MANUSIA PARASIT

MANUSIA PARASIT
Richo-Barra


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Di sisi yang lain ; Setelah beberapa waktu tidak ada kabar dari Angel dan melihat pakainnya sudah tidak ada di apartemen, Barra segera menghubungi Richo untuk menanyakan keberadaan Angel.


📱"Hi... Bro. Apakah Angel ada bersamamu?" Tanya Barra, saat Richo merespon panggilannya.


📱"Waktu itu dia datang ke tempatku dan ada yang dia katakan. Tetapi lebih baik kita bertemu untuk membicarakannya." Ucap Richo, karena dia sudah menunggu telpon dari Barra untuk membicarakan apa yang dikatakan Angel.


📱"Baik. Aku menunggumu nanti malam di tempat biasa." Ucap Barra, lalu mengakhiri pembicaraan mereka. Richo langsung menghubungi temannya, untuk pergi bersamanya menemui Barra.


Angel tinggal di tempat kostnya, sedangkan Richo tinggal di tempat kost temannya. Richo harus mengalah, karena Angel susah dibilang. Dia tidak mau keluar dari tempat kost Richo.


Daripada digeruduk sama masa atau yang punya kost, lebih baik dia yang keluar dari kamar kost dan terpaksa harus tidur berdesak-desakan dengan temannya.


Sudah berapa hari Richo tidak ke tempat kostnya, jadi tidak tahu apa yang sedang dilakukan oleh Angel. Dia sudah membawa beberapa potong pakaian dan keperluannya, jadi dia tidak perlu sering bolak-balik ke tempat kost. 'Nanti kalau dia ada perlu, akan menghubungiku.' Pikir Richo, karena masih kesal dengan ucapan Angel kepadanya.


Tiba-tiba, ponselnya berbunyi dan nama Angel tertera di layar ponselnya. 'Umur panjang orang ini, baru dibicarakan sudah nongol.' Ucap Richo membatin, lalu merespon paggilan Angel.


📱"Ada apa Angel. Sudah dapat tempat tinggal yang baru?" Tanya Richo tanpa basa-basi, karena masih kesal. Dia harus tidur panas-panasan di tempat yang sumpek.


📱"Enak saja. Aku sedang menunggu kabar darimu agar bisa pindah." Ucap Angel cuek, seakan tidak pernah berbuat salah.


📱"Tidak ada kabar dariku, kau cari saja sendiri. Bukankah kau bisa cari sendiri? Atau kau kembali saja ke tempat Barra." Ucap Richo, makin cuek.


📱"Enak saja, ngga mau. Cepat carikan aku client yang baru." Ucap Angel seenaknya, dengan nada memerintah. Hal itu membuat Richo emosi. Dia langsung memutuskan pembicaraan mereka.


Angel yang menyadari tadi telah ketelepasan berbicara, dia kembali menghubungi Richo. 'Kalau Richo marah, habislah sudah. Tidak ada yang mau membantunya.' Pikir Angel sambil menghubungi Richo berkali-kali.


Richo yang melihat Angel telpon berkali-kali, dibiarkannya tanpa merespon. 'Aku yang lebih tua darinya, tapi sikapnya sangat kurang ajar.' Ucap Richo dalam hati yang masih emosi dan kesal.


'Aku akan berbicara dengan Barra sebelum melakukan sesuatu. Karena Angel tidak bisa dipercaya, mungkin dia ada melakukan sesuatu yang membuat Barra marah.' Ucap Richo lagi dalam hati.

__ADS_1


Richo silent ponselnya dan tidur. Dia membiarkan Angel menelponnya, karena masih kesal padanya. Angel tidak tahu dia tinggal di mana, sehingga tidak akan mencarinya ke tempat kost temannya.


Richo juga ingin beristirahat, karena  akan bertemu Barra nanti malam. 'Bisa saja mereka begadang sampai pagi.' Ucap Richo dalam hati dan tidur.


Richo bangun menjelang malam, kemudian mandi dan mengenakan bajunya yang masih bersih. Dia akan bertemu dengan Barra sendiri, karena temannya tidak bisa pulang lebih cepat.


Setelah tiba di Saiki Bar, Richo mencari Barra. Ketika sudah melihat tempat duduk Barra, Richo mendekati mejanya. "Allooo, Bro. Ayoo duduk di sini." Ucap Barra, saat melihat Richo.


"Thanks Bro. Bisa kita bicara dulu sebelum minum?" Tanya Richo, karena dia khawatir mereka tidak bisa membicarakan Angel kalau sudah mulai minum.


"Ooh, ok. Mari ikut aku. Kalian tunggu aku di sini." Ucap Barra kepada Richo dan juga kepada teman-teman yang akan ditinggalnya.


Richo mengikuti Barra ke tempat yang jauh dari bising dengan suara musik. Setelah agak jauh, Barra mengajak Richo duduk. "Bagaimana, apa sekarang Angel bersamamu?" Tanya Barra tanpa basa basi.


"Tidak, seperti yang aku bilang di telpon, dia datang ke tempatku beberapa hari lalu dan mengatakan hal yang tidak mengenakan." Ucap Richo, mengingat ucapan Angel kepadanya.


"Apa yang dikatakannya padamu?" Tanya Barra, tenang tetapi menahan emosinya mengingat perbuatan Angel.


"Bilang dia, ketika dia datang ke tempatku, seharusnya sudah tau tugasnya. Tidak ada makanan yang gratis di tempatku." Ucap Barra tegas, membuat Richo mengerti, Angel telah salah memintanya untuk mendekati Barra.


"Kalau dia tidak mau melayani temanku, jangan mengumbar auratnya di depan teman-temanku. Sudah begitu, baru bilang temanku mengerjainya? Dia sendiri yang sosor dan teman-temanku merespon, dia bersikap seperti perempuan baik-baik." Ucap Barra, emosi.


"Bagiku, itu bukan faktor utamanya. Karna itu adalah kesalahan dia sendiri. Sudah tau orang laki-laki lagi minum mabuk, keluar dengan pakaian yang menggoda orang yang lagi ngga waras." Ucap Barra, mengingat yang terjadi saat mereka lagi mabuk.


"Sekarang yang membuatku marah adalah dia sudah menerima bayaran, tetapi tidak mau melayani temanku dengan banyak alasan. Lebih baik dia mengembalikan perhiasan yang sudah dia terima dari temanku. Aku akan membiarkan dia lolos, walaupun sudah membuatku malu." Ucap Barra lagi.


"Kalau mau main kucing-kucingan atau cuma mau porotin, cari laki-laki hidung belang. Karena di tempatku, semua ada harganya. Ketika sudah terima bayaran, lakukan tugasmu." Ucap Barra lagi.


"Apakah kau tidak mengatakan itu padanya saat dia ke tempatmu?" Tanya Richo mencoba mengerti situasi yang terjadi.


"Loh, dia tahu. Makanya dia menerima perhiasan yang diberikan temanku untuk membayarnya. Dia sendiri yang meminta dari temanku sebagai bayarannya. Saya yang meminjamkan tempat untuk mereka." Ucap Barra, menjelaskan.

__ADS_1


"Sudah mendapatkan yang dia inginkan lalu mau kabur? Dia berurusan dengan orang salah. Aku belum ambil tindakan, karna mau berbicara denganmu. Jadi lebih baik dia berikan perhiasannya kepadamu dan kita akan bertemu di sini lagi."


"Aku akan menunggu kabar darimu, setelah berbicara dengannya. Karna aku tidak ingin berbicara dengannya. Jika dia tidak memberikan lewat kau, anak buahku sendiri yang akan datang mengambilnya." Ucap Barra, tegas.


"Aku rasa kau sudah mengerti duduk persoalannya. Melihat wanita seperti itu, aku sarankan kau harus berhati-hati. Dia akan sangat menyusahkan dan memanfaatkanmu." Ucap Barra, sambil berdiri.


"Mari kita kumpul dengan yang lain, nanti baru kita selesaikan persoalan Angel." Ucap Barra, mengajak Richo berkumpul dengan teman-temannya.


"Aku langsung balik saja, nanti baru aku kabari jika sudah berbicara dengan Angel." Ucap Richo, karena mendengar yang dikatakan Barra, Richo ingin segera berbicara dengan Angel.


Richo naik ojol langsung ke tempat kost Angel. Karena dia tidak sabar berbicara dan menyelesaikan persoalan yang ditimbulkan oleh Angel. Dia tahu, apa yang dikatakan Barra itu serius.


Saat sampai di tempat kost, Richo mengetuk pintu dengan beruntun. "Ditelpon tidak diterima, kenapa tiba-tiba datang dan mengetuk pintu beruntun begitu?" Tanya Angel yang baru pulang dan melihat Richo sedang mengetuk pintu kamar kostnya.


"Tidak usah banyak bicara, cepat buka pintu kamarnya." Ucap Richo, sambil menarik tangan Angel agar segera membuka pintu kamarnya. Richo langsung masuk, saat pintu sudah terbuka dan dia membiarkan pintu tetap terbuka saat dia telah masuk ke dalam kamar.


"Sekarang mana perhiasan yang kau terima dari teman Barra?" Tanya Richo setelah Angel duduk di tepi tempat tidur. Angel terkejut mendengar yang ditanyakan Richo.


"Untuk apa kau tanya tentang perhiasanku?" Tanya Angel ragu-ragu, karena Richo tahu tentang perhiasan yang dikasih temannya Barra. Padahal dia tidak pernah memceritakannya kepada Richo.


"Tidak usah banyak tanya. Atau kau mau anak buah Barra mengambilnya langsung darimu?" Tanya Richo, emosi.


"Dasar bodoh, mau perhiasannya tetapi tidak mau melayaninya. Dan juga untuk apa kau melenggak lenggok di depan orang mabuk?" Tanya Richo lagi dengan kesal, karena hampir mempercayai ucapannya.


"Aku haus, kan pingin minum." Jawab Angel membuat alasan absrud


"Go***k... Kalau ngga bisa nahan haus, minum air di kamar mandi. Bukannya berjalan di tengah singa lapar yang sudah tidak tau mana tangan, mana kaki. Kau bilang Barra membiarkanmu dikerjai temannya? Kau sendiri yang pingin dikerjai temannya." Ucap Richo, masih emosi karena untung dia berbicara dengan Barra dulu, bukan langsung main pukul.


Richo menarik kotak perhiasan dari tangan Angel dan langsung meninggalkan kamar kostnya. Angel yang terkejut hanya terbengong melihat kotak perhiasannya dibawa pergi oleh Richo.


...~●○♡○●~...

__ADS_1


__ADS_2