
...~β’Happy Readingβ’~...
Di sisi yang lain : Dini hari di Rutio Bar terjadi keributan. Seorang Ibu muda tiba-tiba datang dan menarik rambut Angel yang sedang duduk minum bersama seorang pria muda.
Richo yang ada juga di dalam bar tersebut terkejut. Dia sedang bersama teman-temannya minum, sambil mengawasi Angel. Richo sudah melarang Angel untuk berhubungan dengan orang tersebut, tetapi Angel tetap memaksa. Karena pria tersebut selain tampan, juga tajir melintir.
Melihat Angel diseret keluar, Richo berlari mendekatinya dan coba melerai. Dia berusaha untuk menolong Angel yang tidak bisa melawan, karena hanya bisa memegang rambutnya yang sedang ditarik. Sedangkan pria yang bersama Angel, diam terpaku melihat kehadiran istrinya.
Melihat Richo mencoba membantu Angel, para pria yang datang bersama wanita itu langsung datang mendekati Richo dan memukulnya. Maka terjadilah baku pukul di dalam Bar. Karena teman Richo yang ikut bersamanya datang membantu.
Karena terjadi kekacauan, wanita yang sedang menyeret Angel tidak melepaskan tangannya dari rambut Angel. Malah rambut Angel makin dipilin ditangannya. Dia mengambil sepatunya dan langsung menggores wajah Angel dengan hak sepatunya.
"Perempuan yang tidak punya hati, pengganggu rumah tangga orang. Aku akan membuatmu menyesal memiliki wajah seperti ini." Ucap Wanita itu, dan terus menyeret Angel yang sudah tidak berdaya.
Sedangakan Richo sedang baku hantam dengan para lelaki yang datang bersama wanita itu, pasrah. Dia tidak bisa berbuat sesuatu untuk membantu Angel yang sudah berdarah-darah di lantai.
Security Bar tidak bisa melerai lagi keributan yang terjadi. Melihat pengunjung Bar lainnya pada berlari berhamburan keluar dari bar, pemilik Bar langsung menghubungi kantor polisi.
Tidak lama kemudian, Polisi datang dan menembakan pistol dengan peluru hampa ke atas untuk menghentikan kekacauan yang sedang terjadi.
*((**))*
Di sisi yang lain : Keesokan harinya, Ambar bangun pagi seperti biasanya. Kemudian mempersiapkan sarapan untuk mereka. Dia teringat, Mathias pernah meminta untuk sarapan bubur ayam. Dia segera membuat bubur ayam, karena mereka akan ke Gereja pagi.
Mathias yang sudah bangun, tersenyum senang melihat bubur ayam panas di atas meja makan. Begitu juga dengan Juha yang sudah duduk di meja makan, tersenyum girang. Karena dia sangat menyukai bubur ayam buatan Mamanya.
Setelah sarapan, mereka segera menyiapkan diri untuk ke Gereja. Mereka menunggu dijemput oleh sopir Bu Titiek, karena beliau berencana ikut ke Gereja juga. Setelah mengikuti Ibadah pemberkatan Mathias dan Ambar, beliau merasa bisa duduk agak lama.
Jika sudah tidak bisa lagi, beliau akan diantar pulang oleh sopir. Itu adalah perjanjiannya dengan Mathias, sehingga Mathias mengijinkan Ibunya ikut ke Gereja.
__ADS_1
Mathias bersyukur Ibunya bisa ikut Ibadah sampai selesai. Mereka mengantar pulang Ibunya untuk beristirahat, kemudian sopir mengantar mereka pulang ke rumah.
Sambil menunggu makan siang yang sedang disiapkan, Mathias teringat ada mau dibicarakan dengan Ambar. "Juha, tolong panggil Mama, ya. Bilang Papathias ada perlu." Ucap Mathias, kepada Juha yang sedang duduk nonton bersamanya.
"Sudah selesai masak, belum?" Tanya Mathias, saat Ambar telah datang duduk bersamanya.
"Sudah, Mas. Apakah sudah mau makan siang?" Tanya Ambar, yang berpikir mungkin Mathias sudah lapar karena sarapan bubur.
"Belum. Ada yang mau aku bicarakan, mumpung lagi teringat. Tadi melihat Ibu, aku teringat dengan Omanya Juha. Sekarang kau sudah ada uang, bantu beliau. Caranya, kau bijak-bijaklah berbicara sesama wanita. Agar itu bukan merupakan suatu keharusan, sehingga ada yang bisa menuntut jika kau belum bisa memberi." Ucap Mathias.
"Kau mengerti maksudku, bukan? Agar apa yang terjadi dengan Papa Juha tidak terulang kepadamu dan Juha." Ucap Mathias pelan, karena ada Juha sedang nonton bersama mereka.
"Apakah Mamanya masih mau menerima telpon atau berbicara denganku, Mas?" Tanya Ambar pelan dan ragu.
"Coba saja... Kalau beliau tidak mau terima telponmu atau berbicara kasar denganmu, berarti bukan rejekinya beliau." Ucap Mathias, tegas.
Ambar bersyukur, pernah meminta nomor telpon Mama Rulof. Walaupun belum pernah menghubunginya. Karena selama ini, Mamanya selalu berhubungan dengan Rulof.
*((**))*
Melihat kehidupan kedua anak perempuannya, Mama Inge merasa menyesal telah salah mendidik mereka berdua. Membiarkan mereka melakukan sekehendak hati mereka. Sehingga sekarang mereka sudah tidak bisa diajarkan dan dikendalikan.
Dengan rasa menyesal itulah, Mama Inge berani ke Gereja untuk memohon pertolongan Tuhan. Karena sebagai seorang Ibu, beliau sudah tidak tahan dan tidak sanggup lagi menghadapi kedua anak perrmpuannya.
Saat duduk dalam diam, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Ketika melihat nomor yang tidak dikenal, Mama Inge ragu-ragu untuk menerimanya. Karena nomor tersebut tidak ada dalam kontak ponselnya. Mama Inge merespon panggilan pada deringan kesekian kali. Beliau merespon panggilan dengan hati bertanya-tanya, karena sudah lama tidak ada yang menghubunginya.
π±"Alloo, Ma. Apa kabar? Ini Ambar." Ucap Ambar, membuat Mama Inge terkejut dan memeggang ponselnya dengan kuat agar tidak terjatuh.
π±"Alloo, Am-bar... Ma-ma ada baik." Ucap Mama Inge ragu-ragu menyebut dirinya Mama. Karena selama ini beliau tidak pernah menganggapnya sebagai mantu apalagi anak. Sehingga dalam kesadaran itu, beliau merasa malu mengucapkannya.
__ADS_1
π±"Mama ada dengan siapa di sana?" Tanya Ambar lagi untuk mengetahui keberadaan Mama Inge dan anak-anaknya.
π±"Ada sendiri, yang lain ada keluar." Ucap Mama Inge, mulai berani berbicara dengan lancar ketika mendengar suara Ambar yang bernada baik.
π±"Ooh, iya Ma. Ambar minta maaf, baru kasih tau sekarang. Ambar sudah menikah, mohon doanya untuk keluarga baru Ambar, ya." Ucap Ambar pelan, khawatir mantan mertuanya sakit hati dan marah.
π±"Iya... Mama sudah dengar dari Inge. Yang penting suamimu baik kepadamu dan Juha. Mama akan berdoa untuk rumah tangga kalian." Ucap Mama Inge dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca.
π±"Trima kasih, Ma. Sekarang, Ambar minta nomor rekening Mama, ya. Kalau ada rejeki, Ambar akan kirim untuk Mama. Biar Mama bisa pakai untuk kebutuhan sehari-hari atau berobat. Tetapi Mama jangan kasih tau yang lain, ya. Mama simpan sendiri untuk kebutuhan Mama saja." Ucap Ambar, tegas.
π±"Jangan Ambar. Pergunakan untuk keluargamu saja, jangan sampai suamimu marah." Ucap Mama Inge khawatir, karena suaminya bukan anaknya lagi.
π±"Ngga papa, Ma. Selain Ambar bekerja, suami Ambar juga bekerja. Suami sudah ijinin, jika ada rejeki berbagi dengan Mama. Jadi Mama kirim saja nomor rekeningnya." Ucap Ambar, lagi.
π±"Baiklah... Bilang suamimu, Mama minta trima kasih dan titip Juha." Ucap Mama Inge, sambil air mata berlinang mengingat cucunya.
π±"Iya, Ma. Ini suami ada mendengar dan ini Juha mau bicara." Ucap Ambar, karena melihat kode dari Mathias agar membiarkan Juha berbicara dengan Omanya.
π±"Alloo, Oma Sesi. Ini Juha. Apa kabar?" Ucap Juha, dengan riang membuat mama Inge menutup mulutnya tidak sanggup berbicara, mendengar suara cucunya.
Mendengar Mama Inge tidak membalas sapaan Juha, Mathias mendekat dan berbisik kepadanya. Tetapi Mama Inge mendengarnya. "Juha, berbicara saja. Oma Sesi mendengarmu." Ucap Mathias, sambil mengelus kepala Juha. Dia tahu, Omanya sedang terharu karena Ambar sendiri sedang menangis sambil menutup mulutnya.
π±"Oma Sesi, Juha sudah bisa membaca, menulis dan berhitung. Oma Sesi baik-baik, ya. Nanti Juha telpon Oma Sesi, karna sekarang Juha sudah punya Hp sendiri, dikasih Papathias." Ucap Juha, sambil memberikan ponsel kepada Mamanya.
π±"Ma, Ambar tunggu nomor rekeningnya sekarang, ya. Nanti kalau sudah kirim, Ambar akan kasih tau Mama jika sudah transfer." Ucap Ambar, pelan.
π±"Iya, Ambar. Trima kasih dan maafkan Mama." Ucap Mama Inge dengan suara bergetar.
π±"Ngga usah dipikirkan, Ma. Kalau Ambar masih marah, tidak mungkin akan menghubungi Mama. Jaga kesehatan dan kalau ada apa-apa, hubungi Ambar." Ucap Ambar, lalu mengakhiri pembicaraan mereka. Mama Inge langsung terduduk di lantai sambil menangis, mengingat perbuatannya kepada Ambar dan apa yang baru dilakukan Ambar kepadanya.
__ADS_1
...~βββ‘ββ~...