
...~•Happy Reading•~...
Setelah kembali dari ruang kerja Bagas, Mathias berencana memeriksa Hardisk eksternal yang ditinggalkan oleh Rulof di kotak deposit. Karena dia tidak mau menunjukan rasa penasarannya di depan Ambar.
Saat mengeluarkan hardisk eksternal Rulof, Mathias melihat kartu kredit Rulof. Dia jadi teringat laptop dan ponsel Rulof. 'jangan-jangan Alm. ada beli sesuatu dengan kartu kredit ini.' Pikir Mathias, sambil menimbang-nimbang kartu kredit di tangannya.
Mathias segera menelpon Ambar, agar datang ke ruangannya. Karena dia tidak mau membicarakannya di depan Bagas. "Mariii, duduk di sini dulu." Ucap Mathias, sambil menunjuk kursi di depan meja kerjanya. "Apakah kau membawa surat-surat Alm yang kemarin dibawa ke bank?" Tanya Mathias, saat Ambar telah duduk.
"Sepertinya, masih ada dalam tas, Mas. Aku mungkin belum mengeluarkannya, bagaimana?" Tanya Ambar tidak mengerti, karena Mathias tiba-tiba menanyakan surat-surat Rulof.
"Kalau begitu, nanti balik ke ruangan dan tolong periksa tas, ya. Kalau surat-suratnya ada dibawa, segera kabari aku. Kita akan keluar sebelum makan siang ke BIC Bank untuk mengecek sesuatu." Ucap Mathias serius.
"Apakah Papa Juha ada simpan uang di sana atau hutang. Supaya kau tau dan jangan sampai ada pemberitahuan yang tiba-tiba karena belum membayar hutang." Ucap Mathias, menjelaskan maksudnya menanyakan surat-surat Alm.
"Iyaa, Mas. Aku akan periksa dan kabari." Ucap Ambar, kemudian berdiri keluar menuju ruang kerja Bagas. Dia mengerti yang dimaksudkan Mathias, agar tidak ada kejutan yang tidak menyenangkan.
Tidak lama kemudian, ada pesan masuk dari Ambar bahwa dia membawa surat-suratnya. Mathias langsung menghubunginya.
📱"Kalau begitu siap-siap, kita akan keluar sebelum jam istirahat siang." Ucap Mathias, dan mengakhiri pembicaraan mereka.
Tidak lama kemudian, Mathias kembali memasukan hardisk eksternal ke dalam tasnya dan memasukan laptopnya ke tas kerja. Dia mengunci pintu ruang kerjanya dan menuju ruang kerja Bagas.
"Bagas, saya dan Bu Ambar mau keluar sebentar, ada yang mau diurus. Sekalian makan siang, jadi kau makan siang sendiri." Ucap Mathias saat sudah berada di ruang kerja Bagas.
"Baik, Pak. Tapi nanti bapak kembali lagi ke kantor kan?" Tanya Bagas, mengharapkan boss dan istrinya kembali ke kantor. Dia sudah mulai merasa senang, karena suasana kantor jadi berbeda dengan kehadiran istri bossnya.
"Iyaa, kami akan kembali setelah makan siang. Kau kunci pintu saja saat kami berangkat, biar yang datang ketuk pintu." Ucap Mathias, mengingatkan Bagas. Kemudian mereka keluar kantor meninggalkan Bagas yang berdiri di ruang tunggu.
Setelah tiba di parkiran BIC Bank, Ambar turun dan Mathias memeggangnya agar bisa berdiri dengan baik. "Kau masuk ke bank seperti yang di bank sebelumnya. Nanti setelah titip helm, baru aku menyusulmu ke dalam." Ucap Mathias, agar Ambar bisa tenang berurusan dengan pihak bank.
__ADS_1
Saat Mathias masuk ke bank, Ambar mendekatinya dan mengajak Mathias duduk. "Mas, di sini tidak ada tabungan, tetapi ada hutang. Dan hutangnya lumayan besar karena Alm. membeli perhiasan dengan kartu kredit. Ada denda juga, karena belum dibayar beberpa bulan." Ucap Ambar beruntun menjelaskan.
Walaupun Mathias sudah mengatakan mungkin ada tabungan atau hutang, Ambar tetap terkejut. Karena mengetahui Rulof membeli perhiasan wanita dengan harga yang sangat mahal.
"Dengarkan aku, ngga usah dipikirkan. Tanya pihak bank, karena Papa Juha sudah meninggal, mungkin ada solusi yang mereka tawarkan untuk menyelesaikan pembayarannya." Ucap Mathias.
"Kalau memang harus dibayar, katakan saja kau akan bayarkan sesuai dengan waktu disepakati Alm. Ngga papa, tidak usah jadi beban. Cepat selesaikan, nanti yang lain kita bicarakan di rumah." Ucap Mathias pelan, sambil mengelus pelan lengan Ambar.
"Iyaa, Mas. Mohon maaf, tadi aku terkejut sampai lupa." Ucap Ambar, menyadari kesalahannya yang menjadi emosi mengetahui Rulof membeli perhiasan yang mahal, tetapi bukan untuknya.
Ambar segera kembali ke CS untuk menyelesaikan persoalan yang ditinggalkan oleh Alm. Rulof. Setelah selesai semuanya, mereka keluar ke tempat parkir bank.
"Kau mau kita makan apa, siang ini?" Tanya Mathias, sebelum memakai helmnya. Dia ingin mengalihkan pemikiran Ambar dari hal yang baru dihadapinya.
"Terserah Mas saja, aku ikut." Ucap Ambar, sambil memakai helm dan memegang pundak Mathias untuk naik ke boncengan motor. Setelah duduk dengan baik, Ambar memeluk pinggang Mathias. Ketika merasa Ambar telah duduk dengan baik, Mathias langsung menjalankan motornya meninggalkan parkiran bank menuju tempat makan.
"Kau masuk dan cari tempat duduk untuk kita, aku mau titip helm dulu." Ucap Mathias, sambil menuju ke tempat penitipan helm. Sedangkan Ambar masuk ke restoran untuk mencari tempat duduk, namun sebelumnya ke tempat Sari untuk menyapanya.
"Met siang Ri, adakah tempat kosong untukku?" Tanya Ambar, membuat Sari terkejut dan langsung memeluknya. "Kau mau makan di sini? Untuk berapa orang dan kenapa ngga hubungi aku dulu?" Ucap Sari, senang sambil mencari tempat untuk Ambar dan mengajaknya duduk.
"Apa kabarmu, Ar? Kau sekarang tambah cantik." Ucap Sari sambil melihat wajah Ambar yang lebih ceria dan cantik. Tidak seperti saat pertama bertemu untuk bekerja di tempatnya.
"Hehehe. Maaf, Ri. Belakangan ini banyak hal yang terjadi, membuat aku ngga sempat menghubungimu." Ucap Ambar, sambil mengatupkan kedua tangannya di dada karena merasa bersalah kepada Sari.
"Aku mengerti, tenang saja. Eehh... Ambar, sebentar ya. Aku lihat tempat untuk sepupuhku dulu." Ucap Sari, sambil berdiri mendekati Mathias yang baru masuk dan sedang mencari Ambar.
"Kenapa kau datang jam segini, tanpa menghubungiku dulu? Ini jam makan dan tidak ada tempat kosong." Tanya Sari, sambil memukul lengan Mathias karena tempat sudah penuh.
"Tenang saja, itu aku sudah dapat tempat duduk." Ucap Mathias, sambil menunjuk meja yang diduduki Ambar. "Maksudmu, kau mau duduk makan dengan temanku?" Tanya Sari, tercengang dan tidak mengerti.
__ADS_1
"Mari kita kesana dan ngobrol." Ucap Mathias, sambil meletakan tangannya di pundak Sari dan berjalan menuju meja Ambar. Sari mengikuti ajakan Mathias sambil memeluk pinggangnya tanpa bertanya lagi.
"Kalau kau ngga sibuk, makan sianglah dengan kami." Ucap Mathias santai, sedangkan Sari melihatnya dengan tidak mengerti.
"Kita makan dulu, baru ngobrol. Karna aku sudah sangat lapar." Ucap Mathias, dan Sari memanggil pelayan untuk melayani mereka.
"Ambar. Kenalkan, ini sepupuhku yang cantik, baik hati, tidak sombong dan rajin bekerja." Ucap Mathias bercanda, ngeledekin Sari yang sedang melihatnya dengan wajah serius.
"Ngga usah merayuku dengan bualanmu yang tidak laku itu. Ambar, maaf, yaa. Dia bisa duduk makan denganmu? Tempat makan lagi pada penuh semua." Ucap Sari, tidak enak hati terhadap Ambar.
"Ngga usah minta maaf sama Ambar, karna aku datang makan dengannya." Ucap Mathias, sambil tersenyum santai.
"Benarkah, Ambar?" Tanya Sari, sambil memandang Ambar yang hanya diam. Ambar mengangguk mengiyakan, menjawab pertanyaan Ambar.
"Jadi sekarang kalian ... " Sari tidak meneruskan ucapannya, tetapi memberikan isyarat dengan kedua jarinya. Dia tahu Mathias dan Ambar mengerti maksudnya.
"Iyaa, sekarang Ambar adalah istriku." Ucap Mathias, menjawab petanyaan yang ada di pikiran Sari. Mendengar itu, Sari terkejut, karena dipikirannya Mathias dan Ambar sedang berpacaran.
"Lalu bagaimana dengan..." Sari tidak meneruskan ucapannya, karena tidak enak dengan Ambar. Dia tahu Mathias sedang berpacaran dengan Angel.
"Sudahlah... Tolong jelaskan padaku, kalau sudah menikah kenapa tidak mengundangku?" Tanya Sari, protes. Dia percaya pada keputusan Mathias.
"Kami baru menikah di catatan sipil, nanti kalau Ibu sudah agak sehat baru kami menikah di Gereja. Saat itu baru kau yang harus sibuk membantu kami. Karena keluarga kita akan makan malam di tempatmu ini." Ucap Mathias, yakin.
Ambar mengangguk untuk meyakinkan Sari tentang apa yang dikatakan Mathias. Melihat Ambar mengangguk, Sari langsung berdiri dan memeluknya dan mengucapkan selamat untuk Ambar dan Mathias.
Melihat senyum di wajah Ambar, Mathias bersyukur membawa Ambar datang makan di restoran Sari. Sedikit banyak dia bisa melupakan peristiwa yang baru terjadi.
...~●○♡○●~...
__ADS_1