
~•Happy Reading•~
Ambar yang baru masuk kantor Advokat, langsung menekan bel yang ada di ruang tunggu. Sesuai instruksi yang tertera, untuk menekan bel. Kemudian Ambar duduk di sofa yang ada di ruang tunggu.
Bagas yang ada di ruang kerjanya segera keluar ke ruang tunggu saat mendengar bunyi bel. Karena dengan bunyi bel tersebut, mungkin ada kasus TQ yang harus mereka tangani.
Mathias telah membuat aturan yang tidak tertulis, bagi mereka yang membutuhkan jasanya dalam kasus TQ, boleh datang langsung. Tidak perlu membuat janji terlebih dahulu.
Kalau Mathias ada di kantor, dia yang akan langsung menerimanya. Namun jika tidak berada di kantor, Bagas yang akan menerima dan mencatat. Bagas akan menghubunginya untuk mengatur schedule pertemuan berikutnya.
Seperti saat ini, Sari menyuruh Ambar datang ke kantor Advokad Mathias untuk berkonsultasi tentang masalah hukum yang sedang dihadapinya. Maka sampailah Ambar di ruang tunggu kantor Mathias, sesuai dengan alamat yang diberikan olah Sari.
"Selamat siang, Bu. Ada yang bisa kami bantu?" Tanya Bagas, setelah melihat Ambar yang sedang duduk di ruang tunggu. Ambar langsung berdiri dan mendekati Bagas.
"Selamat siang, Mas. Apakah saya bisa bertemu dengan Pak Mathias?" Tanya Ambar. Itulah yang disampaikan Sari, untuk bertemu dengan Pak Mathias.
"Ibu ada keperluan apa dengan Pak Mathias?" Tanya Bagas.
"Oooh, saya mau konsultasi saja dengan Pak Mathias. Karena saya butuh nasehatnya di bidang hukum." Ucap Ambar pelan.
"Nama Ibu siapa?" Tanya Bagas lagi.
"Nama saya Ambar, Mas." Jawab Ambar pelan.
"Baik... Ibu tunggu sebentar, ya." Ucap Bagas dan segera masuk meninggalkan Ambar di ruang tunggu. Ambar kembali duduk menunggu.
Mathias yang sedang membaca dokumen, mendengar ketukan di pintu.
"Masuuk... Ada apa Bagas?" Tanya Mathias setelah Bagas ada di dalam ruangannya.
"Pak, diluar ada seorang Ibu mau bertemu dengan bapak. Beliau mau berkonsultasi masalah hukum. Namanya Ambar." Ucap Bagas melapor, Mathias langsung melihat Bagas, sepertinya dia pernah dengar nama itu. Tapi di mana, dia agak lupa.
__ADS_1
"Baiklah... Disuruh masuk saja." Ucap Mathias, tidak mau berpikir untuk menebak lagi. 'Kalau sudah pernah bertemu, ketika melihat orangnya, pasti akan teringat.' Pikir Mathias.
Bagas kembali keruang tunggu dan mengajak Ambar mengikutinya. Kemudian mempersilahkan Ambar masuk ke ruang kerja Mathias. Bagas kembali menutup pintu setelah Ambar masuk.
"Silahkan duduk." Ucap Mathias pelan saat melihat wanita di depannya. Dia langsung teringat, ini adalah teman Sari.
"Apa yang bisa dibantu, Bu?" Tanya Mathias tenang. 'Ternyata, Ambar tidak ingat atau mengenalku.' Ucap Mathias dalam hati.
"Maaf, Pak. Saya bisa bertemu dengan Pak Mathias? Karna ada yang mau saya konsultasikan dengan beliau." Ucap Ambar pelan. Dipikirannya, pengacara yang akan dimintai tolong itu sudah tua. Karena tidak mungkin ada pengacara muda dan keren seperti orang yang di depannya akan membantu secara gratis.
"Kenapa harus dengan Pak Mathias?" Tanya Mathias, heran dan melihat mimik wajah Ambar.
"Kata teman saya, Pak Mathias bisa membantu saya secara gratis." Ucap Ambar pelan, karena malu.
"Kalau mau gratis, silahkan bicara sekarang. Karna kalau beberapa saat lagi, anda akan dikenakan tarif." Ucap Mathias dengan wajah serius. Tetapi hatinya tersenyum melihat Ambar yang kebingungan dengan wajah memerah, karena malu.
Ambar melihat sekelilingnya mencari Pak Mathias, tetapi tidak ada orang lain dalam ruangan tersebut. Hanya dirinya dan pemgacara di depannya.
"Anda sedang berbicara dengannya sekarang. Jadi lekas katakan apa yang bisa kami bantu, sebelum saya memasang tarif." Ucap Mathias, tapi tersenyum dalam hati melihat wajah Ambar yang terkejut.
"Oooh, maaf Pak. Saya tidak menyangka anda Pak Mathias. Begini, Pak." Ucap Ambar, cepat dan malu. "Sudah... Bicara pelan-pelan saja, nanti ada yang ketinggalan, atau saya yang tidak bisa nangkap maksud anda." Ucap Mathias, karena melihat Ambar yang grogi dan berbicara dengan cepat.
Melihat Ambar jadi ragu-ragu, Mathias terseyum lagi dalam hati. "Sudah... Tenang saja, saya tidak akan kenakan tarif. Jadi bicara saja yang sewajarnya." Ucap Mathias untuk menenangkan Ambar.
"Ooh, iya Pak. Terima kasih. Saya butuh pendapat bapak mengenai masalah yang sedang saya hadapi." Ucap Ambar pelan dan menarik nafas perlahan.
"Suami saya baru meninggal beberapa waktu lalu. Tetapi belakangan ini, saudara dan Ibunya datang kepada saya untuk meminta bagian dari peninggalan Alm. suami saya, Pak." Ambar mulai menjelaskan.
"Sedangkan saya tidak tau apa saja yang ditinggalkannya. Karena Alm. tidak pernah membicarakan hal tersebut pada saya dan juga tidak meninggalkan surat wasiat." Ucap Ambar, Mathias terkejut tetapi menyimak yang dikatakan Ambar.
"Kalau menurut hukum, jika ada harta yang ditinggalkan menjadi hak saya dan anak saya, atau harus berbagi dengan keluarganya, Pak? Anak kami satu orang, baru berusia 5 tahun." Ucap Ambar sambil menghembuskan nafasnya pelan.
__ADS_1
"Sebelum saya menjawab atau bertanya, saya turut berduka cita." Ucap Mathias serius, karena terkejut mengetahui suaminya telah meninggal.
"Trima kasih, Pak." Ucap Ambar, dan menunduk.
"Kembali kepada pertanyaan tadi, apakah anda menikah dengan Alm. suami anda?" Tanya Mathias, sambil menatap Ambar.
"Iyaa, Pak. Kami menikah di Catatan Sipil dan Gereja." Jawab Ambar, jelas.
"Kalau begitu, tidak usah pikirkan perkataan keluarganya. Kalau anda mau membagi untuk mereka, yaa, menurut kerelaan hati anda saja. Jangan merasa terpaksa dan jangan mau dipaksa." Ucap Mathias, tenang.
"Mereka sekarang sedang menggugat saya, karena menurut mereka, Alm. sudah menyerahkan sebagian hartanya untuk istri mudanya juga. Jadi sekarang mereka semua sering datang bergantian ke rumah untuk meneror saya." Ucap Ambar lagi, mengingat kedatangan Inge dan suaminya, bergantian dengan yang lainnya yang tidak kenalnya.
"Kata mereka juga, saya mau dilaporkan ke Polisi kalau tidak menuruti apa yang mereka katakan. Makanya teman saya Sari, menyuruh saya berkonsultasi dengan Pak Mathias." Ucap Ambar, dan bernafas lega setelah menyampaikan yang menjadi beban pikirannya.
"Istri muda? Siapa yang bilang dia istri muda? Apakah suami anda pernah katakan itu?" Tanya Mathias makin heran.
"Keluarganya yang bilang, Pak. Karna waktu Alm. meninggal, wanita itu datang melayat dan selanjutnya mereka semua dekat. Tapi menurut temanku, mungkin itu selingkuhan Alm. suami saya." Ucap Ambar makin mendunduk, karna malu membicarakan hal itu. Dan Mathias mengerti melihat rona wajah Ambar.
"Begini, mengenai istri muda, tidak usah dipikirkan yang belum pasti itu. Sekarang yang harus dipikirkan, berapa banyak harta yang ditinggalkannya, sampai banyak orang ribut memperebutkannya?" Tanya Mathias, serius.
"Saya juga tidak tahu, Pak. Karna Alm. tidak pernah memberi tahukan kepada saya. Mereka bilang ada banyak tanah, tapi saya tidak pernah lihat sertifikatnya. Ada banyak uang di bank, tetapi saya tidak pernah lihat buku bank atau ATM nya. Mereka mala menuntut uang apa yang dari kantornya juga, padahal saya sendiri tidak tahu." Ucap Ambar, pelan dan menunduk.
"Begini, ini saran saya. Yang pertama ; mulai sekarang coba peduli dengan semua itu, dan cek kebenarannya. Bongkar semua tempat di rumah dan periksa, dan temukan surat-suratnya. Jika benar ada, anda cari tempat yang aman dan menyimpan dengan baik. Mulai sekarang, hati-hati untuk menanda tangani sesuatu.
"Yang kedua ; jika anda bekerja, anda minta libur untuk beberapa hari. Bawa surat kematian suami anda, kartu keluarga, ktp anda ke bank tempat suami anda menabung. Lalu cek, apa benar suami anda memiliki tabungan yang banyak."
"Yang ketiga ; anda ke kantor suami anda dan tanya, mengenai semua uang yang didapat dari kantornya. Anda harus siap juga, jika suami anda memiliki hutang." Ucap Mathias, beruntun.
"Yang keempat ; selama semuanya belum jelas, jangan menerima keluarga suami anda di rumah. Biarkan mereka berteriak di luar pagar. Jangan memasukan mereka ke halaman, apalagi ke dalam rumah." Ucap Mathias tegas, dan Ambar mengangguk mengerti.
~●○♡○●~
__ADS_1