
~•Happy Reading•~
Setelah kapal stom 3 kali, Inge mematikan ponsel dan menenangkan Dini. Karena sudah tidak berguna lagi, jika Dini tetap menangis. Papanya tidak akan ikut pulang ke Makassar bersama mereka.
Inge keluar kamar dan melihat dari dalam ruangan, kapal yang mereka tumpangi meninggalkan Pelabuhan Tanjung Priuk. Richo makin tidak terlihat oleh mereka, tanpa terasa air mata Inge mengalir pelan.
Setelah dua hari dalam pelayaran, akhirnya kapal yang ditumpangi tiba di Makassar. Setelah berlabuh, Inge menyewa buruh angkut barang untuk membawa semua barangnya, karena dia konsentrasi mengurus Dini dan kopernya.
Mamanya telah berjanji akan menjemput mereka di pelabuhan. Sehingga dia berjalan cepat mengikuti buruh yang membawa barangnya. "Sebentar, Pak. Tolong tunggu di sini dulu, karena saya akan menghubungi penjemput." Ucap Inge, menahan buruh yang berjalan cepat, kemudian menghubungi Mamanya.
Setelah mengetahui Mamanya telah menunggu di pintu keluar, Inge langsung berjalan cepat mengikuti buruh yang membawa barangnya.
Ketika tiba di pintu keluar, Inge tersenyum senang melihat Mamanya telah menunggunya. Inge menyerahkan Dini ke Mamanya, karena akan mengurus barang dan buruh yang membantunya. Kemudian Inge menyewah mobil untuk mereka pulang ke rumah.
"Mama, kenapa Tiara ngga ikut menjemput bersama Mama?" Tanya Inge, saat mereka telah duduk di dalam mobil.
"Mama ngga kasih tau dia, kalau kau dan Dini akan datang hari ini." Jawab Mama Inge santai. Tetapi Inge terkejut mendengarnya. 'Pantes Tiara tidak ikut menjemput, ternyata dia tidak tahu kami mau datang.' Ucap Inge dalam hati.
"Apakah Tiara baik-baik saja, Ma?" Tanya Inge curiga, mendengar nada bicara Mamanya membicarakan Tiara.
"Yaaa, nanti kau lihat saja dan menurutmu bagaimana. Baik-baik saja atau tidak." Ucap Mamanya lagi dengan nada yang tidak menyenangkan.
"Dini, sudah salim sama Oma?" Tanya Inge mengalihkan topik pembicaraan, agar Mamanya tidak makin emosi membicarakan Tiara. Dini mengangguk, sambil memeluk Omanya.
Tidak lama kemudian, mobil yang disewa Inge berhenti di depan rumah. Sopir membantu menurunkan semua barang yang dibawa oleh Inge. Mamanya membantu memasukannya ke halaman rumah.
Tiara yang sedang di dalam rumah dan mendengar ada mobil berhenti di depan rumah, segera keluar melihat siapa yang datang. Ketika melihat Inge yang datang dan Mamanya bersama mereka, Tiara jadi emosi.
__ADS_1
"Oooh, ini yang Mama sembunyikan dariku saat aku tanya beberapa hari lalu? Karena anak kesayangan Mama mau datang rupanya." Ucap Tiara kesal, dengan kedatangan Inge dan tindakan Mamanya.
"Apakah kau tidak mengerti atau tidak tau cara menyambut saudaramu yang baru datang dari jauh?" Mama Inge terkejut, dan marah mendengar yang dikatakan Tiara.
"Ayoo, Inge. Masuk dan tidak usah perdulikan ucapan adikmu yang otaknya sudah mulai dimakan rayap." Ucap Mama Inge sambil bantu mengangkat barang-barang yang dibawa Inge.
"Memangnya otakku kayu, hingga bisa dimakan rayap?" Ucap Tiara, menggerutu dengan kesal.
"Kalau otakmu bukan kayu, kenapa tidak bantu Kakakmu?" Tanya Mama Inge, sambil mendorong Tiara yang hanya berdiri di depan pintu.
"Apa yang kau takutkan dengan kedatanganku, sampai kau berani marah Mama yang menerimaku di sini? Apa aku sedang datang ke rumahmu?" Tanya Inge emosi, karena masih cape' dan melihat sambutan adiknya yang tidak menyenangkan.
"Aku marah karna Mama sembunyi-sembunyi dariku." Ucap Tiara yang tidak mau kalah.
"Mama sembunyi darimu, karna tau kelakuanmu yang begini ini." Ucap Inge yang tidak terima perlakuan adiknya.
Mendengar teriakan mertuanya, suami Tiara perlahan berjalan keluar dari dapur. Karena tahu mertuanya sedang marah, dia buru-buru kabur dari pintu belakang. Dia yang tidur di kamar tersebut, saat pulang pagi dan melihat kamar yang bersih.
Melihat gelagat yang tidak baik, Inge yang masih kesal dengan kelakuan adiknya, ditambah lagi mendengar teriakan Mamanya, Inge langsung lari ke dapur dan menyambar air di dalam ember. Dia langsung menyiramnya ke sekujur tubuh suami Tiara yang sedang berjalan jinjit keluar dari pintu dapur.
"Mau lari kemana kau, laki-laki pemalas. Ambil itu, dan jangan coba-coba masuk ke rumah ini." Ucap Inge, kemudian menutup pintu dapur dengan membantingnya di depan suami Tiara.
"Kak Inge, apa yang kau lakukan kepada suamiku? Kau baru datang, sudah seakan-akan ini rumahmu." Ucap Tiara emosi, melihat suaminya disiram air oleh Kakaknya.
"Kenapa... Kau tidak terima melihat suamimu yang berharga itu dimandiin air cucian? Kalau begitu ikut dia, jangan sampai bulu matanya kelupas." Ucap Inge makin emosi melihat adiknya tidak terima perlakuannya.
"Pantes belakangan ini Mama suka naik tekanan darahnya. Ternyata kau dan suamimu biang keroknya." Ucap Inge marah, melihat yang terjadi di rumah Mamanya.
__ADS_1
"Jangan sembarang menuduh Kak, keadaan Mama karna Kak Rulof meninggal. Kalau tidak tau itu, jangan sembarang menuduh." Ucap Tiara, yang tidak menyadari kesalahannya.
Inge mendekati Tiara dengan ember yang masih di tangan langsung memukul kepala Tiara dengan ember tersebut.
"Biar, aku pecahin kepalamu yang bodoh itu. Sudah tau Mama lagi susah dengan meninggalnya Rulof, tambah lagi bikin susah Mama dengan bodohmu itu." Ucap Inge, tidak bisa mengendalikan marahnya.
"Aku berani lihat kau dan suamimu kurang ajar kepada Mama, nanti lihat saja. Apa yang akan aku lakukan kepadamu dan suamimu." Ucap Inge, sambil mengangkat ember hendak memukul lagi kepala Tiara.
Melihat yang dilakukan Kakaknya, Tiara berlari masuk ke kamarnya sambil menangis dan membanting pintu dengan keras. Dia tidak menyangka, Inge bisa memukulnya. Tetapi dia jadi khawatir, Mamanya bisa mengusir keluarganya dengan kedatangan Kakaknya.
"Banting pintu yang keras supaya terbelah pintunya, agar aku bisa belahin kepalamu untuk keluarin isinya yang tidak bertumbuh itu." Ucap Inge, dari luar pintu kamar Tiara.
Kemudian Inge masuk ke kamar Mamanya, dan melihat Dini sudah tertidur. "Ini tutup tempat tidur yang baru, mungkin itu suaminya Tiara yang tidur." Ucap Mama Inge, sambil menyerahkan penutup tempat tidur yang baru.
"Iyaa, Ma. Nanti tutup tempat tidur yang sudah ditiduri itu kasih saja ke Tiara. Suruh dia cuci dan biar mereka yang memakainya. Inge ada bawa tutup tempat tidur sendiri." Ucap Inge, sambil duduk di tepi tempat tidur Mamanya.
"Baiklah, kalau itu maumu. Karna itu tutup tempat tidur yang Mama simpan-simpan untuk Mama pakai." Ucap Mama Inge, pasrah.
"Ngga papa, Ma. Inge ada bawa beberapa, jadi bisa untuk Mama pakai. Sekarang Inge tidur sebentar di sini dengan Mama, ya. Nanti bangun baru Inge rapiin kamar." Ucap Inge, karena masih cape'. Mamanya memberikan tempat lalu dia ikutan tidur dengan Dini.
Menjelang makan siang, Inge terkejut bangun karena merasa lapar. Begitu juga dengan Dini, anaknya ikut bangun dan minta makan. Inge keluar kamar dan mencari Mamanya.
"Mama, kalau sudah masak nasi, biar kita beli lauk di luar saja dulu. Nanti besok baru kita masak sendiri. Mama tau ada yang jual lauk dekat sini?" Tanya Inge, mendekati Mamanya di dapur.
"Iyaa, ada. Tidak jauh dari sini. Kalau kau mau makan coto, ada di seberang." Ucap Mamanya menjelaskan.
"Iyaa, boleh. Mama bisa tolong beliin untuk kita berdua dan telur untuk Dini? Kalau untuk mereka, biarkan mereka yang mikir." Ucap Inge, sambil menunjuk kamar Tiara, adiknya.
__ADS_1
~●○♡○●~