MANUSIA PARASIT

MANUSIA PARASIT
Pembersihan.


__ADS_3

~•Happy Reading•~


Di sisi yang lain ; setelah selesai membahas masalah hukum yang terjadi di perusahaan Erwin, dan Erwin meninggalkan kantornya, Mathias duduk terhenyak di kursi kerjanya. Dia memikirkan apa yang baru saja terjadi dengan orang tuanya Angel. Dia sangat terkejut dengan kedatangan orang tua Angel yang tiba-tiba datang dan berkata tidak sopan di depan clientnya.


Mathias bersyukur, clientnya adalah Erwin yang tersangkut dengan Angel. Sehingga bisa memaklumi insiden yang terjadi antara dirinya dan orang tua Angel. Jika tidak demikian, mungkin sia-sia kerjanya selama beberapa hari di Surabaya.


Memikirkan itu, Mathias menggelengkan kepalanya dan mengurut dadanya atas perilaku Angel. 'Kasihan orang tuanya, datang dari jauh-jauh dipermalukan oleh anak yang tidak tahu malu.' Ucap Mathias dalam hati.


Mengingat Angel, Mathias menghubungi Bagas untuk datang ke ruangannya. "Masuukk.." Ucap Mathias, saat mendengar ketukan di pintu.


"Duduk Bagas. Ada yang mau saya bicarakan denganmu." Ucap Mathias, setelah Bagas berada dalam ruangannya.


"Iyaa, Pak." Ucap Bagas pelan, dan duduk di kursi depan meja kerja Mathias. Dia merasa was-was, bossnya akan memarahinya. Karena membiarkan Angel dan orang tuanya masuk ke ruang kerja bossnya yang sedang meeting dengan client.


"Bagas, tadi kenapa mereka sampai bisa lolos ke sini? Bukankah saya sudah bilang, tidak terima tamu selama pak Erwin masih ada di ruanganku?" Tanya Mathias ingin tahu, kenapa orang tua Angel bisa lolos.


"Mereka datang dan masuk tanpa bunyikan bel lagi, Pak. Saya lari keluar ruangan dan mencegah mereka bilang tidak boleh, tetapi mereka mendorongku dan menerobos masuk saat Mba' Angel menunjuk ruangan bapak." Ucap Bagas, menjelaskan kejadian yang terjadi.


"Sudahlah, yang sudah terjadi biarkanlah terjadi. Mungkin jalannya harus seperti itu. Jadi kita dan orang tuanya bisa tau, ternyata simpanannya banyak." Ucap Mathias, sambil memggelengkan kepalanya.


"Iyaa, Pak... Cantik cantik, tapi mainannya suaadiisss. uuppss..." Ucap Bagas, kemudian menutup mulutnya dengan tangan sambil melihat bossnya. khawatir bossnya tersinggung dan marah.


"Mari kita tutup kantor, karna kita akan ke apartemen. Kau bawa motormu sendiri, agar dari sana kau bisa langsung pulang." Ucap Mathias, kemudian berdiri. Dia sudah melupakan Angel dalam hidupnya. Karena tidak membawa kebaikan dengan kesal atau marah terhadap orang seperti Angel dan perbuatannya.


'Buat apa membuang waktu dan energi untuk orang yang tidak pantas.' Ucap Mathias dalam hati, ketika menyaksikan semua yang terjadi dalam ruangannya tadi. 'Orang tuanya saja dia bisa kerjai, apalagi orang lain yang tidak ada hubungan darahnya.' Ucap Mathias lagi dalam hati, sambil merapikan tas kerjanya.

__ADS_1


"Maaf, Pak... Saya belum bersihkan apartemen, karena lupa minta password kunci pintu dari bapak." Ucap Bagas, mengingat dia di suruh membersihkan apartemen bossnya.


"Ngga papa, mari kita pergi dan lihat. Sekalian mau lihat mobil Pak Erwin, mungkin dia tinggalkan di tempat parkir apartemen." Ucap Mathias, sambil memasukan semua yang diperlukan ke dalam tas dan memasukan tali tas ke bahunya. Kemudian dia memakai jacket, ambil helm dan mengunci pintu ruang kerjanya. Dia mendekati pintu cabin dan mengecek, apakah sudah di kunci.


Begitu pun dengan Bagas, setelah keluar dari ruang kerja bossnya, dia memasukan semua yang akan dibawa pulang ke dalam tasnya. Dia mengunci pintu dan mengikuti bossnya keluar dari kantor.


"Bagas, saya menunggumu di lobby apartemen. Jadi ngga usah ngebut." Ucap Mathias, setelah duduk di atas motornya.


"Seharusnya, saya yang bilang begitu kepada bapak. Jangan ngebuuttt, cuusss.." Ucap Bagas, sambil menggunakan tangannya juga. Mathias hanya tersenyum dibalik kaca helm, melihat yang dilakukan Bagas.


*((**))*


Ketika tiba di apartemen, Mathias menunggu kedatangan Bagas di lobby. Setelah Bagas datang, mereka bersama-sama naik ke kamar. Mathias menekan angka password pada kunci pintu untuk membukanya. Ketika pintu dibuka, bau tidak mengenakan keluar dari ruang tamu apartemennya.


"Bagas... Tolong buka pintu dan jendelanya, sebelum saya nyalakan AC." Ucap Mathias, karena setelah peristiwa yang terjadi dengan Angel, Mathias belum perna datang ke apartemennya.


Bagas juga mengikuti apa yang dilakukan bossnya. Membuka jacketnya dan meletakan tas bersama helm di samping jacket Mathias.


"Bagas, ini pakai sarung tangannya." Ucap Mathias lagi, sambil memberikan sarung tangan kepada Bagas. Kemudian dia memakai sarung tangannya dan menyalahkan lampu. Sedangkan Bagas berjalan ke jendela untuk membukanya.


"Bagas, ini kantong sampah. Tolong kau keluarkan semua yang ada di kulkas dan memasukannya ke dalam kantong sampah. Kalau ada minuman yang masih belum diminum dan belum expire, kau pisahkan. Nanti kita berikan untuk security di bawa." Ucap Mathias, dan Bagas mengangguk mengerti.


"Baik, Pak." Ucap Bagas sambil mendekat dan mengambil kantong sampah dari tangan Mathias. Dia telah menyiapkan semuanya, saat dalam perjalanan ke apartemen.


Setelah bau dalam apartemen berkurang, Mathias menutup pintu dan jendela. Kemudian menyalakan AC, karena dia sudah mulai merasa gerah. Dia menyikirkan meja ruang tamu yang rusak, ditendangnya.

__ADS_1


Mathias mengambil penyedot debuh dan mulai membersihkan ruangan apartemen. Dia tidak jadi menyewa orang membersihkan apartemennya, karena ada hal yang akan diperiksa setelah mengetahui Angel berhubungan dengan beberapa pria.


Bagas telah selesai menguras isi kulkas dan membersihkannya. "Sudah, Pak. Kulkasnya sudah bersih dan clliiing." Ucap Bagas, sambil menunjuk ke arah kulkas dengan tangannya. Mathias tersenyum melihat yang dilakukan oleh Bagas.


"Kalau sudah, kau keluarkan juga semua yang ada di kitchen set, dan lakukan yang sama seperti tadi. Yang sudah expire dibuang, kalau ada yang masih bagus, simpan tersendiri. Jika masih ada bumbu-bumbu dapur, dibuang semua." Ucap Mathias, menjelaskan.


"Pak, ini ada banyak kopi dan mie instan. Apakah semuanya dibuang juga?" Tanya Bagas, ketika membuka lemari dan melihat ada banyak mie dan kopi instant.


"Jangan, lihat dulu tanggalnya. Kalau masih baik, pisahkan saja. Nanti dibagi-bagi untuk security." Ucap Mathias, yang masih membersihkan ruang tamu. Bagas ikut membersihkan dapur, saat selesai membersihkan lemari dan isinya.


Setelah Mathias melihat dan merasakan ruang tamunya sudah bersih, dia menggantung pengharum ruangan di AC. Sehingga apartemennya mulai terasa nyaman.


"Pak, semua pelengkapan masak ini bagaimana? Apa mau dibuang juga?" Tanya Bagas, ketika melihat panci dan teman-temannya, juga peralatan makan.


"Jangan, letakan semua di dalam tempat cuci piring. Karna itu semua pemberian Ibuku." Ucap Mathias, teringat semua itu diberikan oleh Ibunya saat dia akan tinggal di apartemen.


"Pak, ada sabun pencuci piring?" Tanya Bagas, karena dia akan membatu bossnya mencuci semuanya. Karena dia sudah terbiasa melakukan itu di tempat kontrakannya.


"Ada di dalan kantong bersama-sama dengan kantong sampah itu." Ucap Mathias sambil menunjuk kantong belanjaan yang ada di meja makan.


Bagas membuka kantongnya dan melihat ada banyak kain pel dan juga berbagai macam sabun cuci dan cairan untuk ngepel.


Bagas mengepel lantai dapur dan mengipasnya supaya cepat kering. Kemudian dia mengambil gulungan tissu dan membukanya di lantai. Dia mencuci semua perlengkapan dapur dan perangkat makan. Dia meletakan semuanya di atas hamparan tissu di lantai.


"Thanks." Ucap Mathias, ketika melihat yang dilakukan oleh Bagas.

__ADS_1


"Mari kita pindah ke kamar dan bawa kantong belanjaan itu." Ucap Mathias, sambil menunjuk kantong di atas meja makan.


~●○♡○●~


__ADS_2