MANUSIA PARASIT

MANUSIA PARASIT
Ambar - Sari.


__ADS_3

~•Happy Reading•~


Ambar telah berada di salah satu restaurant besar di Jakarta Pusat. Pemiliknya adalah Sari Dayuwangi, teman kuliahnya. Bedanya adalah, Sari menyelesaikan kuliah, sedangkan Ambar tidak, karena keburu dilamar oleh Rulof.


Papanya menerima dan mendesak Ambar untuk menerima lamaran Rulof dan menikah dengannya. Supaya kedua adiknya, lelaki dan perempuan bisa kuliah, kata Papanya saat itu. Sedangkan Mamanya telah meninggal, saat dia mulai masuk kuliah. Sehingga dia menuruti kata Papanya, mengalah demi adik-adiknya.


Rulof telah berjanji, akan mengijinkan dia untuk tetap kuliah setelah menikah. Tetapi semuanya itu tidak berjalan seperti yang direncanakan. Ambar tidak bisa meneruskan kuliahnya karena keburu hamil dan harus mengurus anak. Akhirnya, kuliah Ambar terputus di tengah jalan.


Sedangkan temannya Sari setelah selesai kuliah belum menikah sampai sekarang. Karena lebih fokus untuk berbisnis. Dia telah memiliki usaha sendiri, Restaurant Ayam Baqcot yang terkenal adalah miliknya.


Dengan apa yang terjadi tadi malam dengan Rulof, Ambar berpikir dia harus bekerja. 'Tidak bisa seperti itu terus, kasihan anakku.' Ambar membatin dan dia merasa masih muda. Sangat memalukan ketika meminta uang, walau itu pada suaminya sendiri. Apalagi mendapat respon ucapan yang tidak menyenangkan.


Tadi malam Ambar sengaja memghubungi Sari, mungkin ada pekerjaan untuknya. Menjadi pelayan di restoranya juga, tidak mengapa. 'Asalkan bisa punya penghasilan sendiri.' Itu yang ada dipikirkannya, saat menghubungi Sari.


Ambar datang pagi-pagi seperti yang dikatakan Sari untuk bertemu denganya. Sehingga dari pagi Ambar sudah berangkat ke restoran Sari di Jakarta Pusat menggunakan commuterline dan ojol.


"Ambar, benar kau mau bekerja di restoranku?" Tanya Sari heran, setelah bertemu dengan Ambar. "Iyaa, Ri. Kalau ada, aku berterima kasih sekali." Ucap Ambar berharap.


"Apakah suamimu akan mengijinkanmu bekerja di restoran? Sedangkan dia adalah ASN dengan jabatan tinggi." Ucap Sari lagi, karena dia tahu Suami Ambar seorang pejabat ASN di Jakarta Timur. Kalau tidak salah, seorang kepala bagian.


"Iyaa, Ri. Ngga papa. Lebih baik aku bekerja mengisi waktu luang dengan bekerja, daripada jalan-jalan atau kumpul-kumpul dengan Ibu pejabat. Hehehe." Ucap Ambar, lalu tertawa menyebutnya Ibu pejabat.


"Baiklah. Kalau kau mau, tapi sekarang hanya ada pelayan restoran yang kosong. Nanti bagian keuanganku cuti hamil, kau bisa menggantikannya." Ucap Sari, merasa tidak enak kepada Ambar karena akan bekerja sebagai pelayan restoran, sedangkan dia pernah kuliah di akuntasi.


"Tapi, bisakah aku kerja siang saja? Maksudnya tidak sampai malam." Tanya Ambar, karena mengingat Juha putranya.


"Iyaa, boleh. nanti aku yang mengaturnya, supaya kau masuk pagi sampai sore saja. Kalau kau mau langsung kerja sekarang, bisa. Sekalian belajar menu dan melayani." Ucap Sari lagi.


"Baik. Trima kasih, Ri. Sudah memberikan kesempatan untukku." Ucap Ambar, dengan hati senang dan bersyukur bisa bekerja. Ambar berdiri dan memeluk Sari.


"Mari, aku perkenalkan untuk karyawan yang lain, supaya kau bisa bekerja bersama mereka." Ucap Sari, sambil mengajak Ambar dan memperkenalkannya kepada karyawan dan Manager restoran.


Setelah itu, Ambar diberikan baju seragam restoran. Dia menggulung rambutnya yang lebat melewati bahu dan menjepitnya, agar tidak mengganggu kinerjanya.

__ADS_1


Namun sebelum itu, Ambar menelpon Seni di rumah untuk menanyakan kabar putranya.


📱"Alloo, Seni. Kalian sedang apa?" Tanya Ambar, saat Seni merespon panggilannya.


📱"Alloo, Ibu. Saya mau masak, Bu." Jawab Seni senang, karena Nyonyanya sudah menelpon.


📱"Kau dan Juha sudah sarapan?" Tanya Ambar lagi, karena mengkhawatirkan mereka.


📱"Sudah, Bu. Tadi Juha minta sarapan nasi dan telur dulu, karna sudah lapar. Jadi sekarang saya mau masak, karena tadi bapak kasih uang 50 ribu untuk beli keperluan memasak." Seni menceritakan.


📱"Ok. Trima kasih, ya. Saya titip Juha dulu, karena mungkin saya pulang agak sore. Nanti sudah di rumah baru kita berbicara lagi." Ucap Ambar, dengan hati sedikit lega.


📱"Iyaa, Bu. hati-hati." Ucap Seni lagi.


📱"Iyaa, sama-sama." Ucap Ambar, dan mengakhiri pembicaraan mereka.


Sambil menunggu waktu buka restoran, Ambar mempelajari menu, letak meja dan tata cara melayani. Karena dia tidak mau mengecewakan temannya yang sudah membantunya.


Ambar yang biasa bekerja di rumah, dengan cepat bisa menyesuaikan diri dengan pekerjaan barunya. Ketika dia hendak melayani salah satu meja yang agak jauh dan berbalik.


"Uuppsss." Ucap Ambar, terkejut. Karena hampir menabrak pengunjung yang baru datang dan hendak ke meja yang kosong. Dia memegang nampan ditangannya dengan kencang, khawatir jatuh. Pengunjung tersebut, langsung memegang nampannya. Karena dia tahu pelayan di depannya sedang terkejut.


"Maaf, Pak. Trima kasih." Ucap Ambar sambil mengambil nampan dari tangan pengunjung tersebut. "Tidak usah buru-buru. Tenang saja, supaya bisa konsent." Ucap pengunjung tersebut dan Ambar mengangguk, mengerti.


Setelah di belakang, Ambar menepuk-nepuk dadanya pelan untuk menenangkan jatungnya yang berdegup kencang. Karena tadi Ambar sangat terkejut, takut nampannya jatuh dan prraaaang. Dia bersyukur, tadi nampannya dipegang oleh pengunjung tersebut.


Semua yang dilakukan Ambar tidak luput dari perhatian Mathias yang telah duduk di depan Sari. Mereka telah membuat janji untuk makan siang di restorannya.


"Kau perhatikan ke sana terus. Ada apa?" Tanya Sari kepada Mathias yang sedang memperhatikan Ambar. "Aku lagi lihat salah satu karyawanmu. Tadi dia hampir menabrakku, membuat dia sangat terkejut." Ucap Mathias.


"Karyawanku yang mana?" Tanya Sari, penasaran. "Itu, cewe yang lagi duduk, sambil memegang dadanya. Pasti dia masih dag dig dug." Ucap Mathias, sambil menunjuk Ambar dengan wajahnya.


"Oooh, itu temanku. Namanya Ambar, mungkin dia terkejut, karena dia baru kerja hari ini." Ucap Sari, menebak ketika melihat Ambar yang sedang duduk.

__ADS_1


"Ooh, pantes dia sangat terkejut. Sejak kapan kau ajak teman bekerja di tempatmu?" Tanya Mathias, karena setahunya, Sari tidak mau ada teman atau keluarga yang bekerja dengannya. Dia pernah mengalami hal buruk ketika mempekerjakan teman dan keluarganya.


"Yaaa, sejak hari ini. hehehee.... Jangan melihatnya terus, dia sudah bersuami." Ucap Sari, sambil memukul lengan Mathias. "Dia sudah bersuami, tapi masih mudah. Teman apamu?" Tanya Mathias lagi.


"Dia teman kuliah, tetapi dia tidak selesai kuliah, karena keburu dilamar pejabat ASN." Ucap Sari, sambil tersenyum.


"Ooh, yaa. Suaminya pejabat, tapi mengijinkan istrinya bekerja di restoran?" Tanya Mathias heran dan tidak percaya.


"Memang ada apa dengan restoran, sampai tidak boleh bekerja?" Ucap Sari, sewot.


"Bukan ada apa dengan restorannya, tapi ada apa dengan dia atau pejabatnya. Karna biasanya, istri pejabat lebih suka shoping, daripada bekerja keras di tempat seperti ini." Ucap Mathias yang masih merasa heran.


"Yaaa, mungkin temanku bukan tipe seperti itu. Lebih suka berkerja supaya tidak bosan di rumah. Sudah, jangan bicarakan temanku lagi. Kau mau makan apa?" Tanya Sari, mengalihkan pembicaraan tentang Ambar.


"Apa saja yang kau sajikan, aku akan makan. Karna makanan di restoranmu enak semua." Ucap Mathias, sambil mengangkat 2 jempolnya. Sari langsung memanggil karyawannya untuk memesan makanan untuk mereka.


"Kau masih menjadi pengacara gratisan?" Tanya Sari. "Bukan gratisan, hanya memberikan bantuan pembelaan bagi yang tidak mampu bayar pengacara saja." Ucap Mathias sambil tersenyum.


"Itu namanya gratis." Ucap Sari. "Siapa yang bilang, gratis. Mereka kasih trima kasih untukku." Ucap Mathias ngledekin Sari.


"Tidak selamanya, gratis. Sekali-sekali yang kakaplah. Kalau ngga, bagaimana aku bisa hidup dan membayar asistenku." Ucap Mathias, tersenyum.


"Ngomong-ngomong, apakah kau masih bersama Angel?" Tanya Sari. "Masih, tapi sekarang dia lagi cari angin. Angin mamiri. hehehe..." Ucap Mathias sambil tertawa.


"Sampai dia terbang dibawa angin baru tau rasa. hehehe." Ucap Sari dan juga tertawa.


"Yaaa, itu berarti, anginnya lebih kuat dariku. Mari makan, nanti kita bicarakan lagi layangannya." Ucap Mathias tersenyum, karena makanan mereka sudah tersedia. Sari langsung memukul lengannya.


Menjelang sore dan waktu pulang, Ambar yang sudah siap-siap untuk pulang dan mau pamit kepada Sari, tidak jadi melakukannya karena melihat Sari masih dengan tamu. Ambar hanya kirim pesan kepada Sari, bahwa dia pamit pulang.


Ambar segera pesan ojol untuk ke stasiun Gondangdia, karena dia hendak naik Commuterline. Tanpa disadarimya, ada yang memperhatikannya dari jauh.


~●○♡○●~

__ADS_1


__ADS_2