MANUSIA PARASIT

MANUSIA PARASIT
Kasus Pembunuhan.


__ADS_3

~β€’Happy Readingβ€’~


Setelah kedatangan Richo dan teman-temannya seminggu yang lalu, rumah Ambar terasa tenang karena tidak ada gangguan lagi dari keluarga Rulof. Begitu pun dengan pagi ini, Ambar bersama Juha dan Seni bisa sarapan dengan tenang. Mereka bersyukur, sudah satu minggu lebih, tidak ada gangguan dari keluarga Alm. Rulof. Hal itu memang menenangkan lingkungan rumah Ambar, tetapi tidak dengan hatinya.


Terutama ketika mengingat perilaku Richo, suami Inge. Ambar selalu bergidik jika mengingat atau mendengar nama Richo. Tatapan dan perilakunya sangat berbeda dengan saat Rulof masih hidup.


Ambar merasa dia selalu dimata-matai ketika berada di luar rumah. Sehingga dia jarang berada di luar rumah. Apalagi sekarang sedang cuti kerja, jika tidak urgent Ambar lebih sering di dalam rumah.


Setelah sarapan, Ambar akan mengajak Juha untuk belajar di kamarnya. Atau mereka akan bermain di ruang tamu sambil menonton TV. Karena Ambar khawatir membiarkan Juha bermain di luar rumah.


Ambar sedang berbicara dengan Seni untuk merencanakan makan siang mereka. "Seni, beli saja sayur dan ikan atau ayam di tukang sayur, ya." Ucap Ambar, sambil menyerahkan uang kepada Seni. "Iyaa, Bu." Ucap Seni, dan mengambil uang yang diberikan kepadanya.


Tiba-tiba ponsel Ambar berdering. Ketika melihat nama Mathias, Ambar langsung meresponnya.


πŸ“±"Alloo, Pak Mathias. Selamat pagi." Sapa Ambar.


πŸ“±"Selamat pagi, Bu Ambar. Ada di mana?" Tanya Mathias.


πŸ“±"Saya sedang di rumah, Pak." Jawab Ambar.


πŸ“±"Ooh, Bu Ambar tidak kerja hari ini?" Tanya Mathias lagi, karena pikirnya Ambar sudah bekerja lagi.


πŸ“±"Saya sedang cuti, Pak." Jawab Ambar, dan dia merasa tidak enak karena tidak memberi tahukan perkembangan kondisi rumah setelah kedatangan keluarga Rulof kepada Mathias.


πŸ“±"Oooh, saya kira Ibu sedang kerja. Jadi bisa mampir ke kantor untuk membicarakan mobil, karna mobilnya sudah dibeli." Ucap Mathias.


πŸ“±"Ooh... Iya, Pak. Trima kasih." Ucap Ambar, tenang dan senang.


πŸ“±"Kalau Ibu di rumah, nanti asisten saya ke sana untuk menyerahkan surat-surat dan uangnya. Atau uangnya mau ditransfer?" Tanya Mathias, mengingat banyaknya uang yang harus dibawa oleh Bagas dengan motor.


πŸ“±"Sementara ini, asisten bapak jangan ke rumah saya dulu, Pak. Biarkan semuanya di tempat Pak Mathias, karena saya sedang diawasi. Biar mereka tidak tahu, asisten bapak yang menjual mobilnya." Ucap Ambar menjelaskan yang dirasakannya.

__ADS_1


πŸ“±"Siapa yang mengawasi anda, dan kenapa tidak memberitahukan saya?" Tanya Mathias, terkejut.


πŸ“±"Maaf, Pak. Saya tidak kasih tau, karna hanya perasaan saya saja, kalau sedang diawasi. Mereka tau yang saya lakukan, seperti ke kantor Mas Rulof, contohnya." Jawab Ambar merasa bersalah.


πŸ“±"Tidak papa, dikasih tau saja, biar saya juga tau. Terus sekarang bagaimana, apa mereka tidak datang buat ribut lagi?" Tanya Mathias serius.


πŸ“±"Setelah mobil dibawa, besoknya mereka datang seperti yang Pak Mathias katakan. Mereka marah dan sejak itu, mereka tidak pernah datang lagi. Tapi saya menjadi khawatir, karna terlalu tenang." Ucap Ambar khawatir.


πŸ“±"Iyaa, saya mengerti. hati-hati! Kalau ada apa-apa, langsung hubungi saya." Ucap Mathias dan mengakhiri pembicaraam mereka.


Tidak lama kemudian, Seni pulang membawa belanjaan dari tempat tukang sayur. Ambar membantunya menyiapkan masakan untuk makan siang mereka.


Tiba-tiba terdengar bunyi pagar diketok. "Seni, tolong lihat siapa yang datang." Ucap Ambar, dan Seni keluar rumah untuk melihat. Beberapa saat kemudian, Seni kembali dengan wajah bingung dan cemas.


"Bu, ada polisi di luar membawa surat panggilan kepada Ibu. Apakah saya membuka pagar?" Tanya Seni, khawatir.


"Iyaa, buka saja Seni dan biarkan mereka duduk di teras. Ibu mau ganti baju dulu." Ucap Ambar panik, sambil masuk ke kamarnya.


"Selamat pagi Bu, kami dari kepolisian membawa surat panggilan dan menjemput Ibu untuk kasus pembunuhan." Ucap polisi sambil menyerahkan surat panggilannya.


"Pembunuhan? Pembunuhan siapa dan siapa yang melapor?" Tanya Ambar bingung.


"Ibu ikut kami ke kantor polisi dan akan di jelaskan di sana." Ucap polisi, sambil berdiri.


"Kalau begitu, tunggu sebentar, Pak. Saya mau memberitahukan anak saya." Ucap Ambar dan segera masuk dan naik ke kamar Juha. Sambil berjalan, Ambar memberikan kode agar Seni mengikutinya.


"Seni, saya mau ke kantor polisi, tolong jaga Juha. Siapa pun yang datang jangan buka pintu. Bukan pintu pagar saja yang di kunci, tetapi juga pintu rumah. Ini uang, kau pegang." Ucap Ambar, sambil mengeluarkan uang dari dompetnya.


Kemudian dia mengambil kertas Juha dan menulis nomor telpon Mathias. "Nomor ini, kau pegang untuk berjaga-jaga. Jangan ditelpon, tapi kirim pesan saja, bilang kau ART Ibu Ambar. Kasih tau yang terjadi, jika dua jam saya belum pulang ke rumah." Ucap Ambar, lalu pamit kepada Juha.


"Juha... Dengar dan ikut yang dikatakan Mba' Seni, ya? Jangan lupa berdoa untuk Mama." Ucap Ambar, dan memeluk putranya erat. Kemudian mengambil tas dan turun menemui polisi yang sedang menunggunya.

__ADS_1


Sesampai di kantor polisi, Ambar terkejut melihat semua keluarga Rulof ada di sana dan juga wanita itu. Ambar masuk ke kantor polisi tanpa memperdulikan mereka. Ketika ditanya polisi tentang kematian Rulof, Ambar terkejut. Dia cepat berpikir, mereka sedang menuduhnya membunuh Rulof.


"Maaf, Pak Polisi. Saya tidak akan menjawab sebelum ada pengacara bersama saya." Ucap Ambar sangat was-was, tapi mencoba tenang.


"Baik, kami akan sediakan pengacara untuk dampingi Ibu." Ucap Pak Polisi yang ada di depannya, sambil melihat salah satu polisi yang sedang berdiri dan yang tadi menjemputnya.


"Terima kasih, Pak. Tetapi tidak usah, saya punya pengacara sendiri. Saya akan menghubunginya untuk datang mendampingi saya." Ucap Ambar, mencoba tenang dan yakin. Dia melihat, polisi yang sedang berdiri terkejut dan melihat ke arah keluarga Rulof yang sedang duduk dalam ruangan itu.


Ambar mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Mathias sambil berdoa dalam hati, semoga Mathias tidak sibuk sehingga bisa menerima panggilannya.


Ketika Mathias merespon, Ambar memegang dadanya dengan kencang.


πŸ“±"Maaf, Pak. Saya mengganggu." Ucap Ambar pelan dan terbata-bata


πŸ“±"Tidak mengapa Bu. Ada apa?" Tanya Mathias, karena mendengar suara Ambar yang berbeda.


πŸ“±"Begini, Pak. Saya sekarang ada di kantor polisi X, karena saya dituduh membunuh.


πŸ“±"Whaattt...? Jangan katakan apa pun, sampai saya tiba. Tunggu saya di situ." Ucap Mathias terkejut, dan memotong ucapan Ambar.


Kemudian Ambar kembali duduk diam, tidak memperdulikan keluarga Rulof yang sedang kasak kusuk. "Pak Polisi, maaf. Saya harus menunggu pengacara saya." Ucap Ambar kepada polisi yang ada di depannya.


"Iyaa, Bu. Kami menunggu." Ucap polisi tersebut.


"Katanya tidak punya uang, tapi bisa bayar pengacara. Membunuh anak saya untuk menguasai hartanya." Ucap Mama Rulof, tetapi Ambar mengabaikan ucapannya.


Dia hanya berdoa dalam hati untuk perjalanan Mathias, semoga lancar hingga bisa tiba di kantor polisi dengan cepat dan selamat. Hanya itu yang menjadi harapannya, mengingat Juha putranya. 'Keluarga Rulof benar-benar keterlaluan, terutama Mama Rulof. Tidak ingat cucunya ada di rumah sendiri. Bagiamana jika terjadi sesuatu dengannya.' Ambar membatin dengan hati teriris.


Berapa lama kemudian, Mathias masuk ke ruangan interogasi sambil memegang helm dan di antar oleh seorang polisi. Ambar langsung berdiri dan menyalami Mathias dengan hati lega. Ketika melihat Ambar berdiri menyalami Mathias, keluarga Rulof tertegun dan membeku.


~●○♑○●~

__ADS_1


__ADS_2