
...~•Happy Reading•~...
Hari yang ditunggu-tunggu oleh Mathias dan Ambar telah tiba. Semenjak pagi sudah terjadi kesibukan di rumah keluarga Mathias. Karena mereka akan berangkat ke Gereja untuk Pemberkatan dari rumah orang tua Mathias.
Sesederhana sebuah pernikahan yang melibatkan keluarga, tetap terjadi kesibukan. Sangat berbeda saat Mathias dan Ambar menikah di Kantor Catatan Sipil. Hanya mereka berdua yang membawa diri untuk menikah.
Apalagi saat ini, Ibu Titiek ikut mengambil bagian. Walaupun dalam kondisi yang tidak sehat, tetapi dengan adanya ponsel dan internet sangat membantunya untuk berbuat sesuatu untuk putra kesayangannya.
Bu Titiek telah mempergunakan semua potensi diri dan Alm. suaminya untuk membuat putranya berbahagia di hari spesialnya. Kondisi tubuhnya tidak menghalanginya untuk membuat kejutan untuk putranya.
Dengan berat hati, Ambar menerima untuk dandan di rumah. Padahal dia ingin dandan di salon saja seperti yang pernah dilakukannya. Tetapi Bu Titiek tidak setuju. Beliau memanggil orang salon untuk datang ke rumah untuk mendandani mereka semua.
Pemberkatan Nikah akan dilaksanakan pada jam 04.00 sore. Tetapi setelah makan siang yang dimajukan, semua sudah sibuk. Petugas salon sudah datang dan mulai mendadani yang mau didandani. Termasuk Bi Ina dan Seni. Karena tidak ada keluarga yang datang seperti permintaan Mathias
Karena Gereja tidak terlalu jauh dan tidak melewati daerah yang macet. Perjalanan akan ditempuh, paling lambat 20 menit. Oleh sebab itu, mereka akan berangkat jam 03.00 sore.
Sebelum jam 03.00 sore, Ambar keluar dari kamar tamu dengan sudah dandan dan berbaju lengkap untuk siap berangkat. Melihat penampilan Ambar, Mathias tidak tahan ingin memeluknya.
Mathias mengakui apa yang dikatakan Ambar. Baju Ibunya sangat pas dan cocok dengan tubuhnya. Dia hanya bisa mengangkat jarinya, membuat tanda OK. Ambar mengerti yang dimaksudkan Mathias dengan kode jarinya.
Setelah semuanya rapi, Ibunya menggunakan mobilnya bersama sopir, suster, Bi Ina dan Seni. Sedangkan Mathias, Ambar dan Juha naik mobil yang dikirim oleh Erwin bersama sopirnya.
Saat mereka tiba di Gereja, Mathias dan Ambar terkejut. Karena Gerejanya di hias bertaburan banyak bunga. Mathias melihat ke arah Ambar, tetapi Ambar menggelengkan kepalanya. Karena dia memang tidak tahu. Apalagi dia diberikan sebuah hand bouquet yang cantik
'Ini pasti dilakukan oleh Ibu.' Ucap Mathias dalam hati dengan mata berembun. Sedangkan Ambar sudah tidak bisa berkata-kata. Dia sangat terharu, membuatnya ingin memeluk mertuanya.
Karena dia tahu, pasti mertuanya yang melakukan itu semua. 'Pantesan kemaren Ibu melarang aku ke rumahnya.' Ucap Ambar dalam hati, sambil melihat Mathias sedang mengendong Ibunya turun dari mobil dan mendudukannya di kursi roda.
Mathias mencium lama kepala Ibunya dengan hati yang membuncah. Karena dia tahu Ibunya yang melakukannya. "Sudah, ke sana dekatin Ambar. Jangan biarkan dia merusak make up nya." Ucap Bu Titiek tersenyum dan mendorong lengan Mathias pelan.
__ADS_1
Mereka makin terharu saat Pendeta telah siap untuk menyambut mereka masuk ke dalam Gereja. Ternyata di dalam Gereja tidak kosong. Banyak jemaat yang menghadiri Ibadah Pemberkatan mereka.
Ternyata tidak sederhana seperti yang mereka pikirkan. Ada singer yang bernyanyi menyambut pengantin dan keluarga. Mathias telah meminta Pak Benny dan istri mendampingi Ambar bersama Juha yang mengenakan jas seperti Mathias.
Sedangkan Ibunya didampingi oleh sopir. Kedua temannya yang menjadi saksi, melengkapi acara pemberkatan pernikahan. Mereka tidak sendiri menerima berkat, tetapi disaksikan oleh orang-orang yang mengasihi mereka.
Setelah selesai Ibadah dan tiba waktu foto bersama, Mathias meminta sopir Ibunya untuk memanggil Seni, Bi Ina dan Suster yang lagi tunggu di aula untuk foto bersama dengan mereka.
Seni yang sudah dari tadi menangis di aula menyaksikan acara, segera masuk dan memeluk Nyonyanya dan Juha. "Seni... Kau lagi cantik, jangan sampai fotomu rusak karena wajahmu cemong." Ucap Mathias bercanda, agar bisa menenangkannya.
Karena kalau dibiarkan, Ambar dan Ibunya tinggal banjir lokal di pipi mereka. Setelah semua sesi foto selesai, Ambar dan Mathias segera pamit. Karena mereka akan menuju ke restoran Sari.
"Suster, tolong temani Ibu ya. Seni, pulang ke rumah bersama Eyang dan tolong temani Juha. Kami mungkin pulang agak larut, jadi kunci pintu, dan angkat kuncinya." Ucap Mathias, lalu mencium pipi Ibunya dan Juha. Begitupun dengan Ambar, memeluk mertuanya dan putranya dengan sayang.
Pak Benny bersama istri dan kedua temannya naik mobil masing-masing menuju Ayam Baqcot Restaurant. Dimana di sana sudah ada Bagas dan Sari yang menunggu mereka.
Sesampai di Restoran, ruang privat yang disediakan sari tidak seperti biasanya. Dihiasi juga dengan bunga yang sama seperti di Gereja. Ambar memeluk Sari dengan erat karena sangat terharu menyaksikan ruang makan malam mereka.
Ruang privat restoran telah disulap seperti tempat resepsi mini. Mathias tersenyum senang sambil memeluk Sari yang menyambutnya dengan senyum sumbringa.
"Pak Mathias selalu membuat kejutan. Kalau aku tau ada tempat yang bagus begini, saya akan sering memakainya untuk acara-acara yang tidak terlalu banyak orang." Ucap Erwin, sambil melihat dan mengagumi tempat acara.
"Trima kasih, Pak Erwin untuk semuanya. Silahkan nikmati makan malamnya, nanti saya perkenalkan sama yang punya tempatnya." Ucap Mathias, sambil tersenyum.
"Sari, kenalkan ini Pak Erwin. Beliau rencana mau pakai tempatmu untuk acara kantornya." Ucap Mathias memperkenalkan Sari yang sedang datang mendekatinya.
"Ooh, baik Pak. Nanti saya berikan kartu nama saya, jadi bapak tinggal menghubungi saya." Ucap Sari, sambil tersenyum senang. Karena dia sudah mendapat info dari Bagas, siapa saja yang datang sebagai tamu Mathias.
"Silahkan Pak Erwin berbicara selanjutnya dengan saudara saya ini, karna kami mau menyapa yang lain dulu." Ucap Mathias, sambil mengajak Ambar untuk menyapa para tamu yang lain.
"Ini kartu nama saya, Pak Erwin. Silahkan hubungi saya, jika memerlukan pelayanan kami di sini." Ucap Sari, sambil memberikan kartu namanya kepada Erwin.
__ADS_1
"Trima kasih. Sepertinya, Pak Mathias sangat menyayangi anda." Ucap Erwin, sambil menerima kartu nama dan memasukannya ke kantong jasnya.
"Alhamdulillah... Mungkin karna diantara kami bersaudara, saya yang paling tidak merepotkannya." Ucap Sari, sambil memeggang dadanya. Erwin melihat Sari dengan wajah terkejut.
"Bukankah anda bersaudara dengan Pak Mathias?" Tanya Erwin terkejut, karena menyangka Sari sama keyakinan dengan Mathias.
"Oooh, kami keluarga besar seperti gado-gado. Banyak suku dan agama ada dalam keluarga besar kami. Jadi bisa dibilang seperti, Indonesia mini." Ucap Sari, sambil tersenyum. Erwin ikut tersenyum mendengar penjelasan Sari.
"Saya sangat beruntung bisa dekat dengannya. Jadi kapan saja saya memerlukan bantuan hukum, dia akan memberikannya secara gratis." Ucap Sari, sambil melihat ke arah Mathias dengan rasa sayang.
"Kalau begitu, sama dengan saya." Ucap Erwin singkat dan pelan.
"Anda berduit, tetapi dia memberikan gratis untuk anda?" Tanya Sari, heran.
"Efek teman baik." Ucap Erwin, singkat.
"Efek saudara baik." Ucap Sari singkat dan tersenyum, sambil menunjuk dirinya. Lalu mereka berdua tertawa mendengar ucapan mereka sendiri.
"Apa yang membuat kalian tertawa senang seperti itu?" Tanya Mathias yang sudah kembali mendekati mereka bersama Ambar.
"Kami sedang membicarakan efek." Jawab Erwin, singkat dengan wajah tersenyum.
"Efek...? Efek apa yang bisa membuat kalian senang seperti itu?" Tanya Mathias, tidak mengerti.
"Efek saudara baik dan teman baik, dapat konsultasi hukum gratis." Ucap Erwin, dan Sari makin tertawa. Mathias dan Ambar ikut tertawa, karena tahu siapa yang sedang mereka bicarakan.
Tiba-tiba alunan musik berhenti dan Bagas berdiri di samping penyanyi sambil memegang mick. "Selamat malam semua tamu yang hadir. Jika berkenan, bisa hadir pada acara pembukaan kantor baru kami pada hari Senin, 20 April. Alamatnya kantor baru akan kami email kepada bapak/ibu." Ucap Bagas dari depan. Mathias melihat Ambar dengan wajah bertanya-tanya.
"Pak Mathias mau pindah kantor? Tanya Erwin dan Sari juga ikut bertanya.
"Iya Pak Erwin. Sekarang dalam proses..." Ucap Mathias terputus.
__ADS_1
"Kami berharap Pak Erwin dan Bu Sari bisa hadir besok senin di acara pembukaan kantor baru kami." Ucap Ambar serius, sambil memandang Mathias untuk meyakinkannya.
...~●○♡○●~...