
~β’Happy Readingβ’~
Beberapa waktu yang lalu, Inge telah menawarkan semua perabotan rumah tangga yang mereka miliki seperti kulkas, mesin cuci, lemari pakaian, tempat tidur, dll, kepada tetangga dan orang-orang yang dikenalnya.
Sambil menunggu hasil penjualan perabotannya, Inge menghubungi Mamanya di Makassar untuk menyampaikan rencananya.
π±"Mama, apa kabar? Mama baik-baik saja, kan?" Tanya Inge pelan, dengan hati was-was saat Mamanya merespon panggilannya.
Mamanya sangat senang mengetahui nama Inge muncul di layar ponselnya. Karena semenjak pulang dari Jakarta, baru sekarang Inge menghubunginya. Mamanya berpikir, Inge akan menyampaikan kabar baik tentang warisan Rulof. Atau sedikit banyak mengetahui perkembangan kelanjutan warisan Rulof.
π±"Kabar Mama kurang baik, Inge. Bagaimana bisa baik dalam kondisi seperti sekarang ini? Apalagi kau tidak pernah menghubungi Mama" Mama Inge tanya dan curhat, sekaligus mengisyaratkan sedang protes kepada Inge.
π±"Maaf, Ma. Inge belum bisa hubungi Mama karena belum ada kelanjutan perkembangan tentang semua peninggalan Rulof." Ucap Inge pelan. Dia tidak mau katakan Ambar telah menikah, khawatir Mamanya shock.
π±"Jadi apakah tidak ada harapan atau kau tidak bisa mengurusnya?" Tanya Mama Inge, menegaskan.
π±"Yaaa, nanti Inge sudah sampai di situ baru Inge ceritakan untuk Mama." Ucap Inge, kemudian menanti respon Mamanya.
π±"Kau mau ke Makassar." Tanya Mama Inge terkejut, seakan tidak percaya mendengar yang dikatakan Inge.
π±"Iyaa, Ma. Inge dan Dini mau ke Makassar untuk bertemu Mama." Jawab Inge, tetapi tidak menjelaskan alasannya pulang ke Makassar.
Karena pikirnya, akan ribet dan panjang penjelasannya dan ujung-ujungnya mungkin Mamanya tidak mengijinkan mereka pulang ke Makassar. 'Nanti sudah di sana baru dijelaskan. Jika sudah di sana, Mama tidak mungkin tega mengusir kami.' Kata Inge dalam hati.
π±"Kapan kau dan Dini akan ke sini?" Tanya Mama Inge lagi, setelah yakin mendengar jawaban Inge bahwa dia serius mau pulang ke Makassar.
π±"Dalam waktu dekat ini, Ma. Nanti Inge kasih tau tanggalnya setelah sudah ada kepastian." Ucap Inge dengan hati yang sedikit lega. Dia sedikit tenang juga, adiknya Tiara tidak ikut nimbrung. Karena akan bisa panjang dan lama penjelasannya.
__ADS_1
π±"Baiklah, nanti kasih tau Mama kalau sudah pasti mau ke sini." Ucap Mama Inge dan mengakhiri pembicaraan mereka.
Inge menarik nafas panjang menghebuskannya dengan kuat, setelah bicara dengan Mamanya. Karena akan sangat membingungkan, jika Mamanya tidak bersedia menerimanya.
*((**))*
Di sisi yang lain ; Tiara yang baru pulang dari luar bersama anaknya yang tertua, mendengar pembicaraan terakhir Mamanya di telpon.
"Siapa yang mau ke sini, Mama?" Tanya Tiara tiba-tiba, membuat Mamanya memegang dadanya karena terkejut.
"Astaga, kau membuat Mama terkejut. Apa kau tidak bisa memberi salam saat masuk rumah? Bikin kaget orang tua saja." Ucap Mama Inge, kemudian berjalan meninggalkan Tiara dengan kesal.
"Mamaaa, siapa yang mau ke siniii..." Teriak Tiara kesal, melihat Mamanya yang berjalan menjauh darinya tanpa menjawab pertanyaannya.
"Apa urusanmu jika ada yang datang ke sini? Urus rumah tanggamu, terutama suamimu itu." Ucap Mama Inge dengan keras, sengaja agar suami Tiara yang ada di dalam rumah mendengar.
Berkali-kali Mama Inge marah, tetapi tetap begitu saja. Mendengar dari telinga kiri, keluar dari telinga kanan atau mungkin sengaja menutup telinganya. Kalau tidak mengingat kedua cucunya yang masih kecil, Mama Inge sudah mengusirnya sejak lama. Apalagi sekarang Rulof sudah meninggal, dan hidupnya makin sulit. Mama Inge harus bekerja membantu tetangganya membuat kue untuk makan dan minumnya sehari-hari.
'Mungkin lebih baik Inge ke sini, biar adik dan iparnya sedikit mengerti dan berusaha untuk hidup mereka.' Pikir Mama Inge dalam hati sambil berjalan keluar ke tetangga. Karena sebentar lagi ada drama satu babak, saling adu teriak dan sumpah serapah.
Biasanya, kalau Tiara pulang ke rumah dan melihat suaminya masih bersantai ria di rumah, pasti akan ada perang mulut. Tiara yang selama ini jualan online mulai terjun bebas, semenjak Rulof meninggal. Sehingga dia cepat emosi melihat suaminya tidak berusaha mencari nafkah.
Selalu saja ada alasannya. Sedang berusaha dengan temanlah, lagi tunggu kerjaan dari temanlah. Kerjaan sekarang butuh modal dan lain sebagainya. Membuat Mama Inge mau muntah ke wajahnya.
'Saya yang sudah tua saja, tidak butuh modal untuk bisa dapat kerja. Yang penting mau kerja apa saja, pasti ada dan bisa.' Sering Mama Inge katakan hal itu, kalau sudah sangat kesal melihat mantunya yang kelewat santai.
*((**))*
__ADS_1
Di sisi yang lain ; Sekarang, Inge merasa lega karena semua perabotan rumah tangga yang mereka miliki telah terjual habis. Sedangkan yang tidak bisa dibawa, dia memberikannya kepada tetangga.
Ketika semua uang hasil penjualannya terkumpul, Inge membeli tiket kapal laut di kelas untuk pulang ke Makassar. Karena ada beberapa barang yang dia ingin bawa pulang untuk rumah Mamanya di Makassar.
Dengan berat hati, Inge harus merelakan suaminya Richo tinggal sendiri di Jakarta. Hatinya sangat sedih ketika dia bersama Dini naik tangga kapal diantar oleh Richo.
"Mas, kalau ngga dapat kerja yang baik, segeralah ikut kami ke Makassar. Sedikit banyak, di Makassar ada rumah Mama untuk kita tinggali." Ucap Inge berharap dengan hati yang sedih. Karena ini adalah pertama kali mereka harus hidup terpisah setelah berumah tangga.
"Iyaa, nanti aku kasih kabar. Sementara ini aku tinggal dengan teman dulu. Nanti kalau sudah ada pekerjaan dan tempat tinggal, mungkin kalian bisa kembali ke sini." Ucap Richo, berusaha menghibur dan menenangkan Inge.
"Jangan lupa periksa lagi barang-barang yang kalian bawa ini. Ooh, iya. Sementara ini aku akan tinggal di rumah sampai mereka datang ambil barang-barang yang telah dibeli. Jadi jangan lupa hubungi mereka." Ucap Richo, karena ada beberapa barang yang sudah dibayar tetapi belum diambil. Inge mengangguk mengerti.
Inge memeriksa semua barang yang telah disimpan oleh Richo di dalam kamar kapal. Walaupun Mamanya keberatan dia naik kapal laut, Inge bersikeras untuk naik kapal laut. Karena Mamanya tidak tahu dia sedang membawa beberapa barang yang lumayan berat.
Setelah bunyi stom kapal kedua kali, Richo memeluk mereka dan segera turun. Inge melihat kepergian suaminya dengan hati yang hancur, karena Dini tidak bisa berhenti menangis. Dia terus memanggil nama Richo dan menangis.
Karena tidak tahan, Inge keluar dari kamar dan membawa Dini untuk melihat Papanya yang sudah turun ke pelabuhan. Ketika melihat Papanya di bawa, Dini makin menangis dan menjerit.
Richo yang mendengar suara tangis dan jeritan, menengada ke atas kapal dan melihat anaknya sedang menangis sambil mengulurkan tangan ke arahnya. Hati Richo membeku, dia tidak menyangka Dini akan menangis seperti itu. Dia langsung mengambil ponselnya dan menghubungi Inge.
"Ingee, bawa Dini masuk ke kamar nanti aku bicara dengannya. Jangan biarkan dia menangis di luar, banyak angin. Aku sudah bilang naik pesawat saja, begini jadinya." Ucap Richo, emosi.
Inge mengikuti yang dikatakan Richo, segera masuk ke kamar agar Richo bisa bicara dengan anaknya. Setelah mendengar suara Papanya, Dini lebih sedikit tenang. Walaupun masih menangis sambil cegukan, tetapi tidak berontak lagi.
Inge membiarkan Richo berbicara dan menghibur anaknya, karena dia tidak bisa berkata-kata. Hatinya sangat sedih harus berpisah dengan suaminya.
~βββ‘ββ~
__ADS_1