
~•Happy Reading•~
Kulit Mathias yang sawo matang, menggelap karena murka melihat yang dilakukan Angel.
"Oooh... Ini Makassarmu...?! Ini yang kau sebut kangen dengan orang tuamu...?!" Ucap Mathias sambil memegang helm di tangannya dengan erat. Angel diam terpaku, sampai tidak bisa berkata-kata. Karena Mathias berdiri kaku di ruang tamu, sambil memandang dengan mata membara.
"Bagas... Saya kasih waktu 2 menit untuk rekam semuanya. Saya mau lihat, berani ada yang bergerak dari tempatnya, saya akan injak dua jadi satu." Ucap Mathias, sambil berdiri seperti harimau yang siap menerkam. Mathias melihat Angel yang sedang ketakutan dengan mata berapi-api.
"Kau laki-laki yang tidak tau diri. Melihat cincin di jarimu, semoga besok kau masih bisa melihat langit. Kau bersyukur, dia bukan istriku. Kalau dia istriku, jangankan melihat matahari. Bintang malam ini pun kau tidak akan melihatnya, karna saya akan mengirimmu ke ICU. Jadi lekas menghilang dari hadapanku." Ucap Mathias, sambil menggerakan tangannya mengusir pria itu.
"Dan kau perempuan yang tidak tau diri. Aku membiarkan kau tinggal di apartemen ini, bukan untuk mempertontonkan auratmu. Kau bilang ingin tinggal di kota karena mau meniti karier. Ini kariermu...? Karier bermain ular tangga...?" Mathias sangat emosi dan marah.
"Aku kira kau gadis baik-baik, sehingga membiarkanmu tinggal sendiri di apartemen ini. Aku yang punya apartemen saja, tidak pernah datang tidur di sini. Kau mala membawa lelaki lain ke tempatku. Aku telah buta dengan semua polesan dan ucapan manismu." Ucap Mathias makin marah, mengingat apa yang dilakukan Angel padanya.
"Cepat angkat kaki dari sini. Jangan sampai tanganku melayang, dan muka munafikmu itu akan menempel di tembok." Ucap Mathias, sambil menahan marah dan sakit hatinya.
"Kau belum berdiri dan keluar juga?" Tanya Mathias, makin emosi dan geram melihat laki-lakinya sedang gemetar dan membungkuk menutup auratnya.
"Bagaass... Buka pintunya, saya akan membatunya keluar dari apartemen ini." Ucap Mathias, sambil mengangkat kaki kanannya siap menendang lelaki tersebut keluar dari ruang tamu.
"Pak Mathiaaas... Berhentiii...! Biarkan dia keluar sendiri saja." Teriak Bagas memohon, sambil mengangkat kedua tangannya. Karena dia pernah melihat bossnya menendang orang, keluar dengan pintu-pintunya.
Mathias menahan kakinya dengan menendang meja di dekatnya. Mejanya langsung patah dan terbelah jadi dua. Wajah Angel langsung memutih. Karena dia belum pernah melihat Mathias semarah itu.
"Jangan berikan mereka berpakaian. Biarkan mereka berjalan keluar seperti itu. Karena saraf malunya sudah putus. Jadi biarkan orang melihat ******** mereka." Ucap Mathias kepada Bagas.
"Bagas... Foto mereka dengan jelas, saya akan mengirim untuk keluarga perempuan ini. Supaya mereka tau perbuatan anaknya. Jangan sampai mereka datang menggangguku." Ucap Mathias, mengingat keluarga Angel tahu dia berpacaran dengannya.
__ADS_1
"Angkat muka kalian, kalau tidak mau helm ku ini mendarat di kepala kalian." Ucap Mathias saat melihat Angel dan lelakinya menunduk, menyembunyikan wajah mereka saat akan difoto oleh Bagas.
Angel memohon untuk bisa memakai bajunya, begitu juga dengan lelakinya. "Saya sudah katakan, lebih baik cepat keluarrr... Karna sekarang saya muak melihat dan jijik untuk menyentuh kalian."
"Jangan sampai saya melepaskan bajuku untuk menutupi tanganku dan menyeret kalian berdua dari apartemen ini sampai ke jalanan." Ucap Mathias kaku dan dingin. Angel dan lelakinya, berlari keluar sambil mengambil baju mereka sekenanya yang ada di lantai.
"Bagas, kunci pintunya. Besok, panggil orang untuk membersihkan seluruh apartemen ini. Semua pakaian perempuan itu, kau masukan ke tempat sampah." Ucap Mathias, setelah Angel dan teman lelakinya keluar.
Mathias periksa isi apartemennya tanpa mau menyentuh sesuatupun yang ada dalam ruang tamu apartemennya. Dia merasa jijik mengingat yang baru saja dilihatnya.
"Baik, Pak. Dan bagaimana dengan ponsel, dompet dan tas mereka ini, Pak?" Tanya Bagas melihat ponsel, dompet dan tas yang ketinggalan.
"Ambil kantong di dapur dan kau masukan terpisah. Ponsel dan dompet dimasukan dalam satu kantong. Sedangkan tasnya dimasukan ke dalam kantong yang lain." Ucap Mathias, dingin. Dia mulai memperhatikan isi apartemennya. Dalam kondisi seperti itu, naluri pengacaranya tetap keluar.
Ini, sudah Pak. Mau taruh di mana.?" Tanya Bagas. "Masukan dalam tas kerjaku." Ucap Mathias. "Itu, tas kerjanya ada di badan bapak." Ucap Bagas, tersenyum. Karena melihat bossnya sudah mulai surut marahnya, tetapi tidak menyadari tas kerja ada padanya.
Mathias membuka kancing jacketnya dan Bagas memasukan semua dalam tas kerja yang lagi diselempang pada badannya. "Kalau sudah, mari kita kembali ke kantor untuk ambil motormu. Dan jangan lupa email video tadi ke saya." Ucap Mathias, sambil keluar kamar dan mengganti password pintu apartemennya.
Mathias teringat pembicaraannya tadi siang dengan Sari. 'Padahal tadi cuma bercanda dengan Sari, wanita itu sedang mencari angin. Ternyata bukan hanya mencari, tetapi sudah main angin. Aku akan melihat, angin akan menghempaskan dia kemana.' Ucap Mathias dalam hati, masih marah dan terluka.
'Katanya: Kalau sayang, jangan terlalu di jaga. Berikan kebebasan, eeeh ... mala kebablasan. wanita, wanitaaa. Disayang, mala lupa jalan.' Mathias membatin, dengan hati geram.
'Kalau tidak mengingat profesinya yang harus mengurus banyak orang yang sedang menanti bantuan, aku sudah memukul mereka berdua dengan helm di tanganku.' Batin Mathias langsung tancap gas, saat Bagas telah duduk di boncengan motornya. Apalagi jalanan di malam ini mulai sepi, Bagas hanya diam dan memeluk bossnya erat-erat.
Setelah tiba di depan kantor, Bagas turun dari motor Mathias dan duduk di lantai depan pintu kantornya, sambil memegang lututnya yang gemetar.
Melihat yang dilakukan Bagas, Mathias menurunkan sedikit marah dan sakit hatinya. Dia membuka pintu kantornya dan masuk ke ruang tunggu. "Bagas... Kau belum bisa berdiri?" Tanya Mathias, karena melihat asistennya masih duduk sambil menepuk-nepuk lutut dan betisnya.
__ADS_1
"Sedikit lagi Pak. Ini kakiku belum mau berhenti dansa, heheheee." Ucap Bagas, sambil ketawa.
"Untung kakimu yang dansa, kalau jantungmu yang disco, saya harus memanggulmu." Ucap Mathias, sambil membuka jacket kulitnya dan melepaskan tas kerjanya.
"Lebih baik saya dipanggul bapak, daripada diajak ngebut. Jantungku bisa pindah tempat, Pak." Ucap Bagas, sambil melihat bossnya mulai tenang. Bagas berdiri dan berjalan pelan ke ruang tunggu mendekati bossnya.
"Kalau jantungmu pindah tempat, aku tidak membawamu ke kantor, tetapi ke Rumah Sakit." Ucap Mathias, menanggapi Bagas.
"Bagas... Pesan makanan untuk kita makan malam di sini, sebelum kita pingsan. Nanti selesai makan baru kau pulang." Ucap Mathias lagi, setelah Bagas duduk di kursi ruang tunggu.
"Baik, Pak. Bapak mau makan apa?" Tanya Bagas sambil mengeluarkan ponselnya.
"Apa saja, yang penting panas." Ucap Mathias. Bagas segera memesan soto ayam untuk mereka berdua, tidak lupa mengambil air mineral hangat untuk bossnya.
Setelah makan, Mathias naik ke ruang pribadinya untuk mandi. Dia ingin mendinginkan hati dan kepalanya. Peristiwa yang baru dialaminya membuat dia tidak kuat lagi untuk pulang ke rumah. Sehingga dia masuk ke 'Cabin' nya (istilah untuk ruang pribadinya).
Selesai mandi dan berpakaian santai, Mahtias masuk ke ruang kerjanya dan menggulung krey nya untuk melihat jalanan yang mulai sepi.
Sekarang baru Mathias memikirkan yang terjadi dengan dirinya dan Angel. Mereka sudah lebih dari dua tahun bersama. Mereka sudah membicarakan untuk jenjang yang lebih serius.
Mathias sudah pernah datang ke Makassar untuk bertemu dengan keluarganya. Jadi dia berpikir, hubungannya dengan Angel bukan hanya sekedar pacaran. Tinggal selangkah lagi mereka akan bertunangan.
Sekarang, Mathias belum melamarnya karena sedang memantapkan kariernya terlebih dahulu. Angel juga sedang meniti karier barunya, sebagai model. Mereka telah membicarakannya dan Mathias mengijinkan dia berkarier sebagai model. Karena Angel meyakinkannya bahwa itu adalah cita-citanya sejak kecil. Walaupun hanya sebentar menjadi model, itu sudah membahagiakannya.
Sehingga Mathias mensupportnya. Dia mengijinkan Angel tinggal di apartemenya untuk memudahkannya berkarier. Ternyata semua kasih sayang dan kepercayaan yang diberikannya, menguap dalam sekecap.
Mathias memandang lalu lintas di jalan raya yang mulai sepi, seperti hatinya yang sepi dan sedih. Dia kembali memikirkan perjalanan hubungannya dengan Angel selama ini.
__ADS_1
'Aku bisa menganalisa kasus dengan baik, tetapi tidak terhadap wanita yang satu ini. Dia benar-benar telah mengelabuiku.' Mathias membatin sambil menurunkan krey jendela dan beranjak ke cabinnya.
~●○♡○●~