
...~•Happy Reading•~...
Mathias dan Ambar belum bisa tidur, karena apa yang dibicarakan oleh Mathias. Mereka akan menikah di Gereja Minggu depan, satu Minggu lagi. Itu bukan waktu yang lama bagi yang sibuk.
"Jadi ini gambaran garis besar dipikiranku untuk acara di Gereja. Mungkin kau ada punya ide yang lain, bisa kau sampaikan. Karna aku laki-laki, jadi berpikir yang praktis saja. Kalau kau mau yang lain, dibicarakan saja." Ucap Mathias serius, sambil memandang Ambar.
"Pada saat hari H. Selesai dari Gereja, biar Ibu, Juha dan Seni kembali pulang ke rumah bersama sopir. Sedangkan kita berdua ke restoran untuk bertemu Sari dan teman-teman. Karna aku sudah berjanji pada Sari untuk makan malam di restorannya, jadi sekalian aku akan mengundang beberapa teman." Ucap Mathias lagi, karena terbesit ide saat berbicara.
"Aku ngga mau Ibu terlalu lama di luar dan Juha tidak usah ikut, kasihan kalau kita pulang agak malam. Jadi biarkan Juha dan Seni ikut pulang bersama Ibu dan sopir ke rumah." Ucap Mathias, dan Ambar mengangguk mengerti.
"Besok kita ngga usah ke kantor baru, nanti hari senin baru aku bicara dengan Bagas untuk interview karyawan baru. Jadi besok kita bisa keluar mencari cincin dan ke Gereja untuk membicarakan pemberkatan. Karna Minggu depan sudah sibuk untuk urus kantor baru." Ucap Mathias, menjelaskan rencananya.
"Kau tidak keberatan kalau pemberkatannya hanya sederhana kan? Karna aku tidak akan memberitahukan keluarga Ayah. Jadi hanya Ibu saja dan darimu hanya ada Juha. Ada saksi yang dicatatan sipil dan mungkin ada jemaat yang hadir." Ucap Mathias mengharapkan pengertian Ambar.
"Ngga papa Mas. Kan kita sudah menikah, yang di Gereja itu intinya minta diberkati oleh Tuhan. Supaya lebih tenang menjalani rumah tangga, karena merasa ada yang kurang kalau belum melakukan Pemberkatan Nikah." Ucap Ambar, mendukung rencana Mathias.
'Toh aku bersama Papa Juha menikah di Gereja dengan banyak keluarga dan jemaat yang hadir. Resepsi di gedung besar, bagus dan ternama. Dihadiri undangan yang sangat banyak, para pejabat, teman dan saudara. Tetapi Papa Juha mengkhiananti pernikahan yang digelar dengan meriah itu." Ucap Ambar dalam hati.
Dia tidak mau mengatakannya kepada Mathias, karena nanti Mathias berpikir dia masih menyimpan amarah kepada Rulof atas perbuatannya.
"Baiklah... Kalau kau sudah setuju, besok kita bicarakan dengan Ibu sekalian urus keperluannya. Mari kita berdoa dan tidur, karna besok banyak hal yang akan di urus." Ucap Mathias, lalu mengambil tangan Ambar untuk berdoa bersama sebelum tidur.
*((**))*
Setelah selesai membicarakan tentang pemberkatan nikah di Gereja, Mathias dan Ambar di sibukan dengan berbagai urusan pernikahan dan pemindahan kantor ke gedung yang baru.
Sehingga tidak tidak terasa waktu berlalu dengan cepat, tinggal dua hari lagi mereka akan menikah di Gereja. Ambar sudah kerja dari rumah, sambil menemani mertuanya dan menyiapkan rencana pemberkatan nikah mereka.
__ADS_1
Mathias telah berbicara dengan Sari dan kenalan yang akan hadir di acara makan malam telah di email oleh Mathias. Walaupun tinggal dua hari lagi, Mathias masih masuk kantor untuk bekerja.
"Masuuukk.,. Ada apa Bagas.?" Tanya Mathias, saat Bagas telah masuk ke ruang kerjanya.
"Ini Pak., ada yang mau melihat apartemen dan sekarang mereka sudah ada di apartemen menunggu bapak. Karena mereka dari luar kota, mereka mengharapkan bisa bertemu bapak sekarang." Ucap Bagas, menyampaikan maksud kedatangannya.
"Oooh, baiklah. Saya akan ke sana sekalian pulang, ya. Jadi kau tolong urus yang sisanya, jangan lupa matikan lampu dan kunci pintu." Ucap Mathias, setelah melihat jam di dinding yang sudah mendekati jam pulang kantor.
"Iyaa, Pak. Semoga semuanya lancar." Harapan Bagas, untuk urusan apartemen dan perjalanan bossnya.
"Amin..! Trima kasih. Sampai bertemu besok." Ucap Mathias, kemudian merapikan semua dokumen di atas meja dan memasukannya ke dalam tas kerja.
Lalu bersama Bagas keluar dari ruangan dan mengunci pintu ruang kerjanya. Mathias masuk ke cabin untuk mengambil jacket dan helmnya, kemudian turun ke tempat parkir. Dia menjalankan motornya diatas kecepatan normal, karena dia sedang di tunggu di apartemen. Setelah parkir motornya di tempat parkir apartemen, Mathias segera menemui orang yang mau membeli apartemennya. Karena mereka sedang menunggunya di lobby apartemen.
"Selamat sore, Pak. Saya Mathias." Ucap Mathias memperkenalkan diri saat bertemu dengan sepasang suami istri yang akan melihat apartemennya.
"Pak Wisnu dari mana?" Tanya Mathias setelah mereka selesai lihat-lihat isi apartemen dan duduk di meja makan.
"Kami dari Pontianak dan saya ditugaskan ke Jakarta, jadi sedang cari tempat tinggal dan melihat iklan apartemen bapak." Ucap Pak Wisnu, menjelaskan. Mathias mengangguk mengerti.
"Maaf, Pak Mathias. Ini apartemen yang bagus, tetapi kosong. Apakah bapak tidak tinggal di sini?" Tanya Bu Henny, istri Pak Wisnu ingin tahu.
"Pertama belinya, saya tinggal di sini Bu. Tetapi belakangan ini Ibu saya kurang sehat jadi saya tinggal di rumah bersama Ibu. Karena Ayah saya sudah ngga ada, jadi kasihan kalau Ibu sendiri di rumah." Ucap Mathias menjelaskan.
"Jadi kalau kami bayar besok, tempat ini sudah bisa kami tempatin?" Tanya Bu Henny lagi, karena sudah senang dengan partemen Mathias dan lingkungan apartemennya. Selain itu juga, apartemennya berada di jantung kota Jakarta.
"Ooh, bisa Bu. Ini sudah kosong, saya hanya akan membawa perlengkapan masak dan makan yang tersisa. Karena itu pemberian Ibu saya." Ucap Mathias, karena khawatir Ibu Henny meminta untuk ditinggalkan di apartemennya.
__ADS_1
"Karna ini sudah sore, besok pagi kita bertemu untuk melanjutkan proses selanjutnya saja." Ucap Pak Wisnu, karena sudah suka apartemennya dan ingin segera pindah dari hotel.
"Baik, Pak. Kalau begitu besok pagi kita bertemu di kantor saya. Ini kartu nama saya, jadi bapak bisa menghubungi saya, mau bertemu jam berapa. Agar saya bisa tunggu di kantor." Ucap Mathias, sambil menyerahkan kartu namanya.
"Ooh, Pak Mathias seorang pengacara?" Tanya Pak Wisnu terkejut, karena melihat penampilannya, Pak Wisnu berpikir Mathias seorang yang bekerja di kantoran.
"Ini kartu nama saya, nanti saya akan hubungi Pak Mathias besok pagi untuk janji bertemu." Ucap Pak Wisnu makin bersemangat.
"Iyaa, Pak. Kalau bisa, bapak hubungi saya satu jam sebelum pertemuan, jika saya ada di luar bisa kembali ke kantor." Ucap Mathias menjelaskan, agar mereka tidak tiba-tiba telpon dan langsung datang.
"Baik, Pak Mathias. Kami akan hubungi bapak besok pagi sebelum ke kantor bapak." Ucap Pak Wisnu, mengerti yang dimaksudkan oleh Mathias.
Setelah selesai melihat-lihat dan berbicara, Mathias mengantar Pak Wisnu dan istri turun ke lobby dan mereka berpisah. Setelah melihat Pak Wisnu telah menjauh, Mathias meminta kotak kardus dari security.
"Kami tidak ada kotak kardus, Pak Mathias. Tetapi coba lihat di mini market, mungkin di sana ada." Ucap Security.
"Baik, Pak. Saya minta tolong bapak beliin, ya. Saya butuh kardus yang agak banyak, karena mau masukan barang pecah belah dan juga sekalian tolong beli lakban gulungan besar." Ucap Mathias, sambil memberikan uang kepada security.
Setelah ditinggal oleh security, Mathias mengambil ponselnya untuk menghubungi Ambar.
📱"Alloo, Ambar. Lagi di mana." Tanya Mathias saat Ambar merespon panggilannya.
📱"Masih di rumah Ibu, Mas. Apakah Mas sudah pulang?" Tanya Ambar, karena mengira Mathias sudah pulang di rumah.
📱"Belum, sebentar lagi baru pulang. Mau kasih tau, aku ada kirim paket ke rumah. Nanti kalau sudah sampai dirumah, tolong hati-hati mengangkat dan meletakannya, ya. isinya ada barang pecah belah. Aku tiba di rumah baru kita buka bersama." Ucap Mathias menjelaskan.
📱"Baik, Mas. Nanti aku katakan buat Seni juga." Ucap Ambar, mengerti. Kemudian Mathias mengakhiri pembicaraan mereka.
__ADS_1
...~●○♡○●~...