
...~•Happy Reading•~...
Sari ikut berbahagia mendengar yang dikatakan Mathias dan dikuatkan oleh Ambar. Dia tidak mau menanyakan hubungan Mathias dan Angel dihadapan Ambar. Dia berpikir, pasti telah terjadi sesuatu sehingga Mathias memutuskan untuk menikah dengan Ambar dalam waktu yang sangat singkat.
"Baiklah, aku menunggu kabar baiknya dari kalian. Semoga Bu'de Titiek lekas sembuh, agar kalian bisa menikah di Gereja. Nanti kalau sudah mulai berkurang sibukku, aku akan sempatin nengok Bu'de." Ucap Sari senang dengan yang diketahuinya.
"Tetapi sementara ini, jangan kau katakan untuk saudara yang lain, ya. Karena aku tidak akan mengundang semua saudara. Hanya yang dekat-dekat saja, karna aku tidak mau Ibu terganggu dengan banyak pertanyaan." Ucap Mathias, menjelaskan maksud hati dan rencananya.
"Iyaa, aku mengerti. Tenang saja." Ucap Sari, menenangkan Mathias. Dia berpikir, mungkin Mathias tidak mau banyak pertanyaan tentang Ambar. Dengan semua yang sudah dilalui Ambar, Sari merasa senang melihat Mathias menyayangi Ambar.
Seperti yang dipikirkan Sari, Mathias tidak mau banyak pertanyaan kepadanya atau Ibunya tentang Ambar. Karena saat berkumpul, ada Juha dan pasti itu akan memancing banyak pertanyaan dari saudara-saudaranya. Itu yang dipikirkan Mathias, saat ingin mengundang saudara Ibu dan Ayahnya.
"Oooh iyaa, Ri. Aku mohon maaf ngga bisa kerja di sini lagi, karna sekarang aku sedang membantu Mas Mathias di kantornya." Ucap Ambar, merasa tidak enak hati baru menyampaikannya kepada Sari.
"Oooh, sekarang kau bantu merapikan keuangan di kantor Mathias? Wuaah... Aku setuju dan mendukungmu. Kau tolong rapikan, biar kantornya sekeren orangnya." Ucap Sari senang, sambil mengacungkan kedua jempolnya.
"Kau telah mendapatkan seorang akuntan yang jempolan. Walau pun kuliahnya tidak sampai selesai, tetapi kerjanya tidak kalah dengan para sarjana akuntansi." Ucap Sari lagi, memuji Ambar di hadapan Mathias. Karena dia telah melihat hasil kerja Ambar di bagian keuangan restorannya.
"Thanks, hari ini Ambar baru masuk ke kantor untuk membantuku, karna kami sedang berbenah." Ucap Mathias senang mendengar yang dikatakan Sari. Dia tidak menyangka Ambar memang jurusan akuntansi saat kuliah. 'Pantas dia berani menawarkan diri membantunya.' Ucap Mathias dalam hati dan mengagumi istrinya.
"Oooh, iyaa. Sari kami pamit dulu ya, karna kami harus kembali ke kantor. Nanti lain kali ada waktu longgar, kita bisa kumpul lagi." Ucap Mathias, sambil memberikan kode untuk pelayan membawa bill.
"Ngga usah bayar, aku yang traktir." Ucap Sari, mencegah Mathias saat hendak mengeluarkan dompetnya.
"Jangan begitu, kali ini aku yang bayar. Karna memang kami berniat makan di sini dan mau bertemu denganmu. Jadi jangan melarangku untuk membayar makan siang kita." Ucap Mathias tegas. Melihat keseriusan dan ketegasan Mathias, Sari mengangkat tangannya dari tangan Mathias sebagai tanda menyerah.
__ADS_1
Ambar hanya tersenyum melihat dan mendengar yang dilakukan Mathias dan Sari. 'Betapa membahagiakan melihat saudara yang saling mensupport tanpa melihat perbedaan diantara mereka.' Ucap Ambar dalam hati, karena baru tahu Mathias dan Sari bersaudara.
Setelah Mathias membayar makan siang mereka, dia memeluk Sari dengan sayang. Begitu juga dengan Ambar dan Sari yang berpelukan erat. Kemudian mereka meninggalkan Sari yang merasa terharu, melihat kebersamaan saudara dan teman baiknya. 'Semoga kalian berbahagia.' Ucap Sari dalam hati.
Saat tiba di kantor, Mathias membuka pintu kantor dengan kuncinya. Dia berpikir, Bagas sedang keluar makan siang. Ternyata Bagas ada di kantor dan keluar ke ruang tunggu, karena mendengar bunyi-bunyian di atas pintu kantor berbunyi.
"Kau belum keluar makan siang?" Tanya Mathias terkejut melihat Bagas ada di kantor.
"Sudah, Pak. Tadi saya pesan online saja, karna ada banyak kerjaan. Kasihan Bu Ambar, ada beberapa yang belum tersusun dengan rapi." Ucap Bagas, merasa bersalah.
"Baiklah, kalau begitu. Yang penting kau sudah makan. Ambar, ikut aku ke ruanganku dulu." Ucap Mathias, dan Ambar mengikutinya.
"Duduk dulu." Ucap Mathias saat melihat Ambar masih berdiri. Dia memintanya duduk di kursi depan meja kerjanya. Kemudian mengeluarkan dua lembar kertas dari dalam laci meja kerjanya.
Hal itu sudah dipikirkan Mathias sejak mereka sudah tidur satu kamar. Karena baginya, semua perjanjian diantara mereka sudah tidak berlaku lagi. "Iniii... Keputusan ada di tanganmu." Ucap Mathias, sambil menyodorkan lembaran kertas tersebut ke hadapan Ambar. Ketika Ambar melihat dan membacanya, dia mengerti maksud Mathias.
Dia tahu, Mathias menyayangi dirinya dan Juha dengan tulus. Semua yang diterima membuat hatinya membuncah dengan rasa syukur. Dia bukan saja bangga bersuamikan Mathias, tetapi menyayangi suaminya dengan sepenuh hati.
Melihat yang dilakukan Ambar, Mathias tersenyum. "Siniii, duduk di sini." Ucap Mathias, sambil menepuk pahanya. Ambar mengikuti permintaan Mathias dengan wajah merona merah karena malu.
Mathias memutar kursinya menghadap jendela, kemudian menarik kray yang menutupi jendela. Mathias memeluk Ambar yang telah duduk di pahanya dari belakang.
"Kau lihat jalanan itu? Aku sering melihatnya, jika banyak permasalahan yang ada dikepalaku. Kadang jalanan itu sepi, lancar, macet dan juga sering sembraut. Jalan hidup kita juga seperti itu. Kadang sepi, lancar, tersendat-sendat atau macet."
"Tetapi jika sedang sembraut, urai satu demi satu supaya tidak makin kusut dan membuat kita sakit kepala atau stress." Ucap Mathias, serius sambil terus memeluk Ambar dengan sayang.
__ADS_1
Karena dia tahu, Ambar pasti shock mengetahui suaminya membeli perhiasan yang mahal tetapi bukan untuk dirinya. Hal itu membuat Mathias ingin menghiburnya dengan memeluknya.
"Iyaa, Mas. Aku mengerti, trima kasih selalu mengingatkanku." Ucap Ambar, tersentuh dengan ucapan dan tindakan Mathias. Dia tahu, Mathias sedang menenangkannya karena peristiwa yang terjadi di bank.
Tiba-tiba bunyi ketukan pintu ruang kerja Mathias. "Masuuukk.." Ucap Mathias, tanpa melepaskan pelukannya dari Ambar dan mencegah Ambar berdiri. Dia hanya memutar kursinya.
"Astagaa, Pak. Apa tidak bisa tunggu di rumah? Berapa kali harus menodai mataku yang po lo...?" Ucap Bagas terhenti, dan Mathias tertawa melihat wajah Bagas dan reaksi tangannya yang menutup mulutnya.
"Apa salah aku memeluk istriku saat ingin memeluknya? Kalau tunggu sampai di rumah sudah basiiiii." Ucap Mathias ngledekin Bagas yang masih melihat sembarang arah.
"Dan juga supaya kau tau, pelukan di rumah itu, lain judulnya." Ucap Mathias, makin ngeledikin Bagas dan Ambar langsung memukul lengannya.
"Bapak sangat tidak berperasaan. Apa ngga tahu saya belum mengerti yang begituan?" Ucap Bagas, sambil maju dan duduk di kursi depan meja bossnya. Karena dia melihat, bossnya tidak melepaskan istrinya dari pelukannya. 'Harus belajar terbiasa.' Ucap Bagas dalam hati.
"Makanya, cepatan menikah supaya rasa dan mengerti." Ucap Mathias mulai asal, mengganggu Bagas.
"Pacar saja belum punya, sudah di suruh menikah." Ucap Bagas, asal.
"Makanya, cari pacar dan pacaran. Apakah kau tidak pernah melihat ada wanita yang mengincarmu?" Tanya Mathias yang masih mengganggu Bagas. Tetapi Mathias tahu, ada banyak wanita yang naksir Bagas. Dia memiliki wajah yang tampan dan baik hati.
"Yang ngincar sih, banyak Pak. Tapi bagaimana mau pacaran kalau hari-hari temani bapak dan selalu di sini bersama bapak?" Curhat Bagas, sekaligus menyampaikan uneg-uneg di hatinya.
"Kau ingin libur berapa lama supaya bisa dapat pacar? Aku akan memberikanmu libur sesuai waktu kejar pacar. Kau mau libur selamanya juga boleh." Ucap Mathias masih mengganggu Bagas.
"Astagaaa, Pak. Ngancamnya ngga usah sadis begitu. Bukannya dapat pacar, mala para wanita kabur semua mengetahuiku pengangguran cap roda satu." Ucap Bagas, asal.
__ADS_1
"Yang penting kan, bisa muteerrr." Ucap Mathias asal. Ambar tertawa mendengar percakapan Mathias dan Bagas yang asal.
...~●○♡○●~...