MANUSIA PARASIT

MANUSIA PARASIT
Mencari.


__ADS_3

~•Happy Reading•~


Matahari belum bersinar terang, Ambar telah bangun dan bersyukur. Dia akan berangkat kerja pagi, oleh sebab itu dia segera mandi. Dia mengenakan baju yang telah diambil dari kamarnya, tadi malam.


"Selamat pagi Bu." Sapa Seni, ketika melihat Ambar telah bangun dan masuk ke dapur.


"Selamat pagi, Seni. Tolong buatkan teh panas ya, karena Ibu mau berangkat pagi. Nanti Ibu yang oles roti. Kalau kau mau sarapan juga, buat minum sekalian." Ucap Ambar, sambil mengambil roti tawar dan selai.


"Ibu sarapan duluan saja, nanti saya sarapan dengan Juha." Ucap Seni, sambil membuat teh panas untuk Nyonyanya dan meletakan di meja makan. Ambar menyeruput teh dan makan roti yang telah dibuatnya.


"Bu, sepertinya bapak tidak pulang. Karena tidak ada mobil di luar." Ucap Seni, saat mengambil sapu untuk membersihkan rumah. Ambar terkejut, karena Rulof belum pernah tidak pulang, kecuali lagi tugas ke luar kota.


"Benarkah, Seni?" Tanya Ambar, sambil membuka gorden dan jendela ruang tamu. Ketika melihat tidak ada mobil di garasi, Ambar segera ke kamar untuk memastikannya.


Ternyata memang benar, tadi malam Rulof tidak pulang. Tempat tidurnya tidak ada bekas ditiduri. Sebenarnya, Ambar telah mencurigai setahun lebih belakangan ini, Rulof ada memiliki wanita lain di luar sana.


Karena Ambar sering mencium parfum wanita di baju kerja Rulof ketika hendak dicuci. Tetapi karena tidak pernah melihat dan Rulof selalu pulang ke rumah, Ambar mengabaikannya.


Ambar langsung membuka lemari pakaian dan memeriksa kotak perhiasannya. 'Kenapa aku membiarkan diri tidak memiliki uang dan Juha makan tidak sesuai dengan kebutuhan pertumbuhan usianya. Sedangkan aku memiliki perhiasan yang bisa diuangkan.' Pikir Ambar.


Dia mengambil kotak perhiasan dan surat-surat yang disimpannya. Kemudian dia mengambil jacketnya dan beberapa baju yang bisa dipakai untuk pergi kerja. Dia keluar kamar, menuju ke kamar Juha. Sesampai di kamar Juha, dia memasukan baju-bajunya ke lemari Juha. Ketika melihat Juha masih tidur nyenyak, Ambar menciumnya pelan dan mengelus kepalanya dengan sayang.


Ambar memasukan kotak perhiasannya ke dalam tas yang akan dibawanya ke kantor. Dia berdoa dan melangkah keluar lalu menutup pintu kamar dengan pelan, agar tidak membangunkan Juha.


"Seni... Kalau kakak bapak ada datang lagi, jangan bukakan pintu, ya. Bilang Ibu dan bapak ngga ada. Minta telpon Ibu kalau ada perlu sesuatu." Ucap Ambar, sambil pesan ojol.


"Baik, Bu. Nanti saya tidak bukakan pagar." Ucap Seni, dan Ambar mengangguk mengiyakan.


"Kalian berdua hati-hati di rumah, ya. Ibu berangkat, sekarang." Ucap Ambar setelah tahu, Ojolnya telah datang.


"Ibu juga, hati-hati di jalan." Ucap Seni, sambil mengantar Ambar ke depan pagar. Ambar mengangguk, kemudian naik ke ojol. Seni menutup dan mengunci pagar, setelah Ambar telah berangkat.


Seni meneruskan pekerjaannya sebelum Juha bangun. Setelah rumah rapi, Seni membuat roti untuk dirinya dan Juha untuk sarapan. "Mba' Seni, apakah Mama sudah berangkat kerja?" Tanya Juha ketika, Seni memandikannya.


"Iyaa, Juha. Nanti setelah pakai baju baru sarapan, ya." Ucap Seni, sambil melap kering tubuh Juha.


"Iyaa, Mba'. Juha sudah lapar." Ucap Juha. Setelah Seni membantu Juha mandi, kemudian membuat susu untuknya.

__ADS_1


"Mba' Seni, Juha minta roti 1 lagi, ya. Juha masih mau makan roti lagi." Ucap Juha lagi. Seni langsung membuat roti setangkap yang tersisa untuk Juha.


"Nanti setelah selesai sarapan, Juha belajar sendiri di kamar, ya. Mba' Seni mau pergi belanja di tukang sayur." Ucap Seni, saat mengantar Juha ke kamar.


"Iyaa, Mba'. Tetapi tutup pintu pagar ya, Mba'." Ucap Juha, mengingat yang dikatakan Mamanya, agar pintu pagar selalu ditutup.


"Iyaa. Juha belajar di kamar saja, ngga usah turun." Ucap Seni lagi.


Sebelum Seni masuk ke kamarnya, terdengar klakson mobil di depan pagar. Seni langsung berjalan keluar untuk melihat siapa yang datang.


Ketika melihat mobil majikannya, Seni membuka kunci dan mendorong pagarnya.


"Seni, tolong buatkan saya minum dan makanan." Ucap Rulof, sambil turun dari mobilnya dan langsung masuk ke kamarnya untuk mandi dan berganti pakaian.


"Baik, Pak." Ucap Seni, langsung masuk ke dapur untuk memasak air panas. Setelah airnya mendidi, Seni membuat teh panas dan meletakan di atas meja makan.


"Seni, kenapa kau membuat teh? Saya tidak suka teh, buatkan kopi." Ucap Rulof emosi.


"Maaf, Pak. Kemaren saya sudah bilang ke bapak, kopinya sudah habis." Ucap Seni heran dengan majikannya.


"Tidak ada yang bisa dimasak, Pak. Kamaren saya sudah bilang ke bapak. Kalau bapak mau, saya buatkan mie instan. Karena sisa uang yang bapak kasih kemaren, saya beli beberapa bungkus mie instant." Ucap Seni menawarkan, karena melihat majikannya ingin makan. Padahal, dia tahu majikannya tidak suka makan mie instant.


"Yaa, baiklah... Cepat buatkan untuk saya." Ucap Rulof, sambil minum teh panas yang dibuat Seni. Melihat majikannya jadi minum teh, Seni makin heran. Karena majikannya bilang tidak suka teh.


Dengan cepat, Seni membuat mie instan. Setelah matang, langsung diletakan di meja, depan majikannya. "Kenapa tidak dipakai telur, Seni?" Tanya Rulof mulai emosi, melihat hanya mie instant kosong di depannya.


"Kemaren saya telah bilang sama bapak, telurnya sudah habis." Ucap Seni, melongo melihat majikannya. 'Bapak ini pikirannya lagi kemana?' Seni membatin, heran.


Kemudian Seni melihat Rulof makan mie instant, tanpa suara. Hanya sebentar, mie instant sudah ludes dan tandas, pindah dari dalam mangkuk ke perut majikannya. Seni kembali makin heran melihat majikannya.


"Ibu dan Juha lagi kemana?" Tanya Rulof, setelah makan dan menyadari rumah sangat sepih.


"Ibu sedang keluar, sedangkakan Juha lagi di kamar, Pak." Ucap Seni.


"Ibu keluar kemana, bukannya kemaren juga keluar?" Tanya Rulof lagi, setelah menyadari kondisi rumah.


"Ibu sedang cari kerja, Pak." Jawab Seni singkat, karena kesal sama majikannya. Nyonyanya yang sangat baik, harus kerja keras untuk hidupnya.

__ADS_1


"Cari kerja, apa tidak salah? Memangnya dia kurang apa dalam rumah ini?" Tanya Rulof, tetapi Seni tidak menjawabnya. Dia langsung ke belakang rendam baju untuk dicuci.


'Sendiri mau makan saja, tidak ada makanan. Bilang apa ada yang kurang dalam rumah ini.' Seni membatin sambil menyikat lantai kamar mandi dengan kesal. 'Ada ya, orang begini. Tubuhnya doang di sini, pikirannya entah di mana.' Batin Seni lagi, kesal.


"Seni... Kau ada uang ngga? Tolong pinjamkan ke saya mau urus surat-surat. Nanti saya ganti, setelah surat-suratnya, beres." Ucap Rulof, mendekati Seni.


"Maaf, Pak... Uang gaji saya sudah dikirim ke orang tua di kampung." Ucap Seni, terkejut. Dia ada sedikit uang, tetapi hanya untuk berjaga-jaga seperti kata Nyonyanya. Mau beli makanan untuknya dan Juha.


Rulof langsung menarik nafas panjang sambil ke kamar untuk mencari buku tabungannya. Tetapi dia lupa menyembunyikannya di mana. Ketika berapa lama tidak ketemu, Rulof menarik rambutnya dengan kasar.


Dia teringat dengan kotak perhiasan Ambar. Dia membuka lemari dan mencari ke semua dudut, tetapi tidak menemukannya. 'Apakah Ambar telah memindahkannya ke kamar Juha.?' Rulof bertanya dalam hati, kemudian naik tangga menuju kamar Juha.


"Kau sedang bikin apa, Juha?" Tanya Rulof, melihat Juha sedang corat coret di kertas.


"Latihan tulis, Pa." Ucap Juha singkat tanpa melihat Papanya.


Rulof langsung membuka lemari pakaian Juha dan memeriksa, tetapi tidak menemukan sesuatu pun di kamar Juha. Hanya beberapa potong pakaian Ambar yang di taruh berdampingan dengan baju Juha.


'Di mana Ambar menyembunyikan semua perhiasannya? Apakah dia sudah menjualnya?' Tanya Rulof dalam hati. Pemikiran itu membuatnya kesal. Karena tidak menemukan sesuatu di kamar Juha, Rulof segera keluar menuju mobil untuk memeriksa di sana. 'Mungkin saja buku tabungan ada di dalam laci mobil.' Pikir Rulof.


Dia membongkar semua tempat dalam mobil, tetapi tidak menemukannya. Dia duduk terhenyak dalam mobil, memikirkan kemungkinan di mana dia menyembunyikan buku tabungannya.


Melihat majikannya sedang mencari sesuatu, mungkin membutuhkan uang. Memikirkan itu, Seni langsung naik ke kamar Juha. "Juha., kalau sudah lapar, tunggu sebentar, ya. Mba' akan bikin susu untukmu. Mba' belum bisa masak, jadi kalau sudah lapar kasih tahu Mba' ya?" Ucap Seni, sambil mengambil celengan Juha dan perlahan memasukan dalam kantong yang dibawanya. Dia turun dan menyimpan celengan Juha di dalam lemari pakaiannya.


Setelah beberapa lama, Rulof mencari buku tabungannya dan tidak ditemukan, Rulof teringat dengan celengan Juha. Kembali dia menuju kamar Juha. "Juha, di mana celenganmu?" Tanya Rulof, ketika melihat celengan tidak ada di tempatnya.


"Ngga tau, Pa." Jawab Juha, singkat.


"Apa sudah dibongkar Mamamu?" Tanya Rulof lagi.


"Ngga tau, Pa." Jawab Juha lagi. Rulof keluar dari kamar Juha dengan kesal.


Rulof turun dan masuk ke kamarnya, dilihatnya jam tangan kesayangannya. Dengan berat hati, dia mengambil jam tersebut, memasukan ke dalam kotaknya dan dibawa keluar menuju mobilnya.


"Seni... Saya mau keluar, tolong tutup pagarnya." Teriak Rulof, memanggil Seni yang sedang mencuci. Seni langsung berhenti mencuci lalu keluar ke halaman untuk mengunci pintu pagar setelah mobil Rulof meninggalkan garasi.


~●○♡○●~

__ADS_1


__ADS_2