MANUSIA PARASIT

MANUSIA PARASIT
Membingungkan.


__ADS_3

~•Happy Reading•~


Setelah tiba di rumah, Ambar membersihkan tubuhnya sebelum bertemu dengan Juha. Karena Juha suka langsung memeluknya. Ambar menemui Juha di kamar untuk melihat keadaannya. Dia belum masuk sekolah, karena Ambar belum bisa mengatur waktu dan mengajari Seni untuk antar jemput Juha. Karena Ambar masih bekerja, agak sulit mengaturnya.


Ambar bersyukur, Juha tidak rewel dan mengikuti nasehatnya. Dia bisa belajar tulis sendiri lewat buku-buku yang diberikan oleh Ambar. "Juha. Mama tinggal dulu, ya. Atau Juha mau nonton di bawa? Mari turun sama Mama." Ucap Ambar, dan Juha mengikutinya turun.


Ambar ke ruang makan untuk minum minuman panas yang sudah disediakan oleh Seni. "Seni, tolong masak sendiri, ya. Ibu di kamar, karna ada yang mau dicari." Ucap Ambar, saat telah selesai minum lalu melangkah ke kamar diikuti oleh Juha.


"Kalau Juha mau nonton TV, ngga usah ikut ke kamar. Mama mau kerja di kamar. Nanti kalau sudah mau makan, Juha panggil Mama, ya." Ucap Ambar, sambil mengacak rambut Juha dengan sayang.


"Iyaa, Ma. Juha mau nonton TV saja." Juha berkata, lalu kembali nonton tv. Ambar langsung menutup pintu kamar dan mulai memeriksa lemari pakaian Rulof. Semua pakaiannya dikeluarkan dari lemari dan diletakan di atas tempat tidur. Ambar memeriksa satu demi satu kaos, kemeja, celana pendek/panjang, Jas. Begitu pun dengan lemari kecil di samping tempat tidur.


Setelah semuanya dikeluarkan, Ambar hanya menemukan surat-surat mobil. Tidak ada surat-surat yang dimaksudkan oleh keluarga Rulof. Ambar menemukan dua buah jam tangan yang masih bagus dan lumayan mahal harganya. Dia menyimpannya tersendiri, jangan sampai ditemukan oleh keluarga Rulof. 'Karena kedua jam tersebut bisa dipakai oleh Juha, kelak.' Pikirnya.


Karena tidak menemukan surat-surat yang lain, Ambar keluar kamar menuju dapur. "Seni, kunci mobil taruh di mana?" Tanya Ambar, karena dia akan memeriksa mobil untuk mencari yang bisa didapat.


"Ini, kuncinya, Bu." Seni berkata sambil memberikan kunci mobil, setelah masuk ke kamar untuk mengambil kunci mobilnya. Dia menyimpan kunci mobil di kamarnya. Ambar mengambilnya dan menuju ke garasi untuk memeriksa isi mobil.


Sampai makan malam tiba, Ambar tidak menemukan surat-surat yang lain, selain surat-surat mobil. "Seni, nanti setelah makan malam, bantu Ibu rapikan baju-baju bapak, ya." Ucap Ambar, mengingat dia tidak kuat lagi mengembalikan pakaian Rulof ke lemari pakaian.


Selesai makan malam, Ambar mengajak Juha ke kamarnya. "Juha, sikat gigi lalu belajar tulis sendiri, ya. Malam ini, Mama tidak baca cerita, karena Mama mau rapikan kamar Mama." Ucap Ambar, mengingat kamarnya masih berantakan.


"Iyaa, Ma. Nanti Juha tidak minum susu juga, karna masih kenyang." Ambar mengangguk mengiyakan, kemudian keluar dari kamar Juha ke kamarnya.


Ambar memilih semua kaos Rulof dipindahkan ke lemarinya, karena kaosnya bagus-bagus dan bermerk. Dia memisahkan beberapa kaos yang bisa dipakai oleh Seni. Sedangkan yang lain akan digantung lagi menunggu perkembangan.


Ketika Seni datang membantunya, tinggal mengembalikan ke tempatnya. "Seni, itu ada kaos-kaos bapak, kalau kau mau, dibawa saja. Jangan sampai dibawa sama keluarganya." Ucap Ambar, dan Seni menggangguk.

__ADS_1


"Iyaa, Bu. Trima kasih." Ucap Seni, sambil memisahkan yang untuknya.


"Nanti besok, Ibu libur kerja tetapi mau ke kantor Alm. bapak. Ada yang mau Ibu urusin di kantor bapak. Jadi kita belum bisa ke sekolah Juha." Ucap Ambar, menjelaskan.


Setelah selesai, Ambar kembali membersihkan tubuhnya sebelum tidur, karena sudah basah oleh keringat. Kemudian naik ke kamar Juha untuk melihatnya. Sesampai di kamar Juha, Ambar menjadi terharu karena dia sudah tidur sendiri.


Ambar naik ke tempat tidurnya dan berdoa, kemudian tidur di sampingnya sambil memeluknya. Hatinya sangat bersyukur diberikan seorang anak yang baik dan penurut.


*((**))*


Keesokan harinya, Ambar bangun bersama Juha, karena dia tidak perlu buru-buru bangun untuk ke kantor. "Mama tidur dengan Juha?" Ucap Juha, senang.


"Iyaa, selamat pagi dulu." Ucap Ambar, sambil mencium pipi Juha, gemesin.


"Hehehe... Selamat pagi Mama." Ucap Juha tertawa, girang.


Ambar memandikan Juha, memakaikan pakaiannya lalu turun ke dapur.


"Seni, masih ada bumbu? Kita masak nasi goreng saja, ya. Karna Ibu mau keluar, biar kenyang makannya." Ucap Ambar, kemudian bersama Seni sibuk di dapur untuk menyiapkan sarapan mereka.


Selesai sarapan, Ambar mandi dan mengenakan baju formal karena akan ke kantor Rulof. Dia memasukan semua surat-surat yang berhubungan dengan Rulof ke dalam tas. Kemudian memesan ojol ke kantor Rulof, biar tidak bermacet ria di jalan dan bisa cepat pulang.


Setelah tiba di kantor Rulof, Ambar di minta ke pihak terkait. Ambar sangat terkejut, mengetahui Rulof memiliki banyak hutang di kantor. Sehingga hampir-hampir uang yang harus diterimanya tidak bersisa. Ambar teringat ucapan Mathias. 'Dia harus siap jika Rulof memiliki hutang.'


Rulof banyak memakai kartu kredit kantor bukan untuk keperluan dinas. Tetapi dia memakainya untuk keperluan pribadi dan itu dihitung sebagai hutang. Hal itu membuat Ambar hanya bisa melongo, karena tidak mengerti semua pemakaian uang Rulof.


Ambar melihat semua rincian angka-angka pemakaian Rulof dengan terkejut dan heran. Karena pemakaiannya, tidak masuk di akal Ambar. Dia menerima beberapa ratus ribu dengan lapang dada. Karena dia sendiri tidak mengerti, cara penggunaan uang Rulof.

__ADS_1


Ambar buru-buru memasukan semua rinciannya ke dalam tas, laptop kerja dan perlengkapan pribadi miliknya yang diberikan juga dimasukan ke dalam tas, karena ingin secepatnya meninggalkan kantor Rulof.


Dia merasa sangat malu untuk berlama-lama di kantor Rulof. Apalagi melihat banyak pasang mata yang memandangnya. 'Entah apa yang ada yang dipikiran mereka.' Ambar membatin.


Saat telah keluar dari lobby kantor Rulof, Ambar menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan kuat. "Neng, Ambar?" Tiba-tiba ada yang menegurnya dari samping, membuat Ambar terkejut dan menole.


"Oooh, Pak Yatno. Apa kabar?" Tanya Ambar, sambil mencium punggung tangan dengan hati yang sedikit senang.


"Kabar baik, Neng. Lagi bikin apa di disini, Neng?" Tanya Pak Yatno lagi.


"Oooh, ini Pak. Lagi ngurusin surat-surat Mas Rulof." Ucap Ambar, pelan.


"Oooh, iya Neng. Bapak turut berduka, ya. Jangan terlalu dipikirkan." Ucap Pak Yatno, menghibur Ambar


"Iyaa, Pak. Trima kasih." Ucap Ambar, sambil mengatupkan kedua tangannya di dada.


"Pak Yatno, sudah lama Ambar mau bertemu dengan bapak. Ambar mau tanya, mungkin bapak tau Papa dan adik-adik pindah ke mana? Karena Ambar ke rumah Papa, rumah sudah di jual dan tetangga ngga ada yang tau pindah kemana." Ucap Ambar berharap ada kabar dari Papa dan kedua adiknya.


"Maaf, Neng. Bapak juga tidak tahu Papa Neng pindah ke mana. Setelah Neng menikah, Papa Neng masih suka ke tempat judi dan ada masalah dengan kerjanya. Mungkin itu yang membuat Papa Neng menjual rumahnya." Ucap Pak Yatno, membuat Ambar terkejut.


"Sampai sekarang, bapak tidak pernah bertemu dengannya lagi. Apakah Neng sudah pernah pulang ke kampungnya?" Tanya Pak Yatno, pelan.


"Tidak Pak, Yatno. Karna Ambar ngga tahu kampungnya di mana. Apakah Pak Yatno tau, kampung Papa?" Tanya Ambar berharap, karena hanya Pak Yatno yang Ambar tahu kenalan Papanya. Selama hidup bersama, Papanya tidak perna bercerita tentang keluarganya. Karena Mamanya sudah meninggal, sejak adiknya masih kecil.


"Bapak juga tidak tahu, Neng. Karna Papamu sangat tertutup soal itu. Nanti bapak kasih kabar kalau ada berita tentang Papamu." Ucap Pak Yatno lagi.


"Kalau begitu, Ambar minta nomor telpon bapak, ya. Jadi Ambar bisa berkomunikasi dengan bapak." Kemudian Ambar bertukar nomor, lalu berpisah dengan Pak Yatno. Ambar berharap ke depan ada kabar dari Papa dan kedua adiknya. Dia segera pesan ojol untuk pulang ke rumah, karena hari yang melelahkan hatinya.

__ADS_1


~●○♡○●~


__ADS_2