
~•Happy Reading•~
Dalam perjalanan pulang dari rumah Ambar, keluarga Rulof tidak tenang. Mereka menjadi gelisah mengingat apa yang dikatakan oleh Ambar. Terutama Richo, suami Inge yang selama ini dibantu oleh Rulof. Dia mulai curiga terhadap ucapan Inge, bahwa Rulof memiliki beberapa bidang tanah dan tabungan di bank. Melihat Ambar yang bekerja, dia mulai berpikir. Jangan-jangan memang tidak ada tanah dan tabungan.
Setelah tiba di rumah, Inge dan Tiara berebutan untuk memilih sepatu dan sandal Rulof untuk suami-suami mereka. Melihat itu, Richo menjadi kesal dan marah. "Apa yang kalian lakukan? Apakah itu bisa dijadikan uang untuk pulang ke Makassar? Bukannya mikir, bagaimana mendapatkan uang. Ini ribut untuk barang yang sudah ada di tangan." Ucap Richo, marah.
"Pikirkan, untuk bisa dapat bagian dari yang masih di tangan Ambar. Atau jangan-jangan benar, tanah dan uang itu tidak ada?" Tanya Richo lagi kepada Inge, istrinya.
"Kau tau di mana saja tanah Rulof yang kau bilang itu? Karna sebelum tau tempatnya, kita tidak bisa kembali ke rumah Ambar." Ucap Richo kepada Inge.
"Aku tau itu ada, karna Rulof pernah bilang padaku. Ataukah dia sudah menjual tanah-tanahnya?" Tanya Inge, dan terkejut sendiri dengan pertanyaannya. Begitupun dengan Richo yang mendengar pertanyaan Inge.
"Kalau sampai terjadi demikian, bagaimana kami bisa pulang ke Makassar? Sedangkan tiket dari Makassar saja, kami pinjam dari tetangga." Ucap Mama Rulof, yang dari tadi duduk diam melihat anak dan menantunya.
Ketika mendengar ucapan mertuanya, Richo makin pusing dan panik. Mereka harus mendapatkan uang secepatnya agar mertua dan adik iparnya tidak berlama-lama dengan mereka. Tiba-tiba dia tergingat pada mobil Rulof yang tadi dilihatnya. "Sementata kau cari tau tentang tanah dan tabungan, kita minta bagian dari yang ketahuan ada dulu. Kita minta mobilnya dijual dan dibagi dua." Ucap Richo, dan mereka setuju dengan wajah mulai cerah.
"Mama minta bantuan dari saudara yang aparat itu, agar lebih mudah menekan Ambar untuk membaginya. Kalau kita datang, dengan polisi dia tidak mungkin akan melawan." Ucap Richo, yakin.
"Sebelum kita urus mobil, kalian bertiga menemui Ambar untuk meminta bagian uang dari kantor Rulof. Tidak mungkin Ambar tidak dapat dari kantor Rulof." Ucap Ricko, makin semangat mengingat apa yang dipikirkannya.
"Aku akan mencari orang yang mungkin mau beli mobil dalam waktu dekat ini, dan kalian ke rumah Ambar. Datangnya sebelum Magrib saja, supaya tidak menunggu lama. Sekalian bisa lihat, benar dia pulang kerja seperti yang dikatakannya atau hanya akal-akalannya saja." Richo mulai mengatur strategi.
Mama Rulof dan kedua anaknya, menyetujui ide Richo. "Mama ngga usah ikut kami, istirahat di rumah saja. Karna kami hanya sebentar bertemu dengan Ambar. Supaya bisa berhemat juga, kami mau naik ojol." Ucap Inge, dan suaminya mengangguk setuju.
"Tiara... Ambil piring lalu mari kita makan, supaya bisa cepat istirahat." Ucap Inge, sambil membuka nasi goreng yang mereka beli di jalan. Anak mereka sudah tidur bersama ART.
__ADS_1
Selesai makan, Richo dan Inge telah ada di dalam kamar mereka. "Mas, apakah kita mau minta bantuan dari wanita itu? Sepertinya Ambar sangat tertekan jika kita bersama wanita itu. Mungkin dia cepat memberikan bagian kita, jika datang bersama wanita itu." Usul Inge kepada Richo, suaminya.
"Jangan dulu, kita belum tau dapat berapa dari Inge. Kalau tidak seberapa, terus harus bagi empat, mau dapat berapa masing-masing?" Tanya Ricko, memikirkan sekarang saja sudah harus bagi tiga.
"Ooh iya, aku tidak pikirkan itu. Hanya pikirkan yang penting, dapat." Ucap Inge, sambil menepuk dahinya.
"Kita pakai dia, jika memang harus diperlukan." Ucap Richo tegas, sambil memikirkan kapan untuk menggunakan wanita itu. Kemudian dia keluar kamar untuk membuat kopi.
*((**))*
Keesokan harinya, setelah mandi dan berpakaian rapi, mereka duduk di meja makan untuk sarapan. Richo menyampaikan rencana yang sudah dipikirkan tadi malam kepada Mertua, Istri dan Iparnya.
"Hari ini, Mama coba hubungi saudara aparat itu. Bicarakan kesulitan dan kondisi yang kita hadapi. Apakah saudara Mama bisa bantu atau tidak. Supaya kita bisa mencari alternatif lain." Ucap Richo, dan Mama mertuanya mengangguk mengiyakan.
"Aku akan keluar untuk bertemu dengan teman yang suka jual beli mobil untuk minta bantuannya." Ucap Richo, dan yang lain mengangguk mengiyakan.
Keesokan harinya, Inge dan Tiara telah berada di depan rumah Ambar dan mengetuk pagar sambil memanggil Seni. "Ada apa lagi Bu Inge, Ibu belum pulang kerja. Jadi saya tidak akan membuka pagar ini." Ucap Seni, setelah keluar rumah dan melihat saudara majikannya yang datang lagi.
"Kau berani berdebat dengan kami? Buka pagarnya, sebelum ..." Ucapan Inge terhenti, ketika ojol berhenti di depan mereka dan Ambar turun dari motor.
Ambar melongo seakan tidak percaya melihat ipar-iparnya datang lagi. "Apa yang kalian lakukan di depan rumahku lagi? Apakah masih ada sendal yang ketinggalan?" Tanya Ambar, emosi.
"Seni, tidak usah buka pagarnya, dan ini bawa masuk tas saya." Ucap Ambar sambil memberikan tas dan kantong bawaannya kepada Seni, melewati pagar.
Seni buru-buru mengambil bawaan Nyonyanya, dan membawa masuk. Karena dia tahu yang dibawa adalah makan malam mereka. Tadi Nyonyanya sudah kasih tau, akan bawa lauk untuk makan malam, jadi tidak perlu masak.
__ADS_1
Melihat itu, Inge dan Tiara kesal. Karena tidak diijinkan masuk untuk minum atau makan sesuatu. "Sekarang kalian bisa katakan apa yang kalian inginkan. Karna saya sangat lelah, mau istirahat." Ucap Ambar, sambil duduk di lantai depan pagar rumahnya. Dia sangat lelah, karena tadi tidak dapat tempat duduk di kereta.
Inge dan Tiara terkejut melihat apa yang dilakukan oleh Ambar. Mereka tetap berdiri di depannya dan berbicara. "Kami sedang mencari tanahnya Mas Rulof, tetapi kami butuh uang. Kami minta bagian dari yang kau dapatkan dari kantornya Mas Rulof." Ucap Inge.
"Bagian dari kantornya Mas Rulof, apa kalian buta? Ini saya baru pulang kerja, kapan punya waktu urus sesuatu yang ngga jelas itu?" Ucap Ambar, mulai emosi. Dia yang istrinya saja tidak memikirkannya. Ini mereka lebih mengetahui dari dirinya.
Pak Tony yang hendak ke Masjid untuk Sholat Magrib, terkejut melihat Ambar sedang duduk di depan pagar rumahnya. Beliau tidak mau bertanya, karena melihat suasana yang tidak kondusif dan mengenal wanita yang sedang berdiri di depan Ambar.
Pak Tony teringat akan kejadian di Rumah Sakit, saat Inge datang dan memarahi Ambar. Beliau terus berjalan ke Masjid, sambil menggelengkan kepalanya, karena heran melihat yang mereka lakukan.
Ambar hanya tertunduk malu, ketika Pak Tony melewatinya tanpa menyapanya. Karena Ambar tahu, Pak Tony menyadari kondisi yang sedang dihadapinya bersama ipar-iparnya. Dan mungkin saja telah mendengar apa yang dikatakan Inge.
"Kau jangan pura-pura tidak tahu, Rulof seorang pejabat. Mana mungkin tidak dapat uang-uang dari kantornya?" Ucap Inge, tidak mau kalah.
"Kalau begitu, silahkan kalian pikirkan itu. Karna saya hanya mau bekerja untuk anak saya yang sudah tidak punya bapak. Kalau kalian tidak punya pekerjaan, silahkan pikirkan itu sepuasnya. Mungkin bisa dapatkan sesuatu, setelah memikirkan hal itu. Ada lagi yang mau kalian katakan?" Tanya Ambar, tawar.
"Kau mau mengusir kami?" Tanya Inge mulai emosi melihat sikap Ambar.
"Tidak usah bertanya ini atau itu, Kak Inge. Katakan saja apa yang mau dikatakan, kalau banyak yang mau dikatakan, saya bisa duduk di disini sampai pagi untuk mendengarkan." Ucap Ambar tenang, menyembunyikan rasa kesalnya.
Seni yang duduk diam dibalik pagar, tersenyum mendengar yang dikatakan Nyonyanya. Melihat sikap saudara Rulof, Seni meletakan bawaan Ambar di meja makan dan balik ke pagar tanpa suara. Dia khawatir terjadi sesuatu dengan Nyonyanya, sehingga dia bisa berteriak minta tolong pada tetangga.
"Ayoo Tiara, mari kita pergi. Nanti kita kembali lagi dengan yang lain untuk mengambil hak kita." Ucap Inge, sambil menarik tangan Tiara. Ambar berdiri sambil menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan kuat.
~●○♡○●~
__ADS_1