
~•Happy Reading•~
Bunyi alaram membangunkan Rulof. Ketika bangun dan melihat kamarnya kosong, dia menyadari, tadi malam Ambar tidak tidur bersamanya di kamar. 'Mungkin dia tidur dengan Juha.' Pikir Rulof, sambil mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi.
Setelah mandi dan berpakain, Rulof keluar kamar untuk sarapan. Dia akan berangkat pagi, karena harus mengantar Juha ke sekolah. Saat berjalan ke ruang makan, Rulof merasa heran dengan kondisi rumah yang sepi.
Ketika melihat Seni, Rulof bertanya padanya. "Seni, ini pada kemana semua? Apakah Juha belum bangun?" Tanya Rulof, sambil melihat ke lantai atas. "Ibu sedang keluar Pak. Kalau Juha sudah bangun, tetapi masih di kamar." Jawab Seni.
"Tolong buatkan sarapan dan panggil Juha, ya." Ucap Rulof, sambil duduk di meja makan untuk sarapan. Melihat hal itu, Seni terdiam. Dia merasa tidak enak untuk mengatakannya. Tetapi dengan berat hati, dia mengambil segelas air mineral panas dan meletakannya di depan majikannya.
"Apa ini, Seni? Saya tidak meminta air mineral. Saya mau minum kopi seperti biasanya." Ucap Rulof tidak mengerti dengan apa yang dilakukan oleh Seni. "Maaf, Pak. Tidak ada kopi lagi." Ucap Seni pelan dan tetap berdiri di dekat majikannya.
"Apa maksudmu dengan tidak ada kopi lagi? Bukankah saya baru beli awal bulan ini?" Ucap Rulof tidak mengerti. "Dan mana sarapanku?" Tanya Rulof lagi, yang mulai emosi. Karena Ambar tidak menyiapkan sarapan untuknya.
"Maaf, Pak. Kopinya sudah habis dan tidak ada sarapan juga, Pak." Ucap Seni pelan dan ragu-ragu.
"Bicara yang jelas, Seni. Saya tidak mengerti. Kenapa kopi saya yang sudah saya beli untuk stock satu bulan bisa habis dan tidak ada sarapan pagi ini." Ucap Rulof yang tidak mengerti dan mulai tidak sabar.
Melihat itu, Seni memberanikan diri untuk memberi tahukan majikannya. "Begini, Pak. Kemarin kopi bapak sudah di bawa oleh Kakak bapak." Ucap Seni. "Semua kopinya dibawa?" Tanya Rulof, seakan tidak percaya. "Iyaa, Pak. Semuanya." Ucap Seni tegas dan meyakinkan.
"Kalau begitu, buatkan sarapan saja. Saya minum dengan air mineral ini." Ucap Rulof, mulai surut emosinya. "Maaf, Pak. Tidak ada sarapan juga, karena tidak ada yang bisa di masak." Ucap Seni lagi.
"Apa maksudmu, dengan tidak ada yang bisa dimasak? Awal bulan ini saya sudah stok ayam, ikan, telur, dan lain-lain. Kau sendiri yang memasukan semuanya ke dalam kulkas." Ucap Rulof, lalu segera berdiri memeriksa kulkas. Seni hanya melihat dalam diam, reaksi majikannya. Dia bersyukur, Nyonyanya sedang keluar.
"Kemana semua yang saya beli dan masukan ke sini, Seni?" Ucap Rulof heran. Seni jadi gemas melihat majikannya yang tidak mengerti juga. "Semuanya sudah dibawa oleh Kakak bapak." Ucap Seni tegas, biar majikannya mengerti situasi yang sedang terjadi di rumah.
__ADS_1
"Semuanya ini, dibawa kemarin juga?" Tanya Rulof, seakan tidak percaya. Karena kemarin kakaknya telah menghubunginya, bilang mau bawa sedikit makanan dari rumah. Karena suaminya sedang kesulitan.
"Tidak, Pak. Kakak bapak sudah beberapa kali kesini mengambilnya. Kemarin yang terakhirnya, Pak." Ucap Seni dengan suara jelas.
"Kenapa kau tidak kasih tahu saya, supaya saya bisa beli lagi, setelah pulang kantor? Akhirnya begini, tidak ada untuk sarapan." Rulof mulai kesal.
Mendengar yang dikatakan majikannya, Seni tidak terima disalahkan. "Maaf, Pak. Saya tidak kasih tau bapak, tetapi dua hari lalu, Ibu sudah bilang sama bapak di kulkas cuma tinggal sedikit ayam, ikan dan telur." Ucap Seni, berani. Karena dia tahu Nyonyanya sudah mengatakannya.
Sedikit ayam itulah yang dimasak oleh Ambar untuk makan siang mereka kemarin. Tetapi belum sempat mereka mencicipinya, kakak majikannya telah datang dan makan. Sisanya juga dibawa pulang. Hal itu membuat Seni kesal, karena sudah cape'-cape' masak berdua Nyonyanya, tidak bisa mencicipinya.
"Oooh, mungkin saya tidak mendengarnya. Kalau begitu, tolong panggil Juha. Nanti kami sarapan di luar saja." Ucap Rulof, kemudian Seni berjalan ke kamar Juna dengan hati gerundel.
'Sangat tidak berpengertian. Kalau mereka sarapan di luar, lalu yang di rumah sarapan apa?' Tanya Seni dalam hati sambil geleng kepala. 'Untung Juha sudah dikasih minum susu tadi pagi sama Ibu.' Bantin Seni.
Kemudian, Seni berjalan bersama Juha menuju ruang tamu di mana Papanya telah menunggunya. "Juhaaa, kau belum ganti baju untuk ke sekolah?" Tanya Rulof terkejut, saat melihat Juha masih kenakan baju rumah.
"Kenapa, kau tidak mau masuk sekolah? Papa sudah bayar mahal TK mu." Ucap Rulof makin emosi, melihat Juha yang mulai rewel.
"Pokoknya, Juha tidak mau sekolaah. Juha cape' jalan, Papaaa. Sekarang saja masih cape'." Ucap Juha sudah mau menangis.
"Kenapa kau bisa cape? Kau cuma belajar dan bermain di sana. Papa mengantarmu dengan mobil sampai sekolah. Kalau malas, jangan alasan cape'." Ucap Rulof mulai marah, karena melihat Juha mulai rewel dan malas ke sekolah.
"Juha capeee, karna jalan kaki tiap hari dengan Mama dari stasiun. Pokoknya, Juha tidak mau sekolaaah." Ucap Juha, lalu berlari ke kamarnya sambil menangis.
"Seni, benarkah mereka jalan kaki dari stasiun?" Tanya Rulof. Dia meragukan yang dikatakan Juha, karena dari stasiun ke rumahnya lebih dari 500 m. Dari gerbang depan komplek ke rumahnya saja, bisa 500 m.
__ADS_1
"Saya tidak tau, Pak. Karna saya tidak pernah melihat. Yang saya tahu, setiap sore Ibu memijit betis Juha setelah selesai memandikannya." Ucap Seni, menjelaskan.
"Keterlaluan Mamanya, sekarang ada banyak angkutan online tinggal pesan. Mala anaknya diajak jalan kaki." Ucap Rulof menggerutu.
Seni yang mendengarnya, langsung melihat majikannya dengan takjub. 'Ini Pak Rulof lagi halu atau mimpi? Memangnya, pesan angkutan online ngga pake bayar?' Ucap Seni dalam hati.
'Mau beli telur saja, Ibu masih pinjam uang sama saya. Ini mau naik angkutan online.' Ucap Seni ngebatin dan menggelengkan kepalanya.
Selama ini, Seni mengira Nyonyanya orang yang sangat irit. Karena menurutnya, Nyonyanya sangat baik. Tetapi kalau soal uang terlalu hati-hati dan cendrung irit. Tetapi mendengar pertengkaran mereka tadi malam, Seni jadi mengerti. Bu Ambar bukan irit, tetapi memang tidak punya uang.
Sambil berjalan ke belakang untuk mencuci pakaian., dia berpikir sesuatu yang tidak masuk akal. Mana mungkin Bu Ambar tidak punya uang. Karena rumah mereka bagus, suaminya punya mobil bagus. Tetapi melihat gajinya dibayar oleh majikannya, dia kini mengerti. Nyonyanya ternyata bukan saja baik hati, tetapi sangat sabar.
'Kalau dapat saya, sudah ta kucek-kucekkk' Ucap Seni dalam hati, sambil mengucek baju di tangannya, dan jadi tersenyum sendiri.
"Seniii." Panggil Rulof, di belakang Seni.
"Eeeh, Iyaa, Pak." Jawab Seni terkejut, karena tiba-tiba dipanggil majikannya.
"Ini duit. Tolong beli makanan untuk Juha, karna saya mau ke kantor." Ucap Rulof, sambil menyerahkan selembar uang 50.000.
"Iyaa, Pak." Ucap Seni, sambil berdiri lalu mengeringkan tangannya untuk mengambil uang dari tangan Rulof.
Kemudian dia ikut jalan keluar untuk membukakan pagar, karena Rulof hendak berangkat ke kantor. Seni menggelengkan kepalanya, karena majikannya tidak melihat atau pamit sama ansknya yang lagi sedih di kamar.
Seni masuk ke rumah dan menuju kamar Juha. "Juha, Mba' mau ke tukang sayur dulu yaa, jangan keluar." Ucap Seni melihat Juha sedang menangis. Hatinya jadi sedih melihatnya, karena Juha anak yang baik dan penurut. "Atau Juha mau ikut Mba' ke tempat tukang sayur?" Tanya Seni lagi, untuk menghiburnya. Juha hanya mengeleng. "Kalau begitu, tunggu di sini, ya. Mba' akan pergi secepatnya, supaya kau cepat sarapan." Ucap Seni.
__ADS_1
"Mba', bolehkah sekarang Juha makan telur dan nasi saja? Juha sudah sangat lapar." Ucap Juha, memelas. "Baik, Juha tunggu di sini ya, Mba' pergi secepatnya." Seni segera ke warung untuk beli telur. Seni akan membuat sarapan untuknya dan Juha terlebih dahulu, sebelum ke tempat tukang sayur.
~●○♡○●~