
...~•Happy Reading•~...
Keesokan harinya, Ambar telah bangun pagi-pagi dan mempersiapkan semua keperluan untuk berangkat ke kantor. Juha sudah dibangunkan dan mandi, karena mereka akan sarapan di rumah orang tua Mathias.
"Mas, bangun. Nanti kita terlambat." Ucap Ambar, membangunkan Mathias yang masih terlelap. Ambar mencium pipi Mathias dengan sayang, sambil menggoyang pelan lengannya agar bisa membangunkannya.
Mathias membuka matanya perlahan dan melihat Ambar sedang berdiri di sampingnya. Kemudian menarik tangan Ambar, sehingga jatuh ke dalam pelukannya. "Begini dulu, sempurnakan loadingku." Ucap Mathias, sambil memeluk Ambar.
"Mas... Itu Juha sudah bangun dan mandi, masa kalah sama dia. Cepatan bangunnya, kita ditunggu sama Ibu untuk sarapan." Ucap Ambar, menggunakan kalimat-kalimat saktinya agar Mathias bisa mempercepat loadingnya.
"Kenapa Juha bangun pagi-pagi dan kenapa kita mau sarapan di tempat Ibu?" Tanya Mathias, yang sudah selesai loading lalu melepaskan pelukannya dari Ambar. Kemudian bangun duduk di tepi tempat tidur untuk bersyukur.
"Nanti di tempat Ibu baru Mas tanya. Sekarang bangun dan mandi dulu. Itu aku sudah bawa air hangat untuk minum. Setelah mandi baru kita bicarakan." Ucap Ambar, setelah melihat Mathias selesai berdoa. Lalu Ambar berdiri menunggu Mathias berdiri.
"Kau sudah mandi juga?" Tanya Mathias yang baru menyadari, kalau Ambar juga sudah mandi. Tadi waktu memeluknya, dia tidak mencium wangi tubuh Ambar. Sekarang baru tercium dan dia baru menyadarinya.
"Di rumah ini yang belum mandi hanya Mas doang. Jadi cepatan bangun dan mandi." Ucap Ambar lagi, lalu mendorong pelan lengan Mathias.
Dengan langkah yang berat, Mathias turun untuk mengambil handuk, lalu masuk ke kamar mandi. Melihat Mathias sudah di kamar mandi, Ambar segera keluar ke ruang tamu.
"Seni, tolong bawa pakain bapak ini ke tempat Eyang, ya. Kasih saja untuk Bi Ina, minta dimasukan ke kamar bapak. Kau ngga usah balik ke sini, tunggu kami di sana saja." Ucap Ambar, dan Seni mengangguk mengerti.
Setelah selesai mandi, Mathias mengenakan pakaian yang disediakan Ambar dengan dahi berlipat karena tidak mengerti.
"Ambar, kenapa aku pakai baju ini? Bukankah kita akan ke kantor?" Tanya Mathias, saat Ambar masuk ke kamar. Karena yang disediakan Ambar adalah pakaian santai di rumah, hanya pakai celana panjang.
"Mas, pakai itu dulu. Nanti di rumah Ibu baru ganti baju untuk ke kantor. Kita akan jalan ke rumah Ibu, jangan sampai keringatan. Ini aku juga pakai baju santai." Ucap Ambar, memjelaskan. Mathias mengangguk mengerti, karena dia pernah mengalaminya. Sampai rumah Ibunya, harus ganti baju lagi.
__ADS_1
"Ayoo... Mari kita jalan, aku sudah lapar. Mana Juha dan Seni?" Tanya Mathias, saat melihat ruang tamu sepi.
"Mereka sudah ke rumah Ibu duluan, karena Seni mau bantu Bi Ina siapkan sarapan." Ucap Seni, menjelaskan.
"Ooh, ok. Kalau begitu, mari kita jalan." Ucap Mathias, sambil membawa semua perlengkapan untuk ke kantor. Mereka berdua berjalan kaki ke rumah orang tuanya.
Saat tiba di rumah Ibunya, Mathias terkejut Ibunya sudah bangun dan sedang menunggu mereka untuk sarapan bersama. Mathias hanya bisa mencium pipi Ibunya dengan takjub, karena Ibunya sudah bangung sebelum jam 06.00 pagi.
"Ambar, mari cepat sarapan karna sebentar lagi orang salon akan datang." Ucap Bu Titiek, saat melihat Ambar sudah masuk ke ruang tengah dimana Bu Titiek sedang menunggu di ruang makan.
"Kenapa pada sibuk semua? Dan kenapa orang salon mau datang ke sini?" Tanya Mathias yang belum mengerti situasi.
"Kami mau dandan, karna Ibu mau ikut ke kantor baru. Jadi cepatan sarapan, nanti baru kita bicarakan di jalan." Ucap Ambar, agar Mathias tidak banyak bertanya dan mau bekerja sama.
Ketika mendengar yang dikatakan Ambar, Mathias langsung mengerti. Dia langsung duduk di meja makan, dimana Ibunya dan Juha sudah menunggu untuk sarapan. Mereka sarapan tanpa banyak bercakap-cakap. Terutama Mathias, dia mulai bisa mengikuti jalan pikiran Ambar.
Mathias masuk ke kamarnya untuk berganti pakaian yang telah disediakan oleh Ambar. Dia terkejut melihat Ambar menyediakan jas untuknya. Dengan hati bertanya-tanya, dia mengenakannya.
Saat keluar kamar, dia melihat Seni sedang membantu Juha mengenakan kemeja dan celana panjang yang bagus. Juha melihatnya dengan wajah tersenyum dan ingin berlari ke arahnya, tetapi dipegang oleh Seni.
"Nanti baju Papathias kusut. Setelah selesai acara baru boleh peluk Papathias dan Mama." Ucap Seni mengingatkan Juha, karena dia tahu apa yang akan dilakukan oleh Juha.
Mathias duduk di ruang tamu, sambil melihat sopir dan suster sedang menyiapkan mobil dan kursi roda Ibunya. Walaupun hatinya cemas, dia menerima permintaan Ibunya untuk datang ke kantor barunya.
Tidak lama kemudian, Ambar dan Ibunya keluar dari kamar sudah selesai didandan dan berpakaian rapi. Mathias tetap terkejut melihat Ibunya dan Ambar yang telah selesai didandani. Karena mereka mengenakan kebaya dan kain moderen yang cantik.
Mathias sudah sering melihat Ibunya mengenakan kain dan kebaya saat mendampingi Ayahnya ke acara-acara resmi. Tetapi Ambar mengenakan kain dan kebaya, benar-benar suatu kejutan bagi Mathias.
__ADS_1
"Kapan kau pergi membeli kebaya ini? Kau cocok sekali mengenakannya kain dan kebaya ini." Ucap Mathias, tanpa bisa menutupi rasa kagumnya.
"Ini semua punya Ibu. Seperti yang pernah aku bilang, Ibu memiliki banyak baju bagus. Jadi ini salah satu lagi, selain baju yang kemarenan aku pakai untuk pemberkatan." Ucap Ambar menjelaskan, sambil tersenyum senang.
Ambar juga merasa senang melihat Mathias mengenakan Jas yang telah disediakannya. Sangat cocok dan serasi dengan kebaya yang dikenakannya. Bu Titiek tersenyum senang melihat keserasian putra dan menantunya.
"Mas, segeralah kita jalan. Biar Ibu bisa cepat istirahat. Karna Ibu ingin mengikuti acara pembukaan kantor barumu. Jadi jangan sampai Ibu terlalu lama menunggu." Ucap Ambar, melihat Mathias hanya diam terkagum-kagum melihatnya dan Ibunya.
"Ok. Mari kita berangkat, karna semuanya sudah OK." Ucap Mathias, tersenyum. Ambar ikut tersenyum melihat yang dilakukan Mathias dengan jarinya.
Mathias membuka kancing jasnya, lalu menggendong Ibunya masuk ke dalam mobil. Sedangkan suster merapikan dan memasukan kursi rodanya ke bagasi mobil. Setelah semuanya rapi, mereka berenam dengan Juha menuju ke kantor baru Mathias.
Ambar telah mengirim pesan kepada Sari dan Bagas bahwa mereka sudah dalam perjalanan menuju kantor. Agar Sari dan Bagas tahu bahwa mereka sudah di jalan. Karena Ambar telah mengatur dengan Bagas, bahwa acara pembukaannya akan dimulai jam sepuluh pagi.
Setelah selesai mengirim pesan, Ambar terus berdoa di dalam hatinya. Semoga jalanan lancar dan mereka tidak kena macet. Sehingga yang sudah datang di kantor tidak lama menunggu.
Saat tiba di kantor, mereka semua terkejut termasuk Ambar yang merencanakan. Mathias langsung menengok ke belakang untuk melihat Ambar dengan bertanya-tanya.
Tetapi karena melihat wajah Ambar yang terkejut, Mathias mengabaikan dan memperhatikan jalan masuk ke gedung kantornya. Bukan saja banyak mobil mewah yang parkir di halaman depan kantornya, tetapi juga papan karangan bunga. Banyak ucapan selamat atas pembukaan kantor barunya.
Papan karangan bunga ucapan selamat hampir menutupi lantai dasar gedung kantornya. Jadi dari jauh orang hanya bisa melihat lantai atas gedungnya.
Ambar sendiri terkejut melihat itu. Karena yang dia tahu, hanya karangan bunga darinya dan Bu Titiek. Mereka berdua sengaja mengirimkan papan karangan bunga untuk mengucapkan selamat dan menyemangati Mathias.
Tetapi bukan hanya ada karangan bunga dari mereka berdua. Ada juga karangan bunga dari Sari, Erwin, Pak Heru, Pak Benny dan banyak client Mathias lainnya. Hal itu membuat Ambar, Mathias dan Ibunya yang baru tiba jadi terharu.
...~●○♡○●~...
__ADS_1