
~•Happy Reading•~
Setelah keluar dari Apartemen Mathias tanpa busana, Angel bersama teman lelakinya mengenakan pakaian yang dapat dibawanya di lorong depan kamar apartemen. Mereka cukup beruntung, tidak ada penghuni di lantai itu yang keluar dari kamar atau pulang ke apartemen sehingga tidak melihat ketelanjangan mereka.
Walaupun tidak kebawa pakaian dalam mereka, tapi masih tertolong dengan bisa membawa baju bagi Angel, kemeja dan celana panjang bagi teman lelakinya. Sehingga dapat menutupi tubuh mereka untuk keluar apartemen. Mereka tidak bisa turun lewat lift, karena tidak membawa kartu akses apartemen. Jadinya mereka harus turun lewat tangga dari lantai 21 ke lantai dasar.
Baru turun 2 lantai, Angel menyadari ponsel dan tas berisi dokumen pribadinya masih ada dalam apartemen. "Mas, tunggu di sini dulu. Ponsel dan dompetku tidak kebawa, bagaimana hidupku nanti." Ucap Angel yang baru menyadarinya.
"Iyaa, ponsel dan dompetku juga tertinggal. Bagaimana ini? Untung kunci mobil ada di kantong celanaku." Ucap teman leleki Angel sambil memasukan tangannya ke kantong celana.
"Kita tunggu di sini dulu. Nanti kalau mereka sudah pergi, aku balik ke apartemen untuk mengambilnya." Ucap Angel, mengharapkan Mathias bisa lekas meninggalkan apartemen.
"Apakah kamu yakin mereka akan meninggalkan apartemen?" Ucap teman lelakinya pasrah, karena dia sudah mulai merasa lapar dan tidak mau berhadapan lagi dengan pacar Angel.
"Iyaa... Aku yakin Mas Mathias tidak akan tinggal di apartemen setelah kejadian tadi. Dia akan membersihkannya dulu, karena orangnya jijian." Ucap Angel, mengingat sifat Mathias yang tidak bisa melihat tempat kotor atau berantakan.
"Baiklah, kalau begitu kita tunggu di sini saja." Ucap teman lelaki Angel sambil duduk di tangga. Angel juga ikut duduk di tangga di sampingnya.
Setelah merasa cukup lama, Angel sendiri kembali ke kamar untuk mengambil yang ketinggalan. Ketika mengetik password dan pintu tidak terbuka, Angel terduduk di lantai. 'Ternyata Mas Mathias telah mengganti passwordnya.' Angel membatin dan baru menyadarinya.
Dia berjalan kembali ke tangga dengan wajah lesuh. "Mas Mathias sudah mengganti password kunci pintunya." Ucap Angel, setelah bertemu dengan teman lelakinya di tangga.
Dia langsung berdiri dan berjalan menuruni tangga satu persatu dengan perut mulai bernyanyi. Tadi ketika Angel balik ke kamar, baru dia pikirkan itu. Mungkin saja, kunci passwordnya telah diganti. Melihat sikap dan karakter orangnya seperti tadi.
Dengan nafas tersengal dan perut lapar, mereka sampai ke tempat parkir. Teman lelaki Angel segera membuka pintu mobilnya untuk mencari sesuatu yang bisa dimakan atau minum. Untung ada minuman di dalam mobil. Mereka langsung minum dan duduk untuk melemaskan kaki yang tegang, setelah menuruni tangga dari lantai 21.
"Sekarang kau mau kemana? Aku akan mengantarmu." Tanya teman lelaki Angel setelah mereka duduk di dalam mobil. Angel langsung melihatnya dengan heran.
__ADS_1
"Kau mau memgantarku kemana? Aku tidak punya tempat tujuan. Dan kau mau meninggalkan aku sendiri?" Tanya Angel mulai emosi.
"Jadi, sekarang kau mau bagaimana.?" Tanya teman lelaki Angel berusaha untuk sabar karena sudah tidak memiliki tenaga untuk berdebat.
"Yaaa, kita ke hotel dulu untuk beristirahat. Ini otot kakiku sudah mau putus." Ucap Angel kesal dan merajuk, karena teman lelakinya tidak mengerti.
"Mau ke hotel bayar pakai apa? Sekarang mau beli makanan saja tidak bisa. Kau lupa dompetku tertinggal dalam kamar itu?" Tanya teman lelaki Angel mulai emosi.
"Oooh iyaa, Mas. Maaf, aku lupa." Ucap Angel, sambil mengelus lengan teman lelakinya.
"Kau telah menipuku. Kau bilang tidak punya pacar, lalu yang tadi siapa? Untung tadi dia tidak menghajarku. Kalau iya, bgaimana aku harus ke kantor?" Tanya teman lelakinya, mulai mengeluarkan kekesalannya.
"Jangan diributkan dulu, Mas. Pikirkan bagaimana kita mau istirahat malam ini. Aku sangat lelah dan lapar." Ucap Angel menenangkan teman lelakinya.
"Yang harus pikirkan itu kau, mau kemana. Karna aku bisa pulang ke rumahku." Ucap teman lelaki Angel lagi, karena mulai menyadari yang terjadi. Tadi dia terlalu terkejut, sampai tidak bisa berpikir.
"Baiklah... Kita akan tidur di mobil malam ini, di sini. Besok pagi baru aku mengantarmu." Ucap teman lelaki Angel pasrah, tapi kesal.
"Semoga pacarmu itu tidak menyulitkanku. Apa profesinya?" Tanyanya lagi, mengingat apa yang dilakukannya tadi.
"Dia pengacara. Tetapi hanya pengacara kecil." Jawab Angel pelan dan mulai was-was.
"Pengacara? Mau kecil atau besar, tetap saja pengacara." Ucap teman lelakinya terkejut dan mulai panik. Dia tidak jadi merebahkan badannya di kursi mobil yang sudah diturunkan sandarannya.
"Apa jadinya jika dia menggunakan foto dan video tadi untuk membalas sakit hatinya? Bisa habis karierku." Ucap teman lelaki Angel, sambil mengusap wajahnya kasar.
"Dia tidak mungkin melakukannya." Ucap Angel ragu-ragu sendiri dengan yang diucapkannya. Karena dia mengingat kemarahan Mathias tadi.
__ADS_1
"Bagaimana dia bisa tau aku ada di situ? Padahal tadi dia bilang tidak pernah datang ke apartemennya." Tanya teman lelaki Angel, yang mulai sadar.
"Mungkin hanya kebetulan saja, Mas." Ucap Angel, sambil berpikir juga. Kenapa Mathias bisa tiba-tiba datang, sedangkan dia sudah bilang ada di Makassar.
"Tadi bukan kebetulan, karna dia masuk teman yang satunya sudah menyiapkan kamera ponsel untuk merekam." Ucap teman lelakinya sambil mengingat kejadian tadi. Ketika dia membuka pintu, kamera ponsel sudah mengarah kepada mereka.
"Apa tadi ada yang melihat kita di Sency?" Tanya Angel pelan. Teman lelakinya menatap Angel dengan wajah yang tidak bisa dilukiskan.
"Itu karena kau merengek minta ke sana untuk membeli kalung itu. Sekarang akibatnya, tidur di luar dengan nyamuk-nyamuk." Ucap temannya kesal. Tadi siang harus bolos dari kantor untuk pergi makan siang dan beli kalung untuk Angel di Sency.
"Besok sebelum ke tempat saudaramu di Bekasi, kita pergi jual kalung itu untuk membiayai hidup sementara. Karena aku harus urus surat-suratku untuk bisa mengakses lagi ATM dan lainnya." Ucap teman Angel, mengingat dia tidak memegang uang untuk pengurusan surat-suratnya.
"Yaaa, Mas... Tidak punya sesuatu yang lain untuk dijual? Aku sudah terlanjur suka sama kalung ini." Ucap Angel dengan wajah dibuat-buat sedih.
"Tidak adaa...! Kalau kau mau tetap pakai kalung itu yaa, sudah. Pakai saja, aku mau tidur." Ucap teman Angel, sambil merebahkan badannya.
"Mas, jangan tidur dulu. Bagaimana dengan hidupku? Aku ngga enak minta uang sama Tanteku." Ucap Angel merajuk, dan menggoyang lengan teman lelakinya.
"Pegang saja kalungmu, dan lanjutkan hidupmu." Ucap temannya mulai kesal, karena Angel tidak bisa mengerti. Dia sendiri sedang kesulitan, tidak memegang uang tunai dan harus mengurus banyak hal.
"Mas, bagaimana kalau mobil ini..." Ucap Angel terhenti, karena temannya memotong ucapannya.
"Tiduuuurrr.., jangan membuatku marah dengan pikiran konyolmu itu." Ucap teman Angel yang sudah naik level emosinya.
Angel terdiam dan perlahan merebahkan kursinya untuk berbaring. Dia tidak mau kehilangan yang satu ini lagi, setelah kehilangan Mathias. Dia berbaring sambil memegang kalung di lehernya dengan berat hati. Karena kalung itu sudah diinginkan dari waktu yang lama. Dia tidak berani meminta Mathias membeli untuknya, karena Mathias hanya pengacara kecil yang pas-pas'an.
'Sekarang sudah bisa memilikinya dan harus menjual tanpa surat, harganya pasti akan jatuh.' Pikir Angel sambil terus memegang kalungnya. Hatinya menjadi sedih untuk kalung yang sedang dipegangnya.
__ADS_1
~●○♡○●~