
~β’Happy Readingβ’~
Mathias tahu, pihak yang menuntut tidak akan berhenti sebelum mendapatkan yang mereka inginkan.
π±"Jadi menurut saya, alangka baiknya anda menjual mobil tersebut dan uangnya anda simpan. Setelah anak anda besar, baru anda belikan mobil baru untuknya. Ini saran saya, agar tidak membuat pusing setiap hari dengan yang itu-itu saja." Ucap Mathias.
π±"Iyaa, Pak. Trima kasih. Tetapi saya tidak tau siapa yang bisa menjual atau membelinya. Apakah Pak Mathias ada kenal orang yang dipercaya dan bisa membantu saya?" Tanya Ambar, mengharapkan bantuan Mathias. Karena baginya saat ini, hanya Sari yang bisa dia percaya. Dan sekarang, dia merasa Mathias juga orang baik yang bisa membantunya. Karena Sari merekomendasikan agar meminta tolong kepada Mathias.
π±"Mungkin asisten saya bisa membantu. Karna bebarapa waktu lalu, dia baru menjual mobil." Ucap Mathias, sambil mengingat Bagas yang telah menjual mobil Erwin.
π±"Baik, Pak. Asisten bapak yang waktu itu ada di kantor bapak kan, ya." Ucap Ambar, karena pernah bertemu dengan Bagas, jadi dia sudah mengenal orangnya.
π±"Iyaa, betul. Namanya Bagas. Kalau anda sudah siap, katakan saja biar dia ke tempat anda." Ucap Mathias lagi.
π±"Apakah mobilnya bisa dibawa hari ini, Pak? Dijualnya kapan-kapan, terserah asisten bapak saja. Yang penting, mobil ini tidak kelihatan ada di rumah." Ucap Ambar yang sudah cape' dan tidak enak hati dengan tetangga. Hampir setiap hari ada keributan di depan rumahnya.
π±"Kalau begitu, anda kirim alamat rumah, nanti saya minta asisten ke tempat anda." Ucap Mathias.
π±"Baik, Pak. Setelah ini saya akan kirim alamat rumah saya." Ucap Ambar, dengan hati yang sedikit lega.
π±"Bu Ambar, jangan bukakan pintu untuk mereka. Nanti saya akan kirim nomor telpon asisten saya, supaya anda bisa merespon telponnya. Semua nomor yang tidak dikenal, tidak usah direspon. Tolong siapkan semua surat-suratnya, supaya asisten saya bisa segera membawa mobilnya." Ucap Mathias, rinci dan tegas.
π±"Baik, Pak Mathias. Trima kasih." Ucap Ambar dan mengakhiri pembicaraan mereka. Ambar menarik nafas panjang, mendengar ribut dan ketukan dipagar. Kemudian Ambar mengirim alamat rumahnya kepada Mathias.
Setelah berbicara dengan Ambar, Mathias meminta Bagas datang ke ruang kerjanya.
__ADS_1
"Bagas... Nanti tolong bawa mobil Bu Ambar dari rumahnya, dan parkir di tempat parkir apartemen saya. Nanti setelah itu, kau bantu menjualnya seperti mobil Pak Erwin waktu itu." Ucap Mathias, sambil menunggu alamat yang akan dikirim oleh Ambar.
"Nanti kau ke rumah Bu Ambar, jangan langsung masuk ke rumahnya. Lihat dulu situasinya dan hubungi Bu Ambar sebelum mendekati rumahnya. Karena ada masalah dengan mobil itu. Keluarga suaminya sedang di depan rumahnya untuk mengambil mobil itu." Ucap Mathias, mengambarkan situasinya kepada Bagas. Karena khawatir dia langsung datang ke rumah Ambar saat keluarga Rulof masih ada.
"Sekarang, kau kembali ke ruanganmu. Nanti kalau sudah ada alamatnya, saya akan berikan padamu." Ucap Mathias, dan Bagas mengangguk mengerti. Kemudian dia meninggalkan ruang kerja Mathias untuk kembali bekerja.
Berapa lama kemudian, ada pesan yang masuk dari Ambar. Ketika Mathias membuka dan membacanya, dia terkejut. Alamat rumah yang dikirim Ambar, berada dalam komplek yang sama dengan rumah orang tuanya, hanya beda blok.
Mathias langsung menutup laptop dan memasukannya ke dalam tas kerjanya bersama beberapa dokumen yang harus dia pelajari. Dia berjalan keluar ruangan dan mengunci ruang kerjanya. Dia ke cabin untuk mengambil helm dan jacket serta mengunci cabinnya.
Kemudian Mathias menuju ruang kerja Bagas. "Bagas, mari kau ikut dengan saya. Jangan lupa membawa helm mu." Ucap Mathias, sambil berjalan keluar. Ketika melihat Bagas belum berdiri mengikutinya, Mathias mengerti.
"Sudah, berdiri dan bawa helm mu, saya tidak akan ngebut. Jadi cepat bediri. Kalau kau lama, saya akan ngebut." Ucap Mathias, sambil tersenyum dalam hati melihat mimik wajah Bagas.
Bagas segera merapikan laptop dan dokumen di atas mejanya dan masukan ke dalam tas. Setelah mengambil helm, dia mengunci pintu ruang kerja dan berjalan cepat mengikuti bossnya. "Jangan lupa kunci pintu kantor, Bagas." Ucap Mathias, saat melihat Bagas berjalan cepat ke arahnya tanpa mengunci pintu kantor.
Setelah Bagas telah duduk dibelakangnya, Mathias menjalankan motor sportnya dengan pelan keluar dari tempat parkir ke jalan raya. Bagas duduk di belakang bossnya dengan hati yang sedikit tenang, karena tidak ngebut. Tapi hatinya bertanya-tanya, mereka hendak kemana. Tadi dia mengikuti tanpa bertanya lagi kepada bossnya.
Mathias memacu motor sportnya dengan kecepatan normal menuju rumah orang tuanya. Tetapi dia melewati blok rumah tempat tinggal Ambar untuk melihat situasi di rumahnya. Ketika melihat di depan rumah Ambar masih ada orang yang menunggu di depan rumahnya, Mathias langsung putar balik pulang ke rumah orang tuanya.
"Bi Ina, Ibu sudah pulang?" Tanya Mathias setelah sampai di rumah dan Bibi Ina yang membuka pagar untuknya, sedangkan garasi terkunci. "Sudah, Den. Tetapi Ibu sedang istirahat." Bi Ina menjawab sambil mengunci pintu pagar.
"Baik, Bi. Ngga usah dibangunin. Tolong buatkan minuman dingin untuk kami, ya." Ucap Mathias sambil melangkah masuk ke dalam rumah.
"Bagas, masuk dan duduk dulu. Nanti baru kita bicarakan, karna saya mau lihat Ibu dulu." Ucap Mathias, mempersilahkan Bagas masuk dan duduk di teras rumahnya. Bagas terkejut, karena baru tahu, dia diajak ke rumah orang tua bossnya. Dia duduk diteras menunggu bossnya sambil menikmati halaman rumah yang asri.
__ADS_1
Rumah orang tua bossnya tidak terlalu besar. Tetapi memiliki halaman samping yang cukup luas, karena berada di sudut jalan. Di antara tanaman hias, ada pohon mangga yang sedang berbuah. 'Rumah yang sangat sejuk dan nyaman.' Bagas membatin.
"Ini diminum dulu, Den." Ucap Bi Ina mempersilahkan Bagas minum minuman yang disediakannya. "Trima kasih, Bi." Ucap Bagas, sambil melihat Bi Ina dengan wajah tersenyum.
Di dalam rumah, Mathias masuk ke kamar untuk melihat Ibunya. Suster mengisyaratkan dengan tangan di bibirnya, agar Mathias tidak bersuara. Melihat demikian, Mathias mengisyaratkan suster untuk keluar dari kamar.
"Suster, bagaimana kondisi Ibu dan apa hasil pemeriksaan tadi?" Tanya Mathias setelah mereka ke ruang makan.
"Ibu tadi pagi merasa tidak enak di perutnya, jadi kami ke Rumah Sakit, Pak. Dokter sudah berikan obat, jadi Ibu sedang istirahat." Suster menjelaskan kepada Mathias, tentang kondisi Ibunya.
"Baik, tapi apakah Ibu sudah makan?" Tanya Mathias lagi, karena khawatir melihat kondisi Ibunya.
"Sudah, Pak. Tadi selesai makan, beliau minum obat dan langsung istirahat." Jawab suster.
"Nanti kalau Ibu sudah bangun, beri tahu saya, ya. Saya ada duduk di teras." Ucap Mathias, kemudian menemui Bagas yang lagi duduk di teras.
"Bi, kami makan siang di sini, ya." Ucap Mathias, saat melihat Bi Ina yang baru masuk dari teras.
"Baik, Den. Bibi siapkan sekarang?" Tanya Bi Ina, dan Mathias mengangguk. Kemudian berjalan ke teras menemui Bagas.
"Bagas... Nanti saat makan siang, kau tolong bantu bawa mobil Bu Ambar, ya. Tadi masih ada orang di depan rumahnya, jadi kita tunggu dulu." Ucap Mathias, sambil duduk dan minum minuman dingin yang telah dibuat Bi Ina.
"Iyaa, Pak. Tapi bapak tau ada orang di depan rumah Bu Ambar dari mana?" Tanya Bagas terkejut, mendengar yang dikatakan oleh bossnya.
"Tadi Bu Ambar kirim alamat, ternyata beliau tinggal satu komplek dengan rumah orang tua saya. Jadi tadi itu saya sengaja melewati rumahnya untuk memastikan situasinya." Ucap Mathias, dan Bagas mengangguk takjub. Ternyata dunia ini kecil.' Bagas membatin.
__ADS_1
~βββ‘ββ~