
...~β’Happy Readingβ’~...
Setelah security datang dan membawa kotak kardus yang lumayan banyak dan satu gulungan besar lakban, Mathias segera kembali ke kamarnya. "Pak, Pak Mathias. Ini uang kembaliannya." Ucap security, sambil mengejar Mathias dengan uang kembalian ditangannya.
"Ngga usah, Pak. Simpan saja untuk beli kopi." Ucap Mathias, lalu masuk ke dalam lift. Security mengucapkan terima kasih sambil memegang dadanya dengan wajah tersenyum.
"Ada apa, kau senyum-senyum sendiri begitu? Apa kau sudah mulai miring?" Tanya salah satu teman security yang telah berdiri di dekatnya.
"Ngga, saya lagi mengaggumi seseorang saja. Senang bisa lihat orang keren berhati keren." Ucapnya, masih tersenyum. Teman-temannya melihat dia dengan wajah tidak mengerti.
"Tadi ada Pak Mathias, breem breeem. Sebenarnya beliau bisa ke mini market sendiri untuk beli lakban dan kardus. Tetapi beliau minta tolong saya yang beli. Tetapi dikasih selembar duit merah dan kembaliannya untuk kita ngopi-ngopi." Ucap securitynya senang dan teman-temannya ikut senang karena kebagian rejeki.
Mereka suka menjuluki Mathias dengan Pak Mathias breem breeem, karena kalau datang ke apartemen bunyi motornya suka menjadi perhatian para security.
Mathias yang telah masuk ke apartemennya segera mengerluarkan alat masak dan perangkat makannya. Memang tidak banyak, tetapi karena punya Ibunya dia ingin membawanya pulang.
Apalagi piring makan lebar, piring kecil, mangkuk dan cangkir-cangkir yang sangat disukainya. Semuanya dibungkus rapi dengan kardus, baru dimasukan ke dalan kotak kardus.
Setelah semuanya rapi dan tidak ada yang tertinggal, Mathias turun ke lobby utama karena mobil paket sudah ada di bawa dan sedang menunggu paketnya.
Mathias meninggalkan apartemen menuju Restaurant Ayam Baqcot, karena ada yang mau dibicarakan dengan Sari tentang rencana makan malamnya.
Dia sudah membuat dena untuk meja-meja yang akan ditempati oleh rekan kerja dan client yang diundang untuk makan malam. Saat tiba di restoran, Sari telah menunggunya.
Mathias dibawa oleh Sari ke ruangan privat yang akan dipakai untuk merayakan hari pernikahannya. "Sari, ini aku berikan dena tempat duduk. Yang lainnya aku serahkan kepadamu." Ucap Mathias senang melihat Sari menyediakan ruang privat utama untuknya.
"Kalau begitu, sekarang kau pulang saja, biar bisa istirahat. Lusa kita bertemu di sini. Oooh iyaa, kau sudah makan belum? Mau makan dulu, baru pulang?" Tanya Sari, karena waktu sudah beranjak malam.
"Trima kasih. Ngga usah, karna Ambar sudah masak. Jadi aku makan di rumah saja. Sampai bertemu Lusa." Ucap Mathias, sambil memeluk Sari dengan sayang.
Sebelum meninggalkan restsurant, Mathias menghubungi Bagas.
__ADS_1
π±"Alloo, Bagas. Kau lagi di mana?" Tanya Mathias, saat Bagas merespon panggilannya.
π±"Sudah di kontrakan, Pak. Bagaimana saya bisa pacaran kalau bapak mengecek saya terus?" Ucap Bagas asal.
π±"Bagaass... Gerak cepat, gerak cepat. Tapi jangan seradak serunduk bawa ke kontrakan. Perlihatkan bantennya ke saya dulu, biar saya patahkan tanduknya sebelum bersamamu." Jawab Mathias asal.
π±"Pak, bantennya ngga bertanduk." Ucap Bagas asal lagi.
π±"Siapa yang bilang ngga bertanduk? Banten kaki 2 tanduknya ngga kelihatan, tetapi sekali tanduk bisa lupa alamat." Ucap Mathias, sambil tersenyum mendengar ucapannya sendiri.
π±"Pengalaman ya, Pak." Ucap Bagas ngeledekin bossnya, tentang Angel.
π±"Naah... Itu kau tau. eeh, sudah! sampai lupa mau bilang apa tadi." Ucap Mathias berpikir, untuk apa menelpon Bagas.
π±"Apa ada berhubungan dengan apartemen, Pak?" Tanya Bagas, mulai serius mengetahui bossnya sedang diam. Mungkin sedang berpikir tentang maksud menghubunginya.
π±"Ooh iyaa. Orang yang lihat apartemen tadi, rencananya mau ke kantor besok. Waktunya nanti mereka yang kasih tau sebelum datang. Nanti kau dampingi saya, kalau mereka bayar pakai cek, kau tolong hubungi pihak bank. Saya mau semuanya clear, baru transaksi." Ucap Mathias, mengingat maksud telponnya.
Kemudian Mathias meninggalkan parkiran restaurant untuk pulang ke rumah. Sebelum ke rumah Ambar, Mathias mampir di rumah Ibunya untuk melihat kondisi Ibunya. Ketika suster mengatakan Ibunya baik-baik saja dan sudah beristirahat, Mathias langsung pulang ke rumah Ambar. Karena dia sudah sangat lapar.
Saat tiba di rumah, hanya ada Ambar yang menunggunya. "Juha sudah tidur?" Tanya Mathias, karena melihat Juha tidak ada dan keadaan rumah sepi.
"Iyaa, Mas. Tadi sore banyak main, jadi kecapean sendiri. Mas mandi dulu, aku siapkan makan malam." Ucap Ambar, setelah mencium punggung tangan Mathias, salim.
"Baik... Aku mandi dulu, nanti selesai makan malam baru kita bicara." Ucap Mathias, lalu menuju kamar untuk mandi. Selain sudah lapar, dia ingin mengetahui kesiapan Ambar, karena waktu makin mendekat untuk menikah.
"Ooh iyaa, Mas. Paketnya sudah diantar dan aku letakin di kamar tamu, karena khawatir kesenggol." Ucap Ambar, saat Mathias telah duduk di meja makan.
"Ok. Biarkan di situ dulu, bukanya nanti-nanti saja kalau sudah lebih santai." Ucap Mathias, lalu berdoa untuk makan makanan yang sudah disiapkan Ambar. Mereka makan dalam diam, karena Ambar melihat Mathias lapar dan ingin menikmati makanannya.
Melihat Mathias telah selesai makan dan membersihkan mulutnya dengan tissu, Ambar berdiri membawa perangkat makan yang kotor ke dapur. Kemudian dia mengeluarkan buah yang sudah disiapkan di kulkas dan meletakannya di meja makan.
__ADS_1
"Bagaimana pekembangan persiapannya, apakah sudah beres semua?" Tanya Mathias, saat Ambar meletakan buah di depannya.
"Sudah, Mas. Tinggal besok sore GR di Gereja jam 05.00. Bajuku sudah ada, baju punya Ibu." Ucap Ambar dengan wajah tersenyum.
"Kau tidak membeli yang baru? Apakah baju Ibu bisa cocok dengan jaman sekarang?" Tanya Mathias terkejut dan heran mendengarnya. Karena usia Ibunya dengan Ambar sangat jauh dan mungkin modenya sudah tidak sesuai.
"Wuaah... Masih cocok dan aku sangat menyukainya. Tetapi aku tidak akan memperlihatkan untuk Mas malam ini. Nanti Mas lihat waktu kita mau ke Gereja untuk menikah saja." Ucap Ambar dengan wajah tersenyum.
"Baiklah. Aku nurut saja, kalau sudah bilang begitu. Hanya saja, aku berharap kau pikirkan lagi karna kita menikah dicatatan sipil sangat bersahaja. Jadi kalau kau mau beli gaun untuk nikah di Gereja, yaa, silahkan." Ucap Mathias, berharap Ambar berubah pikiran.
"Aku akan bicara dengan Ibu, dan aku yakin Ibu bisa mengerti jika kau mau beli gaun yang baru." Ucap Mathias lagi, karena dia berpikir mungkin Ambar tidak enak menolak permintaan Ibunya.
"Tidak perlu, Mas. Justru aku yang minta, saat Ibu memperlihatkan baju-bajunya untukku. Mas ingat waktu aku pakai kaos longgar yang Mas kasih itu? Saat itu Ibu bilang, akan menunjukan baju-bajunya kepadaku. Jadi yang lainnya aku belum ambil, karena sudah duluan naksir sama baju Ibu yang akan aku pakai nanti." Ucap Ambar menjelaskan, karena khawatir Mathias akan berbicara dengan Ibunya. Dia sudah terlanjur jatuh cinta sama bajunya.
"Baiklah. Kalau kau mau yang begitu. Besok aku masih berangkat kerja, nanti aku pulang sebelum jam 05.00. Tolong siapkan semua yang diperlukan, ya. Supaya kalau aku pulang tinggal mandi dan pergi ke Gereja untuk GR." Ucap Mathias, karena besok dia ada janji.
"Baik, Mas. Aku akan siapkan yang diperlukan. Mas konsent saja ngurusin kerjaan yang belum selesai." Ucap Ambar, karena dia tahu Mathias dan Bagas lagi pindah-pindah barang ke kantor baru. Mathias juga sedang interview karyawan baru.
Setelah mereka masuk ke kamar, timbul niat iseng di pikiran Mathias. "Mari ke sini. Kalau aku lagi santai, kau tidak menggangguku. Tetapi kalau lagi sibuk, suka sosor." Ucap Mathias, menggoda Ambar.
"Sssssttt.., jangan keras bicaranya. Nanti pada dengar." ucap Ambar, sambil meletakan jarinya di bibir dan ikut Mathias naik ke atas tempat tidur.
"Ngga papa... Mereka tidak akan bisa melihat, karena lampunya sudah pakai sensor. sekali tepuk langsung gulita." Ucap Mathias, sambil tersenyum.
"Tapi kan, mereka semua pegang ponsel. cicak juga kelihatan." Ucap Ambar, menahan ketawa.
"Hahaha... Jangan tertawa lagi. Siniiii..." Ucap Mathias, langsung menepuk tangannya.
...~βββ‘ββ~...
__ADS_1