
~•Happy Reading•~
Setelah pembicaraan dengan Ambar dan mentransfer uangnya, Mathias kembali disibukan dengan berbagai kasus. Sehingga jarang pulang ke rumah orang tuanya. Tetapi beberapa waktu belakangan ini, ketika mengetahui kondisi Ibunya kurang baik, sesibuk apa pun Mathias langsung pulang ke rumah untuk menemani Ibunya.
Di saat masuk kompleks perumahan orang tuanya, Mathias selalu jalan memutar untuk melihat kondisi rumah Ambar. Karena ketika masuk komplek Perumahan Indah Permai, akan bertemu dengan rumah orang tuanya terlebih dahulu, baru rumah Ambar. Sehingga Mathias harus memutar balik setelah melewati rumah Ambar. Dia bersyukur, semuanya baik-baik saja, sudah tidak ada lagi orang di depan pagar.
Ketika masuk ke rumahnya, Mathias melihat suster berada di ruang tamu. Dia mengajak bicara suster untuk mengetahui kondisi Ibunya.
"Suster, apakah Ibu makan dengan baik?" Tanya Mathias pelan, khawatir membangunkan Ibunya.
"Ibu mau makan, tapi tidak banyak, Pak. Jadi makannya lebih sering." Susternya menjelaskan.
"Baik, tolong diperhatikan juga obatnya, ya." Ucap Mathias, kemudian masuk ke kamarnya untuk mandi, sebelum menemui Ibunya. Setelah itu, Mathias masuk ke kamar menemui Ibunya.
"Lo', kenapa Ibu sudah bangun." Ucap Mathias terkejut, melihat Ibunya sudah duduk bersandar di tempat tidur.
"Ibu ingin duduk sebentar, cape' tidur terus. Sini, duduk dekat Ibu." Ucap Bu Titiek, sambil menepuk tempat tidurnya. Mathias berjalan mendekat dan duduk di samping Ibunya.
"Apakah pekerjaanmu masih banyak?" Tanya Bu Titiek, pelan.
"Yaa, lumayan, Bu. Bagaimana, Ibu mau jalan-jalan?" Tanya Mathias, mencairkan suasana dan menyemangati Ibunya. Dia akan mengusahakan untuk libur, jika Ibunya mau pergi jalan-jalan.
"Ngga, Ibu hanya mau mengingatkan. Jangan terlalu sibuk sampai lupa untuk menikah. Apa Thias belum ingin menikah?" Tanya Bu Titiek, sambil menatap putranya dengan sayang.
"Yaaa... Ingin sih, ingin Bu. Tetapi kan, harus dengan yang cocok, bukan main seruduk seperti banten." Ucap Mathias, tersenyum sendiri mendengar ucapannya. Begitu pun dengan Bu Titiek.
"Ibu hanya ingin melihat ada yang mengurusmu dengan baik, apalagi pekerjaanmu seperti ini." Ucap Bu Titiek lagi. Beliau tahu, Mathias sudah punya pacar karena Mathias pernah mengatakannya. Jadi Ibunya berharap dia segera meresmikannya, tidak usah mengkhawatirkan kesehatannya.
"Yaa, itu Bu. Pekerjaan seperti ini membutuhkan pendamping yang ekstra sabar dan mengerti. Levelnya harus di atas atap, karena Thias sering tidak pulang ke rumah dan juga harus pergi-pergi keluar kota." Ucap Mathias, membuat Ibunya tersenyum.
"Ibu tidak usah pikirkan itu. Nanti kalau sudah ketemu, Thias akan kenalkan sama Ibu. Jangan lupa Ibu doakan Thias, agar semuanya lancar jayaaa." Ucap Mathias, sambil tersenyum.
__ADS_1
"Tanpa kau minta, Ibu selalu mendoakanmu." Ucap Bu Titiek ikut tersenyum., tetapi memikirkan ucapan Mathias. 'Bukankah dia sudah punya pacar?' Tanya Bu Titiek dalam hati.
"Makasih, Bu. Sekarang Ibu istirahat dan tidur yang nyenyak." Ucap Mathias, sambil mencium pipi Ibunya, membaringkan dan menyelimutinya. Kemudian Mathias keluar dari kamar Ibunya. Setelah menutup pintu kamar, dia bersandar sejenak dengan hati yang berat melihat kondisi Ibunya.
Sebenarnya, dia sangat cemas ketika Ibunya tidak mau dirawat di Rumah Sakit. Hal ini membuat dia tidak bisa sering mengambil kasus di luar kota. Karena khawatir akan kondisi Ibunya.
Seperti sekarang ini, dia memikirkan kasus yang akan ditanganinya di Jogja. Hal ini membuat dia harus ke Jogja untuk beberapa hari. 'Besok baru aku bicarakan dengan Ibu.' Ucap Mathias dalam hati, kemudian masuk ke kamarnya dan berusaha untuk tidur.
*((**))*
Mathias telah bangun pagi dan berolah raga di halaman rumahnya dengan berlari-lari kecil untuk mengeluarkan keringatnya. Hal yang tidak bisa dilakukannya jika tidur di cabin.
Sehingga dia harus mengatur waktu untuk menjaga kebugarannya dengan pergi ke tempat gym atau ke kolam renang. Hal itu sering dilakukan pada hari libur.
Setelah berolah raga, Mathias mandi dan sarapan bersama Ibunya yang telah bangun dan keluar kamar dengan mengenakan kursi roda. Mathias menggendong Ibunya untuk duduk di kursi meja makan.
Kalau tidak ada Mathias, Ibunya akan sarapan sambil duduk di kursi roda. "Bu, dua atau tiga hari ke depan, Thias tidak bisa pulang, karena mau ke Jogja. Ada kasus yang mau Thias tangani di sana." Ucap Mathias pelan, setelah mereka selesai sarapan.
"Iyaa. Ngga papa, Nak. Hati-hati di jalan dan kerjanya. Thias naik apa ke sana?" Tanya Bu Titiek pelan, hatinya merasa sedih tidak akan bertemu putranya beberapa hari, tapi disimpannya. Beliau khawatir Mathias cemas.
"Iyaa... Konsetrasi untuk kerjanya, agar bisa cepat kembali. Nanti kalau ada apa-apa, ada suster dan sopir. Jadi ngurusin kerjaanmu dengan baik." Ucap Bu Titiek, meyakinkan Mathias.
"Baik, Bu." Ucap Mathias, sambil menggendong Ibunya masuk ke kamar dan membaringkannya. Badan Ibunya mulai kurus, sehingga dengan mudah Mathias menggendongnya. Biasanya dia hanya mengangkat Ibunya untuk duduk di kursi roda, tetapi karena dia mau ke luar kota, dia menggendong Ibunya sampai ke tempat tidur.
Dia mencium pipi Ibunya dan pamit untuk berangkat kerja. Saat berangkat, tidak lupa dia memutar untuk melewati rumah Ambar. Karena pagar rumah Ambar tidak tinggi, jadi dapat melihat aktivitas orang di dalam pagar.
Mathias terkejut, melihat Ambar sedang menyapu halaman rumahnya. Dia terus menjalankan motornya dan memutar untuk keluar komplek. Hatinya bersyukur, semuanya sudah baik-baik saja.
Setelah tiba di kantor, Mathias memanggil Bagas ke ruangannya. "Bagas, hari ini saya mau ke Jogja, jadi tolong tangani data dan dokumen kasusnya. Saya usahakan secepatnya sudah kembali."
"Baik, Pak. Mau naik apa ke Jogja?" Tanya Bagas, karena bossnya belum memintanya beli tiket.
__ADS_1
"Ooh iyaa, saya naik pesawat siang ini saja. Tolong dibeli tiketnya dan kirim ke saya, karna saya mau ke parkiran apartemen untuk menitipkan motor." Ucap Mathias, sambil menyiapkan dokumen dan memasukan ke tas kerja bersama laptopnya.
Kemudian Mathias ke cabin untuk mengambil pakian dan keperluan lainnya. Setelah semua telah dimasukan ke dalam ransel, Mathias mengunci cabin dan ruang kerjanya kemudian pamit kepada Bagas di ruang kerjanya.
*((**))*
Hari ketiga Mathias di Jogja, dia telah pulang ke hotel setelah menemui clientnya. Sepanjang hari dia menyelidiki dan mendiskusikan kasus yang akan ditanganninya. Hal itu membuat dia sangat lelah, sehingga ketika tiba di hotel, dia mandi air hangat dan tidur lebih awal.
Setelah beberapa waktu tertidur, Mathias terkejut oleh getaran suara ponselnya. Semenjak kondisi Ibunya menurun, dia tidak pernah lagi silent ponsel ketika sedang beristirahat.
Dia segera mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menghubunginya. Ketika melihat Ambar yang menelpon, Mathias terkejut karena sudah hampir jam 12 malam. Dia segera merespon panggilan Ambar.
📱"Alloo, Bu Ambar. Ada apa?" Tanya Mathias yang masih mengumpulkan kesadarannya, karena kaget bangun.
📱"Maaf, Pak Mathias. Saya mengganggu. Ini di luar ada Richo mengetuk pintu rumah saya." Ucap Ambar dengan suara pelan, karena khawatir Richo mendengar suaranya.
📱"Richo...? Siapa dia?" Tanya Mathias yang kesadarannya masih loading.
📱"Kakak ipar Alm. suami saya, Pak." Jawab Ambar, merasa tidak enak karena mendengar suara Mathias parau, tanda baru bangun tidur. 'Pasti beliau kaget bangun dan lupa sama orangnya.' Pikir Ambar.
📱"Ooh, iyaa, maaf. Aku baru bangun, jadi belum konsen." Jawab Mathias, jujur.
📱"Ada apa dia malam-malam ke rumah Bu Ambar?" Tanya Mathias heran, dan mulai menguasai tubuh dan pikirannya.
📱"Saya tidak tau, Pak. Kami sudah tidur, tiba-tiba dia mengetok pintu rumah dan memanggil nama saya." Ucap Ambar, berbisik.
📱"Mengetok pagar, maksudnya?" Tanya Mathias mengoreksi ucapan Ambar.
📱"Bukan Pak, pintu rumah saya. Padahal saya telah mengunci pintu pagar. Tetapi dia sudah ada di dalam pagar dan mengetok pintu rumah saya." Ucap Ambar pelan menjelaskan.
📱"Apakah dia melompati pagar rumah? Apakah Ibu sudah menghubungi security? Tanya Mathias, mulai berpikir dengan baik dan jadi khawatir.
__ADS_1
📱"Mungkin melompati pagar, Pak. Saya sudah menghubungi security, tetapi tidak direspon." Ucap Ambar terus berbisik, agar tidak didengar oleh Richo bahwa mereka telah bangun. Karena menghubungi security dan tidak direspon, maka dia mencoba menghubungi Mathias.
~●○♡○●~