
...~•Happy Reading•~...
Ambar bersama pemilik gedung melihat semua ruangan di ketiga lantai. Selain itu juga, Pak Benny memperlihatkan perabot-perabot yang masih bagus, karena belum lama dipakai. Gedung juga tidak perlu dicat.
"Bagaimana menurutmu?" Tanya Mathias setelah Ambar selesai melihat-lihat semua ruangan. Dia mengangguk mengiyakan dengan hati senang, karena ketika melihatnya dia sudah punya bayangan seperti apa kantor baru mereka nanti.
"Kalau begitu mari selesaikan pembayarannya, nanti kalian berdua tinggal untuk berdiskusi untuk yang akan dilakukan selanjutnya. Karna aku ada pertemuan, saat makan siang." Ucap Mathias, dan Ambar mengangguk mengerti
"Pak Benny, mari kita selesaikan ini, karena saya ada janji. Nanti selanjutnya, biar istri saya dan asisten saya di sini untuk membicarakan isi kantor ini." Ucap Mathias serius, dan Pak Benny mengangguk setuju.
Kemudian Pak Benny mengeluarkan semua dokumen tentang gedungnya dan Mathias memeriksanya sekali lagi. Karena dia telah memeriksa dokumen tersebut saat membayar DP.
Setelah semuanya clear, Mathias dan Pak Benny menanda tangani akte jual beli setelah Ambar membayar sisa pembayaran. Ambar dan Bagas yang melihat itu sangat senang dan bersyukur.
"Bagas... Nanti kalau sudah selesai dari sini, kabari saya. Supaya saya tahu mau ke kantor atau kesini." Ucap Mathias sambil mengenakan jacketnya. Setelah itu, Mathias mencium kepala Ambar dan pamit untuk pergi meninggalkan mereka. Pemilik gedung masih ada bersama Ambar dan Bagas.
"Kapan rencana mau pindah ke sini, Mas?" Tanya Pak Benny kepada Bagas.
"Secepatnya, Pak. Setelah kami mengatur dan menambah perabot yang dibutuhkan oleh kantor." Jawab Bagas, sambil melihat perabot-perabot yang ada.
"Bu, sudah punya ide untuk mengisi kantor ini? Apakah bapak sudah kasih denah untuk ruangan-ruangan yang akan ditempati?" Tanya Bagas, kepada Ambar.
"Sudah dan saya sedang memikirkannya saat melihat perabot yang ada." Ucap Ambar yang terus melihat perabot yang ada sambil terbersit ide untuk menatanya.
"Pak Benny, apakah ada orang yang bisa dimintain tolong untuk mengangkat-angkat?" Tanya Ambar kepada Pak Benny.
"Ada Bu... Ibu memerlukan orang untuk mengangkat apa?" Tanya Pak Benny, sambil melihat Ambar dan Bagas.
"Kami mau minta tolong pindahkan perabot yang ada ini ke ruangan-ruangan yang kami butuhkan." Ucap Ambar menjelaskan, karena gedung ini juga bekas kantor jadi perabot yang ada bisa ditatah sesuai dengan yang diinginkan.
__ADS_1
"Kalau Ibu perlukan sekarang, saya akan menghubungi mereka." Ucap Pak Benny, dan Ambar mengangguk setuju. Bagas hanya diam mengikuti yang dikatakan istri bossnya. Karena dia sangat setuju dengan yang dikatakn Ambar.
Sambil menunggu orang yang membantu datang, Ambar dan Bagas mendiskusikan penempatan perabot meja kursi dan lemari-lemari. Karena mereka sudah mendata semuanya jadi mudah untuk ditempatkan diruangan yang akan dipakai.
Tidak lama kemudian, 4 orang berbadan kekar yang dimintai tolong oleh Pak Benny datang. "Bagas, kau ngurusin lantai atas, ya. Saya yang di lantai bawa. Kalau sudah selesai, saya akan pindah ke atas." Ucap Ambar, memberi instruksi dan Bagas mengangguk setuju.
Pak Benny juga bantu-bantu menyingkirkan yang tidak perlu. "Pak Benny, ada yang bisa membantu membersihkan lantai ini.?" Tanya Ambar, melihat kerja orang yang membantu sangat cepat dan cekatan. Sehingga dia berpikir untuk menyapu dan mengepel lantai sekalian.
"Tidak usah, Bu. Nanti setelah kami selesai pindakan perabotan ini, kami akan bantu membersihkan lantainya." Ucap salah satu orang yang membantu. Ambar sangat senang mendengarnya dan mengangguk mengiyakan.
Setelah lantai bawa selesai, Ambar pindah ke lantai atas untuk melihat yang dilakukan Bagas. Hatinya ikut senang melihat perkembangannya, karena di atas terdapat banyak ruangan jadi agak lama.
"Bagas, tolong pesan makan siang untuk kita bertujuh, ya. Saya akan pesan alat-alat pembersih untuk membersihkan lantai." Ucap Ambar, dan Bagas mengangguk mengerti.
"Ngga usah alat pembersih Bu, karena di sini masih ada. Cairan pembersih saja." Ucap salah seorang yang membantu, sambil menunjukan alat pembersih.
"Oooh, baik... Trima kasih telah mengingatkan. Sepertinya bapak sangat tau perabot dalam kantor ini." Ucap Ambar, melihat mereka yang bantu sangat mengerti dan tahu ruangan-ruangan kantor baru.
"Benar, Bu... Ini dulu karyawan saya dan tinggalnya tidak jauh dari sini. Yang dua orang itu, dulunya security dan dua lagi itu OB dan CS." Ucap Pak Benny menjelaskan. Ambar mengangguk mengerti, pantesan mereka sangat mengenal isi kantornya.
"Mari kita makan dulu, nanti baru kita teruskan lagi kerjaannya." Ucap Ambar, saat melihat pesanan makanan mereka telah datang. Kemudian dia menghubungi Seni untuk menanyakan makan siangnya dan Juha.
Setelah selesai makan, Bagas mendekati Ambar. "Bu... Melihat perkembangan ini, sepertinya Minggu depan kita sudah bisa berkantor di sini." Ucap Bagas, sambil melihat yang mereka kerjakan dengan puas.
"Iyaa, Bagas. Sepertinya Minggu depan kita bisa pindah ke sini. Karena setelah ini, saya akan pesan kray dan kursi kerja yang baru untuk ruangan bapak saja. Semua kray di setiap ruangan masih bagus." Ucap Ambar, menjelaskan.
Sebenarnya, kray di ruang kerja Mathias masih bagus juga, tetapi Ambar ingin menggantinya dengan yang baru. Demikian juga dengan kursi kerjanya.
"Kalau begitu, kita pindah kantor saat bapak ulang tahun saja, Bu. Sangat cocok dan pas." Ucap Bagas senang dengan idenya.
__ADS_1
"Memang kapan bapak ulang tahun?" Tanya Ambar terkejut, karena lupa memeriksa data pribadi suaminya. Dan dia belum memiliki data pribadi Mathias, karena waktu menikah dia tidak memegang surat-surat suaminya sama sekali.
"Hari Senin minggu depannya lagi, Bu." Ucap Bagas terkejut, karena istri bossnya tidak tahu ulang tahun bossnya.
"Karna kami menikah buru-buru, jadi saya belum pegang surat-surat pribadi bapak." Ucap Ambar, menjelaskan melihat wajah Bagas yang terkejut.
"Aku setuju denganmu, tetapi sekarang jangan bilang ke bapak dulu. Kita beresin semua ini, minggu depan baru kita sampaikan rencana pindah kita. Kau harus siap-siap lembur di akhir pekan, ya." Ucap Ambar, mengingat ini sudah hari kamis. Jadi tinggal 10 hari lagi.
"Baik, Bu... Siaaapp." Ucap Bagas, makin bersemangat. Dia senang mengetahui istri bossnya sangat mendukung karier bossnya. Dengan demikian, pekerjaannya makin aman.
Setelah semua perabot yang perlukan sudah ada di tempatnya, Ambar meminta mereka memasukan perabot yang belum terpakai di satu ruangan kosong. 'Ruangan yang akan diperuntukan sebagai gudang.' Pikir Ambar.
Keempat orang yang bantu mulai bersih-bersih dan mengepel semua lantai. "Bu, nanti bilang Pak Mathias untuk membayar listrik bulan lalu, ya. Karna saya belum membayarnya." Ucap Pak Benny, menjelaskan.
"Baik, Pak... Nanti saya sampaikan. Apakah AC ini masih berfungsi semua, Pak?" Tanya Ambar, karena mereka hanya menyalakan AC di beberapa titik.
"Iyaa, Bu... Kalau mau di coba, silahkan. Agar bisa tau kondisi semuanya." Ucap Pak Benny, meyakinkan.
"Nanti saja, Pak. Setelah mereka selesai bersih-bersih, baru di coba." Ucap Ambar, mencegah Pak Benny berdiri, karena lantai sedang dibersihkan dan belum kering.
Saat mereka sedang berbicara, ponsel Ambar bergetar.
📱"Alloo, Mas..." Sapa Ambar, merespon panggilan Mathias sambil menjauh dari Bagas dan Pak Benny.
📱"Alloo, Ambar... Kalian ada di mana?" Tanya Mathias, setelah selesai pertemuan dengan Erwin.
📱"Kami masih di kantor baru, Mas. Kalau Mas sudah selesai, ke sini saja." Jawab Ambar.
📱"Baik, tunggu aku di situ." Ucap Mathias, kemudian mengakhiri pembicaraan mereka. Ambar tersenyum senang melihat perkembangan kantor yang dikerjakan oleh mereka.
__ADS_1
...~●○♡○●~...