
~•Happy Reading•~
Ambar terus menatap Mathias, seakan tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Apa maksud, Pak Mathias?" Tanya Ambar, sambil terus memegang dadanya karena terkejut. Dia tidak menyangka, Mathias akan bertanya kepadanya tentang hal itu.
"Saya sedang mengajak anda menikah, karena sebelum anda menikah dia akan datang terus mengganggu anda. Atau anda sudah punya rencana mau menikah dengan seseorang?" Tanya Mathias, serius. Karena dia tidak memikirkan kemungkinan itu.
"Astagaa, Pak. Jangankan punya rencana, memikirkannya saja tidak pernah." Ucap Ambar, sambil menggoyangkan kedua tangannya di depan wajah Mathias.
Mathias sedikit menarik nafas lega, mendengar apa yang dikatakan Ambar. "Ini surat perjanjian telah saya buat, anda silahkan membacanya." Ucap Mathias, sambil memberikan 2 lembar kertas bermaterai kepada Ambar.
Jika anda bersedia, silahkan tanda tangani. Kalau ada point yang anda tidak setuju, tinggal coret dan ganti dengan yang anda inginkan." Ucap Mathias masih serius, karena ini adalah keputusan yang sangat serius baginya.
Dia sudah putuskan saat kembali dari Jogja dan membuat surat perjanjiannya sambil menunggu kedatangan Ambar ke kantornya. Ambar membaca surat perjanjiannya, sambil memegang dadanya yang sedang berdegup kencang.
"Kita akan menikah di catatan sipil secara resmi. Jadi saya bisa berhadapan dengannya sebagai suami anda. Walaupun kita sudah menikah, saya tidak akan menyentuh anda tanpa persetujuan anda." Ucap Mathias menjelaskan, maksud dari surat perjanjiannya.
"Yang saya minta dari anda, tolong temani Ibu saya saat saya tidak ada di rumah. Karena beliau sekarang sedang sakit di rumah. Saya tidak meminta anda merawatnya, karena ada suster yang merawatnya." Ucap Mathias menjelaskan, bagian dari sisinya.
"Saya hanya meminta anda menemaninya, karna mungkin lebih baik ada wanita yang bisa diajak bicara atau bercerita." Ucap Mathias, menjelaskan isi surat perjanjiannya tentang point menemani Ibunya.
Ambar membaca surat perjanjiannya berulang-ulang sambil memikirkannya. Karena dia tidak pernah berpikir, Mathias akan meminta dia menikah dengannya.
__ADS_1
"Apakah jika saya menikah dengan Pak Mathias, kami akan tinggal di rumah bapak?" Tanya Ambar pelan, mengingat anaknya dan Seni. Karena itu tidak tercantum dalam surat perjanjian, sedangkan dia ada punya rumah sendiri.
"Oooh, tidak perlu, kalian boleh tinggal di rumah yang sekarang. Anda hanya datang saja ke rumah saya saat Ibuku belum istrahat. Setelah itu, anda boleh pulang ke rumah lagi." Ucap Mathias. Mendengar yang dikatakan Mathias, Ambar menjadi bingung. Karena yang dikatakan Mathias, akan sangat merepotkannya, harus bolak-balik rumahnya dan rumah Mathias.
"Ooh, iya. Saya lupa mengatakannya, kita tinggal satu komplek, hanya lain blok. Jadi anda akan mudah, bolak-balik rumah anda dan rumah orang tua saya." Ucap Mathias menjelaskan, ketika melihat wajah Ambar yang bingung.
Ambar mulai mengerti yang dimaksudkan Mathias. Kemudian dia melihat lagi surat perjanjiannya. "Ooh, iya Pak. Saya kira Ibu bapak tinggal jauh dari rumah kami." Ucap Ambar, dengan hati sedikit lega.
"Dan mengenai point ini, bisa bapak ganti jumlahnya dengan 1/4nya saja?" Ucap Ambar, sambil menunjuk angka nominal uang yang akan diberikan Mathias setiap bulan untuknya.
"Sebentar, jadi anda setuju akan menikah dengan saya?" Tanya Mathias, makin serius mendengar pertanyaan Ambar. Karena pertanyaan itu, mengisyaratkan Ambar bersedia menikah dengannya.
"Iyaa, Pak." Ucap Ambar pelan, sambil menunduk malu dengan wajah memerah. Dia telah membaca semua syarat yang diajukan oleh Mathias untuk menikah dengannya dan tidak ada yang merugikannya. Mala hampir semua menguntungkan bagi pihaknya.
Kalau untuk hanya menemani Ibunya, bukan sesuatu yang merugikannya. Dia bukan dijadikan perawat, karena tercantum ada perawat yang merawat Ibunya.
Jadi sebenarnya, itu tidak perlu diminta oleh Mathias dan tidak perlu mencantumkannya dalam surat perjanjian. 'Tetapi mungkin karna mereka belum kenal dengan baik, Mathias menganggap itu adalah bagian dari syarat untuk mereka bisa menikah.' Pikir Ambar dan berkata dalam hati.
Dengan hati yang berserah kepada Tuhan, Ambar menerima tawaran yang diberikan kepadanya. Karena bukan sesuatu yang buruk, mereka akan menikah secara resmi.
Mathias menarik nafas lega, mendengar jawaban Ambar sambil menatap Ambar yang sedang menunduk dengan wajah yang memerah. Mathias memahami yang dirasakan Ambar atas tawarannya yang tiba-tiba.
"Point yang itu, kau coret saja dan ganti sendiri jumlahnya." Ucap Mathias, tidak bersikap formal lagi. Ambar mencoret dan menulis angkanya yang sesuai dengan pemikirannya. Kemudian menyerahkan suratnya kepada Mathias.
__ADS_1
"Ini bukan 1/4 lagi jumlahnya. Apakah ini cukup untuk kebutuhan satu bulan?" Tanya Mathias, saat melihat angka yang ditulis Ambar kurang dari 1/4 yang ditawarkan Mathias.
"Sudah, Pak. Tidak usah dibahas lagi, saya tidak suka melihatnya. Nanti kalau kurang, saya akan kasih tau bapak saja." Ucap Ambar dengan wajah memerah, sambil menggoyang kedua tangannya, karena harus membicarakan uang.
"Baiklah, kalau begitu tanda tangan di kedua lembar ini, dan pegang satunya." Ucap Mathias, sambil tanda tangan. Ambar berdoa dalam hati dan menanda tangani surat perjaniian tersebut.
Setelah tanda tangan, dia menyerahkan kedua lembarnya kepada Mathias. "Pak Mathias pegang saja keduanya." Ucap Ambar, sambil mendorong kedua lembar kertasnya ke arah Mathias. Ambar merasa Mathias bisa dipercaya dan bisa menolongnya dengan Juha, walau pun baru bertemu dengannya beberapa kali.
'Kalau keluarga Mas Rulof tidak berlaku demikian, yang macam-macam seperti sekarang, mungkin aku tidak akan bertemu dengan Pak Mathias. Apalagi sampai menikah dengannya.' Ambar berkata dalam hati lagi.
Mathias menatap Ambar seakan tidak percaya. "Kau yakin, aku yang menyimpan dua-duanya?" Tanya Mathias lagi, siapa tahu Ambar berubah pikiran. Tetapi Ambar mengangguk yakin dan mengisyaratkan agar Mathias saja yang menyimpannya. Mathias mengambil surat tersebut dan menyimpannya di laci meja kerjanya.
"Baiklah. sekarang, rubah panggilanmu padaku. Jangan lagi pak atau bapak. Mathias..." Ucap Mathias, agar Ambar bisa bersikap tidak formal terhadapnya dengan memanggil namanya.
Ambar menatap Mathias dengan ragu-ragu karena harus merubah panggilannya. Ambar merasa agak sulit merubahnya dengan tiba-tiba.
"Apakah di rumahmu ada kamar kosong?" Tanya Mathias, mengalihkan pemikiran Ambar dari sapaan mereka. Karena dia berencana untuk tidur di rumah Ambar.
"Ada, Pak. Di rumah masih ada dua kamar kosong." Ucap Ambar menjelaskan, tanpa melihat wajah Mathias dan tidak mengerti maksud pertanyaannya.
Ketika melihat wajah Mathias yang serius, Ambar menyadari. "Ooh iyaa Mas, maaf. Sudah terbiasa. Ada dua kamar kosong, satu di bawa dan satu lagi di atas. Untuk apa, Pa... eh Mas?" Tanya Ambar, masih belum mulus untuk saling menyapa.
"Kau mau tempatkan aku tidur di kamar yang mana, terserah. Bagaimana baiknya menurutmu saja." Ucap Mathias, sambil berdiri dan menghubungi seseorang.
__ADS_1
"Sekarang, siap-siap kita ke catatan sipil untuk menikah." Ucap Mathias serius, setelah selesai berbicara dengan seseorang di telpon.
~●○♡○●~