
...~•Happy Reading•~...
Ambar terkejut mendengar Mathias mau menjual apartemennya. Dia mulai berpikir dengan cepat, karena ingin mengetahui lebih banyak tentang rencana suaminya.
"Lalu bagaimana dengan gedung ini, Bagas? Apakah mau dijual juga?" Tanya Ambar, karena dia sudah melihat data keuangan tidak ada pembayaran sewa gedung. Jadi dia tahu, gedung kantor ini milik sendiri.
"Ooh, gedung ini tidak di jual Bu. Ini hadiah dari Alm. Ayah bapak saat beliau jadi pengacara dan mulai membuka kantor sendiri. Kantor ini akan tetap dipakai untuk menerima client dengan kasus TQ." Ucap Bagas menjelaskan, karena melihat istri bossnya bukan kepo asal, tetapi ingin lebih mengenal bossnya.
"Menurut bapak, ada pengacara yang akan ditempatkan di sini untuk menangani kasus TQ. Karena kalau di gedung yang baru mungkin clientnya agak sulit atau sungkan untuk datang meminta bantuan." Ucap Bagas, menjelaskan lebih rinci rencana bossnya.
Ambar mengangguk mengerti, dia makin mengenal suaminya dan mengagguminya. Dia mengaggumi juga cara berpikir dan bekerja suaminya. Setelah berbincang-bincang, mereka berdiri dan masuk ke ruang kerja untuk bekerja lagi.
Menjelang sore, Bagas masih bekerja di ruang kerjanya karena belum jam pulang kerja. Sedangkan Ambar sudah pulang, sambil membawa lembaran arsip yang tersisa untuk dikerjakan di rumah.
📱"Allooo, Pak." Bagas merespon panggilan bossnya, saat melihat bossnya menelpon.
📱"Apakah Bu Ambar ada bersamamu?" Tanya Mathias, saat Bagas merespon panggilannya, karena dia menghubungi Ambar, tetapi tidak direspon.
📱"Ngga Pak. Bu Ambar sudah pulang dari tadi." Jawab Bagas.
📱"Oooh, mungkin sedang di jalan, jadi tidak merespon panggilanku. Saya tidak ke kantor lagi, karna mau langsung pulang ke rumah. Kalau kau pulang jangan lupa kunci pintu dan matikan lampu. Hati-hati!" Ucap Mathias, mengingatkan.
📱"Siap, Pak. bapak juga hati-hati." Ucap Bagas, dan Mathias mengakhiri pembicaraan mereka.
*((**))*
__ADS_1
Saat Ambar tiba di rumah, dia terkejut melihat Mathias sedang tidur. Dia mengambil handuk dan baju ganti, lalu keluar menuju kamar tamu untuk mandi. Dia tidak mau bunyi air mandinya mengagetkan Mathias yang sedang terlelap.
Setelah selesai mandi, kemudian dia duduk di meja makan untuk minum teh yang telah dibuat oleh Seni untuknya. Tiba-tiba, Mathias memeluk dan mencium puncak kepalanya dari belakang.
"Kau sudah mandi?" Tanya Mathias yang baru bangun dan mencium bau wangi dari tubuh Ambar, pertanda sudah mandi. Sedangkan dia tidak mendengar suara air dari kamar dalam mandi.
"Iyaa, Mas. Tadi aku mandi di kamar tamu, karna melihat Mas lagi tidur nyenyak." Jawab Ambar menjelaskan, sambil memberikan kode untuk Ambar membuatkan minum untuk Mathias.
"Oooh, pantesan aku tidak dengar suara air dari kamar mandi. Tadi kau pulang kerja naik apa? Aku menghubungimu tetapi tidak direspon. Padahal tadi aku mau langsung ke kantor untuk menjemputmu." Ucap Mathias, karena dia bisa cepat selesai urusannya di Cikarang, sehingga berencana ke kantor sekalian menjemput Ambar.
"Ooh... Maaf, Mas. Tadi aku naik ojol langsung dari kantor, jadi tidak bisa merespon panggilan di ponsel. Aku naik ojol langsung, karna ada bawa pulang sedikit dokumen yang tersisa. Mungkin aku bisa kerjakan dari rumah." Ucap Ambar, menjelaskan. Mathias mengangguk mengerti.
"Mas, mandi ghiii. sebentar lagi Juha bangun nanti susah mandinya. Aku dan Seni mau menyiapkan makan malam untuk kita." Ucap Ambar, saat melihat Mathias telah menghabiskan minumnya. Ambar mendorong pelan lengan Mathias, agar bisa lekas berdiri untuk mandi.
Karena kalau Juha sudah bangun dan melihat Mathias ada di rumah, dia akan mengintil ke mana Mathias berjalan. Mathias mengangguk dan berjalan ke kamar untuk mandi.
Ibunya menyarankan untuk menggunakan uang yang ditinggalkan Ayahnya, tetapi Mathias tidak setuju. Dia sudah merencanakan untuk menjual apartemennya. Karena tempat itu selain memiliki aura yang negatif, dia juga tidak bisa tinggal di sana lagi.
Apalagi setelah menikah dengan Ambar yang sudah punya rumah sendiri. Ada rumah orang tuanya, ada rumah Ambar, ada cabin di kantor. Kalau cape' kerja di kantor dan tidak bisa pulang, bisa tidur di cabin. Hal itu menjadi pertimbangan Mathias juga, sehingga dia telah meminta pihak pengelolah apartemen untuk menjual unitnya. Bagas juga telah bantu mengiklankannya.
*((**))*
Setelah makan malam dan Juha sudah tidur, Ambar kembali ke kamar dan melihat Mathias sedang duduk di tempat tidur dengan laptop di depannya.
"Masih ada yang dikerjakan ya, Mas." Tanya Ambar, sambil duduk di kursi meja rias dan melihat Mathias sedang serius di depan laptopnya.
__ADS_1
"Aku hanya melihat isi hardisk eksternal Alm. Tadi aku sudah lihat juga di jalan, sekarang meneruskannya saja." Ucap Mathias, lalu menutup laptopnya dan memasukannya ke tas kerja.
"Setelah dilihat-lihat, nominal hasil penjualan tanah-tanah Alm. sebelumnya, hampir mendekati dengan uang Alm. yang ada di bank-bank itu." Ucap Mathias, sambil melihat Ambar.
"Jadi, untuk sementara ini tidak usah dipikirkan keabsahan uang-uang itu. Yang dipikirkan sekarang itu, kau harus mengaturnya dengan baik, karna Juha masih kecil. Kita tidak tau dia mau sekolah di mana, mungkin nanti dia akan membutuhkan uang-uang itu." Ucap Mathias lagi.
"Iyaa Mas, aku mengerti. Sekarang ngga usah pikirkan uang itu dulu. Tadi aku bicara dengan Bagas, katanya Mas akan merekrut pengacara, karna lagi banyak kasus yang sedang ditangani. Apakah kantornya bisa menampung karyawan baru?" Tanya Ambar, mencoba mengajak bicara Mathias.
"Ooh iyaa, aku sedang rencana mau pindah ke gedung yang lebih besar. Sekarang sedang dalam proses dan aku sudah bayar tanda jadi, tunggu apartemenku laku baru dilunasin dan kita akan pindah." Ucap Mathias, menjelaskan. Dia berpikir, nanti sudah beres semuanya baru dibicarakan dengan Ambar. Tetapi Ambar sudah tanya, jadi dia membicarakannya sekalian.
"Mas, pakai uang dari mana untuk tanda jadi? Karna di data kantor, tidak ada pengeluaran untuk itu." Tanya Ambar lagi, karena dia sudah melihat data keuangan kantor Mathias.
"Itu dari uang pribadiku, untuk gedung yang baru akan pakai uang pribadiku. Sedangkan uang yang ada di kantor, biarkan untuk biaya oprasional kantor." Ucap Mathias, karena Ambar sekarang telah memegang data keuangan kantor. Jadi Mathias harus membicarakannya sebagaimana bicara dengan Bagas.
"Ooh, pantesan." Ucap Ambar, sambil mengangguk.
"Mas percaya padaku, kan?" Tanya Ambar sambil menatap Mathias serius. Mendengar pertanyaan Ambar, Mathias melihatnya dengan heran.
"Kenapa kau tanya begitu? Kalau aku tidak percaya padamu, tidak mungkin aku mengijinkanmu memegang bagian keuangan di kantor." Ucap Mathias serius dan heran dengan pertanyaan Ambar.
Mendengar itu, Ambar langsung berdiri dan duduk di tepi tempat tidur di samping Mathias. "Aku bersyukur untuk itu. Jadi kalau Mas percaya padaku, tolong dengar usulku." Ucap Ambar serius, sambil memegang tangan Mathias.
Mathias memandang Ambar dengan tidak mengerti. Karena Ambar tidak pernah melakukan hal yang demikian. "Baik. Kalau begitu, kau katakan. Aku akan mendengarkan usulmu." Ucap Mathias berubah, serius. Karena dia tahu, Ambar akan menyampaikan sesuatu yang serius.
"Begini usulku, bagaimana kalau untuk beli gedung itu, Mas bayar pakai uang yang ada itu dulu. Biar cepat selesai urusan pembelian kantor baru. Nanti kalau apartemennya sudah laku, Mas bisa mengembalikan uangnya lagi." Ucap Ambar pelan, karena khawatir Mathias akan tersinggung.
__ADS_1
"Usulku ini karna jika uang itu di bank, bunganya tidak seberapa. Kami juga belum membutuhkannya, karena Juha masih kecil. Sedangkan untuk biaya hidup kita setiap bulan, sudah ada dari Mas. Apalagi aku nanti akan dapat gaji dari kantor. Jadi untuk sementara ini, uang itu tidak berguna bagi kami." Ucap Ambar, menjelaskan serincinya, karena dia sedang menjaga perasaan Mathias sebagai seorang lelaki dan juga kepala keluarga.
...~●○♡○●~...