
...~•Happy Reading•~...
Mathias telah bangun pagi bersama Ambar dengan bersemangat, karena mau berangkat kerja lebih pagi. Selain itu dia mau mampir ke rumah Ibunya sebelum berangkat kerja.
"Ambar, nanti sore untuk acara GR, Ibu ngga perlu ikut kan?" Tanya Mathias, saat sedang sarapan. Dia baru mengingatnya, saat berpikir mau ke tempat Ibunya.
"Ngga usah Mas. Pihak Gereja sudah tau, Ibu lagi kurang sehat. Jadi GR nya hanya kita berdua dan saksi." Ucap Ambar, membuat Mathias terkejut.
"Ooh... dengan saksi juga? Kalau begitu aku akan hubungi mereka. Semoga mereka bisa datang nanti sore, karna aku hanya bilang mereka untuk besok sore." Ucap Mathias, berharap temannya bisa hadir. Karena kedua temannya yang jadi saksi adalah pengacara juga.
"Kalau mereka ngga bisa hadir GR, nanti kita coba bicarakan dan minta ijin. Karna mereka orang kerja dan sibuk, yang penting hari H mereka bisa hadir." Ucap Ambar, mencoba menenangkan Mathias.
"Ok... Aku berangkat sekarang, agar bisa pulang lebih cepat." Ucap Mathias, kemudian berdiri masuk ke kamar untuk berdoa dan mengambil semua perlengkapan untuk ke kantor.
"Ada apa atau ada perubahan, tolong kabari aku, ya." Ucap Mathias sambil mencium kening Ambar.
"Iyaa, Mas. Hati-hati! Pelan-pelan saja, jangan ngebut." Ucap Ambar, sambil memeluk Mathias di depan pintu.
"Iyaa, berdoa di rumah agar semua yang dikerjakan hari ini lancar dan sukses." Ucap Mathias, serius tidak mengajak bercanda seperti biasanya saat Ambar memeluknya. Karena dia tahu, situasinya sedang serius dan butuh saling mendukung.
"Iyaa, Mas. Aku selalu berdoa." Ucap Ambar sambil mengetat pelukannya. Mathias mencium kepalanya dan naik ke atas motor. Ambar segera membuka pagar, agar Mathias langsung keluar ke jalanan.
Setelah bertemu Ibunya dan melihat kondisinya baik, Mathias segera berangkat ke kantor. Saat tiba di kantor, Bagas sudah ada diruangannya. Mathias melihat ada beberapa kali panggilan tidak terjawab.
Dia teringat janjinya dengan Pak Wisnu. 'Jangan-jangan Pak Wisnu yang telpon.' Pikir Mathias, kemudian dia mengambil kartu nama Pak Wisnu untuk mencocokan dengan nomor panggilan tak terjawab.
Ketika mengetahui nomornya benar adalah nomor Pak Wisnu, Mathias segera menghubunginya.
📱"Alloo, Pak Wisnu. Maaf, saya baru bisa merespon, karna tadi saya masih di jalan dan diatas motor. Bagaimana, Pak?" Tanya Mathias, setelah menjelaskan kenapa tidak bisa merespon panggilan Pak Wisnu.
📱"Ooh, pantes. Kalau sekarang Pak Mathias sudah di kantor, kami mau ke kantor bapak." Ucap Pak Wisnu, tidak sabar untuk bertemu dengan Mathias. Karena mereka belum berikan tanda jadi kepada Mathias, istrinya khawatir apartemennya bisa dibeli oleh orang lain.
__ADS_1
Setelah pulang dari apartemen Mathias, Bu Henny baru ingat belum memberikan tanda jadi kepada Mathias, pertanda bahwa mereka serius mau membeli apartemennya. Hal itu membuat Pak Wisnu menelpon Mathias pagi-pagi untuk memberikan kesan, mereka serius mau membeli apartemen Mathias.
Mereka was-was karena melihat sikap santai Mathias saat berbicara dengan mereka. Membuat mereka berpikir, Mathias bisa memberikan apartemennya kepada siapa saja yang datang duluan untuk membelinya.
📱"Bisa, Pak. Saya tunggu." Ucap Mathias, setelah melihat jam dinding di ruangannya. Karena perhitungannya, Pak Wisnu tiba di kantornya, bank sudah buka. Jadi Bagas bisa berhubungan dengan bank, karena transaksi mereka dalam jumlah besar.
📱Baik, Pak. Sampai bertemu." Ucap Pak Wisnu, kemudian Mathias mengakhiri pembicaraan mereka.
Setelah selesai berbicara dengan Pak Wisnu, Mathias segera menghubungi Bagas.
📱"Bagas, tolong ke ruanganku, ya." Ucap Mathias, saat Bagas merespon panggilannya.
📱"Baik, Pak. Sekarang saya ke sana." Ucap Bagas dan bergegas ke ruangan bossnya.
Tidak lama kemudian, Bagas telah berada dalam ruangan bossnya. "Bagas, sebentar lagi orang yang mau beli apartemen akan datang. Tolong kau siapkan semua surat-surat yang saya titipkan padamu. Agar saat mereka datang, tidak terlalu lama tranksaksinya. Hari ini saya harus pulang paling lambat jam empat." Ucap Mathias, menjelaskan.
"Baik, Pak. Akan saya siapkan semuanya." Ucap Bagas, bersemangat karena ada yang mau beli apartemen bossnya.
"Jangan lupa, kau hubungi pihak bank untuk berjaga-jaga." Ucap Mathias, mengingatkan. Bagas mengangguk, mengerti apa yang dimaksudkan oleh bossnya.
"Baik, Pak. Saya akan turun untuk menyiapkan surat-surat dan menunggu Pak Wisnu di bawa." Ucap Bagas, dan Mathias mengangguk mengiyakan.
Setelah ditinggal Bagas, Mathias menghubungi kedua temannya yang menjadi saksi pernikahannya. Ketika mengetahui mereka berdua bisa hadir saat GR, Mathias merasa lega.
Karena kedua orang tua mereka tidak bisa hadir, dengan adanya kehadiran saksi sangat membantu. Jadi mereka tidak merasa sendiri.
"Masuuukk..." Ucap Mathias, saat terdengar ketukan di pintu ruang kerjanya. Bagas membawa masuk Pak Wisnu bersama istrinya.
"Selamat pagi, Pak Mathias." Ucap Pak Wisnu bersama istrinya, lalu menjabat tangan Mathias dengan hangat. Mathias mempersilahkan mereka duduk di sofa yang ada dalam ruang kerjanya.
Sebagaimana yang diprediksi oleh Mathias, Pak Wisnu membayar menggunakan cek. Bagas segera menghubungi pihak bank untuk mengetahui keabsahan cek tersebut.
__ADS_1
Setelah mengetahui semuanya benar dan cek bisa dicairkan kapan saja, Mathias meneruskan proses jual beli apartemennya.
Ternyata Pak Wisnu adalah seorang pejabat daerah yang dipindah tugaskan ke pusat. Sehingga beliau memerlukan tempat tinggal sesegera mungkin di Jakarta.
Mathias menyerahkan semua yang berhubungan dengan apartemennya kepada Pak Wisnu dan istrinya. Mereka sangat senang, bisa mendapakan apartemen milik Mathias.
"Kapan Pak Wisnu akan menempati apartemennya?" Tanya Mathias ingin tahu, melihat rasa antusias mereka untuk membeli apartemennya.
"Setelah pulang dari sini, kami akan pindah dari hotel ke apartemen, Pak Mathias." Jawab Bu Henny dengan wajah berseri.
"Kalau begitu Ibu harus membeli penutup tempat tidur dulu, karena semuanya sudah kami bu... bawa." Ucap Mathias dan tersenyum tipis, karena melihat Bagas sedang melihatnya sambil menggaruk kepalanya.
Karena Mathias hampir mengatakan penutup tempat tidurnya telah dibuang semuanya. Mengingat mereka berdua membersihkan apartemennya.
Setelah semuanya telah selesai, Pak Wisnu bersama istri meninggalkan kantor Mathias diantar oleh Bagas. Mathias memasukan lembar cek ke kantong di dalam tas kerjanya.
Bagas kembali ke ruang kerja bossnya setelah mengantar Pak Wisnu dan istri sebagaimana yang diminta oleh Mathias.
"Bagas, besok sore tolong kau ke Ayam Baqcot Restaurant agak sore. Agar kau bisa temani tamu yang saya undang, jika kami terlambat datang." Ucap Mathias, mengingatkan bagas untuk acara besok.
"Siiiap, Pak. Besok saya akan berangkat langsung dari sini ke restoran. Jadi saya tidak pulang ke kontrakan lagi." Ucap Bagas, menyampaikan rencananya.
"Kalau begitu, ini kunci cabin. Kau mandi dan bersiap-siap di sana." Ucap Mathias, sambil menyerahkan kunci cabinnya. Tiba-tiba ponselnya bergetar, ketika melihat yang telpon, Mathias memberikan isyarat kepada Bagas untuk meninggalkannya.
📱"Alloo, Pak Mathias, saya telah menerima emailnya. Trima kasih, telah mengundang saya." Ucap Pak Benny, saat Mathias merespon panggilannya.
📱"Saya berterima kasih juga kalau Pak Benny bisa hadir, karna ini hanya acara kumpul-kumpul dan bersyukur dengan kalangan terbatas saja." Ucap Mathias.
📱"Bolehkah kami meminta alamat Gerejanya, Pak. Karna saya dan istri mau ikut acara pemberkatannya." Ucap Pak Benny, menyampaikan niat hatinya dan istri.
Mendengar yang dikatakan Pak Benny, Mathias mendapat ide.
__ADS_1
📱"Baik, Pak Benny. Saya akan mengirim alamat Gerejanya dan saya akan menghubungi Pak Benny lagi setelah ini." Ucap Mathias, lalu mengakhiri pembicaraan mereka.
...~●○♡○●~...