
~•Happy Reading•~
Di sisi yang lain ; Mathias yang telah selesai makan, langsung pamit pulang kepada Sari, karena harus kembali ke kantornya. Mathias adalah sepupuh dari garis keturunan Mamanya Sari dan Ayahnya Mathias.
Ketika telah duduk di atas motor sportnya, Mathias melihat Ambar sedang berdiri menunggu di sudut restoran. Tidak lama kemudian, ojol mendekatinya lalu Ambar segera naik ojol tersebut.
Mathias jadi penasaran dengan teman Sari yang bersuamikan pejabat itu. Karena dipikirannya, itu sesuatu yang tidak masuk di akal pikiran yang logis. Bukan karena tempat bekerja atau pekerjaannya, tetapi statusnya tidak cocok untuk bekerja keras di tempat seperti ini.
Mathias membawa motor sportnya pelan, mengikuti ojol yang membawa Ambar. Ketika melihat ojolnya berhenti di stasiun gondangdia, dahi Mathias berlipat. Dia terus melihat, sampai Ambar masuk ke dalam stasiun. 'Mungkin dia naik kereta, supaya tidak bermacet ria.' Batin Mathias. 'Seperti diriku, lebih memilih naik motor sport daripada mobil untuk menghindari tua di jalanan.' Kembali Mathias membatin.
Melihat Ambar naik kereta, Mathias memacu motor sportnya ke arah kantornya di Salemba. Setelah memarkir motornya, Mathias masuk ke kantornya sambil menenteng helm di tangannya.
"Bagas, kau sudah bisa pulang." Ucap Mathias, ketika melihat asistennya masih bekerja di ruangannya.
"Sebentar lagi Pak, tanggung. Sedikit lagi baru saya pulang." Ucap Bagas, yang masih duduk di meja kerjanya. Sudah lewat jam pulang kantor, tetapi Bagas masih ada di ruang kerjanya. Mathias mengangguk, mendengar yang dikatakan oleh Bagas.
Kantor Pengacara Mathias berlantai dua, tidak terlalu besar dan tidak banyak ruangan. Hanya ada ruang tunggu yang berisi satu set sofa dan meja tamu, serta dispenser air dan perangkat pelengkapnya. Selain itu, ada ruang kerja Bagas dan kamar mandi.
Sedangkan di lantai atas ada ruang kerja Mathias, ruang arsip dan ruang pribadi Mathias. Karena di dalam ruang pribadi tersebut ada kamar mandi, tempat tidur, lemari pakaian, kulkas dan kompor. Dilengkapi juga dengan meja makan kecil dan kursi makan untuk dua orang. Sehingga jika harus bekerja lembur, Mathias tidak pulang lagi ke rumahnya. Dia akan tidur di ruangan tersebut.
Kalau ruang kerja Mathias, ada Meja dan kursi kerja, juga 1 set sofa dan meja tamu. Ada juga beberapa lemari kayu yang menempel di dinding. Jendela kacanya di tutup oleh krey. Jika masih pagi, krey tersebut digulung naik sehingga bisa melihat kesibukan yang terjadi di jalan raya.
Mathias masuk ke ruangannya dan mulai bekerja. Tiba-tiba pintu ruangannya diketuk.
"Masuuukk... Ada apa Bagas?" Tanya Mathias, ketika melihat Bagas telah masuk ke dalam ruangannya.
__ADS_1
"Masih banyak lagi yang dikerjakan, Pak?" Tanya Bagas, sambil mendekati meja bossnya.
"Tidak juga, saya sedang siapkan data dan dokumen untuk beberapa kasus 'TQ'. Bagaimana?" Tanya Mathias, sambil melihat Bagas. Dia mengistilahkan kasus-kasus yang dibantu dengan sukarela, bagi orang yang tidak mampu membayar pengacara dengan sebutan 'Kasus TQ'.
"Saya mau lapor pertemuan dengan client tadi siang, Pak." Ucap Bagas.
"Ooh, iyaa. Duduk... Bagaimana dengan pertemuanmu? Apakah mereka mau memakai jasa kita?" Tanya Mathias, saat Bagas duduk di kursi depan meja kerja Mathias. Dia menjelaskan pertemuannya dengan client yang ditemui mewakili bossnya.
"Mereka setuju memakai jasa kita, Pak. Tetapi mau bertemu dan berbicara langsung dengan bapak." Ucap Bagas, mulai menjelaskan.
"Ok... Kalau begitu, besok kita akan bicarakan dan atur pertemuan dengan mereka. Mau ke sini silahkan, atau di luar juga boleh." Ucap Mathias, tapi dia yakin clientnya tidak akan datang ke kantornya yang sederhana.
"Baik, Pak. Besok pagi saya akan hubungi mereka dan mengaturnya. Oooh iyaa, Pak. Apakah bapak sudah bertemu dengan Mba' Angel?" Tanya Bagas ragu, teringat hal yang akan disampaikannya.
"Belum... Dia lagi ke Makassar. Mengapa kau tanyakan itu?" Tanya Mathias heran, dan makin heran melihat wajah Bagas yang cemas dan duduknya gelisah.
"Begini, Pak. Tadi siang saya pergi ke Sency untuk bertemu client menggantikan bapak. Saya melihat Mba' Angel, sedang makan bersama seorang pria." Ucap Bagas pelan. Mathias menatapnya dengan tidak percaya, karena Angel bilang dia masih di Makassar.
"Apa yang kau katakan itu benar? Dan apakah kau yakin itu Angel?" Tanya Mathias, tegas untuk meyakinkannya. Karena Angel kirim pesan kepadanya, dia masih di Makassar. Orang tuanya masih kangen, jadi menahannya di sana untuk beberapa hari lagi.
"Saya sangat yakin, Pak. Kan saya sudah beberapa kali diminta antar Mba' Angel. Jadi saya sangat mengenalnya." Ucap Bagas yakin. Mathias melihatnya, tetapi tidak berkata apapun.
"Dan juga, Pak. Saya bilang ini, karna saya sudah pernah melihat beberapa waktu yang lalu. Mba' Angel dengan pria yang sama. Saya kira itu teman kerjanya, jadi saya tidak bilang sama bapak. Tetapi ketika tadi saya melihatnya dengan orang yang sama lagi, saya menjadi curiga." Ucap Bagas lagi.
"Ini, Pak... Bapak bisa lihat di video ini. Tadi saya sempat mengambilnya sedikit, saat mereka jalan melewati tempat makan kami. Mungkin bapak kenal orangnya, jangan sampai itu saudaranya." Ucap Bagas sambil menyerahkan ponselnya.
__ADS_1
Ketika melihat videonya, wajah Mathias berubah. Benar, Angel sedang berjalan sambil menggandeng seorang lelaki yang tidak dikenalnya. "Mariiii... Pegang ponselmu dan kau ikuti saya. Dia mau main kucing-kucingan denganku, rupanya." Ucap Mathias, sambil berdiri dengan geram.
Dia memasukan semua dokumen dan laptop ke dalam tas kerjanya. Kemudian berjalan keluar, dan menutup pintu kantornya dengan keras. Bagas dibuat kaget karenanya.
"Bagas, bawa helm mu dan jangan lupa matikan lampunya." Ucap Mathias mengingatkan Bagas, sambil berjalan keluar kantor. Bagas mengikutinya dengan berjalan cepat, karena langkah Mathias yang panjang.
Bossnya adalah seorang pengacara yang tinggi dan kekar. Tanpa berjalan cepat saja, sudah membuat Bagas ketinggalan. Apalagi ketika seperti sekarang, Bagas harus setengah berlari untuk bisa mengimbanginya.
Wajahnya tidak bisa dibilang tampan, tetapi menarik. Berhidung mancung, alis tebal dengan mata yang jernih, bening. Jika orang melihatnya, tidak bisa hanya sekali pandang. Mereka akan balik melihatnya lagi. Apalagi seperti sekarang, dalam balutan jacket kulit dan duduk di atas motor sportnya, sangat keren dan maskulin.
Bossnya sering membuat orang terpesona, ketika sedang berdiri di ruang pengadilan saat membela clientnya. Karena Mathias adalah pengacara yang cerdas dan sangat percaya diri, ketika membela clientnya. Dia tidak pernah membela asal-asalan, semua kasus yang ditanganinya di teliti dan dipelajari dengan baik. Sekalipun itu kasus TQ, dia mengerjakannya dengan sepenuh hati.
Ketika telah sampai di tempat parkir motornya, Mathias menyalakan mesin dan naik ke atas motornya. Setelah merasa Bagas sudah duduk di atas motornya, Mathias langsung keluar dari tempat parkir ke jalan raya dan tancap gas.
Bagas duduk di belakangnya dengan jantung yang berdegup kencang. Dia berdoa tidak henti-hentinya sambil memeluk bossnya dengan erat. Karena tidak mau terbang seperti daun.
Setelah tiba di Apartemen, Mathias dan Bagas langsung masuk ke lift dan menuju lantai yang dimaksud bossnya. Bagas belum pernah ke apartemen yang sedang didatanginya.
Setelah mendekati salah satu kamar, Mathias berbisik kepada Bagas. "Siapkan kamera ponselmu dan rekam semua, tidak terkecuali." Ucap Mathias, pelan dan Bagas mengikutinya tanpa bertanya.
Kemudian Mathias menekan password pada kunci pintu. Setelah melihat Bagas telah siap, Mathias mendorong pintu dan tralaaa laaa ...
Dua anak manusia berbeda jenis sedang bercumbu ria di atas sofa, tanpa busana.
Ketika mendengar pintu terbuka, mereka terkejut melihat ke pintu dengan mata terbelalak. Mereka seperti melihat hantu. Karna yang datang, wajahnya sudah tidak bisa dilukiskan.
__ADS_1
~●○♡○●~