MANUSIA PARASIT

MANUSIA PARASIT
Kejutan.


__ADS_3

~•Happy Reading•~


Mendengar itu, Mathias cepat berpikir. "Kalau begitu, matikan dulu telponnya, saya akan hubungi lagi setelah menghubungi security." Ucap Mathias, langsung mengakhiri pembicaraan mereka dan segera menghubungi security komplek.


Ketika menghubungi security, ternyata seperti yang dikatakan Ambar. Telponnya tidak direspon, walaupun sudah ditelpon berkali-kali. Mathias bangun dari tempat tidur dan berjalan mondar-mandir di dalam kamar sambil berpikir.


Sebelum menelpon Ambar, Mathias kembali menelpon security, tapi masih tidak direspon. 'Apa yang terjadi dengan security komplek, kenapa pada tidur semua.' Ucap Mathias kesal, dan segera menghubungi Ambar.


📱"Alloo, Bu Ambar. Apakah orangnya masih ada?" Tanya Mathias, pelan.


📱"Iyaa, Pak. Orangnya masih mengetuk dan memanggil. Sebentar saya keluar kamar supaya bapak bisa mendengar orangnya." Ucap Ambar, sambil berjalan jinjit keluar kamar.


"Ambarrr... Aku tau kau sudah bangun, cepat buka pintu, atau saya akan dobrak pintunya." Sayup-sayup Mathias mendengar teriakan Richo. Ambar telah merekam semua teriakan Richo dengan ponsel Seni.


Kemudian dia kembali ke kamar dan berbicara dengan Mathias.


📱"Alloo, Pak Mathias. Saya sudah masuk ke kamar lagi. Teriakannya seperti itu dari tadi, Pak." Ucap Ambar, berbisik khawatir Richo mendengar.


📱"Baik, kalian jangan keluar kamar. Kalau ada benda keras di kamar, disiapkan saja di situ untuk berjaga-jaga. Dia tidak akan berani masuk ke rumah. Apakah ini pertama kalinya dia lakukan itu?" Tanya Mathias lagi.


📱"Ngga, Pak. Waktu itu juga sudah datang, tetapi tidak terlalu malam. Saya telpon security dan mereka datang mengamankannya. Katanya kepada security, dia ingin bertemu dengan saya, tetapi kuncinya ketinggalan." Ucap Ambar, tetap berbisik.


📱"Baiklah, tidak usah keluar. Biarkan dia teriak sampai cape'. Kalau berani dia mendobrak pintu, kalian langsung teriak minta tolong. Biar dia digebukin rame-rame sama tetangga. Saya sedang di luar kota, jadi tidak bisa ke tempat anda. Besok saya usahakan untuk kembali ke Jakarta." Ucap Mathias.


📱"Baik, Pak. Bapak istirahat saja, nanti saya dan ART teriak kalau dia berani masuk. Kami bertiga sudah di dalam kamar." Ucap Ambar, berusaha berani, karena tidak menyangka Mathias ada di luar kota.


📱"Baiklah, kalian hati-hati. Saya mau istirahat sebentar, karna kepala agak sakit." Ucap Mathias, dan mengakhiri pembicaraan mereka. Dia merasa sakit kepala, karena belum lama tidur dan dikagetkan oleh getaran telpon.


Masih Subuh Mathias telah bangun dan memeriksa ponselnya. Tidak ada panggilan atau pesan dari Ambar. Dia mau menghubungi tetapi khawatir mereka masih tidur. Dia bersyukur, tadi malam pekerjaannya telah selesai. Dia segera menghubungi Bagas untuk mengurus tiket kembali ke Jakarta pagi itu juga.

__ADS_1


Setelah tiba di Jakarta, Mathias langsung ke parkiran apartemen untuk mengambil motornya dan segera ke kantor. Dalam penerbangan ada hal yang dipikirkan oleh Mathias untuk menyelesaikan masalah Ambar.


Setiba di kantor, Mathias langsung telpon ke rumah untuk mengecek kondisi Ibunya.


📱"Suster, bagaimana kondisi Ibu hari ini?" Tanya Mathias, karena setiap hari dia menghubungi suster yang menjaga Ibunya untuk mengecek kondisi kesehatan Ibunya.


📱"Baik, Pak. Ibu bisa makan dan tidur dengan baik. Tadi pagi Ibu minta di bawa ke halaman, karena tau mangga sedang berbuah." Ucap suster menceritakan.


📱"Baik, trima kasih. Nanti saya hubungi lagi." Ucap Mathias, dan mengakhiri pembicaraannya. Kemudian dia menghubungi Ambar.


📱"Alloo, Bu Ambar. Gimana kabarnya?" Tanya Mathias, ketika Ambar merespon panggilannya.


📱"Alloo, Pak Mathias. Trima kasih. Kami bangun kesiangan, karena tunggu dia pulang dulu baru kami tidur. Dia pulang sudah lewat tengah malam." Ucap Ambar menceritakan.


📱"Apakah Ibu sudah periksa gembok pagar baik-baik saja?" Tanya Mathias penasaran, kenapa dia bisa berada di halaman rumah Ambar.


📱"Iyaa, Pak.Tadi kami sudah periksa, mungkin dia melompati pagar." Jawab Ambar menebak.


📱"Baik, Pak. Sekarang saya akan ke sana." Ucap Ambar, antusias.


📱"Baik, saya tunggu. Hati-hati di jalan." Ucap Mathias, dan mengakhiri pembicaraan mereka. Ambar segera ganti baju dan memasukan semua keperluan lainnya ke dalam tas. Sudah lama Ambar menunggu untuk bisa bertemu dengan asisten Mathias.


Ambar langsung pesan ojol ke kantor Mathias. Karena dia ingin cepat sampai, dan tidak bermacet ria di jalan. Setelah sampai di kantor Mathias, Ambar merasa ada motor yang mengikutinya semenjak keluar dari komplek perumahannya.


Ambar langsung masuk ke kantor Mathias, berdiri di dalam ruang tunggu dan menarik nafas lega. Mathias yang baru turun ke ruang tunggu, melihat Ambar dan mendekatinya.


"Ada apa Bu Ambar?" Tanya Mathias terkejut, melihat Ambar yang sedang berdiri sambil memegang dada dengan kedua tangannya.


"Sepertinya ada yang mengikuti saya dari rumah, Pak." Ucap Ambar, sambil menarik nafas panjang untuk menenangkannya. Walaupun itu hanya suatu dugaan, mampu membuat jantungnya dag dig dug.

__ADS_1


Mathias melihat tempat parkir di depan kantornya dari kaca jendela. Dia melihat ada beberapa motor parkir dan juga ada ojol. Dia memperhatikan semuanya dengan teliti, tetapi tidak ada yang mencurigakan. Tidak ada yang khusus memperhatikan kantornya.


"Ngga usah dipikirkan, Bu Ambar. Mari naik ke ruangan saya." Ucap Mathias, mengajak Ambar naik ke ruang kerjanya. Ambar berjalan mengikuti Mathias, sambil berusaha tenang.


'Mereka tidak mungkin berani masuk ke kantor Pak Mathias.' Ucap Ambar dalam hati untuk menenangkannya.


"Silahkan duduk dulu. Saya mau keluar sebentar." Ucap Mathias, sambil mempersilahkan Ambar duduk di kursi yang ada di depan meja kerjanya. Kemudian Mathias keluar dari ruang kerjanya dan kembali turun ke ruang tunggu. Dia masih penasaran, kembali dia memperhatikan keadaan di depan kantornya dari balik kaca jendela.


Dia mengambil minuman hangat dari dispenser yang ada di ruang tunggu untuk Ambar. Karena Bagas sedang keluar bertemu dengan client menggantikannya. Sehingga Mathias sendiri yang mengambil minuman untuk Ambar.


Setelah kembali ke ruangannya, Mathias memberikan minuman kepada Ambar. "Bu Ambar, minum dulu, nanti baru kita berbicara." Ucap Mathias, sambil meletakan air mineral hangat di depan Ambar.


"Trima kasih, Pak." Ucap Ambar, kemudian mengambil minuman yang disediakan oleh Mathias dan meminumnya dengan perlahan. Mathias memperhatikan wajah Ambar yang mulai agak tenang.


Setelah melihat kondisi Ambar lebih baik, Mathias mengajaknya berbicara. "Siapa nama ipar anda yang tadi malam?" Tanya Mathias, membuka percakapan dan mengalihkan pemikiran Ambar dari orang yang mengikutinya.


"Ooh. Richo, Pak." Jawab Ambar singkat, dan mulai tenang.


"Apakah hubungan kalian selama ini, baik-baik saja?" Tanya Mathias, mulai menyelidiki.


"Selama Alm. masih hidup, orangnya baik Pak. Orangnya ramah dan sopan terhadap saya. Tidak banyak bicara dan tidak suka ikut campur. Sangat berbeda dengan sikap istrinya." Ucap Ambar, sambil mengingat sikap Richo selama Rulof masih hidup.


"Tetapi belakangan ini, setelah Papa Juha meninggal, orangnya sangat berubah. Mulai banyak mengatur dan berbicara lebih dari pada istrinya yang perempuan."


"Kadang, menanyakan hal-hal tentang peninggalan Alm. yang saya sendiri tidak tahu dan tidak mengerti. Sering juga membisikan sesuatu untuk dilakukan istrinya tanpa malu-malu di depan saya."


"Kalau melihatnya yang sekarang, membuat saya merinding." Ambar menjelaskan semua yang dirasakannya, sehingga merasa hatinya agak lega. Mathias mendengar dengan seksama semua yang dikatakan Ambar.


Mathias telah memikirkan semuanya semenjak dalam penerbangan, kemudian mengatakan kepada Ambar maksud hatinya. "Bu Ambar mau menikah dengan saya?" Ucap Mathias serius, tetapi Ambar menatap Mathias dengan wajah yang terkejut sambil memeggang dadanya.

__ADS_1


~●○♡○●~


__ADS_2