MANUSIA PARASIT

MANUSIA PARASIT
Kurang Sehat.


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Bi Ina telah membuka pagar untuk Mathias, saat tahu mereka akan pulang. Mathias sudah duduk di atas motor, Ambar berdiri di sampingnya sebelum naik ke atas motor. "Mas, nanti kita mampir ke Apotik untuk beli obat dulu baru pulang ke rumah, ya." Ucap Ambar yang merasa khawatir. Mathias mengangguk dan memegang Ambar untuk naik ke atas motor.


Setelah membeli obat untuk Mathias, mereka segera pulang ke rumah karena sudah mulai merasa lapar. Saat Ambar turun dari motor, Juha sudah menunggu mereka di depan pintu dengan wajah senang.


Ambar langsung memeluknya dan mencium dengan sayang, karena seharian tidak bertemu dengan putranya. "Mama masuk saja, Juha mau tunggu Papathias." Ucap Juha, saat Ambar hendak mengajaknya masuk ke rumah.


Mendengar yang dikatakan Juha, Ambar mengacak puncak kepalanya dengan sayang. Lalu masuk ke rumah untuk menyiapkan makan malam bersama Seni. Ambar bersyukur, Seni telah masak makan malam seperti yang dimintanya.


Mathias yang sudah selesai parkir motornya, dan melihat Juha sedang menunggunya, jadi tersenyum. Dia mendekati Juha dan menggendongnya. "Juha sudah lama menunggu, ya. Perut sudah mau nangis belum?" Tanya Mathias, sambil memegang perut Juha.


"Perut Juha belum nangis, karna sudah dikasih makan roti sama Mba' Seni." Jawab Juha, dan tertawa senang karna Mathias memegang perutnya.


Juha memeluk dan mencium pipi Mathias dengan riang. Tiba-tiba dia menempelkan pipinya ke pipi Mathias. "Pipi Papathias panas." Ucap Juha sambil menarik pipinya menjauh dari pipi Mathias.


"Iyaa, pipi Papathias lagi panas, jadi mari kita makan supaya Papathias bisa mendinginkan pipinya." Ucap Mathias, asal.


"Oooh, ok ,., ok." Ucap Juha, sambil membuat tanda OK dengan jarinya. Mereka langsung ke ruang makan.


Setelah selesai makan, Ambar memberikan obat untuk menurunkan suhu badan Mathias (kisah ini terjadi, sebelum ada C-19.🤭). Mathias segera masuk ke kamar, karna Ambar masih mau berbicara dengan Seni.


"Seni, mungkin besok dan lusa Ibu masih ke kantor bapak karna kerjaan belum selesai. Jadi nanti Seni tetap antar Juha ke sekolah, ya. Sedangkan untuk makan siangnya, Ibu tidak bisa siapkan, karna bapak lagi kurang sehat." Ucap Ambar, menjelaskan dan Seni mengangguk mengerti.


"Baik, Bu. Sekarang Ibu lihat bapak dulu, yang lain nanti Seni yang kerjakan." Ucap Seni mengerti dan khawatir. 'Pantes bapak dari tadi diam saja, tidak bercanda seperti biasanya.' Ucap Seni dalam hati.

__ADS_1


Ambar segera masuk ke kamar untuk memeriksa kondisi Mathias. "Mas rasa bagaimana?" Tanya Ambar cemas, saat melihat Mathias belum tidur.


"Ngga papa. Badanku saja yang pegal seperti habis ditendang kerbau." Ucap Mathias bercanda, agar Ambar tidak terlalu mencemaskannya.


"Ambar, besok ngga usah ke kantor saja dulu, biar aku ngga bolak balik karna harus mengantarmu. Aku bisa langsung ke Cikarang dari sini, jadi ngga ke kantor baru balik lagi ke Cikarang." Ucap Mathias, setelah tadi memikirkanya.


Ambar mengerti yang dimaksudkan Mathias, karena mereka tinggal di perbatasan Bekasi-Jakarta, akan lebih mudah jika Mathias langsung ke Cikarang.


"Begini, Mas. Besok pagi Mas langsung ke Cikarang saja, nanti aku naik kereta atau ojol ke kantor. Aku ngga kerja sampai sore, hanya mengambil beberapa data yang bisa aku kerjakan dari rumah dan langsung pulang." Ucap Ambar, mengingat dia pernah melakukannya saat bekerja di restoran Sari.


"Baiklah, kalau kau bisa begitu. Jangan lama-lama di kantor, ambil yang diperlukan dan segera pulang. Besok pagi aku akan meminta sopir Ibu untuk mengantarku ke Cikarang." Ucap Mathias, terbesit ide saat Ambar mengatakan akan ke kantor sendiri.


"Wuuuaah, aku senang sekali mendengarnya. Jadi besok aku akan ke kantor dengan hati yang tenang, karna Mas ngga naik motor ke Cikarang." Ucap Ambar, dan tidak dapat menutupi rasa senangnya.


Ambar segera mengatur alaram dan naik ke tempat tidur. Saat Ambar telah berbaring di sampingnya, Mathias langsung memeluknya. Ambar agak sedikit lega, karena badan Mathias mulai berkurang panasnya.


"Mas yakin? Itu bukan hasil korupsinya di kantornya?" Tanya Ambar, sambil melepaskan pelukannya dan melihat Mathias untuk meyakinkan dirinya. Karena baginya, dengan pekerjaan Rulof walau seorang pejabat ASN, tidak mungkin memiliki kekayaan sebanyak itu.


Apalagi mengingat gaya hidupnya dan keluarganya yang suka merongrong. Masih bisa memiliki saldo tabungan yang begitu banyak adalah hal yang luar biasa.


Ambar tidak memikirkan dia memiliki banyak uang, karena dia khawatir uang yang ditinggalkan Alm. bukan milik Alm. Jadi dia mengabaikan semua buku tabungannya, karena mungkin suatu waktu bisa disita oleh kantornya.


"Aku tidak yakin sepenuhnya, tetapi aku katakan ini supaya kau tidak terlalu memikirkannya. Yang aku tahu dari dokumen yang ditinggalkan, seperti ke tiga sertifikat tanah itu." Ucap Mathias yang mulai berbicara serius


"Alm. membeli tanah potensial di tempat-tempat tertentu dengan harga yang tidak terlalu mahal, bisa dibilang murah. Kemudian ada pembangunan disitu, tanah miliknya dibeli dengan harga yang tinggi." Ucap Mathias menjelaskan.

__ADS_1


"Aku tidak bisa mengatakan Alm ada bermain dengan orang dipertanahan ketika membeli tanah-tanah itu. Karna tidak ada bukti pendukung, yang ada hanya akte jual beli yang sah."


"Aku hanya menduga, Alm mendapat info dari orang dalam tentang lokasi tanah bagus yang potensial dan akan ada pembanguman di daerah itu. Sehingga Alm. berani membelinya. Melihat tanggal jangka waktu pembelian dan penjualan tidak terlalu lama, maksimal satu tahunan." Ucap Mathias menjelaskan lagi.


"Sedangkan dari mana Alm. dapat uang untuk membeli tanah untuk pertama kali, tidak ada dalam dokumen. Mungkin Alm. punya uang sendiri, atau pinjam dari kantor." Ucap Mathias menjelaskan, dan Ambar mengingat-ingat.


Melihat Ambar sedang berpikir, Mathias mengacak puncak kepala Ambar. "Ngga usah dipikirkan, karna tanah itu dibeli sebelum kalian menikah. Jadi kau mungkin tidak tahu dari mana asal uangnya." Ucap Mathias tersenyum, melihat wajah Ambar yang bingung.


"Oooh, jadi Alm. sudah lama melakukan itu? Aku kira saat sudah menikah dan aku tidak tahu sama sekali." Ucap Ambar merasa sedikit lega.


"Yaaa, melihat dokumen yang ditinggalkan, sudah lumayan lama. Sehingga uangnya bisa sebanyak itu. Kalau sampai terjadi Alm. ada meminjam uang dari kantor untuk proses itu, kau masih bisa membayarnya." Ucap Mathias, menenangkan Ambar.


"Yang bisa membuat kau tenang, dengan kantor tidak memperhitungkan hutang selain penggunaan kartu dinas, aku kira Alm. tidak memiliki hutang di kantor lagi. Sedangkan untuk pinjam di bank, kemungkinannya sangat kecil. Karna kalau terlambat bayar, pihak bank akan menagihnya." Ucap Mathias, baru sempat terpikirkan. Karena sepanjang hari banyak yang terjadi.


"Iyaa, Mas. Yang ada cuma ituuu.. hutang kartu kredit itu." Ucap Ambar, tidak bisa menyimpan rasa kesalnya mengingat Rulof membeli perhiasan yang mahal untuk wanita lain.


"Hahahaha... Tidak usah kesal begitu. Kalau kau mau, beli saja perhiasan yang mahal berkali-kali lipat dengan uang-uang itu. Tapi ingat, itu ngga ada pengaruhnya untuk membuat Alm. gondok atau sakit hati. Tetapi ada pengaruhnya untuk masa depan Juha." Ucap Mathias tertawa melihat wajah Ambar, tetapi serius menasehati.


"Iyaa, Mas. Maafin." Ucap Ambar, langsung memeluk Mathias dengan erat.


"Hahaha... Kau itu selalu memancing pada waktu yang salah." Ucap Mathias sambil tertawa, mengingat kondisi tubuhnya yang lagi kurang sehat.


"Aku bukan mau memancing, hanya mau peluk Mas saja." Ucap Ambar, sambil memukul pelan punggung Mathias.


"Iyaa, aku tau. Mari berdoa dan kita tidur, agar besok aku lebih sehat. Ada banyak yang harus dikerjakan." Ucap Mathias, dan mereka bangun untuk berdoa bersama sebelum tidur.

__ADS_1


...~●○♡○●~...


__ADS_2