MANUSIA PARASIT

MANUSIA PARASIT
Rencana Ambar.


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Mentari telah bersinar cerah, tetapi Mathias dan Ambar belum bangun. Mereka pulang sudah larut dari acara di restoran Sari. Sehingga mereka masih tertidur lelap, walaupun hari sudah siang. Mereka dibangunkan oleh ketukan di pintu dan panggilan Juha yang tidak sabar. Ambar membuka matanya dan terkejut melihat jam di ponselnya, sudah lewat dari jam delapan.


Dia segera turun dan membukakan pintu untuk Juha yang sedang memanggil namanya. Ketika membuka pintu kamarnya, Ambar terkejut melihat wajah Juha yang memerah.


"Ada apa, Juha. Kenapa dengan wajah ganteng ini?" Tanya Ambar, karena tahu Juha hampir menangis.


"Ngga, Mama dan Papathias kenapa belum bangun?" Tanya Juha, sambil menggelekan kepalanya.


"Maaf, ya. Mama dan Papathias pulang sudah malam, jadi sangat mengantuk. Itu Papathias masih tidur, Juha bangunin ghiii.. Biar Papathias bisa bangun untuk sarapan. Juha sudah sarapan?" Tanya Ambar, untuk mengalihkan Juha dari rasa sedihnya. Juha mengangguk dan segera masuk ke kamar dengan hati senang.


Mathias yang mendengar suara ribut-ribut, membuka matanya perlahan. Dia mengambil ponsel dan terkejut melihat jam. Dia jadi tersenyum melihat Juha berlari masuk ke kamar dan naik ke atas tempat tidur. Mathias langsung memeluknya dan berguling di atas tempat tidur. Juha tertawa senang dengan apa yang dilakukan Mathias.


"Ayooo, kita turun. Papatias sudah lapar, sebentar lagi perut Papathias nangis." Ucap Mathias, lalu menggendong Juha keluar kamar menuju ruang makan. Seni dan Ambar tertawa melihat rambut Mathias yang berantakan.


"Seni, jangan kalian tertawa melihat hutan belantara. Tadi habis diacak kadut sama Juha." Ucap Mathias sambil menurunkan Juha dan menyisir rambutnya dengan tangan.


"Mas, jangan bercanda lagi. Mari kita sarapan, aku sudah sangat lapar." Ucap Ambar, sambil menunjuk menu di atas meja.


"Waah, tumben Seni buatkan sarapan lontong sayur." Ucap Mathias, saat melihat menu di atas meja.


"Bukan Seni yang buat, tapi Bi Ina dan dikirim sama sopir Ibu." Ucap Ambar, menjelaskan seperti yang dikatakan Seni.


"Ooh, ok... Mari kita sarapan, karena sebentar lagi perutku nangis." Ucap Mathias, sambil mengacak rambut Juha yang telah duduk di kursi meja makan.


"Nanti selesai mandi, aku mau ke tempat Ibu dan sekalian mau ke kantor baru, ya. Karna Bagas sudah umumkan, terpaksa kita harus pindah besok Senin." Ucap Mathias, pasrah.

__ADS_1


"Hari ini, Mas tidak kemana-mana. Kita hanya ke tempat Ibu dan menemani Ibu seharian. Soal urusan kantor baru, percayakan kepada Bagas." Ucap Ambar, tegas.


Dia tidak mau dibantah, membuat Mathias melihatnya dengan heran. "Jangan melihatku, Mas. Ada mata di belakang kepalaku." Ucap Ambar, ngeledekin Mathias saat berjalan ke dapur.


Dia sedang membuat Mathias sibuk di rumah, agar tidak ke kantor baru. Karena dia dan Bagas sedang mengatur rencana untuk membuat kejutan untuk Mathias. Mendengar yang dikatakan Ambar, Mathias segera ke kamar untuk mengambil ponselnya. Ambar buru-buru mengikutinya ke kamar.


Ketika menghubungi Bagas dan tidak direspon, Mathias melihat Ambar yang baru masuk kamar dengan wajah bertanya-tanya. "Mas tidak percaya, sih. Aku sudah bilang, Bagas sedang sibuk mengurus pindahan. Jadi Mas tenang saja, cepat gantian mandinya.


Hari ini kita semua akan ke tempat Ibu untuk menemaninya. Mumpung ini akhir pekan dan libur, jadi mari kita istirahat hari ini. Percayakan semuanya kepada Bagas, Mas. Dia sudah ikut dengan Mas lama, dia tau yang akan dilakukan." Ucap Ambar, lalu mengambil handuk dan memberikannya kepada Mathias.


Setelah Mathias masuk ke kamar mandi, Ambar memegang dadanya dan mengusapnya perlahan. Dia sedang mengkhawatirkan Mathias hendak pergi ke kantor baru dan hancur rencana mereka.


Ambar segera keluar kamar menemui Seni dan Juha. "Seni, tolong siapkan Juha, kita semua mau ke rumah Eyang. Jadi tidak usah masak untuk makan siang. Kita semua akan makan di sana." Ucap Ambar, memberikan instruksi kepada Seni.


Setelah itu, Ambar segera mandi di kamar tamu. Agar dia bisa mengawasi Mathias saat selesai mandi. "Kau mandi di mana?" Tanya Mathias, saat keluar dari kamar mandi, Ambar telah rapi menunggunya di kursi meja rias.


Dia segera mengganti baju yang sudah disiapkan Ambar dan keluar bersama ke ruang tamu. Dimana di sana sudah ada Juha dan Seni yang menunggu dengan baju yang rapi.


Ketika di rumah Ibunya, mereka semua berkumpul dan berbagi cerita. Terutama Mathias menceritakan tentang kantor barunya. Bu Titiek tersenyum senang melihat putranya bercerita dengan semangat. Bu Titiek sangat berbahagia, karena pertama kalinya beliau duduk di meja makan bersama keluarga kecil putranya untuk makan siang dan makan malam.


Selesai makan malam bersama Ibunya ; Mathias, Ambar, Juha dan Seni berjalan pulang ke rumah untuk beristirahat. Hal itu membuat Ambar sedikit tenang, karena telah bekerja sama dengan Mertuanya untuk menjaga agar Mathias tidak pergi ke kantor barunya.


Setelah menidurkan Juha, Ambar kembali ke kamarnya. Dia terkejut melihat Mathias masih duduk bersandar di bagian atas tempat tidur.


"Ambar, duduk di situ. Ada yang mau aku bicarakan." Ucap Mathias, sambil menunjuk kursi meja riasnya. Ambar berjalan dan duduk seperti yang diinginkan, kemudian Mathias bangun dan mengambil tas kerjanya.


"Ini cek, tolong disimpan. Apartemenku dua hari lalu sudah laku. Nanti tolong dicaikan ceknya dan kembalikan uangmu. Sisanya tolong ditransfer ke rekeningku." Ucap Mathias, sambil menyerahkan cek dan nomor rekeningnya. Ambar menerimanya sambil memandang Mathias seakan tidak percaya.

__ADS_1


"Ayooo. Disimpan dulu di tempat yang baik, jangan sampai tercecer." Ucap Mathias, saat melihat Ambar masih diam dan tidak berkata-kata. Karena Ambar tidak menyangka apartemen Mathias sudah laku dan harganya fantastik. Karena dia tidak tahu seperti apa apartemen Mathias. Dia berjalan dan memasukan cek dan nomor rekening Mathias ke dalam buku tabungan dalam amplop coklat.


"Ayoo. Duduk lagi di situ dan terima ini, tetapi tidak boleh berpikir macam-macam. Ini perhiasan, anggap saja sebagai pengganti perhiasan yang dibeli oleh Alm. kepada wanita itu. Mungkin harganya tidak sama dengan yang dibeli Alm. Bisa kurang atau bisa lebih."


"Karna aku tidak tau harga perhiasan, anggap saja itu sudah impas, jadi tidak usah dipikirkan dan dipersoalkan lagi. Mau dijual untuk bayar cicilan CC juga, silahkan." Ucap Mathias, sambil menyerahkan kotak perhiasan Angel.


"Astagaaa... Ini banyak sekali, Mas." Ucap Ambar terkejut, saat membuka kotak perhiasan yang diberikan Mathias.


"Iyaa, banyak tetapi mungkin nilai nominalnya tidak sebanding dengan yang dibeli Alm. Tapi aku sudah katakan, jangan pikirkan lagi. Itu semua ada surat-suratnya. Yang tidak kau sukai, dijual saja. Yang kau sukai, disimpan jadi satu dengan perhiasanmu." Ucap Mathias lagi.


"Astagaaa... Aku sangat kaya." Ucap Ambar sambil menutup mulutnya dengan mata membulat.


"Kau baru sadar, kau itu wanita yang kaya? Makanya, kalau berjalan di luar, hati-hati." Ucap Mathias sambil tersenyum.


"Ini semua tidak membuatku merasa kaya, tetapi seorang Mathias Naresh yang membuatku merasa kaya raya tentang hidup." Ucap Ambar dengan hati membuncah dan mata berembun, sambil memandang Mathias.


"Jangan kelewat memujiku, nanti besok aku ngga bisa ke Gereja karena tidak bisa memakai sepatu. Coba dilihat, jangan sampai kedua jempolku sudah mulai membesar." Ucap Mathias, ngeledekin Ambar, karena melihat matanya yang mulai berembun


Ambar berdiri dan menyibak selimut dari kaki Mathias untuk melihat jempolnya. "Hahahaha... Ambar, kau sedang mencari apa? Jempolku aman, tidak membesar lagi. Karna kau sudah berhenti memujiku." Ucap Mathias terus tertawa. Ambar yang menyadari sedang diledekin, langsung memukul kaki Mathias dengan wajah merona. Mathias makin tertawa, sambil menarik kakinya.


"Mas, apa Ayah dulu seorang pejabat?" Tanya Ambar, sambil duduk di tepi tempat tidur.


"Yaaa, bisa dibilang begitu. Kenapa kau tanyakan itu?" Tanya Mathias, sambil memandang Ambar.


"Karna aku melihat pakaian Ibu sangat bagus-bagus dan mahal." Jawab Ambar, menjelaskan. Dia mengingat anting mutiara yang diberikan Ibunya saat mereka pemberkatan.


"Ooh, Iya... Ibu suka dampingi Ayah di acara-acara resmi. Pakaian Ayah juga bagus-bagus, terutama Jas-jasnya. Tetapi aku ngga bisa memakainya, karna badanku lebih tinggi dan besar. Jadi Ibu memberikan semuanya untuk saudara Ayah." Ucap Mathias, menjelaskan, sambil mengingat Ayahnya yang sangat dikaguminya.

__ADS_1


...~●○♡○●~...


__ADS_2