
~•Happy Reading•~
Ambar Kirania adalah seorang Ibu muda yang sudah memiliki seorang putra bernama Juha Enoch. Saat ini, Juha memasuki usia 5 tahun, dan sudah mulai bersekolah di TK.
Setiap pagi Juha ke sekolah di antar oleh Papanya, Rulof Kardasa. Karena sekolahnya berada di arah yang sama, ketika Papanya berangkat ke kantor. Pulang sekolah baru dijemput oleh Mamanya, Ambar.
Seperti hari ini, Ambar sudah pulang menjemput putranya dari sekolah. Mereka baru turun dari commuterline di Stasiun Bintara. Dari stasiun mereka berjalan kaki ke rumah, karena komplek perumahan tempat tinggal Ambar tidak jauh dari stasiun.
"Mamaa, ayooo, cepat jalannya. Juha sudah haus dan lapar." Ucap Juha, sambil menarik tangan Ambar. Dia tidak sabar, ingin lekas sampai di rumah.
"Iyaaa, Juha. Sabar, sebentar lagi sudah sampai." Ambar berkata sambil menghapus keringatnya, karena Juha mengajaknya berjalan sangat cepat.
Walaupun menggunakan payung, tetap merasa panas, karena cuaca di atas jam 11.00 sedang panas-panasnya. Ketika sampai di rumah, Ambar mengambil minuman untuk Juha dan dirinya. "Juha, ini minum dulu, lalu ganti baju. Setelah itu baru kita makan." Ucap Ambar, sambil memberikan segelas air mineral kepada Juha. Dia minum juga segelas air yang sudah diambil untuknya.
Setelah minum, Juha masuk ke kamarnya untuk mengganti bajunya seperti yang dikatakan Mamanya. Dia dengan cepat ganti baju, karena ingin segera makan.
"Seni, kalau masakannya sudah matang, tolong disiapkan, yaa. Juha sudah lapar sekali." Ucap Ambar kepada asistennya yang sedang di dapur, sebelum ke kamar untuk mengganti pakaiannya.
"Masakannya sudah matang Bu, tetapi sekarang sudah habis." Jawab Seni pelan, dan mengatakannya dengan ragu-ragu sambil mendekati Nyonyanya.
"Sudah habis, Seni? Siapa yang menghabiskannya?" Tanya Ambar, terkejut dan heran, sambil berbalik memandang Seni yang mendekatinya. 'Seni tidak mungkin bisa menghabiskan semua ayam dan sayur yang tadi telah dimasaknya jadi satu.' Pikir Ambar, karena masakkannya lumayan banyak, bisa untuk makan malam juga.
Tadi sebelum berangkat jemput Juha, Ambar telah menyiapkan semua dengan bumbunya. Seni tinggal mematangkan saja, sambil menunggunya pulang jemput Juha.
"Tadi Kakaknya bapak datang dan makan, Bu. Terus sisa masakannya di bawa pulang juga." Seni dengan pelan menjelaskan peristiwa yang terjadi, hingga masakan bisa habis sebelum dimakan oleh mereka.
"Oooh, tadi Kak Inge datang ke sini? Kenapa Kak Inge ngga kasih tau saya, yaa?" Tanya Ambar, kemudian mengambil ponsel untuk memeriksa, mungkin Inge sudah kirim pesan atau ada menelponnya. Ternyata tidak ada panggilan tidak terjawab atau pesan dari Inge.
__ADS_1
"Yaa, udah Seni, masak yang ada saja deh, yang bisa cepat matang. Mungkin bisa ceplok telur saja dulu, karena Juha sudah lapar. Saya mau ganti baju, baru masak lagi untuk kita.
"Bu, telurnya juga sudah habis." Ucap Seni, makin pelan. "Habis? bukankah tadi masih ada beberapa butir telur di kulkas?" Tanya Ambar heran, sambil menuju kulkas untuk memastikannya. Karena dia tahu, tadi saat menyiapkan masakan, masih ada beberapa butir telur di kulkas.
"Iyaa, Bu. Tadi masih ada, tapi sudah dibawa juga sama kakaknya bapak." Ucap Seni lagi. Ambar langsung menatap Seni seakan tidak percaya. Setelah melihat isi kulkas yang kosong, Ambar melongo, tidak percaya dengan yang dilihatnya. Tidak ada yang bisa dimasak lagi. Ayam yang dimasak tadi, adalah ayam terakhir yang ada dikulkas. Sedangkan sedikit ikan yang tersisa sudah tidak berbekas.
"Seni, ini tolong beli telur 1/4 kg di warung yaa, nanti dibuat mata sapi untuk kita bertiga." Ucap Ambar, sambil mengeluarkan uang Rp.10.000 dari dompet dan memberikannya kepada Seni.
Ambar berjalan ke kamar untuk mengganti bajunya dengan hati yang sedih. Karena anaknya akan makan telur dan nasi lagi. Hal ini sering terjadi, menjelang akhir bulan. Tetapi sekarang baru melewati pertengahan bulan, semua stock makanan satu bulan telah ludes, tandas.
*((**))*
Menjelang waktu makan malam, Rulof belum pulang dari kantor. Ambar langsung mengirim pesan untuk suaminya. "Mas, pulang dari kantor jam berapa?" Isi pesan Ambar kepada Rulof. Dia sudah tidak sabar menunggunya untuk makan.
"Aku sedang lembur, pulangnya malam." Balasan pesan dari Rulof, Ambar langsung tertunduk lesu. Dia berharap suaminya akan cepat pulang, sehingga bisa pesan makanan untuk makan malam mereka.
"Seni, uang yang tadi siang masih ada kembaliannya?" Tanya Ambar kepada Seni, tentang uang kembalian beli telur.
"Masih ada, Bu. Itu saya letakan di atas kulkas." Jawab Seni, sambil menunjuk dengan jempolnya ke atas kulkas.
"Tolong Seni tambahin, agar bisa beli telur untuk makan malam kita, ya." Ucap Ambar yang tidak enak hati terhadap asistennya.
"Baik, Bu. Saya akan pergi ke warung." Ucap Seni, sambil mengambil uang di atas kulkas dan masuk ke kamarnya untuk mengambil uang tambahan. Kemudian keluar dari rumah untuk beli telur di warung.
Ambar tertunduk malu dan sedih di ruang tamu. Untuk beli telur saja, dia harus minta tambahan uang dari asistennya. Uangnya yang tersisa, hanya selembar Rp. 10.000,- yang sudah diberikan untuk Seni tadi siang.
Setelah Seni pulang dari warung, Ambar segera ke dapur untuk membuat telur dadar. Karena tadi siang mereka sudah makan nasi dengan telur mata sapi, malam ini dengan telur dadar.
__ADS_1
"Seni, tolong panggil Juha untuk makan, yaa." Ucap Ambar, setelah makanan telah disajikan di meja makan. Juha datang dan duduk di meja makan tanpa suara, karena melihat wajah Mamanya yang tidak happy.
"Juha, berdoa, lalu makan. Nanti selesai makan, kita belajar sebentar di kamar, ya. Juha ceritakan, tadi belajar apa saja di sekolah." Ucap Ambar, mengajak putranya berbicara, karena melihatnya diam.
"Iyaa, Ma." Jawab Juha singkat, seperti makannya yang singkat. Setelah makan, Juha masuk ke kamarnya lagi.
"Seni, masih ada susu Juha?" Tanya Ambar.
"Masih, Bu. Mau saya buatkan sekalian?" Tanya Seni.
"Tidak sekarang, Seni. Sedikit lagi baru saya buatkan." Ucap Ambar lagi.
Setelah berbicara dengan Juha di kamarnya dan menemani dia belajar, Ambar keluar ke dapur untuk membuat susu sebelum Juha tertidur.
'Syukur, masih ada susu. Kalau ngga, kasihan anakku.' Ambar membatin, sambil membuat susu.
Setelah minum susu, Ambar menemani Juha berbaring sambil membaca sebuah cerita sebelum tidur. Setelah selesai mendengar cerita, Juha memeluk Mamanya. "Mama, betis Juha sakit sekali." Ucap Juha, sambil menunjuk betisnya.
"Kalau begitu Juha bangun dan berdoa, yaa. Setelah itu baru berbaring. Mama akan pijit betismu." Ucap Ambar, karena khawatir Juha tertidur saat dipijit.
"Iyaa, Ma." Ucap Juha, langsung bangun dan berdoa. Ambar mengambil minyak hangat untuk memijit betis dan kaki Juha.
"Sekarang Juha berbaring, Mama akan pijit betis dan kakimu." Ucap Ambar, dan Juha kembali berbaring.
Ambar memijit betis dan kaki Juha dengan hati yang makin sedih karena tahu, Juha merasa pegal dan sakit di kakinya karena jalan kaki dari stasiun ke rumah.
Ketika melihat putranya telah tertidur, Ambar berhenti memijit betis dan menyelimuti Juha dengan selimut. Kemudian mencium keningnya dengan sayang, lalu keluar kamar untuk menuju kamarnya.
__ADS_1
~●○♡○●~