
~•Happy Reading•~
Ambar makin terkejut dengan apa yang dikatakan Mathias. Dia memandang Mathias yang sedang berdiri dengan berbagai tanya di kepala. "Mau menikah sekarang, Pak? Saya tidak membawa surat-surat apa pun, selain KTP, Pak." Ucap Ambar yang terkejut, sampai lupa untuk tidak bersikap formal terhadap Mathias.
"Surat-suratmu masih ada sama kami. Waktu jual mobil itu, kami masih punya kopinya." Ucap Mathias mengingatkan. Dia sudah meminta temannya mengurus semuanya, tinggal tunggu persetujuan dari Ambar untuk menikah dengannya.
Ambar tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia menerima dan percaya dengan apa yang dilakukan oleh Mathias. Dia tahu, Mathias sedang berusaha menolongnya.
"Jangan melihatku seperti itu, aku sedang melakukan yang terbaik untuk kita. Mau nikah hari ini atau besok, sama saja. Aku harus menyelesaikan yang ini, agar bisa fokus pada yang lain." Ucap Mathias, melihat Ambar yang melihatnya dan hanya diam.
"Iyaa Mas, maaf. Tadi aku sudah menerima untuk menikah tetapi tidak menyangka akan menikah hari ini." Ucap Ambar, setelah menyadari yang terjadi dan melihat keseriusan Mathias.
Tiba-tiba bunyi ketukan pintu ruang kerja Mathias. "Masuuk... Kau sudah selesai?" Tanya Mathias, melihat Bagas masuk ke ruang kerjanya.
"Sudah, Pak. Eeh, selamat siang Bu Ambar." Sapa Bagas, ketika melihat Ambar ada dalam ruangan Mathias. Dia menjadi cemas, melihat Ambar ada datang ke kantor mereka. Karena dia berpikir, mungkin ada sesuatu yang terjadi dengan Ambar dan keluarga Alm. suaminya.
"Iya, selamat siang, Mas." Ucap Ambar tersenyum senang, melihat asisten Mathias telah datang.
"Mas, boleh aku bicara sebentar dengan Mas Bagas?" Tanya Ambar pelan, mendekati Mathias.
"Panggil dia Bagas." Ucap Mathias, sambil mengangguk. Ambar langsung mengajak Bagas keluar dari ruang kerja Mathias. Bagas mengikuti tanpa mengerti, karena bossnya sudah memberikan kode untuk ikuti saja.
"Ma.., eeh... Bagas, ini saya mau gantikan transportnya, karna waktu itu sudah membantu saya jual mobil. Maaf, baru sekarang bisa memberikannya." Ucap Ambar, sambil menyerahkan amplop coklat padanya.
"Sebenarnya Ibu tidak perlu begini, kami membantu Ibu dengan ikhlas." Ucap Bagas, sambil mendorong kembali amplop yang diberikan kepadanya.
"Saya tau, tapi saya berharap Bagas menerima niat baik saya juga. Saya sangat bersyukur, karena sudah dibantu mengatasi kesulitan saat itu." Ucap Ambar, sambil tetap memberikan amplop dalam tangan Bagas dan mendesaknya agar mau menerima amplopnya.
__ADS_1
"Trima kasih, Bu." Ucap Bagas, karena Ambar terus mendesak agar Bagas mau menerimanya. Kemudian Ambar segera kembali ke ruangan Mathias meninggalkan amplop dalam genggaman Bagas.
Tidak lama kemudian, tiba-tiba Bagas masuk ke ruangan Mathias tanpa mengetuk pintu. "Maaf, Pak. Bu, anda tidak salah memberikan amplopnya?" Tanya Bagas yang terkejut melihat isi amplopnya. Dia berpikir, mungkin itu untuk bossnya.
"Tidak salah, itu untukmu. Bu Ambar menggantikan transportmu, jadi simpan saja." Mathias yang menjawabnya, karena dia sudah bilang ke Ambar untuk menggantikan transport Bagas saja.
"Tapi Pak, ini mah, transport untuk pulang ke Jogja dengan pesawat bolak balik, bolaaak balik, bolak baliiiik." Ucap Bagas, sambil menggerak kedua tangannya.
"Itu rejekimu, simpan. Jadi nanti Lebaran, mudik naik pesawat." Ucap Mathias, sambil tersenyum. Ambar juga ikut tersenyum melihat yang dilakukan Bagas.
"Iyaa, Pak. Tetapi Lebaran masih lama, sekarang saya mau traktir bapak makan siang." Ucap Bagas senang, karena ternyata amplopnya itu untuk dirinya.
"Hanya saya?" Tanya Mathias sambil tersenyum, karena Ambar ada bersama mereka.
"Ngga, Pak. Untuk Bu Ambar juga. Tunggu, yaa." Ucap Bagas, sambil berjalan cepat keluar ruangan menuju ruangannya untuk pesan makan siang. Mathias hanya menggelengkan kepalanya, tetapi Ambar tersenyum melihat cara Bagas keluar dari ruang kerja Mathias.
"Mau ke mana? Telpon di disini saja." Ucap Mathias, ketika melihat Ambar hendak keluar dari ruangannya. Ambar kembali duduk dan menghubungi Seni.
📱"Alloo, Seni. Kalian sudah makan?" Tanya Ambar, saat Seni merespon panggilannya.
📱"Sudah, Bu. Nanti pulang, jangan lupa beli roti yang dipesan Juha ya, Bu. Tadi saya sudah kirim pesan untuk Ibu." Ucap Seni.
📱"Ooh, Ibu belum membacanya. Iya nanti kalau sempat, Ibu beli. Kalian hati-hati di rumah, ya." Ucap Ambar, dan hendak mengakhiri pembicaraan mereka, tetapi masih mendengar suara Seni memanggilnya.
📱"Bu, tadi belum lama Ibu pergi, ada seorang lelaki datang dan mengetuk pagar. Saya keluar menemuinya, karna kira orang komplek. Dia tanya Ibu kemana, saya bilang tidak tau. Dia marah, dan langsung naik motornya dan pergi.
📱"Apa kau mengenalnya?" Tanya Ambar was-was.
__ADS_1
📱"Tidak, Bu. Saya baru perna melihatnya." Jawab Seni, yakin.
📱"Yaaa, sudah. Ngga papa. Nanti siapa saja yang datang, jangan dibukain pagar, ya." Ucap Ambar untuk menenangkan Seni, kemudian Ambar mengakhiri pembicaraan mereka dengan hati yang dag dig dug.
'Apakah lelaki tadi yang aku rasakan mengikutiku?' Tanya Ambar dalam hati, mengingat perjalanannya ke kantor Mathias dia merasa diikuti.
"Kenapa, apa mereka datang lagi?" Tanya Mathias, melihat Ambar yang terdiam setelah selesai berbicara dengan Seni. Ambar hanya mengangguk, karena pikirannya sedang bertanya-tanya maksud kedatangan lelaki itu.
"Mas, kira-kira mereka itu mau apa lagi ya. Kan, Mas Rulof sudah meninggal dan sudah tidak ada lagi yang mereka bisa ambil dari rumah." Ucap Ambar sambil melihat Mathias dan berpikir. 'Kenapa keluarga Alm. suaminya jadi menyeramkan.'
"Tidak usah dipikirkan sekarang, nanti bertemu dengan mereka baru ditanya, apa maksud mereka. Sekarang kalau menebak, bikin pusing. Lebih baik kita makan, dan pergi menikah." Ucap Mathias, saat melihat Bagas datang membawa makan siang mereka.
"Siapa yang mau menikah, Pak." Tanya Bagas, saat masuk mendengar bossnya mengatakan pergi menikah.
"Saya hari ini mau pergi menikah dengan Bu Ambar." Jawab Mathias, santai. Tanpa melihat wajah Ambar yang merah, karena malu terhadap Bagas.
"Benarkah, Pak?" Tanya Bagas terkejut, sambil melihat bossnya dan Ambar bergantian. Seakan tidak percaya mendengar apa yang dikatakan bossnya. Karena setahu Bagas, bossnya belum lama bertemu dengan Ambar. Sedangkan Angel yang pacaran begitu lama saja, boss tidak mengajaknya bertunangan, apalagi menikah.
Mathias mengangguk mengiyakan, dan melihat Bagas dengan serius. Mathias menunjukan bahwa yang dikatakan itu benar dan serius. Melihat wajah serius bossnya, Bagas mengerti.
"Alhamdulillah." Ucap Bagas, dengan wajah yang gembira dan senang. Karena menurutnya, sikap dan perilaku Ambar seribu kali jauh lebih baik dari mantan pacar bossnya. Kemudian Bagas meletakan makan siang yang dipesannya di atas meja tamu dengan hati yang riang.
"Astagaaa, kau traktir kami makan Ayam Baqcot?" Tanya Mathias terkejut, karena dia tahu harga menu di restoran tersebut. Begitu juga dengan Ambar yang mengetahui harganya, tersenyum melihat wajah Bagas yang salah tingkah dilihat bossnya.
"Sekali-sekali, Pak. Mumpung lagi dapat duit buanyaakk." Ucap Bagas, sambil membuka kedua tangannya lebar dengan wajah tersenyum. Mathias hanya bisa menggelengkan kepala melihat yang dilakukan oleh Bagas.
~●○♡○●~
__ADS_1