
~β’Happy Readingβ’~
Setelah keluar dari kamar Juha, Ambar menuju dapur untuk mengambil minuman sebelum ke kamarnya. Ambar melihat Rulof sudah pulang dari kantor dan telah mandi. Ternyata, Rulof sudah pulang ketika Ambar masih berada di kamar Juha.
Rulof sedang duduk di meja makan, sambil minum air mineral. "Sudah makan, Mas?" Tanya Ambar, ketika melihat Rulof sedang minum. "Sudahlah, masa jam segini belum makan?" Jawab Rulof, santai. Ambar tidak menghiraukan ucapan Rulof yang tidak menyenangkan.
Ambar ingin membicarakan kejadian yang terjadi di rumah tadi siang. Karena dia sudah tidak tahan dengan tindakan Inge dan melihat kondisi putranya yang sering tidak happy.
"Ooh iyaa, Mas. Tolong bilang sama Kak Inge, kalau mau bawa makanan dari rumah ini, tolong bilang dulu sama aku, yaa." Ucap Ambar pelan, menahan nada bicaranya tetap tenang dan sabar.
"Kak Inge sudah bilang sama aku. Tetapi karna sibuk seharian, aku lupa ngasih tau kau." Ucap Rulof tetap santai, tetapi Ambar terkejut dan menatapnya dengan heran. 'Nii, orang perasaannya lagi nyangkut di mana?' Tanya Ambar dalam hati.
"Nanti kalau ada bilang lagi sama Mas, bilang sama Kak Inge, jangan bawa makanan yang sudah dimasak. Bawa saja yang masih mentah." Ucap Ambar yang mulai emosi, karena melihat Rulof menanggapi keluhannya dengan santai.
"Kau itu, makanan saja diributkan. Kau hanya tinggal di rumah dan juga ada pembantu. Apa tidak bisa memasak lagi?" Tanya Rulof, mulai emosi melihat Ambar terus membahas makanan.
"Ini bukan soal bisa masak lagi, ini soal lapar. Kak Inge sudah makan di sini, kenapa tidak membawa pulang makanan yang masih mentah saja? Biarkan makanan yang sudah matang itu untuk kami." Ucap Ambar, sudah mulai naik level emosinya.
"Kenapa dari tadi, kau ribut soal makanan terus? Kak Inge bukan orang lain. Dia itu Kakakku." Ucap Rulof mulai naik level emosi juga.
"Siapa yang bilang Kak Inge bukan Kakakmu? Siapa yang ribut soal makanan? Yang aku persoalkan itu, laparrr. Karna tidak ada yang bisa dimakan." Ucap Ambar, sambil melihat Rulof dengan emosi.
"Kau tidak pikirkan anakmu? Apakah aku harus mengikat perutnya dengan tali, supaya dia tidak merasa lapar?" Ucap Ambar, sudah benar-benar emosi.
"Ada apa denganmu? Kau seorang Ibu, masa membiarkan anak sendiri lapar? Kau bikin apa saja di rumah ini?" Ucap Rulof ikut emosi, langsung berdiri meninggalkan Ambar yang sedang marah.
Rulof emosi, tetapi terkejut melihat Ambar bisa marah. Karena selama ini, Ambar tenang-tenang saja. Tidak pernah ribut, jika saudaranya datang tinggal atau mengambil sesuatu dari rumah.
"Tinggalkan uang di situu...!" Ucap Ambar singkat dan tegas, sambil menunjuk meja ruang tamu. "Kau butuh uang untuk apa? Semua keperluan sudah aku beli dan sediakan di rumah ini." Ucap Rulof, sambil menatapnya dengan marah.
"Kau pikir, aku dan Juha ngesoot dari sekolahnya sampai ke rumah ini?" Ucap Ambar, sudah sangat marah mendengar ucapan Rulof.
__ADS_1
"Makanya, belajar mengatur uang." Ucap Rulof tajam. Perkatakan Rulof membuat Ambar lebih naik level lagi marahnya.
"Uang mana yang harus aku atur? Kapan terakhir kau memberiku uang? Apa aku harus membukanya di sini? Kalau bicara, pegang kepalamu. Supaya jangan sampai kepalamu bergeser." Ucap Ambar, langsung berdiri.
Rulof melihat Ambar dengan wajah memerah, karena menahan amarahnya. Tetapi Ambar sudah terlanjur marah, membuatnya tidak bisa berhenti. "Kalau belum bisa mengurus keluargamu, jangan mengharapkan orang lain untuk mengurus uang. Jadi sebelum tau urus istri dan anak, silahkan tidur sendiri. Mungkin guling bisa mengajarimu." Ucap Ambar yang sudah tidak terkendali amarahnya.
Begitupun dengan Rulof, langsung masuk ke kamarnya dan membanting pintu dengan keras. Ambar mengabaikan kemarahan Rulof. Dia berjalan ke dapur untuk mengambil minuman. Dia ingin menurunkan amarahnya dengan minum minuman dingin.
Setelah agak tenang, Ambar berjalan ke kamar Seni dan mengetuk pintu kamarnya. Karena ada yang mau dibicarakan dengannya. Ketika membuka pintu, Seni terkejut melihat Nyonyanya berdiri di depan pintu dengan wajah memerah.
"Seni, Ibu mau bicara sebentar denganmu." Ucap Ambar, sambil masuk ke kamar Seni.
"Seni, besok pagi tidak usah bikin kopi untuk bapak. Kasih saja air mineral panas/hangat. Kalau ditanya soal sarapan, bilang saja cari di lemari atau kulkas." Ucap Ambar yang emosinya sudah mulai turun level.
"Bu, memang sudah tidak ada kopi lagi. Tadi Kakaknya bapak sudah bawa semuanya. Katanya buat suaminya yang suka ngopi." Ucap Seni, pelan.
"Yang bubuk juga?" Tanya Ambar, tidak percaya dengan yang didengarnya.
"Iyaa Bu, semuanya. Katanya, nanti bapak akan beli lagi." Ucap Seni pelan, karena tadi siang belum sempat kasih tahu Nyonyanya.
"Oooh, yang itu juga mau dibawa, Bu. Untuk anak, tetapi saya terus memeluk kaleng susunya. Saya bilang, Juha pulang sekolah suka minum susu. Jadi kalau tidak ada susu, nanti nangis." Seni menceritakan kejadian yang terjadi.
"Astagaaa. Trima kasih, Seni. Kalau kau tidak melakukannya, mungkin Juha tidak bisa tidur malam ini." Ucap Ambar, sambil mengelus lengan Seni dengan perasaan tenang dan bersyukur.
"Ibu jangan marah lagi, jangan sampai Ibu sakit. Kasihan Juha." Ucap Seni mengingatkan, karena tahu Nyonyanya sedang bertengkar dengan majikannya.
"Iyaa Seni, trima kasih sudah mengingatkan. Kau juga, segera tidur." Ucap Ambar, dan meninggalkan kamar Seni.
Seni sangat sayang kepada Nyonyanya, karena sangat baik hati. Tidak pernah memperlakukannya seperti pembantu. Selalu bekerja bersamanya dan kalau makan, selalu mengajaknya makan bersama.
Tadi ketika mendengar suara ribut-ribut, Seni sempat keluar dari kamarnya. Dia berpikir ada apa, karena selama ini tidak pernah terjadi demikian. Akhirnya dia kembali masuk ke kamarnya, karena tidak sampai hati mendengar pertengkaran majikannya.
__ADS_1
Ambar tidak masuk ke kamarnya, tetapi kembali ke kamar Juha. Dia ingin tidur bersama putranya, karena hatinya begitu terluka dengan sikap dan ucapan Rulof, suaminya.
Mereka telah menjadi suami istri hampir 6 tahun, tetapi Rulof tidak mau mengerti apa yang terjadi dengan istri dan keluarganya. Kalau dulu Juha masih kecil, Ambar tidak terlalu menanggapi ketika direcokin keluarga Rulof. Tetapi semenjak Juha mulai sekolah, itu sangat mengganggunya.
'Tidak bisa seperti begini terus, kasihan anakku.' Ambar membatin sambil membaringkan tubuhnya di samping Juha. Kemudian dia teringat kepada Sari, teman kuliahnya.
Ambar mengirim pesan untuknya, menanyakan kabarnya. Sari tidak membalas pesannya, tetapi menelponnya.
π±"Alloo, Ambar. Apa kabarmu?" Tanya Sari terkejut, menerima pesan Ambar.
Karena komunikasi terakhir mereka saat Ambar mengirimkan pesan ucapan Selamat Idul Fitri kepadanya. Setelah itu, mereka disibukan dengan kesibukan masing-masing sehingga tidak berkomunikasi lagi.
π±"Kabarku lumayan baik, Ri. Dan apa kabarmu juga?" Ambar balik bertanya.
π±"Lumayan baik juga, karena jam segini masih belum pulang rumah." Ucap Sari.
π±"Kau masih di restaurant, Ri?" Tanya Ambar menebak, karena Sari belum pulang ke rumah.
π±"Iyaa. Ini sudah mulai dirapikan karyawan, sebentar lagi baru tutup." Ucap Sari, sambil melihat karyawannya sedang berbenah.
π±"Ri, apakah kau masih terima karyawan untuk restaurantmu?" Tanya Ambar pelan dan ragu.
π±"Untuk siapa, Ar?" Tanya Sari, mendengar pertanyaan Ambar yang ragu-ragu.
π±"Untukku, Ri. Aku pingin kerja di tempatmu, kalau bisa." Ucap Ambar pelan. Mendengar suara Ambar, Sari mengerti. Ambar tidak sedang bercanda.
π±"Kalau begitu, besok pagi kau ke restaurantku saja. Kita bertemu di sini, baru dibicarakan." Ucap Sari, pelan.
π±"Iyaa, Ri. Trima kasih sebelumnya dan hati-hati pulangnya." Ucap Ambar, dengan hati yang agak tenang.
π±"Ok, Ar. Sampai ketemu besok." Ucap Sari, dan mengakhiri pembicaraan mereka.
__ADS_1
Ambar duduk di tepi tempat tidur dan berdoa untuk Sari dan rencana pertemuan mereka di esok hari. Kemudian Ambar mengatur alaram dan tidur sambil memeluk Juha, putranya.
~βββ‘ββ~