MANUSIA PARASIT

MANUSIA PARASIT
Ada Orang Jahat.


__ADS_3

~•Happy Reading•~


Di sisi yang lain ; orang yang selalu mengintai rumah dan aktivitas Ambar melaporkan perkembangan baru yang dilihatnya.


"Pak Richo, Bu Ambar baru saja keluar dari rumah tetangganya." Ucap pengintai, setelah melihat Ambar masuk ke rumahnya.


"Tetangga yang sebelah mana rumahnya? Kiri atau kanan?" Tanya Richo.


"Tetangga yang sebelah kiri, Pak." Ucap pengintai lagi.


"Ok. kalau begitu, sekarang kau sudah bisa pulang. Nanti besok tunggu kabar dariku." Ucap Richo. Wajahnya langsung cerah, karena dia yakin mobil Ambar telah laku dijual. 'Dengan dia ke tetangganya yang sebelah kiri, berarti mau membayar hutang.' Itu yang ada dalam pemikiran Richo. Dia tahu, tetangga yang di sebelah kiri itulah yang membantu Ambar.


Dia mulai susun rencana untuk mendatangi rumah Ambar. Karena dia telah menyelidiki harga mobil Rulof kalau bisa dijual, Ambar akan memeggang uang yang banyak. Apalagi dia sudah membayar hutang sebelumnya, pasti tidak terlalu banyak lagi hutang yang harus dibayarnya. Memikirkan itu, hatinya mulai merasa senang. Dia mulai menyusun strategi untuk bisa mendapat bagian dari penjualan mobil Rulof.


Richo tidak membicarakan dengan Inge hasil pengintaiannya. Karena dia tidak mau Inge berbagi dengan keluarganya di Makassar. Dia sedang membutuhkan banyak uang.


Karena modal yang dijanjikan Rulof untuk usaha yang akan dilakukannya terhenti. Rulof keburu meninggal sebelum memberikan uang kepadanya. Oleh sebab itu, satu-satunya orang yang dapat meujudkannya adalah Ambar.


Dia akan berusaha mendekati Ambar untuk mendapat dana. Dengan cara yang baik-baik atau ekstrim sekali pun, dia akan mencobanya.


*((**))*


Dua hari kemudian, Ambar belum lama turun dari kamar Juha dan membaringkan tubuhnya untuk istirahat. Dia sudah hampir tertidur, karena banyak hal yang dilakukan seharian. Tiba-tiba terdengar bunyi ketukan pintu rumahnya.

__ADS_1


Ambar langsung terjaga dan diam membeku, karena dia tahu tidak mungkin orang bisa mengetuk pintu rumahnya. Dia sendiri yang mengunci pagarnya setelah berbicara dengan Bu Tony.


Tadi dia telah bertemu dengan Bu Tony untuk menyampaikan bahwa dia telah mentransfer sisa hutangnya dan berterima kasih kepada keluarga Pak Tony yang telah menolongnya. Dia yakin telah mengunci pintu pagar.


Mendengar ada yang mengetuk pintu, membuat Ambar memegang dadanya dengan kuat. Tidak lama kemudian, Seni membuka pintu kamarnya pelan dan masuk dengan wajah ketakutan.


"Ibu, tadi sudah kunci pintu pagar bukan? Kenapa ada yang bisa masuk ke halaman?" Tanya Seni pelan untuk meyakinkan Nyonyanya, benar sudah kunci pagar.


"Sssttt... Kita diam saja dulu, jangan bersuara. Ibu curiga ini dari kel Papa Juha." Ucap Ambar pelan. Ketika menyebut nama Juha, Ambar memegang tangan Seni dan berjalan pelan keluar dari kamarnya menuju kamar Juha.


Ambar khawatir Juha bangun dan bersuara, sehingga orang yang di luar tahu mereka sudah bangun. Karena ketukan di pintu rumahnya makin keras. "Ambar, aku tau kau belum tidur. Cepat buka pintunya." Ucap Richo sambil terus mengetuk. Ketika mendengar suara Richo, Ambar dan Seni langsung menutup mulut mereka dengan tangan.


Ambar bersyukur, Juha tertidur pulas. Dia cepat berpikir, setelah tahu di luar adalah Richo dan tidak terdengar suara Inge. Jantungnya berdegup dengan kencang, karena mereka hanya bertiga.


Mungkin saja Richo sedang mabuk. Karena tidak mungkin orang normal bisa masuk ke rumah orang dengan melompati pagar. Kecuali mau mencuri atau berbuat jahat. Memikirkan itu, Ambar makin bergidik. "Seni, tunggu Juha di sini. Ibu mau turun ke kamar ambil ponsel." Ucap Ambar, berbisik. "Baik, Bu. hati-hati!" Ucap Seni pelan.


Tidak lama kemudian, terdengar rame-rame di luar pagar. Ambar berjalan mendekati pintu untuk mendengar apa yang sedang terjadi di luar. "Pak, anda siapa dan sedang mencari siapa?" Tanya security komplek, sambil mendekati pagar.


"Oooh, selamat malam Pak. Saya mau bertemu dengan adik saya, Ambar. Saya kakak ipar suaminya." Ucap Richo baik dan ramah memperkenalkan dirinya.


"Oooh... Lebih baik anda datang pada siang hari saja, supaya tidak mengganggu. Kalau sudah malam begini, mungkin Bu Ambar keberatan untuk menerima kedatangan bapak." Ucap Security.


"Saya harap, bapak segera meninggalkan tempat ini, sebelum para tetangga komplain." Ucap Security lagi, karena berpikir mungkin saja saudara Bu Ambar ini sedang mabuk. Jadi Bu Ambar tidak mau menerimanya.

__ADS_1


"Ambar, kau tidak keluar tetapi telpon security? Nanti kau lihat saja, aku tidak akan tinggal diam. Aku akan datang lagi, mengambil semuanya, sekalian denganmu." Ucap Richo marah, sambil menendang pintu rumah.


Richo berjalan keluar mendekati pagar dan hendak naik untuk melompati pagar. "Sebentar, Pak. Tadi masuk ke rumah ini, anda melompati pagar?" Tanya Security, membuat Richo tidak jadi melompati pagar.


"Iyaa, Pak. Saya ketinggalan kunci jadi harus melompati pagar, taunya adik saya tidak mau bukakan pintu rumahnya." Ucap Richo, mencoba berbicara santai sedangkan hatinya geram.


"Lain kali, bapak datangnya siang atau sore saja supaya jangan dikira orang jahat." Ucap Secutity, sambil mempersilahkan Richo keluar melompati pagar.


Hal itu membuat Richo makin marah, karena harus melompati pagar di depan Security dan anak buahnya tidak bisa berbuat apa-apa. Dia memberikan kode untuk anak buah yang mengawasinya dari seberang untuk tetap diam, karena dia khawatir ada warga yang belum tidur atau terkejut dan bangun.


"Trima kasih, Pak." Ucap Richo, setelah berada di luar pagar. Kemudian berjalan bersama Security meninggalkan halaman rumah Ambar. Sedangkan anak buahnya yang di seberang jalan menjalankan motornya pelan mengikuti dari belakang dan menjaga jarak, agar tidak diketahui oleh security.


Setelah merasa sudah sepi di luar, Ambar langsung duduk terhenyak di lantai. Karena dari tadi kakinya gemetar, mendengar apa yang dikatakan oleh Richo. Dia menahan dari tadi, agar tidak jatuh terduduk.


Seni yang baru turun dari kamar Juha, langsung menopang Nyonyanya untuk duduk di kursi dan membuat minuman hangat untuknya.


"Ngga usah dipikirkan lagi, Bu. Tadi sudah ketahuan security. Orangnya tidak akan berani kembali lagi." Ucap Seni, menghibur Nyonyanya. Tetapi dia sendiri ragu dengan yang diucapkannya.


"Iyaa... Semoga tidak kembali lagi, bikin sport jantung saja. Lagian juga kalau mau uang, kenapa harus datang malam-malam, pake lombat pagar segala." Ucap Ambar, yang sudah mulai tenang dan mulai memikirkan alasan kedatangan Richo.


"Mereka datang malam-malam, Itu namanya bukan rejeki mereka, Bu. Kalau datang siang-siang, pasti Ibu akan memberikan uang buat mereka dari balik pagar." Ucap Seni, tersenyum mendengar ucapannya sendiri.


Ambar mendengar apa yang dikatakan Seni ikut tersenyum. Dalam hatinya dia membenarkan ucapan Seni. Kalau mereka datang baik-baik, pasti dia akan memberikan sedikit uang untuk Inge. Dia tahu, selama ini hidup mereka bergantung sepenuhnya pada Rulof. Tetapi dengan apa yang dilakukan dan diucapkan Richo membuat hatinya tawar untuk memberikan uang kepada mereka.

__ADS_1


'Perbuatan mereka menunjukan, mereka tidak menganggap Juha adalah bagian dari keluarga mereka, apalagi dirinya.' Ucap Ambar dalam hati. Dia melangkah masuk ke kamar dengan hati yang sedih.


~●○♡○●~


__ADS_2