
~β’Happy Readingβ’~
Di sisi yang lain ; Mathias yang sudah sampai di kantor, mulai bekerja. Dia meneliti kasus yang sedang ditangani di Jogja. Kemudian dia menghubungi client di Jogja untuk memastikan kondisi dan perkembangan persoalan yang sedang di hadapi.
Begitu pun dengan Bagas, sibuk membantu bossnya menangani pendataan dokumen yang diperlukan. Mereka sedang sibuk-sibuknya menangani beberapa kasus penting.
Karena semenjak sukses menangani kasus di perusahaan Erwin Senjaya, nama Mathias mulai diperhitungkan dan direkomendasikan oleh para pebisnis. Hal itu membuat Mathias dan Bagas mulai bekerja ekstra keras.
Sehingga sering membuat mereka harus lembur dan pulang malam. Biasanya kalau dalam kondisi normal, Mathias akan tidur di cabin. Tetapi karena kondisi Ibunya, dia harus pulang ke rumah. Seperti saat ini, Mathias telah memacu motor sportnya untuk pulang ke rumah orang tuanya.
Saat tiba di rumah, Mathias segera membersihkan diri dan menuju kamar Ibunya untuk melihat kondisinya. Ketika melihat Ibunya sudah beristrahat, Mathias memberikan kode untuk suster keluar dari kamar.
"Suster, gimana kondisi Ibu hari ini? Apakah beliau bisa makan dengan baik?" Tanya Mathias, setelah suster keluar dari kamar Ibunya.
"Iyaa, Pak. Ibu bisa makan sedikit, karena kadang merasa tidak enak di perutnya. Sekarang sudah bisa tidur, karena tadi sudah minum obat." Suster menjelaskan kondisi Ibunya.
"Baik. Nanti tolong daftar ke Rumah Sakit untuk besok, ya. Saya akan mengantar Ibu untuk periksa kondisinya." Ucap Mathias, mengingat besok adalah akhir pekan, dia akan ada di rumah bersama Ibunya.
Dia sengaja bekerja keras sepanjang minggu ini, karena ingin akhir pekan bersama Ibunya sebelum dia berangkat ke Jogja untuk menangani kasus di sana. Kemudian, Mathias mengirim pesan kepada Ambar, bahwa dia akan makan malam di rumahnya. Sudah beberapa hari tidak pulang ke rumah Ambar, karena sering tidur di cabin atau pulang ke rumah orang tuanya sudah larut malam.
Ketika menerima pesan dari Mathias, Ambar keluar kamar dan mempersiapkan makan malam yang praktis untuk Mathias. Dia bersyukur, sudah berbelanja stock bahan makanan jadi bisa memasak makan malam dengan cepat untuk Mathias.
Ambar sedang menata perlengkapan makan di meja makan saat mendengar suara pagar dibuka. Ambar segera menyiapkan minuman hangat, karena tahu Mathias sudah datang. Tidak lama kemudian, pintu rumah dibuka. Karena Ambar telah mengangkat kunci dari pintu rumahnya, sehingga Mathias dengan mudah membuka pintunya.
"Ambar, sudah pada tidur semua?" Tanya Mathias, saat masuk ke dalam rumah dan melihat rumah yang sepi. "Iyaa, Mas. Sudah pada di kamar. Mas baru pulang kerja?" Tanya Ambar, sambil mendekati Mathias untuk mencium punggung tangannya.
"Iyaa, tadi ke rumah lihat Ibu dulu. Ini pakainku, tolong di rapikan, ya.." Ucap Mathias sambil menyerahkan tas kecil kepada Ambar untuk dirapikan di lemari.
"Kalau begitu, Mas ke ruang makan untuk makan dulu. Nanti baru pakaiannya aku masukan ke lemari." Ucap Ambar sambil mengikuti Mathias ke meja makan dan meletakan tas pakaian Mathias di atas kursi meja makan.
__ADS_1
"Mas mau di buatkan minuman apa?" Tanya Ambar, karena pikirnya mungkin Mathias mau minum kopi atau teh. "Ngga usah, ini sudah cukup. Kau ngga makan?" Tanya Mathias, saat melihat hanya satu perangkat makan.
"Ngga, Mas. Tadi kami sudah makan. Aku temani Mas makan saja." Ucap Ambar, dan mengisi nasi ke piring Mathias.
"Mas, lauknya hanya itu yang bisa cepat di masak. Karena yang kami masak tadi sore, sudah habis dimakan oleh kami bertiga." Ucap Ambar menjelaskan, karena tadi dengan cepat dia membuat soup ayam dengan bahan yang ada.
"Iyaa, ngga papa. Ini sudah cukup. Tadi mau tunggu bibi masak untuk makan di rumah, tetapi nanti makin malam ke sini." Ucap Mathias lalu berdoa untuk makan.
"Kau makan saja soupnya, sayang kalau tidak habis. Aku segini sudah cukup." Ucap Mathias, saat melihat masih ada soup di mangkuk. Ambar mengangguk dan membantu menghabiskannya.
"Ambar, aku beberapa hari tidak ke sini karna pulang sudah larut dan lumayan cape' jadi langsung tidur. Dan besok aku tidak ke kantor, karna mau mengantar Ibu ke Rumah Sakit." Ucap Mathias, setelah selesai makan.
"Iyaa, Mas. Ngga papa, kami mengerti." Ucap Ambar dengan hati lega, karena Mathias menganggapnya, sehingga mau menjelaskan kepadanya.
"Besok juga, ngga usah buat sarapan untukku, karna aku mau sarapan dengan Ibu sebelum ke Rumah Sakit." Ucap Mathias, menjelaskan lagi dan Ambar mengangguk mengerti.
Setelah Mathias selesai makan, Ambar membawa semua perlengkapan makan yang kotor ke dapur, kemudian menyusul Mathias ke kamarnya untuk menata pakaian Mathias di lemari.
*((**))*
Ketika pagi tiba, Mathias telah bangun dan mandi. Dia bangun pagi karena hendak mengantar Ibunya ke Rumah Sakit. Ketika membuka pintu kamarnya, Mathias terkejut melihat Ambar dan Seni sudah bangun.
"Pagiiii... Kalian sudah bangun?" Tanya Mathias melihat Ambar dan Seni yang sedang melihatnya.
"Pagi, Mas." .. "Pagi, Pak." Ucap Ambar dan Seni bersamaan. Melihat itu, Mathias tersenyum.
"Mas, minum ini dulu sebelum jalan." Ucap Ambar sambil mendekati Mathias dan memberikan segelas air mineral hangat kepadanya.
"Ok. Trima kasih. Nanti kalau sudah periksa kondisi Ibu di Rumah Sakit, aku akan mengabarimu. Kau siap-siap, ya. Aku akan mengajakmu untuk bertemu Ibu, karena aku akan keluar kota." Ucap Mathias, setelah minum air mineral yang diberikan Ambar.
__ADS_1
"Kapan Mas mau ke luar kota?" Tanya Ambar terkejut, ketika mendengar Mathias akan ke luar kota.
"Nanti kita bicarakan, aku ngurusin Ibu dulu." Ucap Mathias.
"Ooh iyaa, Mas. Hati-hati!" Ucap Ambar sambil mengambil tangan Mathias dan mencium punggung tangannya.
"Kau tidak usah mengantarku, karena di luar masih gelap." Ucap Mathias, karena masih subuh dan gelap. Mathias membuka pintu rumah dan keluar.
Ambar hanya melihat pintu yang baru ditutup Mathias dengan hati yang tidak bisa didefenisikan. Kehadiran Mathias memberikan suasana yang berbeda di rumah dan hati Ambar.
Sampai siang tidak ada kabar dari Mathias, membuat Ambar cemas. Dia terus melihat ponselnya, mungkin ada pesan atau panggilan dari Mathias. Sehingga ketika Juha memintanya untuk menemaninya tidur siang, Ambar hanya menemaninya tidur dengan ponsel yang telah digetarkan ada di tangannya.
Jadi ketika ponselnya bergetar dan melihat Mathias yang menelponnya, Ambar langsung bangun dan meresponnya.
π±"Alloo, Mas. Apakah Ibu baik-baik, saja?" Tanya Ambar khawatir, sambil keluar dari kamar Juha.
π±"Alloo, Ambar. Iyaa, Ibu baik, tetapi sekarang lagi di rawat di Rumah Sakit. Maaf baru kasih info, karna sedikit sibuk." Ucap Mathias menjelaskan.
π±"Iyaa, Mas. Ngga papa. Yang penting Ibu baik-baik saja." Ucap Ambar, dengan hati cemas.
π±"Apa kau mau datang menengok Ibu di Rumah Sakit?" Tanya Mathias, berharap.
π±"Iyaa, Mas. Kirim alamat dan nomor kamarnya. Sekarang aku siap-siap." Ucap Ambar, dengan hati yang makin cemas.
π±"Ngga usah, nanti aku pulang menjemputmu." Ucap Mathias.
π±"Ngga usah, Mas. Aku ke sana sendiri saja pakai ojol atau mobil online kalau ngga macet. Mas tungguin Ibu di situ saja." Ucap Ambar, sambil berjalan ke kamar untuk siap-siap.
π±"Baik, aku shareloc dan hati-hati." Ucap Mathias, dan mengakhiri pembicaraan mereka. Ambar yang telah ada di kamar segera mengganti pakaiannya, kemudian mengambil ponselnya untuk pesan ojol.
__ADS_1
~βββ‘ββ~