
...~•Happy Reading•~...
Setelah merasa Ambar telah tenang, Mathias melepaskan pelukannya dan mengusap pelan lengannya. "Sekarang kau segera siapkan makan malam untuk kita, sebelum Juha ngamuk. Aku akan ke rumah Ibu sebentar, sebelum makan malam." Ucap Mathias, sambil menyisir rambutnya dengan tangan dan turun dari tempat tidur.
Ambar ikut turun dari tempat tidur dengan hati yang senang. "Mas, jangan lupa kalau bicara dengan Ibu pelan-pelan, ya. Yakinkan Ibu, aku akan tetap sering datang nemani Ibu." Ucap Ambar yang telah turun dari tempat tidur dan kembali memeluk Mathias yang hendak keluar kamar.
"Sudah kukatakan, jangan lakukan kalau aku lagi memikirkan banyak hal. Bisa-bisa kau akan pesan makan malam dari luar, dan aku tidak jadi ke tempat Ibu." Ucap Mathias, menggoda Ambar yang tiba-tiba memeluknya dengan erat. Ambar melepaskan pelukannya dan mendorong Mathias keluar kamar dengan wajah tersenyum.
"Sudah, Mas. Cepat ke tempat Ibu, ntarr terlambat makan malamnya." Ucap Ambar, sambil terus mendorong Mathias keluar kamar.
"Mama, kenapa mendorong Papathias?" Tanya Juha yang sedang nonton TV dengan Seni di ruang tamu. Seni jadi tersenyum simpul melihat majikannya memberatkan badannya, saat didorong oleh Nyonyanya.
"Karna Papathias ngga kuat melangkah cepat. Ayoo, bantu Mama." Jawab Ambar, asal.
"Benarkah?" Tanya Juha bingung, tetapi berlari untuk membantu Mamanya mendorong pahanya Mathias.
"Bukan, Juha. Papathias ngga kuat melangkah, karna Mamamu yang memancing langkah Papathias." Jawab Mathias asal dan tersenyum sendiri mendengar yang dikatakannya.
"Mamaaa, kenapa Papathias dipancing. Papathias bukan ikan." Ucap Juha, berhenti mendorong dan melihat Mamanya dengan wajah polos yang kesal. Sangat lucu dan menggemaskan.
Hal itu membuat Mathias, Ambar dan Seni tertawa. Seni tertawa terbahak-bahak sambil memegang perutnya, melihat tingkah Juha yang lucu dan menggemaskan. Ambar langsung memukul pelan punggung Mathias dan mendorongnya sekuat tenaga.
"Jangan dijawab lagi Mas, nanti ngga berakhir balas katanya. Cepatan, nanti Ibu keburu istirahat." Ucap Ambar mengingatkan, saat melihat Mathias mau menjawab Juha.
Mendengar yang dikatakan Ambar, Mathias langsung meringankan tubuhnya dan berjalan cepat menuju pintu rumah.
__ADS_1
"Juhaa, nanti baru kita bicarakan lagi, ya. Karena Papathias mau pergi dulu. Seni, tolong buka pakar, ya." Ucap Mathias tersenyum, sambil berjalan keluar. Dia akan naik motor ke rumah Ibunya untuk menghemat waktu.
Setelah sampai di rumah, suster sedang makan di meja makan. "Suster, Ibu sudah istrahat?" Tanya Mathias khawatir, karena melihat suster makan malam sendiri.
"Belum Pak, tadi Ibu minta makan malam lebih awal, karena mau beristirahat lebih awal. Belum lama saya keluar dari kamar, Ibu baru naik ke tempat tidur." Jawab suster, cepat.
"Baik, teruskan makannya." Ucap Mathias kepada suster dan langsung berjalan cepat ke kamar Ibunya. Karena khawatir Ibunya sudah tertidur.
Ketika sampai di kamar, Mathias bernafas lega melihat Ibunya sedang menyandarkan punggungnya ke bagian atas tempat tidur.
"Ibu rasa bagaimana? Apakah Ibu tidak bisa tidur?" Tanya Mathias beruntun, sambil mencium pipi Ibunya yang tersenyum senang melihat kehadirannya.
"Ibu ngga papa, nak. Ibu lagi mencoba membaca Alkitab, tetapi tidak bisa. Karena hurufnya kecil-kecil, jadi mata Ibu lekas cape' jika membacanya." Ucap Bu Titiek menjelaskan, penyebabnya belum bisa tidur.
"Biasanya siang atau sore, Ambar akan membacakan untuk Ibu. Hari ini Ibu belum baca." Ucap Bu Titiek lagi, karena tidak enak meminta tolong kepada susternya yang berbeda keyakinan.
"Ibu buka youtube dan cari saja Alkitab bersuara. Ibu tinggal pilih mau baca kitab yang mana, nanti tinggal dengarkan saja." Ucap Mathias menjelaskan, karena dia sering melakukannya disela-sela kesibukan.
"Oooh, begitu, Nak. Trima kasih, jadi Ibu bisa rutin mendengar tanpa harus menunggu Ambar." Ucap Bu Titiek senang, saat diperdengarkan oleh Mathias.
"Sekarang, Thias matiin dulu, karena ada yang mau Thias bicarakan dengan Ibu." Ucap Mathias, sambil mematikan ponsel Ibunya dan meletakannya di atas tempat tidur.
"Ooh, iyaa. Apakah Thias baru pulang kerja?" Tanya Bu Titiek dengan hati senang, bukan saja karena kehadiran putranya. Tetapi juga karena solusi yang diberikannya.
"Thias sudah pulang kerja dari tadi, Bu. Tetapi tadi beristirahat sejenak, taunya ketiduran. Jadi sekarang baru bisa ke sini dan Thias mau berbicara sebentar dengan Ibu." Ucap Mathias, dan Bu Titiek mengangguk mengiyakan.
__ADS_1
Mathias mendekati Ibunya dan memeggang tangannya. "Begini, Bu. Tadi Thias ada berbicara dengan Ambar, mulai besok Ambar mau membantu Thias bekerja di kantor untuk merapikan bagian keuangan kantor." Ucap Mathias pelan, melihat reaksi Ibunya.
"Nanti setelah Ambar merapikan data di kantor, dia akan bekerja dari rumah. Jadi dia bisa bekerja sambil menemani Ibu atau Juha di sini. Mungkin seminggu sekali Ambar akan ke kantor Thias untuk update data." Ucap Mathias, pelan.
Ibu Titiek mendengar yang dikatakan Mathias dengan seksama. Beliau sedikit terkejut, karena Ambar mesti kerja. "Semua ini maunya Thias atau Ambar?" Tanya Bu Titiek, sambil terus melihat Mathias untuk meyakinkan dirinya.
"Maunya Ambar dan Thias menyetujuinya, karna sekarang Thias sedang mencari karyawan baru untuk membantu Bagas. Jadi biar Ambar bantu dulu, sampai semuanya rapi baru kami menata yang lain." Ucap Mathias menjelaskan.
"Baik, kalau itu maunya Ambar. Tetapi jangan biarkan dia terlalu cape'. Lalu bagaimana dengan yang diurusnya tadi? Apakah yang diurusnya tadi sudah beres semua?" Tanya Bu Titiek, karena Ambar belum mengabarinya.
"Itu juga yang mau Thias sampaikan kepada Ibu, karna Ambar belum bisa hubungi Ibu. Persoalannya sedikit ribet jadi pulangnya terlambat dan cape'. Semua yang diurus belum selesai 100 %. Sekarang Ambar lagi masak untuk makan malam kami, jadi minta tolong Thias bicara dengan Ibu. Nanti kalau sudah rapi semua, Ambar akan bicara dengan Ibu." Ucap Mathias menjelaskan, dan berharap Ibunya bisa mengerti.
"Iyaa ngga papa, Ibu mengerti. Bilang Ambar jangan buru-buru menyelesaikannya. Biar dia tidak terlalu cape'. Sekarang Thias segera pulang, jangan sampai mereka kelaparan menunggumu." Ucap Bu Titiek, sambil menepuk tangan Mathias yang sedang menggenggam tangannya.
Mathias langsung membaringkan Ibunya, mencium pipinya dan menyelimutinya. Dia mengerti maksud yang dikatakan Ibunya. Kemudian dia keluar kamar menemui suster yang sedang menunggunya.
"Suster, Ibu sudah mau istirahat. Tolong ditemani, ya. Saya mau ke rumah Bu Ambar." Ucap Mathias, menjelaskan dan mengharapkan pengertian susternya. Karena suster yang sekarang belum lama bekerja bersama Ibunya. Sedangkan suster yang lama mengundurkan diri, karena akan menikah.
"Baik, Pak. Selamat malam." Ucap suster, memberi salam dan Mathias mengangguk. kemudian keluar ke halaman dan membawa motornya menuju rumah Ambar.
Ambar dan Juha yang sedang menunggu Mathias untuk makan, mendengar suara motor masuk ke halaman rumah, Juha tertawa girang. Dia turun dari kursi dan berlari keluar menyambut Mathias yang sedang memarkir motornya.
Sedangkan Ambar dan Seni menyajikan makan malam yang sudah mereka siapkan di meja makan menunggu Mathias pulang.
Ketika melihat Juha keluar mendekatinya, Mathias tersenyum. "Juha sudah lapar, ya." Ucap Mathias, sambil menggendongnya dan masuk ke dalam rumah. Juha mengangguk, sambil memeluk Mathias, girang.
__ADS_1
"Tadi Papathias berbicara agak lama dengan Eyang Titiek, karna Eyang belum bisa tidur. Sekarang mari kita makan, sebelum perutmu nangis." Ucap Mathias, sambil mendudukan Juha di kursi meja makan. Mereka bersyukur dan menikmati makan malam yang telah tersedia.
...~●○♡○●~...