MANUSIA PARASIT

MANUSIA PARASIT
Serangan


__ADS_3

~•Happy Reading•~


Sebelum Magrib, Ambar tiba di depan rumah. Ketika melihat Ambar turun dari ojol, keluarga Rulof yang sedang menunggunya segera mendekat sebelum Ambar masuk ke rumah.


Mereka khawatir, jika Ambar sudah masuk di rumah tidak akan membuka pagar untuk mereka. "Astagaaa... Kalian membuatku sangat terkejut." Ucap Ambar, sambil memegang dadanya, ketika keluarga Rulof mendekatinya.


Ambar membuka pagar, langsung mereka menerobos masuk. Hal itu membuat Ambar tertegun di depan pagar, sambil menarik nafas panjang dan memegang dadanya, Ambar mengikuti mereka masuk ke dalam rumah.


Ketika Seni melihat mereka masuk, dia tau Nyonyanya sudah pulang. Dia mengambil air mineral hangat dan memberikannya kepada Ambar. "Trima kasih, Seni." Ucap Ambar, setelah meneguk air tersebut perlahan dan mencoba bersikap tenang.


"Seni, kau tidak memberikan kami minuman?" Tanya Mama Rulof, melihat Seni hanya melayani Ambar.


"Ibu mau minum air mineral panas atau dingin?" Tanya Seni, mencegah beradu mulut dengan keluarga majikannya.


"Kami mau teh manis panas." Ucap Mama Rulof lagi dengan suara tegas.


"Kalau itu, saya tidak bisa sediakan, Bu. Yang ada hanya air mineral panas atau dingin." Ucap Seni sambil berdiri menanti.


Akhirnya mereka menyerah, meminta air mineral hangat. Ambar tidak masuk ke kamar untuk membersihkan tubuhnya. Dia langsung duduk di ruang tamu untuk berbicara dengan keluarga Rulof.


"Silahkan bicara Kak Inge. Apa yang kalian ingin bicakan dengan saya sampai menunggu saya begitu lama?" Tanya Ambar, sambil melihat Inge. Dia tidak mau melihat yang lain, karena wajah mereka seperti orang lapar yang ingin memakannya. Hal itu membuatnya bergidik, membayangkannya.


"Sebelum Inge menjawab, apakah benar kau baru pulang kerja? atau kau habis pergi bersenang-senang, karna suamimu sudah meninggal?" Tanya Mama Rulof, sambil menatap Ambar dengan wajah curiga.


"Saya pergi bersenang-senang mencari makan untuk keluarga. Jadi, kalau Mama hanya perlu jawaban itu, ngga usah tunggu saya pulang. Tadi Kak Inge bisa bertanya waktu menelpon." Jawab Ambar asal, karena sedang lelah tetapi ditanya hal yang sudah jelas.


"Kau sekarang tidak menghormati saya? Saya ini mertuamu." Ucap Mama Rulof mulai kesal. 'Sekarang bilang mertua. Kemarenan bermesraan dengan wanita mantueernya.' Ambar membatin.


"Saya ini sedang lelah, Ma. Jadi bicarakan maksud kedatangan kalian, karena saya mau istirahat." Ucap Ambar, mencoba berbicara sopan dan sabar.


"Seni... Tolong bilang Juha jangan turun dulu, karna Mamanya belum mandi." Ucap Ambar, ketika melihat jam dan melihat Seni akan naik ke atas. "Baik, Bu." Ucap Seni, dan segera naik ke kamar Juha. Ambar menunggu pembicaraan dari keluarga Rulof.

__ADS_1


"Begini, Ambar. Karna Mama mau pulang ke Makassar, kami mau minta bagian dari warisan yang dijanjikan Rulof." Ucap Inge, setelah diberikan kode oleh suaminya.


"Warisan? Kalian mau mengusir kami  dari rumah ini?" Tanya Ambar terkejut, dengan permintaan Inge. Karena bagi Ambar, rumah yang ditempatinya adalah warisan dari Rulof.


"Bukan itu, kami tahu Rulof memiliki beberapa bidang tanah dan juga tabungan di bank. Jadi berikan bagian yang dijanjikan Rulof untuk kami, sebelum Mama pulang ke Makassar." Ucap Inge, cepat dan tegas.


"Waaah.., syukur kalau begitu. Tolong Kak Inge tunjukan beberapa bidang tanah dan tabungan Mas Rulof itu kepada saya. Setelah itu, baru kita bicarakan lagi. Sebelum Kak Inge bisa tunjukan itu, saya berharap Kak Inge jangan datang mengganggu keluarga ini. Saya sedang berusaha mencari makan untuk anak saya." Ucap Ambar terkejut, tetapi mencoba tenang.


"Kau jangan berpura-pura tidak tahu. Kau istrinya masa tidak tahu." Ucap Richo, memprovokasi.


"Naah, itu... Saya istrinya tidak tahu, sedangkan kalian tahu. Semoga Mas Rulof bisa tersenyum senang melihat ini." Ucap Ambar, pahit.


"Jangan kau mengalihkan pembicaraan. Kami tahu, kau hanya berpura-pura." Ucap Inge, menegaskan.


"Terserah kalian mau bilang pura-pura atau kura-kura. Sekarang silahkan kalian tinggalkan rumah ini. Nanti kembali lagi menjemput saya untuk pergi melihat tanah-tanah yang ditinggalkan Mas Rulof itu." Ucap Ambar langsung berdiri di depan pintu.


Mereka keluar dari rumah dengan kesal, tetapi Richo membisikan sesuatu kepada Inge. "Tiara, pergi ke dapur ambil kantong plastik." Ucap Inge, dan Tiara menurut saja tanpa mengerti maksudnya.


Ambar hanya melihatnya tanpa berkomentar, ketika Tiara kembali ke dapur untuk mengambil tas lagi. Ambar hanya menginginkan mereka segera meninggalkan rumahnya.


"Ambar, kami mau bawa baju-baju Rulof juga." Ucap Inge lagi, karena telah dibisiki oleh suaminya.


"Nanti saat kalian datang menjemput saya untuk melihat tanah, baru kalian membawa baju-bajunya." Ucap Ambar yang sudah tidak sabar melihat kelakuan keluarga Rulof dan ingin beristirahat.


Setelah keluarga Rulof telah meninggalkan rumahnya, Ambar segera menutup pintu pagar lalu masuk ke rumah. Dia menutup pintu rumah sambil bersandar di pintu dengan memegang dadanya.


"Ibu ngga apa-apa?" Tanya Seni yang baru turun dari kamar Juha.


"Iyaa, Seni. Ngga papa... Saya mandi dulu, jangan sampai Juha turun." Ucap Ambar, segera masuk ke kamarnya.


Setelah selesai mandi, Ambar masuk ke dapur untuk mencari Seni. "Seni, ada yang bisa kita makan?" Tanya Ambar, karena sudah merasa lapar.

__ADS_1


"Ada Bu, tadi saya sudah masak untuk makan siang kami dan masih ada untuk makan malam." Ucap Seni menjelaskan.


"Kalau begitu, tolong kau siapkan, ya.  Saya mau ke kamar Juha." Ucap Ambar, dan beranjak naik ke kamar Juha. Ambar selalu memberikan uang untuk Seni membeli bahan makanan bagi mereka bertiga.


Ambar masih memiliki uang dari gajinya untuk keperluan hari-hari. Sedangkan uang hasil penjualan perhiasan yang dideposito belum bisa dicairkan. Dengan kelakuan keluarga Rulof, Ambar makin tidak mau mencairkannya. 'Bagaimana dengan masa depan anakku.' Ambar membatin sambil turun bersama Juha.


"Juha, berdoa lalu makan. Nanti kita bicara di kamar, yaa. Malam ini Mama akan tidur dengan Juha." Ucap Ambar, untuk menyenangkan anaknya. Juha mengangguk senang.


Mereka bertiga makan dengan hati yang sedikit lega. "Bu, tadi ketika mereka masuk, saya was-was Ibu Inge ke dapur untuk cari makan seperti biasanya. Sedangkan ada makanan ini di lemari." Ucap Seni tersenyum mengingat, kecemasannya tadi.


"Ibu tadi juga sudah pasrah, ketika mereka serobot masuk. Ibu sudah berpikir, kita akan makan roti yang Ibu beli tadi untuk sarapan besok." Ucap Ambar, menggelengkan kepalanya.


Semua kebutuhan sehari-hari selama sebulanan yang telah dibeli Rulof, sudah habis sebelum akhir bulan, bahkan pertengahan bulan. Karena Inge sering datang ke rumah dan membawa yang sudah dibeli Rulof.


Ambar membiarkan saja Inge membawanya, karena dia berpikir Rulof akan mengisi lagi sebagai gantinya. Ternyata sebelum diisi, Rulof keburu meninggal. Maka semua kebutuhan mereka tidak bersisa, alias kosong.


"Juha... Masuk kamar dulu, nanti baru Mama menyusul, ya. Mama bantu Mba' Seni dulu." Ucap Ambar, saat melihat Seni mau menyampaikan sesuatu tetapi ragu-ragu. Juha mengangguk, setelah cuci tangan lalu naik ke kamarnya.


"Bu, apakah bapak sakit karna kelakuan keluarganya itu." Tanya Seni pelan dan ragu-ragu.


"Kenapa kau berkata begitu?" Tanya Ambar, mengingat dia belum berbicara dan menanyakan tentang peristiwa sakitnya Rulof kepada Seni.


"Begini Bu, hari itu bapak bangun pagi sudah mandi dan rapi mau ke kantor. Ketika mau sarapan, saya hanya memberikan air mineral dan roti yang Ibu tinggalkan untuk Juha. Karna Juha tidak menghabiskan semua rotinya."


"Bapak bertanya, kenapa tidak membuat kopi untuknya dan saya bilang, kopinya sudah habis. Bapak langsung berdiri, memeriksa lemari dan kulkas. Bapak sangat terkejut, melihat semuanya kosong."


Bapak tidak berkata apa-apa dan kembali duduk sarapan. Ketika bapak ambil tas kantor dan mau jalan keluar, tiba-tiba bapak memegang dadanya dan jatuh di lantai." Cerita Seni.


"Padahal saya sudah sampaikan seperti yang Ibu katakan beberapa hari sebelumnya, bahwa kebutuhan rumah sudah mau habis. Tetapi sepertinya bapak tidak mendengar atau tidak mengingatnya." Ucap Seni lagi.


"Yaaa... Entahlah, Seni. Hanya Tuhan yang tahu. Kalau menurut dokter, ada pembuluh darahnya yang pecah karna jatuh itu." Ucap Ambar dan berdiri, tidak mau memikirkan atau menebak penyebab kematian Rulof.

__ADS_1


~●○♡○●~


__ADS_2