu makhluk yang bernama Agra saja sudah membuatnya otomatis mendapatkan semuanya.
"Om, aku pulang dulu," pamit Arsya pada Max yang masih menjadi pemegang organisasi Black Eagle khusus di Indonesia.
Laki-laki yang masih terlihat gagah walau umurnya sudah mulai menua, tampak sedang berbincang bersama para bawahannya itu terlihat mengalihkan pandangannya pada Arsya. Lalu, segera bangkit dan berdiri di depan Arsya, diikuti para anggota Black Eagle yang lainnya.
"Baik, Young Master." Hati-jati di jalan," ujarnya sambil sedikit membungkuk yang disusul oleh para anggota Black Eagle yang berdiri di belakangnya.
"Eum," angguk Arsya. Dia kemudian segera berlalu menuju motornya yang terparkir di halaman. Di tengah tatapan Max dan para anggota Black Eagle lainnya.
Arsya melambaikan tangan samar sebelum mulai melajukan motornya. Walau terlihat sedikit berbicara dan cenderung dingin, sama seperti Agra. Namun, sikap Arsya sedikit lebih hangat dibandingkan dengan ayahnya. Mungkin karena ada sisi manis Alisya yang menurun kepada cowok jangkung itu.
Mengendari motor di jalan alternatif di kala langit senja membuatnya tak tahan untuk membuka kaca depan helm. Angin dingin langsung menerpa wajahnya, terasa menyegarkan. Arsya menarik napas dalam, menikmati jalanan yang terasa sejuk oleh deretan pohon besar yang setia memberikan oksegennya.
Suasana seperti ini tidak akan pernah dia dapatkan andai lebih memilih melalu jalan protokol, yang tetunya penuh dengan asap polusi kendaraan yang tengah berjibaku dengan kemacetan menjelang akhir pekan.
Suara dering ponsel yang terus berulang membuat Arsya terpaksa menghentikan laju motornya. Dia menepi di tempat yang terbilang cukup sepi. Hanya ada beberapa kendaraan yang tampak lewat dengan kecepatan cukup tinggi. Tidak heran memang, mengingat itu adalah pinggiran kota yang merupakan jalan alternatif, dia memilih lewat sana karena enggan mendapati kemacetan di sore hari seperti ini.
..."Adik cerewet is calling"...
Keningnya sedikit berkerut ketika melihat id kontak adiknya di layar. Tidak biasanya Isha menghubunginya jika tidak benar-benar penting. Apa lagi ini sampai berulang kali.
"Ada apa, Dek?" tanya Arsya sambil menempelkan ponselnya di telinganya.
"Bang, tolongin gue dong. Rumi ilang. Dia tadi ke mall sama gue, terus pamit mau ke luar bentar tapi sempe sekarang gak balik. Hp-nya juga gak bisa dihubungi." Terdengar suara panik Isha di sebrang sambungan telepon.
Arsya mendesah pelan. Kenapa harus tentang sahabat adiknya itu? Dia sedikit malas jika harus berurusan dengan sosok yang namanya perempuan. Cukup dengan sang ibu dan Isha yang sering membuat dirinya dan sang ayah pusing, untuk sekarang dia tidak memiliki alasan menambah lagi sosok yang berjenis sama seperti sang ibu dan adiknya.
"Tenang dulu. Lo di mana? Abang ke situ sekarang." Arsya mencoba menenangkan sang adik.
"Gue di mall ...."
"Mungkin dia pulang duluan. Lo gak usah mikir yang aneh-aneh, gue ke sana sekarang." Walau malas, Arsya tetap harus menanggapi adiknya, dari pada nanti Isha nekad mencari keberadaanRumi sendirian.
"Dia gak mungkin pulang duluan tanpa ngabarin gua, Bang. Dia bukan tipe cewek begitu."
"Ya udah, lo tunggu gue. Lima belas menit lagi gue sampe," ujar Arsya sebelum menutup sambungan telepon bersama adiknya. Lalu memasukan ponselnya lagi ke saku dan memakai helm yang tadi dia letakan di atas teng motornya.
Arsya berasiap untuk segera melajukan lagi motornya, saat tiba-tiba, perhatiannya kini tertuju pada mobil yang sejak tadi terparkir di depannya. Entah sejak kapan mobil itu ada di sana, dia pun tak memperhatikan. Namun, ketika dia jelas melihat mobil itu terus begoyang seolah sedang ada aktivitas mencurigakan di dalam sana, mau tak mau akhirnya Arsya meliriknya.
"Cih! Matahari aja belum tenggelam, mereka udah mesum aja. Mana di pinggir jalan lagi ... kayak gak ada tempat lain!" cibirnya. Santai, dia mulai memutar kembali kunci motor dan bersiap menekan tombol starter.
__ADS_1
Namun, Arsya kembali mengurungkannya ketika samar telinganya mendengar jerit seorang perempuan meminta tolong dari dalam mobil.
Kalau lagi mesum, gak mungkin minta tolong, kan? batin Arsya kembali mengalihkan perhatiannya pada mobil di depannya.
Matanya memicing, mencoba melihat apa yang terjadi di dalam, memastikan jika itu memang bukan perbuatan mesum, orang-orang budak napsu birahi.
"Tolong!"
Arsya terkesiap, ketika suara itu semakin kencang hingga jelas terdengar. Untuk sekarang, dia memilih turun dari mobil dan mulai berjalan menghampiri mobil bergoyang itu. Wajahnya tampak waspada, walau kerutan di keningnya tampak dalam.
Arsya sambil membungkukkan tubuhnya seraya mencoba melihat ke dalam mobil dari kaca yang sedikit gelap. Arsya memincingkan mata, mencoba memperjelas penglihatan ketika dia melihat seorang lelaki tampak sedang berada dalam posisi setengah berdiri, sementara seorang perempuan berada di kursi yang sudah direbahkan.
"Tolong!"
Suara itu makin jelas, Arsya memlih berjalan ke depan mobil agar bisa melihat lebih jelas. Hingga sesaat kemudian, Arsya dikejutkan dengan apa yang sedang dia lihat. Seorang lelaki tampak sedang memaksa seorang perempuan di dalam mobil. Sementara permpuan yang kurang jelas wajahnya terlihat mencoba melepaskan diri sambil terus berteriak meminta pertolongan.
"Brengsek!" umpatnya, sambil menggedor pintu mobil tersebut. Namun, di saat bersamaan, wanita itu tampak menoleh hingga Arsya bisa melihat jelas wajahnya. Tanpa sadar, Arsya melebarkan matanya dengan rasa geram dan marah yang bercampur di dalam dada.
"Rumi?" gumamnya pelan. Jantungnya tiba-tiba berdebar begitu cepat. Dadanya terasa panas, melihat pemandangan di depan matanya.
"Sialan lo!" Arsya mencoba membuka pintu depan mobil itu, tetapi ternya semua pintunya terkunci.
"Woi, brengsek! Lepasin dia!" teriak Arsya. Pandangannya kini beralih pada sebuah batu besar yang ada di sisi jalan.
Tak mau membuang waktu, Arsya membawanya, dia naik ke kap mobil dan langsung membenturkan batu itu ke kaca depan mobil.
Laki-laki yang tengah sibuk melakukan pelecehan pada Rumi langsung menghentikan perbuatannya. Dia menatap kesal pada Arsya yang telah membuat kaca depan mobilnya retak.
"Brengsek! Dasar anak ingusan!" gerutu lelaki ya g memiliki paras cukup tampan dan tubuh sempurna bak model peragaan busana.
Brak!
Arsya kembali membentur kaca depan mobil oleh baru yang sama, dengan kekuatan yang jauh lebih besar.
Mata merah, bibir sedikit menghitam, rambut berantakan dan tubuh bergetar. Arsya yakin jika laki-laki brengsek itu sekarang sedang dalam pengaruh alkohol atau bahkan obat-obatan terlarang.
"Dasar bajingan!" Arsya kembali mengangkat batu itu dan membantingnya ke kaca dengan kekuatan lebih besar.
Brak!
Pyar!
Berhasil. Kaca itu pecah dan menghasilkan sebuah lubang yang cukup besar di usahanya yang ke tiga kali.
"Brengsek! Ke luar gak lo!" Arsya memasukan satu tanganya ke sela pecahan kaca dan menarik kerah lelaki itu hingga wajahnya menempel di kaca. Dia tak perduli walau guresan ujung kaca melukai kulit tangannya.
__ADS_1
"Arsya...." Rumi melebarkan matanya ketika sadar jika irnag yang menolongnya adalah Arsya. Dia kemudian memanfaatkan situasi itu untuk kabur. Dengan lengan bergetar dia mencoba membuka pintu dan ke luar dari mobil secepatnya.
Setelah melihat Rumi sudah bisa ke luar, Arsya menghentakkan tubuh leleaki brengsek itu lalu turun dari atas kap mobil. Dia berjalan cepat menuju pintu depan dan kembali menyeretnya ke luar. Aroma alkohol langsung menyeruak. Kini Arsya yakin jika lelaki itu memang tidak dalam keadaan sadar.
"Dasar brengsek! Cowok kayak lo gak pantes hidup di dunia ini!" teriak Arsya lalu kembali memberikan beberapa pukulan pada lelaki itu.
Namun, yang Arsya tidak tahu, lelaki itu sempat mengambil sebuah pisau lipat dari dashboard mobilnya yang kini berada di genggaman salah satu tangannya.
Bukannya merasa jera, lelaki itu malah tersenyum. "Dia itu emang pantes buat dikasih pelajaran," racaunya sambil menunjuk Rumi yang kini terlihat terduduk di dekat motor Arsya.
"Diem lo, brengsek!" Arsya kembali memberikan tinjunya pada pipi lelaki brengsek itu.
"Dia itu udah buat gue dan pacar gue putus!" ujarnya lagi dengan tatapan masih tertuju pada Rumi. "Dasar anak gak guna! Lo tau gak ... ibu lo itu lebih bahagia sama gue! Lo itu cuma kesialan buat dia!" Lelaki brengsek itu terus meracau walau sudah habis babak belur oleh Arsya.
"Bocah ingusan. Lo gak usah jadi sok pahlawan. Dia itu cuma anak pembawa sial! Lo tau ... bahkan, bokapnya aja mati gara-gara nolongin dia. Harusnya dia mati aja, bareng sama bokapnya ... hahaha!"
"Gue bilang diem, ya diem!" Arsya kembali memberikan beberapa pukul di pipi dan perut lelaki itu, hingga dia tampak terbatuk darah.
"Ck! Sialan lo," racau lelaki itu sambil mantap iris mata Arsya. Tampaknya dia sudah mulai merasa kesal karena terus dipukuli oleh Arsya.
"Cowok brengsek kayak lo yang gak pantes hidup! Dasar gil*!"
Arsya hendak memukul cowok brengsek itu lagi. Namun, sesuatu yang dingin lebih dulu terasa menggores perut bagian sampingnya. Gerakan Arsya terhenti lalu mundur selangkah, menghindari serangan tiba-tiba dari lawannya. Perih langsung terasa, dia meraba bagian yang sakit. Bibirnya beringis ketika melihat darah di tanganya. Dia terluka?
"Heh! Dasar anak ingusan!" cibir lelaki itu dengan seringai lebar di bibirnya. Bahkan Arsya dapat melihat barisan gigi penuh darah lelaki di depannya.
"Sialan!" Dengan kekuatan penuh, Arsya menangkap tangan lawan gang akan kembali menyerangnya dengan pisah lipat, lalu maju selangkah dan memukul bagian belakang telinga lawannya, hingga akhirnya lelaki brengsek itu tumbang tak sadarkan diri.
"Akh, sialan. Kenapa ini sakit banget," runtuk Arsya sambil duduk di pinggir jalan.
"A-Arsya?" Rumi yang melihat darah di perut Arsya langsung bangkit dengan wajah panik. Dia berlari menghampiri cowok tampan vitamin hariannya itu.
"A-Arsya. K-kamu berdarah banyak. A-aku harus gimana? Ini ... ini semua karena aku." Rumi menahan tubuh Arsya yang hampir jatuh tumbang, dia tekan luka Arsya yang masih mengeluarkan darah.
"Gak papa. Ini gak terlalu dalem. Tolong hubungi temen gue aja, suruh mereka dateng ke sini," ujar Arsya sambil menyerahkan ponselnya pada Rumi setelah dia membukanya menggunakan sidik jari.
Rumi langsung mencari kontak temannya Arsya. Dia cukup tahu siapa saja teman Arsya, karena dirinya memang termasuk salah satu penggemar wajah tampan cowok di depannya. Namun, kini tidak ada lagi kata terpesona atau bahkan jerit hiteris seperti biasanya.
Rumi hanya merasakan khawatir tiada tara dan sejuta rasa bersalah yang menumpuk di dalam dada hingga rasanya terasa begitu sesak. Semua ini terjadi pada Arsya karena menolongnya.
"Halo, Bro." Terdengar suara seseorang yang menjawab.
Rumi langsung memberikannya pada Arsya dan membiarkan laki-laki itu berbicara sendiri. Isak tangis pun mulai terdengar. Tangis yang bahkan belum reda kini kembali lagi dengan rasa yang berbeda. Jika tadi airmata ke luar dengan alasan putus asa karena hampir menerima pelecehan dari pacar ibunya sendiri. Kini bulir bening itu ke luar lebih deras ketika melihat darah yang masih merembes di sela jaket kulit yang dipakai oleh Arsya.
Sementara itu, Arsya sedang berbicara dengan temannya di telepon, ketika sebuah mobil tiba-tiba berhenti di depan mereka. Segera, Arsya dan Rumi mengalihkan atensinya pada seorang permpuan yang tampak ke luar.
__ADS_1
"Akh, sial!" umpat Arsya dengan suara pelan yang masih terdengar jelas oleh Rumi.