MANUSIA PARASIT

MANUSIA PARASIT
Kasih Sayang Ibu.


__ADS_3

~•Happy Reading•~


Mathias memandang Ibunya dengan seksama, saat mendengar apa yang dikatakan Ibunya. "Ibu marah, jadi menyuruh Thias pulang?" Tanya Mathias pelan dan ragu-ragu, sambil terus memandang Ibunya.


"Ngga, Thias. Ibu hanya ingin kau pulang, supaya bisa istirahat dengan baik di rumah. Kau ngga usah cemaskan Ibu. Karna di sini selain ada suster, ada juga perawat dan dokter, jadi Ibu tidak sendiri." Ucap Bu Titiek serius, menyuruh Mathias pulang agar bisa beristirahat.


"Baiklah, kalau Ibu katakan begitu, Thias pulang istirahat di rumah Ambar." Ucap Mathias, sambil mencium pipi Ibunya ketika melihat susternya sudah datang. Bu Titiek mengangguk dan mengusap lengannya putranya dengan sayang.


Setelah keluar dari kamar Ibunya, Mathias mengirim pesan untuk Ambar. "Ambar, aku pulang istirahat di rumah. Jangan lupa angkat kunci." Isi pesan Mathias, agar Ambar bisa mengangkat kunci pintu rumah dari tempatnya.


"Baik, Mas. hati-hati!" Isi balasan pesan dari Ambar. Kemudian Ambar bangun dan siapkan masakan untuk Mathias, yang mungkin saja belum makan. Dia mengingat tadi siang, Mathias terlambat makan.


Seni yang mendengar suara ribut dari dapur, jadi bangun dan keluar dari kamarnya. "Bu, mau masak untuk bapak?" Tanya Seni, saat melihat Nyonyanya sedang sibuk di dapur. Ambar mengangguk, melihat Seni datang mendekatinya.


"Iyaa, Seni. Mungkin saja bapak belum makan, jadi Ibu siapin saja. Ibu mau buatkan nasi goreng saja. Jadi kalau bapak sudah makan, nasinya bisa dihangatkan untuk sarapan kita besok pagi." Ucap Ambar sambil menyiapkan bumbu nasi goreng.


Setelah nasi gorangnya matang, Ambar membuat telur mata sapi untuk melengkapi nasi goreng. Tidak lama kemudian terdengar pintu pagar dibuka dan pagar di dorong.


"Seni, tolong lihat di luar. Jangan sampai bapak bawa mobil." Ucap Ambar, mengingat Mathias dari Rumah Sakit. 'Mungkin saja, membawa mobil saat mengantar Ibunya.' Pikir Ambar.


Seni segera keluar dan melihat majikannya yang pulang dan membawa mobil. Seni langsung mendekati pagar, kemudian menarik pagar dan menutupnya, setelah Mathias telah memarkir mobilnya.


"Trima kasih, Seni." Ucap Mathias, setelah melihat Seni telah menarik pagar dan menutupnya.


"Sama-sama, Pak." Ucap Seni tersenyum senang, karena majikannya pulang ke rumah. Dia segera masuk menemui Nyonyanya untuk memberitahukan, majikannya sudah pulang.


"Seni, tolong panaskan air, mungkin bapak mau minum minuman panas." Ucap Ambar, kemudian menemui Mathias yang baru masuk rumah dan mencium punggung tangannya.

__ADS_1


"Sudah makan malam belum, Mas?" Tanya Ambar, saat Mathias hendak berjalan ke kamarnya.


"Belum. Ada yang bisa dimakan? Kalau ngga ada, tolong pesan, ya. Aku mau mandi dulu." Ucap Mathias, dan masuk ke kamar untuk mandi.


"Seni, tolong buatkan kopi instan untuk bapak. Ibu mau siapkan makan malam, karna bapak belum makan." Ucap Ambar, dan membuat lauk tambahan. Dia mengambil sosis dan mengelolanya sebagai lauk tambahan.


Setelah selesai masak, Ambar menyiapkan semuanya di meja makan. Begitu pun dengan Seni, meletakan kopi yang telah di buatnya di meja makan.


"Trima kasih, Seni. Sekarang istirahat saja." Ucap Mathias, kemudian duduk di meja makan. Seni mengangguk mengerti dan berjalan ke kamarnya untuk beristirahat.


Ambar mengambil piring Mathias dan mengisinya dengan nasi goreng. "Aku ngga tau Mas mau makan malam di rumah, jadi hanya buat ini saja yang cepat." Ucap Ambar, merasa tidak enak dengan makan malam yang disediakan.


"Ngga papa, tadi mendadak pulang. Nanti selesai makan baru kita bicara." Ucap Mathias, berdoa dan makan. Ambar mengangguk mengerti, sambil mengisi air hangat ke gelas Mathias.


Setelah Mathias selesai makan, Ambar membersihkan meja makan. Karena Mathias akan mengajaknya bicara. Mathias menunggu Ambar membersihkan meja, sambil menghabiskan kopinya.


"Benarkah, Mas? Kenapa buru-buru kasih tau Ibu? Kasihan Ibu lagi sakit, nanti kepikiran." Ucap Ambar, dengan wajah terkejut dan sedih.


"Ngga papa. Tadi Ibu yang duluan tanya, jadi aku jelasin padanya. Ibu bisa terima, makanya aku di suruh pulang istirahat di rumah." Ucap Mathias untuk menenangkan Ambar.


"Apakah Ibu marah pada Mas?" Ucap Ambar khawatir, mengingat Mathias tiba-tiba pulang. 'Mungkin saja Ibunya tidak berkenan anaknya menikah dengan seorang janda.' Pikir Ambar.


"Ngga. Ibu terkejut saja, kita sudah menikah. Selanjutnya menyuruhku pulang untuk istirahat. Nanti besok baru ke Rumah Sakit lagi." Ucap Mathias, santai. Melihat wajah Mathias yang tenang, Ambar menarik nafas lega.


"Jadi nanti kalau bertemu dengan Ibu, tidak usah ragu-ragu atau grogi. Karena Ibu sudah tahu, apa yang mau kau katakan pada Ibu, katakan saja." Ucap Mathias, mengingat pertemuan Ambar tadi sore dengan Ibunya.


"Terutama, dalam waktu dekat aku akan ke Jogja untuk beberapa hari, kau bisa datang menemani Ibu?" Tanya Mathias lagi.

__ADS_1


"Kapan Mas mau ke Jogja?" Tanya Ambar was-was, karena akan menemani Ibunya dalam waktu dekat. Dia masih belum percaya diri berhadapan dengan Ibunya Mathias, setelah mengetahui statusnya sebagai istri. Kalau tadi, Ambar berusaha tenang. Karena dia berpikir, Ibu Mathias bisa mengira dia teman atau pacarnya.


"Aku tunggu Ibu pulang dari Rumah Sakit dulu, baru berangkat ke Jogja. Biar agak tenang kerja di sana." Ucap Mathias.


"Mas lama bekerja di Jogja?" Tanya Ambar makin khawatir.


"Tergantung cepat tidaknya kasus selesai, aku akan usahakan cepat selesai." Ucap Mathias, tenang untuk menenangkan Ambar. Karena dia tahu, Ambar sedang cemas.


"Nanti besok baru kita bicara yang selanjutnya. Sekarang, mari kita istirahat." Ucap Mathias, mengalihkan pembicaraan. "Ooh iyaa, besok kalian ke Gereja jam berapa?" Tanya Mathias, mengingat besok hari Minggu.


"Kami biasanya ke Gereja yang jam delapan. Atau Mas mau jam enam?" Tanya Ambar, mengingat Mathias mau ke Rumah Sakit.


"Yang jam delapan saja, agar ngga bangun terlalu pagi." Ucap Mathias, lalu Ambar mengangguk mengiyakan. Kemudian Mathias berdiri, untuk beristirahat.


"Mas istirahat duluan, ya. Aku bersihin peralatan makan ini dulu, baru istirahat." Ucap Ambar, sambil mengangkat cangkir bekas kopi. Mathias mengangguk dan berjalan masuk ke kamarnya.


*((**))*


Di sisi yang lain ; Setelah ditinggal Mathias, Bu Titiek berpikir tentang putranya yang sudah menikah dengan Ambar. 'Apa yang terjadi dengan dirinya dan Angel?' Tanya Bu Titiek dalam hati.


Setahu Bu Titiek, Mathias sudah berpacaran dengan wanita yang bernama Angel. Tetapi dia belum pernah memperkenalkannya padanya. Mathias hanya mengatakan, bahwa dia sedang pacaran dan memberikan pacarnya itu tinggal di apartemennya, karena dia harus kerja di kota, supaya lebih mudah pergi kerja. Selanjutnya Mathias lebih sering pulang tinggal dirumah.


Dari yang diceritakan Mathias, Bu Titiek tahu dia berpacaran serius dengan Angel. Kalau tidak serius, tidak mungkin Mathias mau mengijinkan wanita itu tinggal di apartemennya. Pasti telah terjadi sesuatu dengan mereka, sehingga Mathias bisa dengan cepat memutuskan untuk menikah dengan Ambar.


'Semoga Tuhan memberkati keputusannya dan rumah tangganya.' Doa dan harapan Bu Titiek dalam hati untuk putra semata wayangnya.


~●○♡○●~

__ADS_1


__ADS_2