MANUSIA PARASIT

MANUSIA PARASIT
Kasus Keluarga.


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Di bagian pulau yang lain ; Setelah sarapan bersama Mamanya, Inge masih duduk di meja makan bersama Dini, anaknya. Sedangkan Mamanya langsug ke tetangga untuk bekerja, karena mereka bangun kesiangan.


Inge sedang memikirkan apa yang harus dilakukan untuk menyambung hidupnya. Karena Richo sudah jarang menghubunginya. Kalau Inge menghubunginya, ada kalanya tidak diterima atau ponselnya tidak aktif. Jika direspon dan ditanya, ada saja alasannya. Entah lagi tidur, atau sedang kumpul dengan teman-temannya.


Semenjak Inge tiba di Makassar, Richo pernah mengirim uang kepadanya satu kali yang katanya ada dapat rejeki. Tetapi setelah itu tidak pernah lagi, karena belum dapat pekerjaan yang tetap katanya lagi.


Kondisi ini membuat Inge berpikir untuk mencari pekerjaan, karena di rumah Mamanya masih lebih baik. Dia tidak perlu memikirkan biaya kontrak rumah, dia hanya perlu cari kerja untuk makan dan minumnya bersama Dini.


"Kak Inge, apa yang kau lakukan kepada suamiku, sampai dia tidak mau pulang ke rumah ini?" Tanya Tiara yang tiba-tiba masuk ke dapur sambil menyemprot dengan pertanyaan. Hal itu membuat Inge terkejut, langsung memegang dadanya.


"Tiaraaa... Kau seperti hantu. Bukannya baru datang itu, kasih salam atau kalau tidak tau cara ngucapin salam, teriak dari luar. Bikin kaget saja, jantungku bisa copot. Tuuu, dengar anjing tetangga saja menggonggong kalau ada orang yang datang." Ucap Inge emosi, sambil terus memegang dadanya.


"Ngga usah Kak Inge putar-putar, mengalihkan pembicaraan karna tidak mau jawab pertanyaanku." Ucap Tiara kesal, karena suaminya tidak berani pulang ke rumah Mamanya selama ada Inge.


"Aku mau jawab apa o'on, mana aku tau alasannya. Kau tanya sendiri padanya, kenapa tidak mau pulang. Kan, dia suamimu." Ucap Inge kesal dengan adiknya yang tidak pintar-pintar.


"Aku sudah tanya dan dia cuma bilang, kalau masih ada Kak Inge di rumah, dia tidak mau pulang." Ucap Tiara, menjelaskan yang dikatakan suaminya, tanpa berpikir.


"Waaah, bagus itu. Jadi dia tidak akan pernah pulang ke rumah ini, karna aku akan terus berada di rumah ini. Katakan itu padanya, mimpiii... Kalau mau mengusirku dari rumah ini." Ucap Inge yang mulai naik level emosinya mendengar yang dikatakan suami Tiara.


"Kau juga, kalau tidak mengerti suami macam apa dan otakmu masih berkabut. Sana pergi ikut tinggal dengan dia, mungkin otakmu bisa jernih." Ucap Inge sambil, mengibaskan tangannya.

__ADS_1


"Kak Inge jangan sok kuasa di rumah ini, karna aku juga berhak tinggal di rumah ini." Ucap Tiara tidak mau kalah, mendengar yang dikatakan kakaknya.


"Heiii, siniiii. Mari aku bela kepalamu untuk mengeluarkan otakmu yang stengah itu. Siapa yang melarangmu tinggal di rumah ini? Apa Mama ada melarangmu? Tapi untuk semua keperluanmu, cari sendiri. Siapa yang mau kerja untuk isi perutmu dan anak-anakmu?" Tanya Inge yang makin naik level emosinya.


"Bilang suamimu itu, kami tidak kekurangan air cucian untuk memandikannya. Jadi kalau masih rindu sering-sering mandi air cucian, mari tinggal di rumah ini dan kami akan memandikannya dengan sepuasnya." Ucap Inge, marah mengingat kelakuan suami Tiara dan berani menghasut adiknya.


"Bilang padanya juga, waktu rebahan santainya sudah berakhir. Jika sekarang masih mau rebahan santai, bukan saja dapat air cucian tetapi ember cantik." Ucap Inge, marah dengan Iparnya yang tidak pernah sadar diri.


"Memangnya, suami Kakak lebih baik dari suamiku. Kalau lebih baik, kenapa Kakak ada di sini?" Ucap Tiara yang masih tidak mau kalah.


"Mungkin suamiku tidak lebih baik kelakuannya dari suamimu. Tetapi suamiku masih berusaha mencari makan, walaupun itu dengan cara halal atau tidak halal. Daripada suamimu yang hanya rebahan dengan mulut terbuka seperti buaya mengintai makanan yang disediakan orang dan tinggal dihaaapp." Ucap Inge yang sudah makin marah, mengingat semua makanan yang ditinggalkan untuk Mamanya. Tiba-tiba lenyap dari meja makan karena dimakannya.


"Kau kalau merasa itu suamimu, kenapa tidak memasak untuk mengisi perut buayanya? Kau pura-pura tidak tau dengan otak stengamu itu dan menutup mata saat melihat dia makan makanan Mama? Kau kira aku tidak tau akal bulusnya?" Tanya Inge lagi, marah kepada Tiara yang mau saja ikut kata suaminya.


"Aku sudah bilang, sekarang bukan saja suamimu tetapi juga berlaku untukmu. Berani mengambil makanan yang aku tinggalkan untuk Mama, lihat saja. Kalau wajan panas tidak melayang ke mulut kalian, mungkin pisau dapur akan menancap di jari-jari kalian yang hanya mau comot enak itu." Ucap Inge, makin sadis.


"Kalau sudah makan di luar, pulang masuk kamar dan ngorok. Jangan tanganmu lancang membuka tutup meja makan dan periksa masakan orang lain dan memakannya." Ucapan Inge tumpah, yang sudah disimpannya di hati. Karena dia tahu, diam-diam mereka suka makan sendiri diluar.


"Ada apa ini, Inge? Kenapa ribut-ribut sampai didengar tetangga?" Tanya Mama Inge yang sedang kerja di tetangga, minta ijin pulang karena dengar anak-anaknya sedang ribut.


"Itu, Ma. Tiara pulang-pulang bukannya menyapa, mala langsung protes bikin kaget. Dia tanya, Inge bikin apa sampai suaminya ngga berani pulang." Ucap Inge, menjelaskan.


Mama Inge melihat Tiara dengan wajah yang geram. "Mama sudah bilang periksa otakmu, jangan sampai dimakan rayap. Ini rumah Mama, jadi kau atau Inge sama haknya untuk tinggal di rumah ini." Ucap Mama Inge, mencoba menengahi.

__ADS_1


"Kalau suamimu tidak bisa tinggal karna ada Kakakmu Inge, silahkan dia tinggal di rumah yang nyaman untuknya. Jangan bikin ribut di sini. Jika kau juga merasa tidak nyaman, silahkan ikut suamimu mencari tempat yang nyamam menurut kalian.


"Selama tinggal di rumah ini hendaknya tau diri, terutama suamimu itu. Dia tidak membawa apa-apa ke rumah ini, jadi jangan berani protes. Sekarang dia merasa nyaman di pos ronda, silahkan tinggal di situ." Ucap Mama Inge yang mulai habis kesabarannya.


"Kalau kau yang pernah kami sekolahkan untuk menjadi manusia yang pintar, tetapi hanya kebodohan yang kau perlihatkan. Silahkan tinggal di pos ronda bersama orang yang kau anggap lebih bermanfaat dan patut dibela itu." Ucap Mama Inge lagi.


"Mama sudah malu setiap kali jadi pertanyaan orang, mantunya kerja di mana? Kenapa hari-hari, kerjanya hanya tidur di pos ronda?"


"Mama, dia sedang cari kerja, tapi belum dapat." Ucap Tiara memotong pembicaraan Mamanya sebagai protes. Secara reflek, Mamanya mengambil panci di atas kompor dan memukul kepalanya.


"Bleeetaak... Anak go***k... Otak tumpul dan buta ko' di awetkan. Kalau otakmu sudah buta, matamu jangan ikutan buta. Jangan sampai Mama menyeretmu keluar dari rumah ini. Baru matamu bisa membedakan mana orang pemalas yang tidak tau diri dengan orang bodoh dibuat dungu.


"Tidak lihat orang tua lagi kerja untuk makan, kau menyimpan uang yang diberikan Rulof untuk mengenyangkan perutmu sendiri di luar sana. Kau kira orang tidak kasih tau Mama?" Ucap Mama Inge emosi dan tumpah.


Kau ikut-ikutan seperti pelanduk, jam makan siang pergi keluar cari makan sendiri. Pulang cari ribut mendengar ucapan laki-laki tidak tau diri yang hanya mau makan enak dan hidup enak."


"Inge, semua sabun di kamar mandi diangkat dan disimpan semuanya. Dia bisa makan enak di luar, tetapi yang lain dia tinggal ambil enak di rumah." Ucap Mama Inge, tegas.


"Kau kira Mama tidak perhatikan kalian? Seharusnya kau bersyukur, Kakakmu hanya menyiram suamimu itu dengan air cucian. Kalau Kakakmu terlamat melakukannya, Mama sudah siram dia dengan air panas." Ucap Mama Inge lagi, mengingat yang dilakukan Inge.


"Sekarang Mama masih memukulmu dengan panci kosong. Besok-besok masih begitu juga, Mama akan tutup kepalamu dengan sepanci air panas. Mungkin air panas bisa menguliti kedunguanmu itu." Ucap Mama Inge sambil masuk ke kamarnya.


Inge yang mendengar ucapan Mamanya ikut terkejut. Ternyata Mamanya kalau marah sangat sadis. 'Mungkin Mama sedang cape' dan anak-anaknya telah membuatnya malu sama tetangga.' Ucap Inge dalam hati.

__ADS_1


Sedangkan Tiara masuk ke kamarnya sambil memegang kepalanya yang benjol karena dipukul keras oleh Mamanya. Walaupun kesal, dia tidak berani marah atau melawan. Karena takut Mamanya melakukan yang dikatakannya, membiarkan dia ikut suaminya tinggal di pos ronda.


...~●○♡○●~...


__ADS_2