MANUSIA PARASIT

MANUSIA PARASIT
Kantor Baru 1.


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Ketika mendengar usulan Ambar, Mathias tidak bisa berkata-kata. Karena hal itu tidak terpikirkan olehnya. Dia memandang Ambar dengan seksama untuk memastikan keseriusan Ambar. Sedangkan Ambar memandang Mathias dengan perasaan was-was sambil berdoa dalam hati, semoga suaminya bisa mengerti dan menerima maksud baiknya.


"Kau berpikir begitu?" Tanya Mathias singkat, tetapi terus memandang mata Ambar karena usul Ambar merupakan sesuatu yang baik, tetapi Mathias ingin memastikannya.


Seperti usulan Ibunya untuk memakai uang peninggalan Ayahnya, dia langsung menolaknya. Walaupun dia bisa mengembalikannya saat apartemennya telah terjual. Tetapi karena kondisi kesehatan Ibunya yang tidak stabil, dia tidak mau berspekulasi.


Kalau usulan Ambar, dia memikirkan kebaikan dari usulan Ambar. Karena Ambar telah membuka dengan bertanya apakah dia mempercayainya.


"Iyaa, Mas. Itu usulku, karena aku sendiri tidak memikirkan ada memiliki uang-uang itu. Jadi kalau Mas mau menggunakannya, gunakan dulu supaya bisa cepat dapat gedung itu. Dari pada tunggu lama, karena belum tau apartemnya kapan terjualnya." Ucap Ambar untuk meyakinkan Mathias.


"Sebenarnya Ibu ada uang dari peninggalan Ayah. Aku bisa mengunakannya dan nanti dikembalikan. Tetapi aku tidak mau menggunakannya, karna kondisi kesehatan Ibu tidak menentu dan tidak bisa diprediksi. Jadi waktu Ibu mengatakan untuk menggunakannya aku tidak menyetujuinya." Ucap Mathias, menjelaskan.


"Kalau kau percaya aku bisa menggunakan uang yang ada. Yaa, aku bisa menerimanya dan kau juga bantu berdoa, agar apartemennya cepat terjual dan bisa cepat mengembalikan uang peninggalan Alm." Ucap Mathias, saat melihat Ambar serius dan tulus membantunya.


"Trima kasih, Mas. Aku jadi lega karena dari sepanjang jalan tadi aku memikirkannya dan khawatir Mas akan marah atau tersinggung dengan usulku. Aku sudah bisa tidur dengan tenang." Ucap Ambar, dan langsung naik ke tempat tidur.


"Jangan tidur dulu. Karena dengan usulmu itu, sekarang mari kita bicarakan. Besok kau ikut denganku untuk melihat gedungnya dan kau sendiri yang akan mengurus tranksasi jual belinya." Ucap Mathias, tegas.


"Nanti aku akan katakan kepada Bagas agar tidak usah ke kantor, tetapi langsung ke gedungnya untuk membantumu menata ruangan-ruangannya. Karena itu gedung baru, yang belum lama dipakai sebagai kantor. Jadi sudah ada perabot, kau tolong pikirkan interiornya."


"Untuk kelengkapan perabot yang lain, nanti biar Bagas yang urus. Aku sudah buat dena ruang kerja, kalian tinggal mendiskusikan dan memindahkan perabot yang cocok. Semua pengeluarannya dicatat dalam pengeluaran kantor." Ucap Mathias, serius.

__ADS_1


"Sebenarnya besok, aku tidak ada rencana ke gedungnya karena siangnya ada janji dengan Pak Erwin. Jadi nanti setelah selesai transaksi, aku akan meninggalkan kalian di sana. Nanti aku akan email denanya untukmu dan Bagas, agar kalian bisa lebih mudah memikirkan isi kantor yang baru." Ucap Mathias, menjelaskan maksud dan rencananya untuk kantor yang baru.


"Aku berharap secepatnya kita sudah pindah ke kantor yang baru sebelum aku ke luar kota." Ucap Mathias, mulai lega untuk menangani kasus yang sedang ditawarkan oleh Erwin.


Mathias turun dari tempat tidur untuk mengambil tas kerjanya dan mengambil berkas pembelian gedung kantor barunya. "Ini harga gedungnya, dan ini pembayaran DP nya. Kau pegang saja, agar bisa jadi satu dengan dokumen kantor. Sisa pembayaran gedungnya kau yang mengurusnya." Ucap Mathias lagi.


"Nanti aku bicara dengan Ibu tentang perkembangan ini, agar Ibu tidak kepikiran kau akan sibuk beberapa waktu ke depan." Ucap Mathias lagi, mengingat Ambar akan sering ke kantor yang baru.


"Iyaa, Mas. Nanti aku bicara juga dengan Ibu, supaya Ibu tau aku yang mau membantu Mas mempersiapkan kantor yang baru." Ucap Ambar pelan, karena dia tahu Ibu Mathias agak keberatan jika dia bekerja di luar.


"Iyaa, nanti setelah urusan gedung selesai, kita berbicara dengan Ibu. Supaya beberapa waktu ke depan kita bisa bekerja dengan tenang, karna tidak membuat Ibu khawatir." Ucap Mathias, serius.


"Iyaa, Mas. Apakah besok kita berangkat kerja seperti biasanya atau lebih pagi?" Tanya Ambar, supaya dia bisa mengatur waktu bangun mereka.


"Mari kita berdoa bersama, sebelum tidur. Kiranya Tuhan memberkati rencana kita pindah ke kantor yang baru. Dan semua yang direncanakan berlangsung dengan baik dan lancar." Ucap Mathias, sambil mengambil tangan Ambar untuk berdoa bersama.


*((**))*


Keesokan harinya, Ambar dan Mathias dibangunkan oleh suara alaram dari ponsel Ambar. Mereka bangun dan bersyukur bersama.


"Kalau Mas mau mandi, mandi dulu. Aku mau bantu Seni untuk menyiapkan sarapan." Ucap Ambar, sambil turun dari tempat tidur dan menyiapkan pakaian Mathias dan dirinya untuk ke kantor.


Tidak lupa Ambar memasukan buku tabungan dan ATM sesuai yang dibutuhkan untuk membayar sisa gedung yang akan dibeli oleh Mathias. Karena tidak semua tabungan dibutuhkan untuk membayar sisa gedungnya.

__ADS_1


Kemudian Ambar keluar kamar untuk membantu Seni menyiapkan sarapan. Sedangkan Mathias menghubungi Bagas sebelum dia berangkat ke kantor.


📱"Pagi Bagas, kau sudah di mana." Tanya Mathias, saat Bagas merespon panggilannya.


📱"Selamat pagi, Pak. Saya masih di kontrakan, Pak. Setelah sarapan baru saya berangkat ke kantor. Bagaimana, Pak?" Tanya Bagas, karena tumben boss nya menghubungi pagi-pagi.


📱"Ok... Pagi ini kau ngga usah ke kantor, tetapi langsung ke Kuningan ke tempat gedung yang akan menjadi kantor baru kita. Saya dan Bu Ambar akan langsung ke sana juga." Ucap Mathias, menjelaskan tujuannya menelpon Bagas.


📱Baik, Pak. Saya akan langsung ke sana." Ucap Bagas dengan hati yang girang mengetahui mereka akan ke gedung yang akan menjadi kantor baru. Mathias segera mengakhiri pembicaraan mereka, kemudian mengambil handuk dan menuju kamar mandi.


Ambar yang baru selesai menyiapkan sarapan, naik ke kamar Juha untuk melihatnya. Ketika melihat Juha masih terlelap, Ambar menutup pintu perlahan kemudian turun ke kamarnya untuk mandi.


Setelah selesai sarapan, Mathias menghubungi pemilik gedung untuk mengabarkan kedatangan mereka. Mendengar yang dikatakan Mathias, pemilik gedung sangat senang. Karena pemilik gedung berpikir akan menunggu agak lama, mengingat yang dikatakan Mathias. Dia sedang menunggu apartemennya laku terjual untuk membayar sisanya.


Sedangkan pemilik gedung lagi membutuhkan dana segar untuk membayar hutang dan memulai usaha yang baru. Jadi ketika mengetahui akan dilunasi hari ini, beliau sangat senang dan bersyukur. Beliau tidak enak mau mengatakan hal itu kepada Mathias, karena Mathias pernah membantunya pada saat bermasalah dengan hukum.


Beberapa waktu kemudian, Mathias dan Ambar tiba di gedung yang akan menjadi kantor baru. Bagas dan pemilik gedung sudah ada di sana menunggu kedatangan mereka. Saat melihat gedungnya, Ambar sangat senang. Lebih besar dari gedung yang lama berlantai 3. Dia jadi excited untuk melihat isinya.


"Selamat pagi Pak Benny, ini istri saya." Ucap Mathias memperkenalkan Ambar kepada pemilik gedung yang sudah menunggu mereka di ruang utama lantai dasar.


"Ambar..." Ucap Ambar, menyambut uluran tangan perkenalan Pak Benny.


"Mari Bu Ambar, saya perlihatkan ruangan-ruangan dan juga perabot yang ada." Ucap Pak Benny, hendak mengajak Ambar berkeliling melihat isi gedung. Mathias dan Bagas mengikuti sambil memperhatikan sekitar, karena mereka pernah datang melihat sebelumnya.

__ADS_1


...~●○♡○●~...


__ADS_2