
...~•Happy Reading•~...
Mathias mengambil surat-surat yang diberikan Ambar kepadanya dan memeriksa surat-surat tersebut satu persatu dengan teliti. Melihat itu, Ambar keluar dari kamar untuk mengambil minuman untuk Mathias.
Mathias terus memperhatikan lembar demi lembar surat dari kantor Rulof, karena surat-suratnya berupa satu bundelan. "Ini dimimum dulu, Mas." Ucap Ambar yang telah kembali sambil membawa segelas air mineral untuk Mathias.
"Ok, thanks." Ucap Mathias, lalu mengambil gelas dari tangan Ambar dan langsung meminumnya dalam sekali tarikan nafas. Kemudian mengembalilkan gelas kosong kepada Ambar dan terus meneliti surat-surat dari Kantor Rulof karena penasaran.
"Ambar, tolong catat nomor rekening ini. Nanti yang lain, kita bicarakan besok." Ucap Mathias, sambil memberikan lembaran kertas di tangannya untuk dicatat oleh Ambar. Setelah dicatat oleh Ambar, Mathias mengembalikan lembaran kertasnya ke tempat semula.
"Surat-surat ini di simpan dulu, jangan sampai ada yang tercecer." Ucap Mathias, sambil menyerahkan bundelan surat dari kantor Rulof kepada Ambar untuk di simpan. Ambar mengambil dan menyimpannya di dalam lemari, tidak lagi di dalam tasnya.
"Mari duduk di sini lagi dan dengarkan, besok pagi biar Seni yang mengantar Juha ke sekolah. Kau pergi ke bank yang tadi kau catat dari lembaran kertas yang kuberikan." Ucap Mathias serius, dan Ambar mengangguk mengerti.
"Aku ngga bisa antar, karena ada janji mau bertemu dengan client. Jadi kau pesan ojol atau mobil online ke bank tersebut. Nanti kirim pesan untukku tentang hasilnya." Ucap Mathias lagi.
"Nanti pagi baru kasih tau Ibu, kalau tidak bisa ke rumah untuk menemani Ibu. Katakan saja, kau harus pergi mengurus surat-surat yang berhubungan dengan Papa Juha. Aku akan kasih tau Ibu juga, biar Ibu tidak menunggumu." Ucap Mathias, mengingat Ibunya suka mengharapkan kehadiran Ambar.
"Iyaa, Mas. Kalau begitu aku siapin surat-surat yang harus dibawa sekarang, biar Mas bisa tolong periksa. Mungkin ada yang kurang, jadi besok pagi aku bisa lengkapi sebelum ke bank." Ucap Ambar berpikir cepat, melihat cara kerja dan ucapan Mathias. Kemudian dia menyerahkan tas kecil berisi surat-surat yang dimaksud kepada Mathias.
Mathias mengambil dan memeriksa semua surat-surat dokumen pribadi Ambar dan Rulof. "Sudah, ini sudah cukup, nanti besok pagi usahakan di copy untuk arsif." Ucap Mathias, mengingatkan.
"Baik, Mas. Nanti besok aku copy." Ucap Ambar, sambil mengisi semua surat-surat yang akan dibawa ke dalam tas yang akan dipakai besok ke bank.
"Mari kita beristirahat, karna besok aku harus berangkat pagi-pagi." Ucap Mathias, sambil naik ke tempat tidur dan disusul oleh Ambar.
*((**))*
Keesokan paginya, Ambar telah bangun lebih pagi. Karena Mathias akan berangkat kerja pagi-pagi. Seni juga sudah bangun untuk membantu Nyonyanya mempersiapkan sarapan. Setelah selesai masak, Seni membersihkan rumah karena Nyonyanya yang akan menyajikan sarapan untuk majikannya. Ketika sedang membersihkan ruang tamu, Seni dikejutkan oleh sapaan majikannya.
__ADS_1
"Pagi, Seni." Ucap Mathias yang baru keluar kamar dalam keadaan rapi untuk berangkat ke kantor.
"Selamat pagi, Pak." Ucap Seni tersenyum mengetahui majikannya telah tidur di kamar Nyonyanya. Dia tersenyum senang, karena itu adalah pertanda yang baik bagi Nyonyanya.
Mathias segera sarapan yang telah disiapkan untuknya. Ambar juga ikut sarapan bersama Mathias, karena akan keluar pergi ke bank.
Seni, nanti tolong antar Juha ke sekolah yaa, karna Ibu mau keluar." Ucap Mathias pelan, setelah selesai sarapan dan melihat Ambar sedang ke kamar. "Siiaapp, Pak." Ucap Seni, cepat.
Mathias segera ke kamar menyusul Ambar untuk mengambil tas, helm dan jacketnya. "Jangan lupa kabari aku, jika ada apa-apa. Jangan ambil keputusan sendiri." Ucap Mathias mengingatkan, sambil mencium kening Ambar.
"Iyaa, Mas. Aku akan mengabari." Ucap Ambar pelan, dan memeluk Mathias yang sedang mencium keningnya.
"Jangan buat kasus pribadi di sini, karna aku mau tangani kasus di kantor." Ucap Mathias sambil tersenyum, ngeledek Ambar yang tiba-tiba memeluknya. Ambar segera melepaskan pelukannya dan mendorong tubuh Mathias untuk keluar kamar dengan wajah yang memerah karena malu.
"Aku mengharapkan kau akan melakukannya saat aku tidak lagi sibuk. Aku pasti akan berkasus denganmu." Bisik Mathias sambil tersenyum keluar kamar dan meninggalkan Ambar yang sedang malu.
Mathias segera meninggalkan halaman rumah Ambar menuju rumah Ibunya. Setelah sampai di rumah, Ibunya baru bangun. Mathias segera ke kamarnya untuk berpamitan.
"Iyaa Bu. Thias ada pertemuan penting pagi ini, jadi harus berangkat pagi-pagi. Dan nanti Ambar mungkin tidak bisa menemani Ibu hari ini, karna mau keluar ngurusin surat-surat yang berhubungan dengan Alm. Papa Juha." Ucap Mathias menjelaskan, agar Ibunya bisa mengerti jika Ambar menghubunginya.
"Baik, Ibu mengerti. Sekarang segera berangkat, nanti terlambat." Ucap Bu Titiek. Mathias langsung mencium pipi Ibunya dan kembali ke kamarnya.
Ketika sampai kamar dan hendak berdoa, Mathias teringat laptop Ambar yang akan diperbaiki. Dia segera membuka lemari dan mengeluarkan ponsel dan dompet Rulof dari dalam kantong dan memasukannya ke dalam tas kerjanya.
'Nanti sampai kantor baru aku memeriksanya.' Ucap Mathias dalam hati. Karena dia mau membuka laptop Rulof, biar sekalian membuka ponselnya Rulof. Mathias baru memperhatikan ponsel Rulof, ternyata ponselnya juga yang canggih dari merk terkenal dan keluaran terbaru.
Mathias menyimpannya dalam tas, kemudian berdoa dan keluar kamar untuk berangkat ke kantor. Dia menjalankan motornya dengan agak cepat, karna khawatir terlambat.
Setelah tiba di kantor, Bagas sudah ada di ruangannya. "Bagas, tolong ikut saya ke ruangan. Ada yang akan saya bicarakan denganmu." Ucap Mathias, kemudian meninggalkan ruangan Bagas menuju ruang kerjanya di susul oleh Bagas.
__ADS_1
"Bagas, duduk dulu. Tolong hapus foto suami Bu Ambar dari ponselmu. Karna bagaimana pun ada anaknya, dia akan malu melihatnya apalagi diketahui oleh orang lain. Biar yang dilihat Pak Erwin kemarin itu yang terakhir. Kalau soal Angel, biar dia hidup menurut kehendaknya." Ucap Mathias, tegas.
"Baik, Pak. Saya mengerti." Ucap Bagas, sambil mengeluarkan ponselnya dan menghapus foto Angel dan Rulof.
"Sekarang saya mau minta tolong, apakah kau tau orang yang bisa membuka laptop dan ponsel yang terkunci?" Tanya Mathias, setelah Bagas duduk di depannya.
"Apakah laptop dan ponsel bapak terkunci?" Tanya Bagas terkejut, mendengar pertanyaan bossnya. Karena menurutnya, bossnya tidak mungkin lupa passwordnya.
"Bukan laptop dan ponselku, tetapi punya Alm. suami Bu Ambar. Ada yang mau saya periksa di laptop dan ponsel yang ketinggalan di apartemen." Ucap Mathias menjelaskan, dan Bagas mengangguk mengerti yang dimaksud oleh bossnya.
"Nanti saya hubungi teman saya, Pak. Dia biasanya tahu banyak hal, mungkin dia bisa membantu atau tau orang yang bisa membantu bapak." Ucap Bagas, yakin.
"Kalau begitu, tolong hubungi dan minta orangnya datang ke kantor hari ini, ya. Sekarang siap-siap, karna Pak Heru akan datang pagi ini." Ucap Marhias, mengingat janjinya dengan Pak Heru.
"Baik, Pak. Semua yang berhubungan dengan kasus Pak Heru sudah saya siapkan. Tinggal tunggu beliau datang saja untuk dibahas. Jadi sambil menunggu, saya akan menghubungi teman saya." Ucap Bagas, menjelaskan dengan cepat kepada bossnya.
"Baik, saya tunggu kabarnya." Ucap Mathias, tidak sabar ingin melihat isi laptop Rulof karena penasaran. Bagas segera keluar meninggalkan bossnya menuju ruang kerjanya.
Sepeninggal Bagas, Mathias mengeluarkan ponsel dan dompet Rulof. Dia meletakan keduanya di atas meja. Kemudian dengan pelan dan ragu-ragu dia membuka dompet Rulof. Dia mengeluarkan semua isinya di atas meja.
Mathias terkejut melihat ada satu kartu kredit dan ATM. Dia memeriksa ATM nya., ternyata dari 2 bank yang berbeda. Dia mengambil amplop dan memasukan semua kartu bersama uang tunai pecahan 100 dan 50 yang lumayan banyak dari dompet Rulof.
Kemudian dia memasukannya ke dalam tas kerjanya dan menghubungi Ambar, agar tidak terlambat.
📱"Ambar, sudah di mana?" Tanya Mathias saat Ambar merespon panggilannya.
📱"Masih di rumah, Mas. Seni dan Juha baru berangkat ke sekolah. Jadi ini baru mau berangkat." Ucap Ambar menjelaskan dan terkejut mendengar suara Mathias yang tegas.
📱"Baik. Nanti sudah di bank, jangan menyerahkan surat kematian yang asli kepada pihak bank. Bilang saja masih ada yang mau diurus lagi berhubungan dengan Alm. Jadi masih membutuhkan surat-surat itu." Ucap Mathias, menjelaskan.
__ADS_1
📱"Baik, Mas. Akan aku perhatikan." Ucap Ambar dan Mathias mengakhiri pembicaraan mereka, karna Bagas telah masuk ke ruang kerjanya.
...~●○♡○●~...