MANUSIA PARASIT

MANUSIA PARASIT
Ada Orang Baik.


__ADS_3

~•Happy Reading•~


Keluarga Rulof langsung pulang ke rumah Inge dengan kecewa. Harapan terakhir mereka untuk bisa mendapatkan bagian dari peninggalan Rulof telah pupus. Inge duduk bersama Mamanya dan Tiara di meja makan.


"Ma, melihat situasi ini, sepertinya kita ngga akan mendapakan apa-apa dari Ambar. Bagaimana kalau Mama dan Tiara pulang dulu ke Makassar. Nanti kami akan beritahukan Mama tentang perkembangan selanjutnya." Ucap Inge, tidak bersemangat.


"Lalu kita mau dapat uang untuk tiket pulang dari mana?" Tanya Mama Inge, karena sebenarnya beliau juga sudah ingin pulang ke Makassar. Begitu pun dengan Tiara, sudah ingin pulang ke Makassar. Karena selain anak-anak, suaminya sudah menelpon berkali-kali untuk menanyakan kapan mau pulang.


"Nanti Inge usahakan, sekarang Mama dan Tiara siapa-siap saja. Inge mau keluar sebentar." Ucap Inge, karena dia  telah memikirkan cara mendapatkam uang. Dia mempunyai kalung pemberian Rulof saat menikah, sebagai hadiah pernikahan untuknya.


Itu adalah satu-satunya benda berharga yang dimilikinya. Richo tidak mengetahuinya, karena Inge tidak memberitahukannya dan menyimpan di tempat yang tersembunyi. Tanpa sepengatahuan Richo, Inge pergi menjualnya untuk tiket pulang Mamanya dan Tiara. Karena Inge berpikir, jika mereka tetap tinggal di rumahnya, makin berat soal makan minum. Dan juga rumahnya sudah mau habis masa kontraknya.


Inge mempergunakan kesempatan saat  Richo belum pulang ke rumah untuk pergi menjual kalung dan membeli tiket. Karena jika Richo ada di rumah, dia pasti tidak akan menyetujuinya. Inge hanya mengirim pesan bahwa Mama dan adiknya mau pulang ke Makassar.


Inge mengantar mereka hanya sampai di Terminal Damri Bandara. Karena ketika Rulof masih hidup, Tiara pernah beberapa kali pulang balik Makassar-Jakarta. Jadi dia sudah terbiasa, dan tahu jalannya.


Ketika Inge sampai di rumah, Richo sudah pulang. "Kalian dapat uang dari mana untuk beli tiket ke Makassar?" Tanya Richo heran, karena secepat itu mereka bisa beli tiket pulang ke Makassar.


"Mama pinjam, karena sudah ngga betah di sini dan anak-anak Tiara sudah rewel minta dia pulang." Ucap Inge, menghindari pertanyaan dan pembahasan selanjutnya.


"Kau sendiri dari mana? Kenapa tadi tidak pulang bersama-sama dengan kami?" Tanya Inge, teringat Richo yang tidak pulang bersama dengan mereka dari kantor polisi.


"Mau tau saja urusan laki-laki. Kau benar-benar tidak ingat tanah Rulof?" Ucap Richo, mengalihkan pembicaraan.


"Kalau tau, untuk apa berusaha menjebak Ambar segala? Kita tinggal bawa Ambar ke tempat tanah itu dan minta bagian untuk kita." Ucap Inge heran, karena suaminya tiba-tiba menanyakan tanah lagi.


"Ooh, iyaa. Menurutmu, apakah pengacara Ambar tidak memperkarakan Angel?" Tanya Inge, mengingat ucapan Mathias di kantor Polisi.

__ADS_1


"Kita tunggu dan lihat saja nanti, apakah mereka masih mau memperkarakan setelah kasus penuntutan kepada Ambar telah dibatalkan." Ucap Richo, mengingat pesan yang dikirim oleh Polisi, saudara Inge kepadanya bahwa tuntutan telah dibatalkan.


"Melihat wajah dan tindakan Angel tadi, sepertinya dia mengenal pengacara Ambar. Dan juga sepertinya pengacara itu mengenal Angel." Ucap Inge, mengingat wajah marah Mathias saat berbicara dengan Angel di luar kantor Polisi.


"Itu juga yang aku pikirkan. Nanti aku akan menyelidikinya, jangan sampai dia menusuk kita dari belakang." Ucap Richo, mengingat ucapan dan tindakan Angel terhadap Mathias dan sebaliknya.


*((**))*


Waktu berlalu dengan cepat bagi mereka yang sibuk. Terutama seorang pengacara seperti Mathias yang suka menanangi kasus TQ. Hampir setiap hari ada yang datang meminta tolong jasanya.


Disela-sela kesibukannya, Mathias teringat kepada Ambar yang tidak ada kabarnya. Ambar tidak menghubunginya setelah pembicaraan terakhir mereka tentang surat pembatalan tuntutan dari kepolisian.


Setelah selesai makan siang dengan client, Mathias menghubungi Ambar.


📱"Alloo, Bu Ambar. Apa kabar?" Tanya Mathias saat Ambar merespon panggilannya.


📱"Ooh, ok. Kenapa tidak menghubungi saya untuk mengingatkan tentang uang mobil? Saya sibuk beberapa waktu ini, menangani beberapa kasus, jadi tidak teringat tentang uang itu." Ucap Mathias menjelaskan.


📱"Mungkin anda membutuhkan uangnya, jadi lebih baik saya mentransfernya. Tolong kirim nomor rekeningnya, supaya saya segera mentransfernya." Ucap Mathias mengingat uang mobil Ambar yang masih ada padanya.


📱"Iyaa, Pak. Trima kasih. Hasil penjualannya di bagi dua saja, Pak." Ucap Ambar senang, karena Mathias sudah membicarakan uang mobilnya. Jadi dia tidak perlu mengatakannya, karena mau membayar hutang untuk Pak Tony. Kalau untuk keperluan hari-hari, dia masih memiliki uang.


📱"Anda mau bagi dua dengan siapa?" Tanya Mathias, terkejut dan heran dengan ucapan Ambar.


📱"Dengan Pak Mathias." Ucap Ambar, serius.


📱"Ooh... Saya kira dengan keluarga suami anda. Begini Bu Ambar, dengan saya tidak perlu seperti itu. Saya akan mentransfer semuanya, kalau anda mau kasih, lebih baik mengganti uang transfort asisten saya. Itu juga, nanti jika sudah bertemu dengannya. Jadi tidak usah dipikirkan, disimpan saja baik-baik uangnya." Ucap Mathias, tegas.

__ADS_1


"Trima kasih, Pak." Ucap Ambar pelan, karena terharu ada yang menolongnya.


"Baik... Saya tunggu nomor rekeningnya." Ucap Mathias, lalu mengakhiri pembicaraan mereka.


Ambar segera mengirimkan nomor rekeningnya kepada Mathias. Dia ingin menyelesaikan hutangnya dengan Pak Tony. Sore hari ketika Ambar melihat Pak Tony telah pulang kantor, Ambar mendatangi rumahnya untuk berbicara.


"Maaf, Pak Tony. Saya mengganggu. Bolehkah saya meminta jumlah sisa hutang saya dan nomor rekening bapak?" Tanya Ambar, setelah dipersilahkan masuk oleh Bu Tony.


"Apakah Bu Ambar sudah punya uang?" Tanya Pak Tony, pelan.


"Sudah, Pak. Mobilnya sudah laku." Ucap Ambar, dengan hati lega.


"Alhamdulillah... Kalau begitu, Ma, tolong ambil catatannya dan berikan kepada Bu Ambar." Ucap Pak Tony kepada istrinya. Tidak lama kemudian, istrinya memberikan selembar kertas catatannya kepada Ambar.


Ketika melihat catatannya, Ambar terkejut. "Bu Tony, apa catatan ini ngga salah?  Apakah benar sisa hutang saya segini?" Tanya Ambar, terkejut melihat sisa hutang tidak seperti yang dipikirkannya.


"Iyaa, Bu Ambar. Apa menurut Ibu itu ngga sesuai?" Tanya Bu Tony, mulai tidak enak hati. Begitupun dengan Pak Tony, ketika mendengar pertanyaan Ambar.


"Tidak Bu, saya kira sisa hutang saya masih banyak. Apa ini sudah benar, Bu? Jangan sampai ada yang ketinggalan." Ucap Ambar, sangat lega. Sebelumnya, waktu ada uang, dia langsung menyerahkan kepada Pak Tony, tanpa bertanya jumlah hutangnya.


"Itu sudah semua yang kami keluarkan, Bu Ambar." Ucap Bu Tony dengan hati lega, karena mendengar penjelasan Ambar. Tadinya dikira Ambar tidak percaya dengan catatannya.


"Ibu tolong tulis nomor rekening di sini ya, Bu. Nanti kalau saya sudah transfer, saya akan kasih tau Ibu. Terima kasih untuk semuanya Pak, Bu." Ucap Ambar, sambil mengatupkan kedua tangan di dadanya. Dia sangat bersyukur, memiliki tetangga yang baik hati.


Kemudian, Ambar meninggalkan rumah Pak Tony dan kembali ke rumahnya. Ketika hendak membuka pintu pagar, dia merasa ada yang mengawasinya, sehingga dia memperhatikan sekitarnya. Tetapi yang dilihat hanya orang yang berlalu lalang, karena rumahnya berada di jalan raya komplek. Dia mengikuti kata Mathias, agar mengunci pagar setiap kali keluar, walaupun itu pergi ke tetangga sekalipun. Ketika membuka pagar untuk masuk, hatinya was-was dan merasa merinding.


Memang belakangan ini, keluarga Rulof tidak pernah datang lagi. Tetapi setiap kali suasana tenang, itu tidak bisa menenangkan hatinya.

__ADS_1


~●○♡○●~


__ADS_2