
~β’Happy Readingβ’~
Mathias sudah berangkat ke Jogja untuk menangani kasus clientnya. Dia sudah 4 hari berada di Jogja untuk bekerja menyelesaikan kasus clientnya di sana. Setiap hari setelah bekerja, Mathias selalu menghubungi Ibunya dan juga Ambar untuk menanyakan kabar mereka.
Seperti hari ini, Mathias telah kembali ke hotel dan membersihkan tubuhnya sebelum beristirahat. Dia teringat belum menghubungi Ibunya atau suster. Ketika Ibunya tidak merespon panggilannya, Mathias menghubungi suster Ibunya.
π±"Alloo, suster. apakah Ibu baik-baik saja?" Tanya Mathias, saat suster merespon panggilannya.
π±"Iyaa, Pak. Hari ini Ibu istirahat lebih awal, karena tadi berbicara agak lama dengan Bu Ambar." Ucap suster menjelaskan.
π±"Ooh, ok. Kalau begitu, suster silahkan beristirahat juga." Ucap Mathias, kemudian mengakhiri pembicaraan mereka. Setelah itu Mathias menghubingi Ambar.
π±"Alloo, Ambar. Sudah mau tidur?" Tanya Mathias, saat Ambar merespon panggilannya.
"Belum, Mas. Ini lagi otak atik laptop Alm, tapi tidak bisa karna tidak tahu passwordnya." Jawab Ambar, menjelaskan yang sedang dilakukannya.
π±"Oooh. Ngga usah dipaksakan, nanti rusak. Kalau sudah kembali, aku akan minta tolong orang membukanya." Ucap Mathias, berusaha mrnjelaskan dengan tenang. Karena dia berharap Ambar tidak membuka laptop Rulof.
π±"Ooh iyaa, Mas. Trima kasih sudah diingatkan." Ucap Ambar, lega.
π±"Sekarang simpan dulu laptopnya, karna ada yang mau aku bicarakan denganmu." Ucap Mathias, tetap tenang.
π±"Sudah, Mas. Gimana?" Tanya Ambar, setelah meletakan laptopnya di lemari.
π±"Begini, aku mungkin pulang paling lambat hari Sabtu malam atau Minggu pagi. Karna hari Minggu malam ada acara yang harus kuhadiri."
π±"Untuk acara tersebut, aku mau mengajakmu ikut. Jadi tolong siapkan bajumu, karna pertemuannya resmi dan kumpul dengan banyak orang. Nanti aku mengajak Bagas juga, supaya kau ada teman bicara ketika aku sedang berbicara dengan yang lain." Ucap Mathias, yang sudah memikirkannya saat diemail undangan acara privat oleh Erwin.
Erwin mengudangnya, karena akan memperkenalkannya kepada rekan bisnisnya. Tetapi belum mengatakannya kepada Mathias. Erwin sangat senang dan puas dengan cara Mathias menangani kasus perusahannya di Surabaya.
π±"Apakah aku harus ikut, ya, Mas." Tanya Ambar ragu-ragu, karena dia jarang bertemu dan berkumpul dengan orang banyak., apalagi yang belum dikenalnya.
π±"Bukan harus ikut, tetapi aku ingin mengajakmu ikut denganku." Ucap Mathias, tegas.
__ADS_1
π±"Baiklah, Mas. Nanti aku lihat, mungkin ada baju yang cocok." Ucap Ambar pasrah, karena tidak mau mengecewakan Mathias.
π±"Tolong cocokan dengan jasku yang aku bawa waktu itu, yaa. Tetapi besok saja, sekarang waktunya tidur. Supaya besok bisa dipilih dengan baik." Ucap Mathias menyemangatinya.
π±"Iyaa, Mas. Syukur Mas bilang sekarang, kalau besok-besok, pasti akan buru-buru." Ucap Ambar, sambil menghitung waktu yang tersisa.
π±"Iyaa. Karna sibuk, aku lupa memberitahumu. Aku harus cepat kembali ke Jakarta sebelum Minggu malam." Ucap Mathias menjelaskan.
π±"Iyaa, Mas. Nanti aku siapkan yang diperlukan." Ucap Ambar, mulai mengerti.
π±"Ok, kalau begitu, mari kita beristirahat. Selamat tidur." Ucap Mathias.
π±"Selamat tidur, Mas." Ucap Ambar dan mengakhiri pembicaraan mereka.
*((**))*
Mathias kembali ke Jakarta hari Sabtu malam, agar bisa beristirahat sebelum menghadiri undangan dari Erwin Senjaya.
Ketika tiba di depan kamar Juha, Mathias tertegun mendengar percakapan Ambar dan Juha di dalam kamar. "Mama, bolehkah Juha berdoa untuk Om Mathias?" Tanya Juha, yang mau berdoa untuk tidur.
"Boleh. Bukan boleh, harus. Supaya Om Mathias dilindungi, kerjanya lancar dan pulang ke rumah dengan selamat." Ucap Ambar, sambil mengacak rambut Juha dengan sayang.
Mendengar Juha berdoa. Mathias tidak jadi membuat kejutan untuk mereka, tetapi turun menuju ruang makan untuk mengambil air mineral.
"Mau minum panas, Pak." Tanya Seni, melihat Mathias telah duduk di meja makan. Karna dia berpikir, nanti Nyonyanya yang menyiapkan makan malam jika mau makan.
"Boleh, Seni. Air mineral hangat saja. Trima kasih." Jawab Mathias, kemudian Seni mengambil yang diminta oleh majikannya.
Ambar sangat terkejut, saat turun dan melihat Mathias sedang duduk di meja makan. "Kapan pulangnya, Mas. Ko' ngga bilang-bilang?" Ucap Ambar panik, karena makan malam sudah habis.
"Belum lama pulangnya, mau buat kejutan untuk kalian." Ucap Mathias, tersenyum. 'Tetapi aku yang dapat kejutan.' Ucap Mathias dalam hati.
"Mas mau makan apa? Mau aku pesan sesuatu dari luar? Karna makanannya sudah kami habisin." Ucap Ambar, sambil mendekati Mathias.
__ADS_1
"Kalau ada mie instan kua, itu saja. Sebenarnya sudah makan di pesawat, tetapi aku ingin makan panas dan berkua." Ucap Mathias. Ambar mengangguk dan menuju dapur untuk menyiapkan yang diminta oleh Mathias.
Tidak lama kemudian, semangkuk mie instan lengkap dengan telur dan sayur disajikan Ambar. Mathias berdoa dan langsung menyantapnya.
"Thanks, aku bisa tidur dengan nyenyak malam ini. Nanti besok baru kita ngobrol, ya." Ucap Mathias, saat melihat Ambar hendak berbicara. Ambar mengangguk dan membawa perlengkapan makan Mathias ke dapur dan mencucinya.
Mathias berjalan menuju kamarnya, sambil berpikir tentang apa yang dikatakan Juha. Dia duduk di tempat tidur, kemudian ke kamar mandi untuk menyikat giginya.
Setelah itu, dia mematikan AC dan kembali keluar menuju kamar Juha. Mathias memutuskan untuk tidur bersama Juha. Karena dia berpikir mungkin Juha merindukan Papanya dan saat ini dia telah menjadi Papanya.
Keesokan harinya, Ambar telah bangun dengan Seni untuk mempersiapkan sarapan untuk mereka. Ambar merasa heran, Mathias belum bangun padahal mereka mau ke Gereja.
Ambar menuju kamar Juha untuk membangunkannya. Ambar sangat terkejut melihat Mathias sedang tidur sambil memeluk Juha. Dia menutup pintu kembali dengan perlahan dan turun kembali ke dapur. 'Biarkan mereka tidur dulu, nanti ke Gereja yang jam 10 saja.' Ucap Ambar dalam hati. Karena tidak sampai hati mau membangunkan mereka.
Juha yang sudah bangun, langsung melihat siapa yang memeluknya. Dia langsung mengusek wajahnya di dada Mathias dengan senang. Mathias yang merasa ada yang mengusek-ngusek di dadanya, langsung membuka matanya dan mengumpulkan kesadarannya.
Melihat siapa yang ada dalam pelukannya, Mathias langsung mengangkat tangannya.
"Selamat pagi Om." Sapa Juha setelah bisa bergerak dengan leluasa.
"Pagi, Juha. Jangan menggusek wajahmu seperti itu lagi, nanti bisa lecet. Itu lihat wajahmu pada merah semua.
"Iyaa, Om. Tadi Juha mau bangun, sudah lapar." Ucap Juha dengan wajah yang menggemaskan, membuat Mathias terseyum. Tetapi ketika melihat Juha menatapnya dalam diam, Mathias berhenti tersenyum.
"Ada apa, Juha. Kenapa kau melihat Om begitu?" Tanya Mathias, dengan berbagai tanya.
"Bolehkah Juha memanggil Om, Papathias?" Tanya Juha, pelan dan takut. Mendengar yang dikatakan Juha, Mathias makin tertegun. Karena Thias adalah nama kesayangan kedua orang tuanya, kepadanya.
"Boleee, kalau Juha mau memanggil begitu." Ucap Mathias, jadi terharu. 'Pasti dia sedang merindukan Papanya.' Mathias membatin, kemudian memeluknya.
Mathias bangun, duduk di tepi tempat tidur dan bersyukur. Dia melihat, Juha sedang melakukan hal yang sama. Mathias tersenyum, sambil mengacak rambutnya. "Ayooo... Kita turun, jangan sampai perutmu nangis." Ucap Mathias, sambil memegang tangan Juha.
~βββ‘ββ~
__ADS_1