
~•Happy Reading•~
Seperti yang dikatakan oleh Mathias, mereka kembali lagi setelah kemaren tidak melihat mobil di garasi. Pagi-pagi mereka sudah datang, padahal Ambar dan anaknya belum sempat sarapan. Ketika mereka memanggil namanya dan mulai menggedor pagar, Ambar keluar menemui mereka. Karena ini adalah akhir pekan, banyak tetangga sedang berada di rumah. Ambar merasa tidak enak hati terhadap tetangganya, setiap hari ribut dan apalagi ini masih pagi.
Melihat Inge, suaminya dan 2 orang lelaki bersama mereka, Ambar jadi emosi. Seakan-akan dia sedang berhutang dan mereka datang menagi hutangnya. Ambar yang jadi malu atas kelakuan saudara Rulof.
"Ada apa Kak Inge? Apa kalian tidak punya kerjaan, sampai pagi-pagi datang ribut di rumah orang?" Tanya Ambar mulai emosi, apalagi melihat Bu Tony keluar di halaman rumahnya. 'Pasti mereka telah mendengar suara berisik dan sangat terganggu dengan perbuatan orang-orang ini.' Ambar membatin, dengan hati yang tidak enak.
"Kami datang pagi-pagi supaya kau tidak kabur." Ucap Richo, Inge hanya diam membisu. Dia masih mengantuk, tetapi dibangunkan suaminya untuk ikut bersamanya.
"Kak Richo, saya sedang bertanya kepada kakak Alm. suami saya. Dan juga untuk apa saya kabur dari rumah saya sendiri?" Tanya Ambar berani, karena mulai naik level emosinya. Richo menyenggol Inge untuk berbicara.
"Biarkan kami masuk untuk berbicara di dalam rumah." Ucap Inge, karena dia ingin minum sesuatu. Dia belum sempat sarapan, saat disuruh ikut.
"Sudah saya katakan, kalau kalian sudah tau tanah-tanah itu baru datang menjemput saya dan kita bisa berbicara di dalam rumah." Ucap Ambar, tidak mau lunak. Inge jadi emosi mendengar apa yang dikatakan Ambar. Karena sampai sekarang dia belum tahu kejelasan tanah-tanah Rulof.
"Soal tanah nanti baru dibicarakan. Sebelum itu, kami mau minta bagian dari yang kau dapat dari kantor Rulof. Kami tau kau sudah pergi ambil di kantornya." Ucap Inge. Ambar terkejut, mereka mengetahui dia telah ke kantor Rulof. 'Jadi selama ini, mereka memata-mataiku.' Ambar berkata dalam hatinya dan itu membuat emosinya naik level lagi.
"Bagian apa dari kantor Mas Rulof, hutang? Kenapa kalian tidak datang sendiri ke kantornya, supaya tau berapa banyak dia telah berhutang di kantornya?" Tanya Ambar marah, mengingat Rulof bisa berhutang.
"Jangan menipu kami, dan di mana mobil Rulof yang kamaren ada di sini? Kami mau bawa untuk menjualnya." Akhirnya Inge menyampaikan maksud kedatangan mereka.
"Mobilnya sudah saya jual untuk bayar hutang pada tetangga. Anakku juga masih butuh makanan dan dia berhak hidup dari hasil pekerjaan Papanya. Jadi sekarang jangan datang lagi ke sini dan mengganggu kami. Karena tidak ada sesuatu yang akan kalian dapatkan di sini." Ucap Ambar, dan berbalik meninggalkan mereka yang berdiri di luar pagar, bengong.
Ambar berbalik masuk ke rumahnya, dan membanting pintu dengan keras. Hatinya sangat kesal, karena mereka terus mengganngu minta bagian uang. Padahal dia sendiri belum melunasi hutangnya kepada keluarga Pak Tony, tetangganya.
__ADS_1
Mendengar Ambar membanting pintu, Richo menendang pagar rumah Ambar dengan marah. Kemudian mereka pergi meninggalkan rumah Ambar. Richo yang emosi, menyuruh Inge pulang ke rumah karena dia akan pergi dengan kedua temannya.
Melihat perkembangan yang tidak menguntungkannya, Richo panik dan mulai menyusun rencana baru bersama teman-temannya. Dia sedang membutuhkan uang, yang selama ini selalu dia dapatkan dari Rulof. Sepeninggal keluarga Rulof, Bu Tony yang mendengar pembicaraan mereka dari halaman dan bunyi pagar yang keras, datang mengetuk pagar rumah Ambar untuk mengetahui keadaannya.
Ketika mengetahui yang mengetuk Bu Tony, Seni membuka pagar dan mempersilahkan beliau masuk. Kemudian kembali mengunci pagarnya, karena khawatir mereka kembali.
"Bu Ambar ngga papa?" Tanya Bu Tony, setelah duduk bersama Ambar di ruang tamu. Dan memberikan isyarat kepada Seni untuk tidak usah membuat minum.
"Ngga papa Bu, saya mohon maaf karna sudah sering bikin ribut." Ucap Ambar yang merasa malu dengan tindakan keluarga suaminya.
"Ngga papa Bu Ambar, kami mala khawatir dengan kondisi Ibu. Hati-hati! Juha masih kecil, jangan sampai sakit." Ucap Tony sambil mengusap lengan Ambar.
"Trima kasih, Bu. Saya minta maaf juga, belum bisa lunasin semua hutang saya, karena ada masalah sedikit. Sebagaimana Ibu lihat, mobil sedang dalam proses di jual. Nanti kalau sudah laku, saya akan melunasi semuanya." Ucap Ambar, pelan.
"Iyaa, Bu Ambar. Ngga papa, kami mengerti. Apakah sudah ada orang yang mau beli mobilnya? Kalau belum, biar dibantu oleh Mas Tony." Ucap Bu Tony, menawarkan bantuan.
"Kalau begitu, sekarang Bu Ambar bisa tenang. Jangan pikirkan keluarga Pak Rulof lagi. Biarkan mereka saja, Ibu konsentrasi untuk merawat Juha." Ucap Bu Tony lagi.
"Iyaa, Bu. Trima kasih untuk semuanya." Ucap Ambar, terharu. Kemudian Bu Tony pamit dengan hati lega, mengetahui Ambar baik-baik saja.
Setelah ditinggal Bu Tony, Ambar mendekati Seni di dapur. "Seni, tolong siapkan sarapan untuk kita, ya. Ibu mau naik lihat Juha, mungkin sudah bangun." Ucap Ambar, dan Seni mengangguk mengerti.
Kemudian Ambar naik ke kamar Juha. "Ternyata anak Mama sudah bangun. Ayoo mandi, biar bisa sarapan." Ucap Ambar sambil mencium pipi Juha.
"Ma, Juha sudah lapar. Juha mau makan dulu."
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu mari kita turun." Ucap Ambar berusaha riang, karna khawatir tadi Juha sudah bangun dan mendengar keributan di pagar.
*((**))*
Di sisi yang lain ; Richo pulang ke rumah setelah hari menjelang malam. Dia merencanakan sesuatu untuk Ambar, karena masih kesal terhadapnya.
"Kau belum tau tentang tanah-tanah Rulof?" Tanya Richo kepada Inge, saat mereka berdua di kamar.
"Belum, Mas." Jawab Inge pelan, dia khawatir suaminya marah.
"Aku curiga, jangan-jangan sudah dijual oleh Rulof. Mengingat yang dikatakan Ambar, Rulof memiliki banyak hutang di kantornya. Mungkin saja telah dijual, karna Rulof membutuhkan uang." Ucap Richo, mulai berpikir.
Berpikir demikian, Richo makin khawatir. Bulan depan kontrak rumah mereka akan berakhir. Selama ini, Rulof yang membayar kontrakan mereka setiap tahun. Sedangkan sekarang dia tidak memegang banyak uang.
"Apakah kau ada uang untuk membayar kontrak rumah ini? Tanya Richo kepada Inge.
"Yaa, ngga ada Mas. Kemarenan Rulof hanya kasih untuk makanan kita saja. Aku juga belum minta uang untuk membayar kontrakan, karna kupikir masih bulan depan." Ucap Inge pelan, makin khawatir melihat suaminya yang sedang tidak baik-baik saja.
"Apakah kau tau Rulof mengidap penyakit apa?" Tanya Ricko.
"Setauku, Rulof sehat-sehat saja. Dan juga di kantor ada chek up kesehatan rutin, berapa bulan sekali atau setahun sekali." Ucap Inge, mengingat-ingat.
"Kemarenan waktu di Rumah Sakit, dokter bilang Rulof sakit apa sampai bisa meninggal?" Tanya Ricko lagi, sambil berpikir.
"Katanya ada pembuluh darah yang pecah, karna jatuh." Ucap Inge ragu-ragu. Richo langsung mendapat ide, ketika mendengar yang dikatakan Inge.
__ADS_1
"Nanti kau hubungi wanita itu, untuk janji bertemu dengannya. Kita akan mengajak dia untuk bekerja sama, dan perlu dibicarakan dulu supaya jangan sampai dia ragu-ragu." Ucap Richo, yakin dengan idenya.
~●○♡○●~