MANUSIA PARASIT

MANUSIA PARASIT
Rencana Richo


__ADS_3

~•Happy Reading•~


Di sisi yang lain ; Richo telah bangun dan melihat Inge sedang duduk diam di meja makan. Richo merasa kakinya sakit dan mulai bengkak, mungkin agak terkilir. "Inge. Kalau tau tukang urut di dekat sini, tolong minta datang ke sini untuk mengurut kakiku." Ucap Richo, sambil duduk di meja makan.


"Iyaa, Mas. Nanti aku tanya-tanya, mungkin ada yang tau. Emang kakinya kenapa.?" Ucap Inge, dan segera membuat minuman untuk Richo.


"Mungkin kakiku terkilir. Inge, belakangan ini kau ada bertemu atau berhubungan dengan Ambar?" Tanya Richo, sambil menunggu sarapannya.


"Ngga, Mas. Aku belum ke rumahnya lagi, mungkin besok aku akan ke sana. Ada apa, Mas?" Inge balik bertanya, dan merasa heran karena Richo tiba-tiba menyebutkan nama Ambar. Karena setelah peristiwa di kantor Polisi, dia belum ke rumah Ambar.


"Kau tidak usah menemuinya lagi, karena dia sudah menikah. Jangan sampai kau berurusan dengan suaminya dan keluarga barunya." Ucap Richo, mengingatkan Inge.


"Ambar sudah menikah? Apa tidak salah yang kau katakan? Adikku belum lama meninggal, dia sudah menikah lagi?" Tanya Inge beruntun, karena terkejut.


"Tidak salah yang kau dengar dan tidak salah juga kalau dia menikah. Mungkin dia sedang berusaha bertahan hidup." Ucap Richo pelan, sambil mengingat peristiwa tadi malam.


"Apa maksudmu dengan 'dia berusaha bertahan hidup'? Apakah tidak cukup warisan yang adikku tinggalkan padanya, sehingga dia tidak bisa bertahan sedikit lama lagi?" Tanya Inge mulai emosi, karena Ambar cepat melupakan adiknya.


"Warisan apa yang adikmu tinggalkan padanya?" Ucap Richo, sambil menatap Inge dengan serius. Karena selama ini, dia selalu mendengar dari Inge tentang banyaknya harta yang dimiliki adiknya.


"Tanah, rumah, mobil, tabungan di bank apa itu tidak cukup? Sehingga dia dengan gampang melupakan adikku dan menikmatinya dengan suami barunya?" Tanya Inge, makin emosi mengingat semuanya itu.


"Kalau rumah dan mobil, aku pernah melihatnya. Tetapi apakah kau pernah melihat tanah dan tabungannya?" Tanya Richo tenang, menyelidiki.


"Memang aku belum pernah lihat tanah dan tabungannya, tetapi aku percaya yang dikatakan adikku." Ucap Inge mulai surut emosinya, diganti dengan keraguan.

__ADS_1


"Apakah kau lupa, adikmu juga meninggalkan warisan selingkuhan? Yang selama ini kita sebut dengan istri muda? Kita fokus memperhatikan Ambar, kita tidak melihat Angel." Ucap Richo, dan Inge melihatnya dengan terkejut.


"Jangan-jangan adikku mewariskannya kepada wanita itu?" Tanya Inge yang terkejut dengan apa yang dipikirkannya. Selama ini, karena marah kepada Ambar, sehingga tidak memikirkannya.


"Mungkin saja, tidak ada yang tau karena Rulof sudah meninggal. Atau yang kau katakan dengan hartanya itu hanya bualan saja, atau sudah dihabiskan bersama wanita itu?" Tanya Richo, mengingat gaya hidup Angel yang telah diselidikinya.


"Melihat cara hidup Ambar, aku percaya kalau adikmu meninggalkan banyak hutang bukan mewariskan banyak harta. Karna kalau tidak, dia tidak akan menjual mobilnya untuk membayar hutang. Dia dengan suaminya bisa mempergunakan mobil itu untuk kebutuhan hari-hari mereka." Ucap Richo, membuat Inge jadi berpikir.


"Iyaa juga, ya. Apakah kau mengetahui dia menikah dengan siapa?" Tanya Inge ingin tahu, siapa yang bersedia menikah dengan janda satu anak.


"Iyaa, dan kau juga kenal orangnya. Dia menikah dengan pengacara itu." Ucap Richo pelan, tetapi tetap membuat Inge terkejut.


"Benarkah dia menikah dengan pengacara itu?" Tanya Inge, makin terkejut. Richo memgangguk mengiyakan.


"Makanya tadi aku katakan, kau jangan datang mengganggunya lagi. Karna kau sudah lihat pengacaranya membela dia di kantor polisi bukan? Sekarang telah menjadi suaminya, bagaimana tindakannya terhadap orang yang mengganggu istrinya?" Ucap Richo, sambil mengingat Mathias menginjaknya di lantai.


"Melihat kondisi sekarang ini, lebih baik kau dan Dini pulang ke Makassar tinggal dengan Mamamu dulu. Karna kontrakan ini sudah mau berakhir dan kita tidak punya uang untuk perpanjang kontrakan ini." Ucap Richo, dan Inge memandangnya dengan terkejut.


"Lalu bagaimana denganmu, apakah tidak ikut dengan kami ke Makassar?" Ucap Inge yang masih terkejut dengan ide Richo.


"Aku akan tetap tinggal di sini untuk cari pekerjaan. Nanti bagaimana, baru kita lihat lagi. Kau ke sini lagi atau aku yang ke Makassar." Ucap Richo tenang.


"Terus kau akan tinggal di mana dan mana ongkos untuk kami ke Makassar?" Tanya Inge beruntun mendengar yang dikatakan Richo.


"Sekarang kau usahakan untuk menjual semua isi kontrakan ini untuk membeli tiket ke Makassar dan untuk tempat kostku beberapa bulan. Kalau tidak bisa kost, aku akan tinggal sementara dengan temanku sampai bekerja." Ucap Richo berusaha tenang, agar Inge bisa terima saran dan menurutinya.

__ADS_1


Inge mendengar apa yang dikatakan suaminya dan berpikir. Karena sebentar lagi kontrakan akan berakhir dan mereka belum memiliki uang. Untuk mau makan hari-hari saja sulit. ART mereka saja sudah diberhentikan, karena tidak bisa membayar gajinya.


"Baiklah, aku akan berbicara dengan Mama dan berusaha menjual semuanya ini untuk bertahan hidup dan tiket pulang. Sementara kau tinggal dengan teman dulu, karna hasil penjualan ini tidak akan cukup untuk kau kost." Ucap Inge, dan Richo mengangguk saja untuk lebih mudah.


"Tapi Mas, apakah kita tidak bisa meminta sedikit bantuan dari Ambar? Mungkin dengan bicara baik-baik dengannya, dia bisa membantu kita sedikit." Ucap Inge berharap, karena dia berpikir hasil penjualan perabotan rumah tangganya tidak terlalu banyak.


Karena bukan saja untuk tiket pesawat, tetapi juga untuk kebutuhan sehari-hari mereka bersama Mamanya di Makassar. Inge pikirkan itu, tetapi Richo tidak memikirkannya.


"Tadi aku sudah katakan, jangan coba-coba menghubungi Ambar untuk meminta bantuan, jika ingin pulang ke Makassar." Ucap Richo, tegas. Inge hanya bisa mengangguk dengan terpaksa.


"Sekarang lebih baik kau fokus untuk menawarkan barang-barang di rumah ini sebelum di usir oleh yang punya kontrakan." Ucap Richo tegas, karena melihat istrinya yang masih ragu-ragu.


Sebenarnya, Inge bukan sedang ragu-ragu tetapi menjadi sedih mengingat adiknya Rulof. Karena selama ini, dia tidak pernah ada dalam situasi seperti ini karena adiknya selalu membantunya.


Adiknya sudah tahu, waktu rumah kontrakannya akan berakhir. Jadi sebelum berakhir masa kontrakan, dia akan memintanya kepada Rulof dan dia akan memberikannya.


Sehingga Inge tidak perna menabung khusus untuk uang sewa rumah kontrakan. Semua uang yang diberikan oleh Rulof kepadanya suka diminta oleh suaminya.


"Iyaa, akan aku tawar-tawarkan untuk tetangga atau teman-teman. Semoga ada orang yang mau membelinya dengan harga bagus." Ucap Inge berharap.


"Tolong keluar cari tau, mungkin ada tukang urut dekat-dekat sini agar kakiku bisa diurut dan bisa keluar cari kerja." Ucap Richo, agar Inge bisa meninggalkannya.


Richo sudah memiliki rencana tersendiri, jika Inge bersedia pulang ke Makassar. Baginya, yang penting Inge sudah mau pulang ke Makassar. Agar dia lebih leluasa melaksanakan rencananya.


"Baiklah, aku akan keluar bertanya sekalian ke tukang sayur." Ucap Inge, segera berdiri masuk ke kamar untuk mengganti bajunya. Kemudian dia keluar rumah untuk mencari keperluan.

__ADS_1


Setelah Inge keluar rumah, Richo menghubungi temannya untuk membicarakan rencana yang akan dilakukan bersamanya. Ketika temannya menerima yang ditawarkan, Richo sedikit lega dan hatinya mulai tenang akan masa depannya.


~●○♡○●~


__ADS_2