MANUSIA PARASIT

MANUSIA PARASIT
Bank ABS.


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Di bagian pulau yang lain ; Setelah selesai berbicara dengan Mathias, Ambar menghubungi Bu Titiek, mertuanya.


📱"Selamat pagi, Bu. mohon maaf, hari ini mungkin Ambar tidak bisa menemani Ibu, karena mau keluar urus surat-surat Alm. Papa Juha." Ucap Ambar menjelaskan, saat Bu Titiek merespon panggilannya.


📱"Selamat pagi, Ambar. Iyaa, Ibu sudah tau. Tadi sebelum ke kantor, Thias sudah kasih tau Ibu. Kau hati-hati di luar, ya." Ucap Bu Titiek pelan, karena sudah menganggap Ambar seperti putrinya.


Ambar tahu memperlakukan orang tua dengan baik. Karena dia sendiri merindukan Ibunya yang sudah lama meninggal. Sehingga menganggap Bu Titiek seperti Ibunya sendiri. Apalagi Bu Titiek memperlakukannya dengan kasih sayang, seorang Ibu yang baik.


📱"Iyaa, Bu. Trima kasih, Ibu tolong doakan semua yang Ambar kerjakan hari ini lancar dan diberkati, ya, Bu." Ucap Ambar, berharap. Karena saat ini, dia membutuhkan dukungan doa orang yang telah menjadi Ibunya.


📱"Iyaa. Tadi Ibu sudah doakan saat Thias bilang, Ibu akan terus doakan. Jadi sekarang jalan untuk mengurus semuanya, nanti keburu siang. Ngga usah pikirkan Ibu. Di sini ada suster, Bi Ina dan sopir." Ucap Bu Titiek, menyemangati Ambar agar bisa konsentrasi untuk yang dikerjakan. Kemudian Bu Titiek mengakhiri pembicaraan mereka.


Ambar mengenakan celana panjang, dibalut dengan cardigan yang agak tebal. Karena dia berencana naik ojol ke Bank. Tidak lupa juga dia memakai sepatu tanpa hak, agar lebih muda mondar-mandir jika diperlukan.


Setelah tiba di Bank ABS, Ambar mengambil nomor antrian untuk Customer Service (CS). Karena dia hanya mau mengecek, apakah Rulof ada memiliki tabungan di bank tersebut.


Ketika nomornya dipanggil, Ambar menedekati CS dan menyampaikan maksud kedatangan dan memberikan nomor rekening Rulof. CS langsung mengecek pada laptop di depannya. Kemudian meminta surat kematian Rulof.


Setelah itu, CS langsung berdiri dan masuk ke sebuah ruangan. Tidak lama kemudian, CS keluar dan mempersilahkan Ambar masuk ke ruangan tersebut, sambil mengembalikan surat kematian Rulof kepadanya.


Ambar masuk ke ruangan tersebut dengan hati bertanya-tanya. 'Apakah Rulof ada memiliki hutang di bank ini juga?' Tanya Ambar dalam hati dan mulai cemas. Dia masih trauma dengan kejadian di kantor Rulof.


"Selamat pagi, Bu. Silahkan duduk." Ucap kepala kantor cabang bank tersebut kepada Ambar sambil menyalaminya. Kemudian menunjuk kursi di depannya agar Ambar duduk di sana.


"Selamat pagi juga, Pak." Ucap Ambar pelan, dan duduk di kursi seperti yang diinginkan oleh kepala kantor cabang tersebut dengan hati yang mulai was-was.

__ADS_1


"Apakah benar Ibu adalah istri dari Pak Rulof Kardasa? Apakah saya bisa melihat KTP dan Kartu Keluarga Ibu?" Tanya kepala kantor saat Ambar telah duduk di depannya. Beliau terus memperhatikan Ambar yang sedang cemas.


Ambar mengangguk, kemudian mengeluarkan surat yang diminta dan menyerahkan kepada kepala kantor. Beliau menerima dan memperhatikan surat-surat yang diserahkan Ambar dengan teliti.


"Bisa saya melihat surat kematian Pak Rulof Kardasa?" Tanyanya lagi, dan memperhatikan surat kematian yang diserahkan oleh Ambar.


"Kenapa baru sekarang Ibu datang ke sini?" Tanyanya lagi, setelah melihat tanggal kematian Rulof yang tertera di surat kematian.


"Saya tidak tahu, Alm. suami saya ada menabung di sini, Pak. Karena tidak ada buku tabungan dan ATM yang ditinggalkannya. Saya mengetahuinya, saat berurusan dengan kantornya. Makanya baru bisa ke sini cek, apakah Alm. ada menabung di sini." Ucap Ambar menjelaskan dengan jujur.


"Iyaa benar, Pak Rulof salah satu nasaba di bank kami." Ucap kepala kantor sambil memperhatikan layar monitor laptopnya. Kepala kantor menyadari, tidak ada lagi transaksi dari waktu yang tertera dalam surat kematian Rulof.


Setelah yakin Ambar adalah ahli waris Alm. Rulof Kardasa sebagai istri, kepala kantor melihat Ambar dengan seksama. "Ibu Ambar, kami turut berduka cita atas meninggalnya suami Ibu. Pak Rulof adalah nasabah yang sangat rajin menabung pada bank kami." Ucap kepala kantor, membuat Ambar bisa bernafas sedikit lega. Karena tidak menyebut hutang.


"Terima kasih, Pak. Apakah saya bisa tau saldo tabungan Alm. dan mengambilnya?" Ucap Ambar sambil mengatupkan kedua tangan di dadanya. Karena mengingat statusnya saat ini sebagai istri Mathias.


"Apakah semua angka ini benar? Bapak tidak salah menulisnya?" Tanya Ambar dengan jantung berdegup kencang.


"Tidak, Bu. Ibu bisa lihat di sini angka yang tercantum dalam saldo rekening Alm. suami dan anak Ibu." Ucap kepala kantor, sambil menghadapkan layar laptopnya kepada Ambar.


"Kalau begitu, sebentar ya, Pak. Saya akan menghubungi keluarga saya dulu." Ucap Ambar, setelah yakin dengan saldo tabungan Rulof dan Juha. Kepala kantor mengangguk dan menunggu Ambar menghubungi keluarganya.


Ambar segera mengambil ponselnya dari dalam tas dan menghubungi Mathias. "Mas, benar ada tabungannya di sini. Ada dua Tabungan yang satu atas nama Juha, aku harus lakukan apa?" Tanya Ambar memegang dadanya, karena shock.


Mendengar suara Ambar, Mathias berbicara pelan karena sedang meeting dengan Pak Heru. Dia meminta waktu sejenak untuk merespon panggilan Ambar. Karena dia tahu, sesuatu sedang terjadi ketika Ambar menelponnya.


"Ambar, tenang dan dengar. Kalau menurutmu banyak, jangan diambil tunai atau transfer ke rekeningmu. Akan memakan waktu, jadi lebih baik kau membuka tabungan atas namamu dan Juha di bank itu dan semua tabungan Alm. dipindahkan ke buku tabunganmu dan Juha yang baru."

__ADS_1


"Nanti setelah selesai meeting baru akan menghubungimu. Sekarang kau urus yang itu dulu." Ucap Mathias, tegas.


"Iyaa, Mas. Maaf, aku tadi lupa Mas ada meeting." Ucap Ambar, kemudian mengakhiri pembicaraan mereka. Sangking terkejut, Ambar lupa kalau tadi pagi Mathias sudah katakan ada pertemuan penting di kantor.


Tetapi mendengar yang dikatakan Mathias, Ambar menjadi lebih tenang dan percaya diri.


"Pak, mengingat ini jumlah uang yang banyak, saya mau membuka rekening baru atas nama saya dan anak saya. Saya mau memindahkan semua saldonya ke rekening baru saya dan anak saya. Jadi saya tetap menabung di bank ini." Ucap Ambar, mencoba bersikap tenang.


"Baik, kalau begitu nanti Ibu akan dibantu oleh CS kami." Ucap kepala kantor, kemudian menghubungi CS untuk datang ke ruangannya. Kepala kantor menjelaskan semuanya kepada CS dan meminta Ambar mengikuti CS.


"Baik, Pak. Terima kasih. Dan mohon maaf, saya mau meminta surat kematian Alm. karena ada yang mau saya urus lagi yang berhubungan dengan Alm." Ucap Ambar, memohon dan disetujui setelah ditanda tangani diatas materai oleh Ambar di atas copy surat kematian Rulof.


Sedangkan Mathias setelah berbicara dengan Ambar, agak terganggu konsetrasinya. Dia mendekati Bagas yang sedang duduk bersama asisten Pak Heru.


"Bagas. Tolong beli helm untuk Bu Ambar, ya. Pesan saja, agar segera diantarkan sekarang ke sini." Bisik Mathias kepada Bagas dan Bagas mengangguk mengerti.


Kemudian mereka melakukan meeting yang tertunda. Setelah Pak Heru meninggalkan kantor Mathias, Bagas mendekati bossnya. "Pak, sebentar lagi orang yang mau membuka laptop akan datang." Ucap Bagas, mengingatkan Mathias akan permintaannya.


"Ooh iyaa, saya lupa hal itu. Apakah orangnya bisa kerja dengan cepat? Karena saya mau keluar." Ucap Mathias, mengingat Ambar yang belum dihubunginya.


"Bagas, kau sudah pesan helm untuk Bu Ambar?" Tanya Mathias, mengingat permintaannya.


"Sudah, Pak. Ini sudah diantar, orangnya masih dalam perjalanan." Ucap Bagas, sambil menunjukan ponselnya.


"Baik, kau rapikan semua hasil meeting tadi, nanti kita bicarakan lagi. Semoga orang yang mau perbaiki laptop bisa datang lebih capat." Ucap Mathias, sambil mengeluarkan laptop Rulof dari tasnya. Dia jadi tidak tenang memikirkan Ambar.


Tidak lama kemudian, Bagas segera turun menjemput orang yang mau perbaiki laptop. Karena dia telah menerima pesan dari orangnya, bahwa sudah ada di depan kantor.

__ADS_1


...~●○♡○●~...


__ADS_2