MANUSIA PARASIT

MANUSIA PARASIT
Kejutan 2.


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Mathias berpikir yang dikatakan Ambar banyak itu, tidak sebanyak yang tercantum dalam buku tabungan Ambar dan Juha. "Apa ini ada dalam masing-masing rekening Rulof dan Juha?" Tanya Mathias, ketika melihat isi tabungan Ambar.


"Iyaa, Mas. Aku langsung pindahkan seperti yang Mas katakan. Yang punya Alm ke rekeningku, yang punya Juha, sama ke rekening Juha yang baru." Jawab Ambar, sambil mengangguk meyakinkan.


"Baik, kau simpan jadi satu dengan ATM nya. Untuk sementara ini, tidak usah digunakan. Kita akan pikirkan nanti, bagaimana baiknya." Ucap Mathias, mencoba tenang. Dia berniat akan menyelidiki semua yang terkait dengan Rulof, terutama pendapatannya.


"Baik, Mas. Aku akan menyimpan dalam Amplop ini saja." Ucap Ambar, sambil menunjuk amplop coklat kepada Mathias. Ambar mengambil kedua buku tabungan dan ATM nya, lalu memasukannya ke dalam amplop coklat di tangannya.


"Aku lihat tabungan dari uang depositonya." Ucap Mathias, makin penasaran. Setelah Ambar memberikan kedua buku tabungannya, Mathias juga terkejut. Karena kedua buku tabungan memiliki saldo dengan angka yang fantastik.


"Kalau begitu, sama. Disimpan dulu nanti kita pikirkan apa yang akan dilakukan dengan uang ini. Mungkin akan dideposito lagi, tetapi tunggu sampai ada kejelasan." Ucap Mathias, kemudian menyerahkan buku tabungan dan ATM untuk disimpan dalam amplop coklat.


"Sekarang, tolong berikan isi safe deposit box nya untukku." Ucap Mathias, pelan. Ambar segera mengambil kantong berisi kotak deposit dan menuangkannya di atas tempat tidur. Mathias memeriksa satu persatu isi kotak deposit. Ternyata benar yang dikatakan keluarga Rulof. Selain ada sertifikat rumah, ada juga tiga sertifikat tanah. Jika dijumlahkan luas tanah dalam tiga sertifikat bisa hampir satu hektar. Tetapi di lokasi yang berbeda-beda.


Mathias memisahkan sertifikat dan mengumpulnya jadi satu. Kemudian dia melihat ada satu hardisk eksternal. Mathias juga memisahkannya, karena dia akan memeriksanya. Kemudian ada surat-surat pribadi Rulof dan dua cincin emas Rulof.


"Ambar, yang ini disimpan terpisah supaya nanti Juha bisa mengenal Papanya." Ucap Mathias, sambil menyerahkan dokumen pribadi Rulof. Ada dari sekolah, kuliah sampai surat pengangkatan di kantor.


"Kalau cincin ini, kau simpan tersendiri dengan perhiasanmu. Mungkin Juha sudah besar mau memakainya atau melihatnya sebagai kenang-kenangan dari Papanya." Ucap Mathias lagi, karena dia berpikir akan sangat riskan juga kalau Juha memakainya.


"Untuk semua yang kau dapatkan dari Alm. cukup sampai di sini dulu kita membicarakannya. Nanti setelah aku periksa semuanya, baru kita membahasnya." Ucap Mathias, karena dia tidak mau menerka atau menduga-duga asal uang yang ditinggalkan Alm.


'Mungkin hardisk eksternal dan dokumen jual beli yang ditinggalkan Rulof bisa membantu menjelaskan tentang semua kekayaan yang dimilikinya.' Ucap Mathias dalam hati.

__ADS_1


"Baik, Mas." Ucap Ambar, kemudian menyimpan semua yang diberikan oleh Mathias kepadanya. Sedangkan hardisk dan dokumen yang harus diteliti, Mathias memasukannya ke dalam tas kerjanya.


Ketika membuka tas kerjanya, dia melihat laptop Rulof. "Ambar, ini laptop Alm. sudah bisa dibuka, jadi kau bisa memakainya. Password nya, kau buat yang baru sesuai dengan maumu." Ucap Mathias, sambil menyerahkan laptop kepada Ambar.


"Mas, lebih baik laptot itu dipakai oleh Mas saja. Karena aku sudah lihat, itu laptop yang canggih. Mungkin lebih berguna untuk Mas. Kalau aku perlu, mungkin bisa beli yang biasa saja." Ucap Ambar pelan, karena khawatir menyinggung Mathias.


"Benarkah? Kau mau aku memakai ini?" Tanya Mathias, sambil menatap Ambar untuk meyakinkannya. Karena itu adalah milik Papanya Juha.


"Iyaa, Mas. Juha juga masih kecil, tidak membutuhkan itu. Mungkin lebih berguna di tangan Mas daripada di tangan kami." Ucap Ambar pelan, karena masih khawatir Mathias tersinggung.


"Baiklah. Nanti besok aku akan pindahkan dataku ke laptop ini, biar laptopku dipakai olehmu." Ucap Mathias, karena dia yakin Ambar tulus menyarankan agar dia menggunakan laptop Rulof.


"Benarkah, Mas? Aku bisa memakai laptopmu?" Tanya Ambar, meyakinkan dengan hati senang. Karena dia pernah melihat laptop Mathias sama dengan laptop yang ada di kantor Sari. Jadi dia sudah terbiasa menggunakannya.


Mathias menggangguk dan menatap Ambar dengan heran. "Kenapa kau begitu senang mau memakai laptopku? Tanya Mathias ingin tahu, saat melihat reaksi Ambar.


"Kalau begitu, nanti besok baru bisa kau gunakan. Karena banyak dataku yang harus dipindahkan." Ucap Mathias lagi.


"Iyaa, Mas. Ngga usah buru-buru, karna sekarang aku belum perlu." Ucap Ambar,  untuk menenangkan Mathias.


"Oooh, iyaa. Ini ada Hp, kau bisa memakainya." Ucap Mathias, sambil mengeluarkan Hp dari dalam tas dan memperlihatkan kepada Ambar.


Mathias memperhatikan reaksi Ambar ketika melihat ponsel Rulof. "Astagaa Mas, kenapa beli Hp secanggih itu untukku? Aku yang ini saja sudah cukup, lebih baik untuk Mas saja." Ucap Ambar terkejut, melihat Hp yang diberikan Mathias keluaran terbaru dari merek terkenal.


Mathias melihat Ambar dengan seksama. 'Apakah Ambar tidak tahu ini adalah ponsel Rulof?' Tanya Mathias dalam hati dan sangat heran. Tetapi dia tidak ingin membahasnya lebih lanjut, karna akan menceritakan kejadian malam itu. Kalau dia katakan itu ponsel Rulof, Ambar akan menanyakan dari mana dia mendapatkannya. Rulof sudah meninggal, biarlah semua yang dilakukan terkubur bersamanya.

__ADS_1


"Kalau begitu, nanti kau memakai ponselku setelah aku memindahkan semua dataku. Biar ponselmu dipakai oleh Juha. Mungkin dia bisa belajar secara online, atau sekali-sekali main game." Ucap Mathias, setelah melihat reaksi dan mendengar ucapan Ambar.


"Oooh, iya Mas. Ini sudah lama aku mau meminta persetujuanmu. Apakah aku bisa membantu di kantormu?" Tanya Ambar pelan dan ragu-ragu.


"Kau masih mau bekerja? Apakah yang aku berikan padamu tidak cukup?" Tanya Mathias terkejut mendengar permintaan Ambar.


"Bukan begitu, Mas. Aku bukan mau bekerja, tetapi aku hanya mau membantu. Aku tidak datang setiap hari, hanya sekali-sekali saja. Jadi Mas tidak perlu menggajiku." Ucap Ambar pelan, karena melihat wajah Mathias yang mengeras.


"Katakan dengan jelas, karna aku tidak mengerti yang kau katakan." Ucap Mathias tegas, karena belum bisa mencerna maksud ucapan Ambar yang mau bekerja.


"Begini, Mas. Aku bisa bantu Bagas merapikan bagian keuangan. Karena sekarang aku sudah punya laptop, aku bisa kerja dari rumah sambil menemani Ibu. Hanya sekali-sekali aku ke kantor untuk mengatur bersama Bagas. Aku pernah bantu bagian keuangan di restoran Sari." Ucap Ambar pelan, karena melihat wajah Mathias yang masih tegang.


Mathias menarik nafas panjang dan menghebuskannya perlahan. "Siniii.." Ucap Mathias, memanggil Ambar agar mendekatinya.


"Maafkan, aku. Tadi aku emosi mendengarmu meminta ijin untuk bekerja." Ucap Mathias, sambil memeluk Ambar dengan erat. Dia sudah mengerti maksud Ambar.


"Baiklah, besok kau bisa ikut denganku ke kantor untuk membantu Bagas. Setelah ini, aku akan memintanya untuk tidak usah mencari karyawan baru untuk bagian keuangan." Ucap Mathias, karena beberapa hari lalu dia meminta Bagas untuk menambah karyawan. Diantaranya bagian keuangan, karena mereka sedang menangani banyak kasus penting selain kasus TQ.


"Benarkah, Mas?" Tanya Ambar dengan hati senang, kemudian balas memeluk Mathias dengan erat ketika melihat Mathias mengangguk dengan wajah yang sudah tenang.


"Benar, tetapi kau harus terima gaji seperti yang lain. Nanti kau bisa atur dengan Bagas. Semua urusan keuangan kalian berdua yang mengaturnya, karena aku ngga punya waktu untuk memikirkannya." Ucap Mathias, masih memeluk Ambar, karena pemikiran Ambar mengurangi sedikit beban pikirannya tentang masalah kantor.


"Aku mengijinkanmu bekerja, karena kau bisa bekerja dari rumah. Supaya Juha jangan terabaikan, karna kau sibuk bekerja di luar. Nanti aku bicara dengan Ibu, karna mungkin awal-awal kau dan Bagas akan sibuk merapikan data keuangan di kantor. Sehingga akan memiliki sedikit waktu bersamanya." Ucap Mathias, sambil terus memeluk Ambar dan mengelus punggungnya untuk menenangkannya.


Mathias menyadari, sikapnya tadi mengejutkan bagi Ambar. Sehingga dia tetap memeluk untuk menenangkannya. Ambar mengangguk dalam pelukan Mathias dengan hati yang sangat bersyukur.

__ADS_1


...~●○♡○●~...


__ADS_2